Untuk yang Pernah Singgah
Embun kala itu bersorak ketika diterpa angin pagi. Berselimut kabut saat langkah kaki menginjak rumput yang masih basah. Tidak ada mentari di sana, dingin yang menusuk menunjukkan betapa sunyi tempat beristirahat damai kekasihnya.
Jeongin memeluk satu bouquet mawar merah besar dengan penuh ke hatian. Membiarkan pria yang lebih tinggi darinya berjalan memimpin di depan. Tak ada suara di antara mereka, pun Jeongin enggan untuk bersuara banyak. Satu yang Jeongin tau, seberapa banyak kemiripan diantara mereka, nyatanya Juyeon tidak akan pernah sama dengan Kak Minho.
“Duluan aja, gue tunggu di sini.”
Tubuh besar itu beralih untuk duduk di bawah pohon sembari menyesap nikotin. Memberi ruang kepada Jeongin untuk tersenyum lembut. “Hai kak, maaf beberapa hari kemarin ga ke sini.” sejenak dia terdiam dengan tangan yang sibuk mengusap batu yang menjadi atap rumah Minho saat ini.
“Tapi kali ini aku ga dateng sendiri, ada kak Juyeon yang nemenin aku.”
Semilir angin membawa sejenak keraguan dalam diri Jeongin. Sedikit mengeluh nyeri kala pening menyerang. “Kakak tau, sekarang Hyunjin udah ngelamar kak Jisung.” mutiara itu akhirnya kembali jatuh membasahi sebelah kelopak mawar yang masih ia dekap.
“Sekarang aku ga tau harus apa, kadang aku mikir, sebelumnya aku bisa hidup tanpa Hyunjin, tanpa kamu. Tapi kenapa sekarang susah?”
Bena seakan menghangtam tubuhnya yang hampir saja tersungkur. Insan tersebut sudah seperti boneka hidup. Tidak ada binar dalam matanya, lengkungan pada bibir pun sudah mati rasa, pun tubuh yang semakin terbalut kulit saja.
“Tapi aku juga udah bisa sedikit demi sedikit ngabain Hyunjin, kayak yang kamu bilang, aku harus bisa hidup dengan diriku sendiri. Walaupun sakit karena jauh dari Hyunjin, aku harus bisa.”
Lembayung hari yang selalu bergerak maju tak dapat merubah sedikit pun cinta Jeongin pada Hyunjin. Berulang kali disakiti, kerap kali diabaikan, namun angannya terus saja berdetak. “Seandainya aku cintanya sama kamu, mungkin kita ga akan sesakit ini ya, kak.”
Aku pernah berpikir bahwa dunia hanya tentang roda kesakitan yang berputar. Membentuk jalan buntu yang menantang. Membiarkan teriakan pilu yang tertahan menjadi hiburan. Layaknya kepulan asap kala musim dingin datang, rupawan dengan rasa penasaran, tapi mudah terberai.
Hyunjin, kenapa pergi terlalu jauh? tidakkah takut tersesat dan semakin kehilangan arah?
Padahal dulu kita selalu dekat, bagaikan bumi yang tidak dapat pernah meninggalkan bulan meski pagi terbentang di cakrawala. Bahkan kita terlampau bahagia dengan dunia yang terbuat. Lantas kenapa ingin berlari dan pergi?
Atau karena seonggok tubuh ini yang hanya dirimu butuhkan?
Aku tidak ingin menerka jalan pikiranmu, sebab tidak ada yang mengenal dirimu sebaik ku. Semua pun tau tentang itu. Tetapi cerita ini harus segera usai, cukup banyak yang menderita karena kita, hingga rangkain kata umpatan terus saja terlontar.
Dirimu bukan monster Hyunjin. Dirimu itu penuh dengan tawa merdu. Yang kerap kali membuat jantung ini tak karuan karenanya. Jadi mari berhenti, biar aku yang menggenggam rasa ini, karena jatuh berkali-kali membuatku terbiasa untuk sakit yang tak berujung itu.
“Mau makan dulu?” Juyeon bertanya setelah melirik arloji yang semakin bergerak mendekati jam makan siang. Yang ditanya hanya menggeleng, setia memandang jalanan dalam diam.
“Ngantuk.” berat pada suaranya tidak seperti biasanya.
“Yaudah tidur aja, nanti kalo udah sampe gue bangunin.”
Dia menggeleng, semakin bersandar pada kaca jendela dan menatap kosong. “Mau tidur di kasur.”
“Kalo pulang ke rumah lo bakalan lama, mau mampir di rumah Minho aja? rumahnya ga terlalu jauh, lo bisa istirahat disana kalo mau.”
Jeongin tidak lagi peduli, dia hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Terlampau lelah akan beban yang tidak ada apa-apanya ini. Menelan luka mati-matian dalam bayangan semu yang tak pernah merasa memberi semu.