Untuk yang Pernah Singgah —mari kita pergi.
content warning: mental abuse, blood, mention of suicide, murder
Samar-samar ku dengar bagaimana makian saling beradu, tubuh yang sesekali terpental hingga bising menyebut namaku diantara mereka. Sakit yang menjalar seakan sudah tertanam hingga membuat tubuh kaku, kupaksakan untuk melihat dengan benar, meski sesekali kegelapan menyerang pandangan.
“Gue paling ga suka milik gue disentuh orang lain.”
Sosok itu mendekat padaku. Bersuara merdu dalam tatanan lembut memabukan. Aku mengenal dirinya, sangat tau tentangnya. Bahkan saat kedua tangan itu mencekik oksigen yang tertahan ku hanya memberi tersenyum tanpa melawan.
“Lihat gue.”
Bagaimana caranya? Mata ini bahkan terus berbayang mengabur. Merangkak naik hingga air mata semakin membentang. Sakit.
“Gue udah peringatin lo, jadi kalo bajingan ini nyusul kembarannya sekarang, bukan salah gue kan, Je?”
Kalimat yang berbisik pada telingaku seakan membawa petir. Bunyi cakrawala yang beradu semakin memaksa untuk tidak lunglai. Hingga dengan susah mata ini menangkap sosok Juyeon terkapar menggenangi darah dengan beberapa tusukan terpampang pada kaos putih yang ia kenakan.
“Hahh.. ga.” udaraku seakan habis, berusaha menyingkirkan tubuh yang mencengkram leherku. Rasanya detak jantung tak lagi terdengar, mata yang tertutup itu sedikit membuka matanya untuk menatapku dengan senyuman kecil.
“Ahh.. m-minggir hah, kakak hiks.. lo gila Hyunjin AKHH!”
Diriku memberontak dengan sisa tenaga yang ada. Tidak peduli lagi dengan Hyunjin yang dapat terluka karenaku. Rasa pahit membelenggu tanpa dapat terpaku dengan apa yang sudah terjadi.
Aku menangis dengan saat keras saat itu. Berteriak lantang kala bibir Juyeon berucap tanpa bersuara, “Maaf.”
Untuk apa? Kenapa meminta maaf?
Kakak tidak membuat kesalahan hingga harus memohon maaf, kan?
“MINGGIR!” kuberusaha untuk mengais tubuhnya. “Jangan, jangan... KAKAK!”
Aku melihat bagaimana matanya tertutup saat memandangku dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan. Entah darimana aku dapat mendorong Hyunjin untuk terjerambab ke belakang. Dan dengan tubuh yang sudah basah akan keringat dingin bercampur derai air mata yang tak kunjung berhenti ini membawa tubuh Juyeon yang tertidur dengan pucat untuk menjadikan paha sebagai bantalan. Ada beberapa lebam pada wajahnya, namun tak separah Hyunjin yang berantakan dengan darah mengucur dari dahi.
“Hei.. kak hiks...jangan tidur dulu.”
Tubuh yang bergetar termangu pada tubuh yang tak bergerak lagi. Ku pandang bagaimana dua luka tusukan terpanjang pada pinggang dan punggung atasnya. Tidak, jangan lagi. Kumohon jangan lagi.
“Jeongin.”
Tak pernah sekali pun ku abaikan kala dia memanggil namaku. Tapi ruang kali ini terlalu sempit untuk berbagi sedih. Dengan jemari yang gemetar ku berusaha menelpon Ambulance. Namun belum sempat ku jawab panggilan kala telpon terangkat, Hyunjin terlebih dulu menarik lenganku dengan kasar. Memaksa untuk berdiri sampai membuat kepala Kak Juyeon terhempar pada lantai dingin.
“Lo mau apa sih?! Lo ga liat kak Juyeon butuh pertolongan sekarang?!”
Tamparan keras diberikan Hyunjin, menyalarkan rasa panas dari kepala hingga kepala yang berdenyut. “Terus lo mau bantu dia?”
“Hyun, jangan gini.”
Terberai sudah, kalimat sederhana pun sulit untuk dirangkai. Ku hadirkan semua rasa ketakutan yang bercampur ampunan untuknya. Namun harusnya ku tau, sekalipun aku mencium kakinya, Hyunjin tidak akan memberi perasaan simpati yang lebih kuinginkan daripada cinta.
“Kalo lo mau bantu dia, harusnya lo denger sama omongan gue sebelumnya.”
Dentuman keras pada pintu kamar sedikit membuat Jeongin berjingkit kaget. Dalam memorinya masih berputar wajah Juyeon yang menutup mata. Kembali terisak dalam diam hingga tiba-tiba saja tubuhnya terbalik dan sebuah bibir mencumbu bibirnya kasar. Memaksa Jeongin untuk mundur sebelum diamnya menyulut emosi Hyunjin lagi.
“Kenapa ga lo bales.”
Jeongin termenung dalam lamunannya, berdiri bak orangan sawah dengan mata kosong tergenang air mata. Bukan, bukan tidak ingin membalas. Namun nuraga yang tersepai ini menjadi tak dapat mengerti arti kehidupan saat ini.
Harusnya tidak pernah percaya, bahwa omongan tetaplah omongan.
Harusnya tidak pernah berharap, dengan katanya yang terasa omong kosong itu.
Apa katanya? kita akan baik-baik saja? harusnya tawa yang mengalun lucu daripada berharap keluar dari labirin yang sudah tercipta.
Tubuhnya sudah seperti boneka kapas, terjatuh tanpa ringisan yang keluar. Bahkan saat pinggangnya menyikut pinggiran meja kaca yang tajam pun seakan tidak ada rasa peduli lagi. Lelah; itu yang dipikirkannya.
“Lo kalo ga mau ini terjadi, lo pake otak lo sebelum lo pake badan lo buat lo jual ke orang la—”
“Jadi selama ini lo pikir gue semurah itu?” ia menatap Jeongin dengan pandangan yang selama hidupnya tak pernah ia berikan pada pria itu. Dingin dan muak yang bercampur.
“Emang kan?” Hyunjin menarik sudut bibirnya sebelum duduk pada ranjang kasur, “Lo aja ngasih tubuh lo ke gue cuma-cuma.”
Kalimat itu. Kalimat singkat itu. Telah menghentikan roda waktu Jeongin. Menghabiskan seluruh harap yang tertinggal. “Cuma-cuma.” pria manis itu terkekeh gamang, berdiri dengan bermodal tangan yang menjadi tumpu tanpa bantuan, menyambar tubuh Hyunjin seperti yang tak pernah ia bayangkan.
Tubuhnya terhuyung kala satu pukulan telak Jeongin berikan pada pelipis Hyunjin. “Apa selama ini pernah lo tanya kenapa gue lakuin semua ini ke lo?”
“Karena lo murahan.”
KARENA GUE CINTA SAMA LO!
Jeongin ingin berteriak seperti itu, melimpahkan rasa pedihnya yang sudah tak dapat ditampung. Akan tetapi, tidak seharusnya untuk berkata seperti itu. Jeongin tak sehebat Orion, tak pula seperti bintang yang terus gemerlap.
Jeongin hanya seorang insan yang sudah lelah. Yang mencari rumah pada dunia yang bewarna. Berharap pada tawa akan dapat membuat letupan jada jiwa yang lusuh.
Jeongin hanya insan yang sudah terberai berselimut angan yang dibawa pergi bersama dandelion sepi. “Bunuh gue Hyun.” Sebab rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk bertumpu dengan detak jantung, “Bunuh gue, lepasin gue dari rasa sakit ini.”
Jika kalian berpikir aku sudah tak mencitainya, maka kalian salah. Garis cinta ini terlalu fana untuk dapat dilihat. Namun terlalu nyata untuk sekedar diujar. Ku hanya seorang manusia yang dulunya berharap pada kisah romansa; namun anehnya, Tuhan tidak ingin berpihak padaku. Membentuk jalan kisah yang tak indah menimpa hingga bangkit pun menjadi kesalahan.
Ceritaku harus segera usai. Perasaan ini harus dikubur damai. Sebab ku sudah paham, bahwa yang selama ini kuharapkan hanya seorang insan yang sudah berpemilik sebelum dapat kugapai.