WHEN SCARS BECOME ART
— Bumantara, awal mula April 2023; dari Diri Mati untuk yang Dinanti.
Ada banyak kata yang tidak bisa diungkapkan melalui suara. Warna-warna dunia perlahan memudar hingga abu-abu menyapa terlampau lekat. Bahkan kehadiran lentera malam tidak lagi mampu ditemukan dalam temaram.
Gelap.
Benar-benar gelap.
Secara tiba-tiba semesta hadir dalam kesunyian. Kepingan memori dari tawa bahagia kita kala dengan sengaja berlari mengejar hujan tidak lagi memenuhi sudut rumah untuk mengisi kehangatan.
Bagaimana, apakah perjalananmu sudah sampai pada tujuan yang sedari lama dirimu idam-idamkan?
Jeongin, setiap kali aku memikirkan dirimu, hatiku selalu jauh dari kata jenuh. 2017 menjadi tahun kala mataku bertemu senyuman manismu sampai-sampai malam itu pil tidur jauh dari rengkuhan ku.
Malam itu, aku pulang dengan tanda tanya besar, kenapa udara dingin sehabis hujan lebat dapat berubah hangat saat diriku menemani dirimu ke halte bus?
Lengkungan matamu yang lebih indah dari bulan sabit menyentuh relung hati sunyi ku. Aku bahkan tidak tau, sejak kapan bibir mati ini perlahan terangkat untuk tertawa bersamamu kala itu.
Jika boleh jujur, sejatinya aku benar-benar tidak mengerti, kenapa takdir harus menyatukan tujuan kita hari itu. Saat aku dengan terpaksa berbohong dimana pemberhentian ku yang sebenarnya padamu.
Mungkin, jika malam itu aku tetap teguh pada pendirianku yang menolak ajakan makan malam Jisung dan akhirnya tidak bertemu denganmu yang ternyata adik tingkatnya semasa sekolah dulu; mungkin 2017 menjadi Tahun penutup hidupku.
Aku sudah tersesat. Hilang di atas keberanian untuk melangkah pada bumi. Goresan yang ku gambar abadi di atas tangan menjadi saksi bahwa sedari awal kedua tangan ini telah gagal menjaga diri sendiri. Pada tubuh yang tidak pernah merasa nyaman berada dikeramaian, namun selalu takut mati dalam sepi.
Kenapa aku harus mengenal dirimu, Jeongin?
“Biasanya objek foto kakak apa aja?”
“Ga spesifik.”
“Ah! tergantung mood.”
Tanpa ku sadari sudut bibirku kembali melengkung, “Sok tau.”
Aku bakan tidak sadar membalas ucapannya seperti itu, sedangkan pria muda berlesung pipi terkekeh kecil setelah menghadiahi satu pukulan pada lenganku yang kurus.
“Yah...”
Suara kecewanya spontan membuatku bertanya-tanya.
“Bus-nya udah dateng.” bibirnya maju sembari menatapku bak kucing jalanan basah sehabis hujan.
Aku yang tidak terbiasa berinteraksi dengan siapa pun dengan bodohnya membalas seadanya.
“Hati-hati, ya.”
Kali itu, Jeongin yang tidak pernah berhenti berbicara memilih bungkam kala aku berucap. Masih dengan bibirnya yang manyun dia berjalan ke arah pintu bus yang sudah berhenti.
Melihatnya yang sudah berada pada tujuan, lantas membuatku kembali jalan dengan kesunyian. Hari itu, pertama kalinya aku mampu berinteraksi dengan orang lain tanpa gemetar yang memenuhi sekujur tubuh.
Sebab, sepanjang jalan singkat tadi, aku dengan rasa tidak malu ku menebak bahwa Jeongin itu pria dengan segudang rasa cinta. Dia gampang menarik hati seseorang, bahkan dengan mudah mampu membuat orang merasa nyaman dengan kehadirannya.
“Kak Hyunjin!”
Seakan telah disetting langkahku terhenti untuk menoleh pada suara yang memanggil.
“Kapan-kapan jadiin aku objek foto kakak ya! hati-hati pulangnya kak!”
Lambaian tangannya menjadi terakhir kali aku lihat sebelum pintu bus itu tertutup dan melaju meninggalkan aku yang masih terpaku di pinggir jalan.
Jeongin, kalimat yang kamu ucapkan sebelum dirimu hilang ditelan tujuan; menghentikan ku untuk menegak beberapa pil tidur dengan harap tidak pernah lagi terbangun.
Tanpa kamu ketahui, kalimat sederhana mu berhasil memberikanku sedikit tujuan untuk kembali bernafas esok hari.
Gumpalan awan hitam masih setia membentang di atas sana, siap akan menjatuhkan airnya kepada bumantara. Orang-orang yang telah habis dimakan masa bergerak semakin cepat, takut tubuhnya basah karena derai hujan datang tanpa dapat dicegah.
Lain dari mereka, aku malah menikmati suasana. Buat apa? aku memang sengaja untuk berada di sana, di bawah ufuk yang berkabung pada semestanya yang berantakan.
Bulir-bulir yang perlahan berjatuhan membuat mataku terpejam. Membiarkan tubuhku terasa lembab, pun wajahku yang dibelai hangat dalam kedinginan. Dersik berhembus menjadi pengingat untuk jiwa yang ramai.
Tunggu sebentar.
Jika pergi sekarang, hujan tidak akan kembali datang.
Sayangnya, aku dengan tubuh lusuh ini telah kesusahan mencari penopang. Kamera yang tergantung di leher ini sudah seperti tali pengikat diri.
“Kemana aku harus pergi sekarang?”
Bayangan tentang kita seolah masih tersisa di pagi hari tadi. Padahal nyatanya sudah 7 tahun bukan? aku masih pintar menghitung sayang, jejak kaki mu yang menghilang pun masih kerap aku kejar meski akhirnya aku kehilangan arah untuk pulang.
Mentari yang setia kembali menyiratkan bahwa narasi ku dalam ceritamu akan segera habis. Haruskah aku kembali memburu sisa-sisa langkahmu, agar cerita kita tertulis meski dilain bumi?
Aku sudah terlampau khawatir, bagaimana jika kamu pergi terlalu jauh seorang diri? siapa yang akan mengingatkan kamu tentang arah mata angin? siapa yang akan mengikat tubuhmu dengan jaket demi mengahalau dingin? siapa yang akan membuatkan mu secangkir teh manis di sore hari?
Bukankah lebih baik untuk kita melangkah bersama meski ujung bumi masih jauh di depan sana?
“Tuh kan bener kak Hyunjin! kok kakak hujan-hujanan? ayok minggir sebentar nanti makin basah.”
Aku dibuat semakin tidak mengerti, untuk apa bertemu kembali? payung yang dia genggam dipegang erat agar tidak terbawa angin, bukankah lebih baik untuk semakin ditelan hujan yang perlahan memukul keras tubuh?
“Jeongin..”
Dia tersenyum lembut sembari menggenggam tanganku untuk mendekat ke arahnya. Tanpa peduli sebagian tubuhnya basah karena payung itu tidak cukup besar menampung kedua insan yang kembali bertemu tanpa disengaja.
Atap toko roti yang sudah tutup membawa aku berdiri di sana. Entah sejak kapan Jeongin sudah berdiri sedekat ini dengan sapu tangannya menyapu lembut kepala ku yang basah.
“Biar aku aja.” sesungguhnya meski Jeongin datang tanpa keraguan, aku masih terbiasa untuk tetap sendiri.
“Kakak ga bawa payung?” dia bertanya sembari mengusap-ngusapkan tangannya agar segera hangat.
“Lupa.” lagi-lagi aku berbohong.
Lalu dia kembali manyun, persis seperti tempo hari. “Coba aja aku keluar kantornya lebih cepet, jadi kakak ga perlu kehujanan kan.”
Aneh, ucapan Jeongin barusan seolah menggelitik telinga ku.
“Kayaknya ini hujan bakal awet sampe malem deh kak, rumah ku ga terlalu jauh dari sini. Kakak bisa nunggu di sana sampe hujannya redah.”