Untuk yang Pernah Singgah


Jeongin memangku kepalanya dalam lipatan tangan. Gerimis yang tak diundang masih setia mengucap salam pada bumantara. Menarik atensi Jeongin bersama panas yang mengujur dalam keheningan. Terkadang mencoba meringankan beban dengan helaan nafas kasar yang tersangkut pada batu karang. Dirinya tak karuan, semua kenangan berhambur masuk untuk dikenang.

“Je.”

Atensi Jeongin beralih kala suara lembut menyapa indra pendengarannya dengan tangan mengusap lembut rambut kasar. “Maaf ya tadi ban mobil kakak bocor, Jeje udah lama nung—” kalimatnya tergantung saat Jeongin menegakan tubuhnya. Memperlihatkan banyak luka lembam yang terlukis dimana-mana. “J-je, Jeje kenapa? yatuhan sayang.. bentar-bentar kakak minta P3K dulu!”

Sirat khawatir pada mata Jisung membuat Jeongin tidak biasa. Terlalu lama tidak diperhatikan kala sakit mematikan hati pada bayangan jenuh. Sebelum sempat pergi, tangan lemas Jeongin menggenggam tangan Jisung sembari menggeleng tanpa berkata.

“Kenapa ga mau? itu lukanya belum diobati saya—”

“Aku gapapa, kak.” dia memastikan dengan suara yang nyaris menghilang. Jisung yang tidak tau tentang Jeongin selain paras yang indah dan menawan, akhirnya membawa tubuh yang siap kapan saja tumbang dalam pelukan. Membiarkan pria yang lebih muda darinya itu bersandar sejenak padanya.

“Jeje kenapa? kok bisa gini?” mata bulat seperti cookies itu dibawa untuk memperhatikan setiap jengkal tubuh Jeongin. Mengelus sekitaran luka-lukanya dengan kasih. Lantas mengambil tempat di sebelah kursi Jeongin untuk lebih dekat.

Alih-alih menjawab, Jeongin malah berujar maaf. “Aku mau minta maaf sama kakak.”

“Hm? Maaf kenapa sayang?”

Jeongin mengulas senyumannya, melontarkan pandangan jauh kala hatinya selalu ingin merebut Hyunjin dari Jisung. Dari pria manis yang selalu perhatian padanya. Pria yang tidak tau seberapa gila kekasihnya itu.

“Maaf buat semuanya.” Jeongin bingung bagaimana cara mengatakannya, namun dia tidak ingin berhenti hari ini.

Usai. Mari buat semuanya usai.

“Jeje kenapa nangis?” lengannya kembali mendekap tubuh Jeongin yang kembali basah akan keringat dingin.

Dirinya mematung tanpa tau harus menjawab apa. Laksana samudra yang kesepian, terbuang bahkan dalam dirinya sendiri. Kosong. Jeongin seperti ruang kosong. Keberadannya yang penuh cahaya dalam sekejap berubah menjadi bayangan.

Semua ini tentang amaraloka yang tak dapat dicegah. Aroma yang memabukan untuk jatuh cinta nyatanya menyesatkan dalam jurang kehancuran. Itu kesahalannya, kesalahan Jeongin yang bersemayam dalam kenangan manis. Hingga lupa bahwa manusia hanya dapat berucap janji tragis.

Lisan yang enggan untuk berucap membawa tangan yang memberi tau semuanya. Satu, dua, tiga.. kancing kemeja yang ia kenakan dilepas untuk menampakkan duka cinta yang selama ini ia simpan. Membuat Jisung terperangah, kaget akan bercak merah hingga keunguan menjalar dari bawah leher hingga hampir bawah dada. Tak hanya itu saja, ada luka menyulur seperti bekas cambukan yang tak dapat hilang.

“Je..” panggilan Jisung menarik kembali kesadaran Jeongin yang tadinya terpaku pada vas bunga yang berujung tajam. Dirinya melihat ke arah pria itu yang menatapnya prihatin dengan genangan air mata.

“Hyunjin?” pandangannya menyelidik, menggenggam tangan Jeongin yang bergetar kala nama itu disebut. “Hyunjin tau kamu..?”

Atas segala penat yang ia derita selama ini, Jeongin tergugup takut jika berujar semuanya. Namun lembayung senja membawa harsa hangat tentang belenggu yang akan lepas. “Hyunjin yang ngelakuin semua ini.”

Mungkin gelagar petir yang menerjang di angkasa membatu Jisung. Pria itu terdiam, keraguan terpampang jelas dimana-mana. Mungkin kaget dengan kenyataan kecil seberapa bajingannya orang yang Jeongin cintai itu.

“Ga mung...”

“Mungkin. Alasan dia ga pernah nyentuh kakak itu karena ada aku.” dia memotong kalimat Jisung dengan yakin, pucat pada wajahnya semakin menjadi saat akan berucap fakta bahwa yang terjadi adalah angannya untuk bersama Hyunjin. “Dia ga maksa, aku ngebolehin dia.”

“Je, kamu sadar sama apa yang kamu omongin kan?”

“Kita ngelakuinnya bahkan sebelum ada kakak di hidup aku sama Hyun—”

Bunyi tamparan menjadi perhatian bagi pengunjung lain. Jeongin tidak mengelak, membiarkan pria itu marah padanya. Pantas, Jeongin pantas mendapatkan tamparannya.

“You love him?”

“I do.” jawabannya tanpa ragu. Menatap manik yang terisak akan rasa pengkhianatan yang mengunus tajam.

“Jadi kamu bilang semua ini buat ngehancurin hubungan aku sama Hyunjin? Kita udah tunangan, Je.”

“Aku tau.” jemari yang diperban sana-sini berusaha menggenggam tangan Jisung, “Aku kesini buat ngomong semuanya sama kakak, bukan mau ngerusak hubungan kalian, tapi aku mau kakak tau sebelum nantinya ga ada yang ngasih tau kakak.”

“Maksudnya?”

Rinai yang sudah berhenti membuat Jeongin membasahi tenggorokannya sebelum beranjak untuk bangkit. “Aku bakalan pergi.” tiga kata yang susahnya bukan main untuk diutarakan membawa pergi awan hitam pada diri. “Aku bakalan ngejauh dari kalian.”

“Kamu mau pergi setelah semua ini terjadi?” Jisung menatapnya dingin, meminum minumannya sedekit sebelum menghabiskannya diseluruh wajah Jeongin.

Rasa malu yang diberikan Jisung bersama dengan pintu caffee terbuka dan menampilkan sosok Hyunjin yang datang dengan penuh ketakutan. Jeongin tersenyum tipis, kamu merasakan apa yang kurasakan, kan? takut dan sesak yang tak ada habisnya.

Jeongin berjalan keluar, melewati Hyunjin yang mendesis benci padanya. Menelan bulat-bulat rasa cinta yang tidak pernah terbalas dengan rongga dada lega akan keputusannya di sini. Seperkian detik setelahnya, bunyi gaduh terdengar di balik pintu. Jeongin tidak berbalik, memilih tetap berjalan dengan rasa sakit yang mulai menjalar pada tubuhnya.

Sudah kubilang, kamu tidak mengenal aku, Hyunjin.

Mari hancur bersama, jika diri ini tidak dapat bersamamu, maka ku buat orang lain juga merasakannya. Rasa sakit yang dirimu berikan kepada kak Minho dan kak Juyeon, kuberikan juga pada kekasihmu.

Kematian.