Yang Jeongin dan kepalanya adalah ruang kecil yang tak pernah sunyi.
Di sana bersemayam ribuan gelisah yang menunggu untuk berlari; UKT kian mencekik, beasiswa jatuh di tangan tak pasti, dan birokrasi yang menutup diri. Sementara di tempat lain karpet merah digelar sebagai simbol pemilik dinasti, rubah rakus berjoget seakan derita mahasiswa adalah musik pengiring jamuan pagi.
Mereka yang berteriak mendengar, sejatinya hanya menunggu rintihan itu reda sendiri. Mereka berjanji akan memperbaiki, padahal sibuk cuci tangan hingga bersih.
Dan karena mereka, medan perang hadir di lingkaran yang sudah tidak bulat lagi.
Yang Jeongin, pemuda itu adalah tsunami. Arusnya begitu tenang hingga amukannya tumbuh bersama dengan kasih; ia menggulung dengan caci-maki, bergerak untuk membasmi, dan berdiri bukan untuk kepentingan sendiri.
Kepalanya adalah badai yang akan pecah—antara idealisme yang beradu dengan kenyataan; antara suara kecil yang diabaikan sistem besar. Ia adalah harapan bagi mereka yang datang dengan mata letih; berat tangannya membawa surat permohonan, membawa keresahan.
Yang Jeongin dan kepalanya adalah riuh dari ribuan mulut yang dipaksa tunduk pada aturan. Wajahnya bukan lagi miliknya, melainkan untuk mereka yang akan mati jika berbunyi. Suaranya bukan lagi miliknya, melainkan gema dari mereka yang bungkam di kelas-kelas sempit.
Yang Jeongin, ia telah menjelma sebagai langkah awal. Sebuah keyakinan akan perubahan tidak mungkin datang dengan tenang. Ia lahir dari benturan, dari riuh yang tak tertata, dari lelah yang dipaksa terus menyala.
Malam itu ruang rapat sudah menyerupai gedung sehabis gempa bumi. Kertas kajian berserakan di sana-sini, cangkir kopi kosong menjadi saksi untuk tujuh kepala yang tak lagi duduk rapi—ada yang sudah kehabisan energi, ada yang masih mondar-mandir, ada yang berusaha mencari jawaban disela-sela pecahan keramik.
“Jadi intinya kita sekarang; mundur kena, maju babak belur, kan?” Ryujin berujar sambil menggoyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri.
“Kalo kata gue daripada di cap ga ada pendirian mending jalanin aja.” kali ini Hanbin membuka suara setelah mencoret begitu banyak poin di catatan kecilnya.
“Bunuh diri dong kita?” Jisung menimpali yang dibalas tawa kecil oleh Seungmin. Empat kata tidak lucu itu justru menggelitik bagi mereka.
“Yes! makan ayam mati!”
“Tolol dah jin.” Beomgyu melempar tisu bekasnya ke arah Ryujin yang sudah seperti mayat hidup.
“Lagian anjing banget, mahasiswa udah pusing buat makan, bayar kos, bayar print, ini malah UKT mau dinaikin.” Ryujin mengacak rambutnya frustasi.
“Pasti ujung-ujungnya dibilang buat biaya operasional shuttle bus, kocak abis dah! itu bis kagak ada 50 biji, keliling juga dalem kampus eh UKT setiap orang mau dinaikin sejuta dua juta, taiiiii...” sambungnya.
Rapat itu berisik, penuh carut-marut dan tumpang tindih. Dari 7 kepala dan 7 mulut, sebuah aksi kecil akan lahir; mereka harus bergerak. Bukan untuk diri, bukan untuk mencari muka, melainkan untuk mereka yang tak hadir di ruangan pengap itu.
“Masa tenggat UKT barengan sama porseni?” Hanbin berujar selepas mengecek kalender program mereka.
Kali ini tidak ada lagi yang membalas selain helaan nafas panjang. Ucapan Ryujin tidak lagi sebatas masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Tapi sudah mulai tertanam di otak mereka masing-masing; mundur kena, maju babak belur.
“Untuk porseni udah mulai nyebar proposal sponsor kan, min?” Kabem bertanya seolah pembahasan UKT tidak ingin dia lanjuti.
“Udah, gue juga udah mulai ngitung anggaran, buat fakultas juga udah gue kabarin buat mulai garap konsep.”
“Oke dilanjut aja, Hanbin lo bisa mulai buat cari volunteer buat staf kepengurusan ini.”
“Bentar Kabem, ini masalah UKT gimana? ini urgensi—”
“Ini baru desas-desus aja, Ryujin.” Kabem langsung memotong ucapan sekretarisnya itu.
“Walaupun ini baru desas-desus, baiknya kita siapin buat buka forum sekalian, jadi kalo memang isu ini beneran jadi resmi, kita ada bekingan dari mahasiswa.” Kamden yang ditarik untuk menjadi “otaknya” Jisung akhirnya bersuara.
“BENER!” nyawa Jisung seolah kembali, dia menunjuk ke arah Kabem. “Gue tau ya pikiran lo anjing.”
“Biar besok gue hubungi biro keuangan.” Beomgyu mengusulkan setelah menimbang begitu banyak kemungkinan.
“Jangan gyu, kita masih belum punya data. Ke sana dengan pegangan katanya sama aja nyerahin diri buat dibunuh sama mereka.”
Sebab di negara miniatur ini, tempat paling tinggi bisa jadi tempat paling kotor untuk dihuni. Anggukan dan tangan terbuka yang selalu diagungkan itu sebatas bualan dan pencitraan.
“Terus? lo mau diem aja dijadiin kambing hitam orang-orang rektorat?! jangan lupa kebijakan ini keluar atas usulan lo, Kabem.”
Status itu bukan sekedar penunjuk kuasa, melainkan tempat amarah dan putus asa. Di luar sana—orang berjalan sebagaimana mestinya. Sedang mereka, sekelompok anak muda yang memilih untuk bersuara; mungkin saja status mahasiswa itu dicabik tanpa perlu melihat kebenaran.
Mereka mempertaruhkan segalanya.
dan karena segalanya itu, Kabem tidak ingin perjuangan teman-temannya menjadi sia-sia. Sebab di antara mereka, hanya dia yang tidak bisa dirantai.
Dia tidak terikat, tidak perlu takut beasiswanya dicabut, tidak ada yang merasa kecewa jika pulang dengan kegagalan.
Ketika jarum jam menyentuh pukul sepuluh, rapat tak benar-benar selesai, mereka berhenti karena api sudah mulai ingin melahap habis. Malam menelan langkah mereka, namun tidak memadamkan isi kepala. Mereka terlampau tahu: meski besok mereka dihilangkan, mereka sudah menjadi sudah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bergerak dan bersuara.