bhluewry

I'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun. Meski tidak terlalu deras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat tubuh kuyup dingin serta —air mata yang sudah melebur menjadi satu.

Sesekali ia menoleh ke belakang. Berharap sosok yang ia harapkan berlari mengejar dirinya, “Kamu tidak mengerjaku, bae?”

Jalanan kosong menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

Ia, Hwang Jeongin, hanya terkekeh hambar lalu lanjut melangkah dengan amat pelan. Meski tubuhnya sudah terasa lunglai dan sangat letih, Jeongin tidak ingin mengambil pusing.

Sudah cukup banyak ia berdiri dan tersenyum, lantas hari ini, semuanya sudah terkubur —dan Jeongin melepas topeng yang ia pakai selama beberapa hari ke belakang.

Runtuh.

Jeongin runtuh.

Terjerembab dalam cinta yang sampai detik ini masih sama besarnya.

Jeongin runtuh.

Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang mengubur hatinya. Meruntuhkan pondasinya. Lantas membiarkan tergeletak dengan kenangan sempit yang semakin ingin tergantikan.

“Bae.”


“Aku butuh anak dan Jeongin tidak bisa memberikannya, aku mencari seseorang yang bisa memberikan kami keturunan nantinya.”

Saat itu ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya, Hyunjin, di hadapan Ayah Seungcheol dan wanita cantik yang sudah Hyunjin kenal dari 3 bulan yang lalu di sampingnya.

Langkah kakinya terhenti, membiarkan Hyunjin berbincang di dalam sana. Memantapkan hati untuk bersanding dan berjalan bersama Hyunjin kembali.

Jeongin tau, hatinya tidak menerima semua itu, tapi ia juga tau, jauh dari Hyunjin sama sekali tidak akan membantu.

“Saya Lily, saya sudah kenal dengan anak anda tidak terlalu lama, namun tidak terlalu singkat untuk saya bisa menjadi ibu pengganti untuk anak anda dan pasangannya. Dan saya pun— ” wanita itu melirik Hyunjin, menggenggam tangannya dan tersenyum. “—sudah hamil satu bulan.”

Jeongin menarik nafas, menahan isakannya dengan telapak tangan.

I'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun. Meski tidak terlalu deras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat tubuh kuyup dingin serta —air mata yang sudah melebur menjadi satu.

Sesekali ia menoleh ke belakang. Berharap sosok yang ia harapkan berlari mengejar dirinya, “Kamu tidak mengerjaku, bae?”

Jalanan kosong menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

Ia, Hwang Jeongin, hanya terkekeh hambar lalu lanjut melangkah dengan amat pelan. Meski tubuhnya sudah terasa lunglai dan sangat letih, Jeongin tidak ingin mengambil pusing.

Sudah cukup banyak ia berdiri dan tersenyum, lantas hari ini, semuanya sudah terkubur —dan Jeongin melepas topeng yang ia pakai selama beberapa hari ke belakang.

Runtuh.

Jeongin runtuh.

Terjerembab dalam cinta yang sampai detik ini masih sama besarnya.

Jeongin runtuh.

Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang mengubur hatinya. Meruntuhkan pondasinya. Lantas membiarkan tergeletak dengan kenangan sempit yang semakin ingin tergantikan.

“Bae.”


“Aku butuh anak dan Jeongin tidak bisa memberikannya, aku mencari seseorang yang bisa memberikan kami keturunan nantinya.”

Saat itu ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya, Hyunjin, di hadapan Ayah Seungcheol dan wanita cantik yang sudah Hyunjin kenal dari 3 bulan yang lalu di sampingnya.

Langkah kakinya terhenti, membiarkan Hyunjin berbincang di dalam sana. Memantapkan hati untuk bersanding dan berjalan bersama Hyunjin kembali.

Jeongin tau, hatinya tidak menerima semua itu, tapi ia juga tau, jauh dari Hyunjin sama sekali tidak akan membantu.

“Saya Lily, saya sudah kenal dengan anak anda tidak terlalu lama, namun tidak terlalu singkat untuk saya bisa menjadi ibu pengganti untuk anak anda dan pasangannya. *Dan saya pun— “ wanita itu melirik Hyunjin, menggenggam tangannya dan tersenyum. “—sudah hamil satu bulan.”*

Jeongin menarik nafas, menahan isakannya dengan telapak tangan.

I'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun. Meski tidak terlalu deras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat tubuh kuyup dingin serta —air mata yang sudah melebur menjadi satu.

Sesekali ia menoleh ke belakang. Berharap sosok yang ia harapkan berlari mengejar dirinya, “Kamu tidak mengerjaku, bae?”

Jalanan kosong menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

Ia, Hwang Jeongin, hanya terkekeh hambar lalu lanjut melangkah dengan amat pelan. Meski tubuhnya sudah terasa lunglai dan sangat letih, Jeongin tidak ingin mengambil pusing.

Sudah cukup banyak ia berdiri dan tersenyum, lantas hari ini, semuanya sudah terkubur —dan Jeongin melepas topeng yang ia pakai selama beberapa hari ke belakang.

Runtuh.

Jeongin runtuh.

Terjerembab dalam cinta yang sampai detik ini masih sama besarnya.

Jeongin runtuh.

Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang mengubur hatinya. Meruntuhkan pondasinya. Lantas membiarkan tergeletak dengan kenangan sempit yang semakin ingin tergantikan.

“Bae.”


“Aku butuh anak dan Jeongin tidak bisa memberikannya, aku mencari seseorang yang bisa memberikan kami keturunan nantinya.”

Saat itu ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya, Hyunjin, di hadapan Ayah Seungcheol dan wanita cantik yang sudah Hyunjin kenal dari 3 bulan yang lalu di sampingnya.

Langkah kakinya terhenti, membiarkan Hyunjin berbincang di dalam sana. Memantapkan hati untuk bersanding dan berjalan bersama Hyunjin kembali.

Jeongin tau, hatinya tidak menerima semua itu, tapi ia juga tau, jauh dari Hyunjin sama sekali tidak akan membantu.

*“Saya Lily, saya sudah kenal dengan anak anda tidak terlalu lama, namun tidak terlalu singkat untuk saya bisa menjadi ibu pengganti untuk anak anda dan pasangannya. Dan saya pun— ” wanita itu melirik Hyunjin, menggenggam tangannya dan tersenyum. “—sudah hamil satu bulan.”*

Jeongin menarik nafas, menahan isakannya dengan telapak tangan.

I'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun. Meski tidak terlalu deras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat tubuh kuyup dingin serta —air mata yang sudah melebur menjadi satu.

Sesekali ia menoleh ke belakang. Berharap sosok yang ia harapkan berlari mengejar dirinya, “Kamu tidak mengerjaku, bae?”

Jalanan kosong menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

Ia, Hwang Jeongin, hanya terkekeh hambar lalu lanjut melangkah dengan amat pelan. Meski tubuhnya sudah terasa lunglai dan sangat letih, Jeongin tidak ingin mengambil pusing.

Sudah cukup banyak ia berdiri dan tersenyum, lantas hari ini, semuanya sudah terkubur —dan Jeongin melepas topeng yang ia pakai selama beberapa hari ke belakang.

Runtuh.

Jeongin runtuh.

Terjerembab dalam cinta yang sampai detik ini masih sama besarnya.

Jeongin runtuh.

Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang mengubur hatinya. Meruntuhkan pondasinya. Lantas membiarkan tergeletak dengan kenangan sempit yang semakin ingin tergantikan.

“Bae.”


*“Aku butuh anak dan Jeongin tidak bisa memberikannya, aku mencari seseorang yang bisa memberikan kami keturunan nantinya.”

Saat itu ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya, Hyunjin, di hadapan Ayah Seungcheol dan wanita cantik di sampingnya.

*Langkah kakinya terhenti, membiarkan Hyunjin berbincang di dalam sana. Memantapkan hati untuk bersanding dan berjalan bersama Hyunjin kembali.

Jeongin tau, hatinya tidak menerima semua itu, tapi ia juga tau, jauh dari Hyunjin sama sekali tidak akan membantu.*

*”

i'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun.

Jeongin Pov


Jeongin tidak dapat menyembunyikan senyumannya setelah bercakap dengan Hyunjin. Ia bersemu sembari menatap jalanan panjang.

“Nanti kita mampir ke toko sebentar ya, kak. Aku mau beli bunga matahari buat kak Hyunjin.”

Lantas Bangchan hanya mengangguk seraya mengusap rambut adiknya lembut.

Mau sebenci apapun dirinya terhadap Hyunjin, Bangchan tetap tidak dapat menyangkal jika pria itu sumber kebahagiaan Jeongin.

I'm coming home! narasi. 03


“Kamu beneran mau punya anak, dek? ga mau adopsi aja?”

Pertanyaan dari Felix menarik atensi Jeongin kala ia termenung sendu. Lalu Jeongin hanya tersenyum menatap Felix.

“Pake ibu penggati itu kalo ga ada perjanjian dan persetujuan tertulis bakalan sulit, namanya naluri ibu, bawa janin 9 bulan kemana-mana, pasti ngerasa kayak anaknya sendiri. Kamu udah buat perjanjian sama ibu penggantinya, kan, dek?”

Ucapan Felix bak angin yang menerpa halus. Tak tau ingin menjawab apa, rasanya kelu, hatinya tercabik, dan dia tidak ingin menangis di depan banyak orang.

“Sudah, kak.”

Ntah keberapa kali ia berbohong untuk semua yang sudah terjadi tanpa keinginannya. Membiarkan akal yang mengambil alih dan hati yang hancur dalam sepi.

Toh, juga semua bakalan baik-baik saja.

Pun sudah terjadi, Jeongin tidak mungkin meminta Hyunjin menggugurkan anak itu, kan?

Biarpun nantinya membekas, namun semuanya bakalan baik-baik saja selagi ada Hyunjin.

Mungkin.

Suatu hari nanti.

“Dek.”

Lamunannya kembali buyar sesaat suara berat memeluknya hangat. Aroma vanilla dengan kayu manis milik Bangchan menjadi netra penenang hatinya sejenak.

“Tumben kesini kak?”

“Mau jemput bayi ini, Lix.”

“Heh! udah punya suami gini mana bayi lagi, kak?” Jeongin protes dengan dua alis mengerut lucu. Bibirnya maju dan ia malah mendusal ke Felix sebagai tanda tidak setuju atas ucapan Bangchan.

Gemas sekali.

Dan detik itu juga, pria berstatus sebagai wali Jeongin bersumpah pada Tuhan, bahwa ia tidak akan memberi rasa sakit untuk adiknya itu.


“Aku mau ke kantor.”

Merasa ia akan ditinggal, Lily menarik Hyunjin untuk ia rangkul. Pria itu tidak membalas, hanya membiarkan Lily bersandar padanya dengan hati berusaha merapal nama Jeongin.

Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

“Kamu bisa ga usah pergi? Aku ga mau sendirian.” rajuk Lily.

Bersamaan dengan tangan yang mengancingi kemejanya, Hyunjin berucap datar, “Papa mau ketemu aku.”

Tidak sesuai ekspektasi Hyunjin, Lily malah menatapnya berbinar. “Aku boleh ikut?”

“Untuk apa?”

Lily berjalan ke arah lemari pakainnya, mengambil satu dress dengan senyuman manis seraya menatap Hyunjin.

“Aku mau bikin papa mu berkesan sama aku, boleh ya?”

I'm coming home! narasi. 03


“Kamu beneran mau punya anak, dek? ga mau adopsi aja?”

Pertanyaan dari Felix menarik atensi Jeongin kala ia termenung sendu. Lalu Jeongin hanya tersenyum menatap Felix.

“Pake ibu penggati itu kalo ga ada perjanjian dan persetujuan tertulis bakalan sulit, namanya naluri ibu, bawa janin 9 bulan kemana-mana, pasti ngerasa kayak anaknya sendiri. Kamu udah buat perjanjian sama ibu penggantinya, kan, dek?”

Ucapan Felix bak angin yang menerpa halus. Tak tau ingin menjawab apa, rasanya kelu, hatinya tercabik, dan dia tidak ingin menangis di depan banyak orang.

“Sudah, kak.”

Ntah keberapa kali ia berbohong untuk semua yang sudah terjadi tanpa keinginannya. Membiarkan akal yang mengambil alih dan hati yang hancur dalam sepi.

Toh, juga semua bakalan baik-baik saja.

Pun sudah terjadi, Jeongin tidak mungkin meminta Hyunjin menggugurkan anak itu, kan?

Biarpun nantinya membekas, namun semuanya bakalan baik-baik saja selagi ada Hyunjin.

Mungkin.

Suatu hari nanti.

“Dek.”

Lamunannya kembali buyar sesaat suara berat memeluknya hangat. Aroma vanilla dengan kayu manis milik Bangchan menjadi netra penenang hatinya sejenak.

“Tumben kesini kak?”

“Mau jemput bayi ini, Lix.”

“Heh! udah punya suami gini mana bayi lagi, kak?” Jeongin protes dengan dua alis mengerut lucu. Bibirnya maju dan ia malah mendusal ke Felix sebagai tanda tidak setuju atas ucapan Bangchan.

Gemas sekali.

Dan detik itu juga, pria berstatus sebagai wali Jeongin bersumpah pada Tuhan, bahwa ia tidak akan memberi rasa sakit untuk adiknya itu.


“Aku mau ke kantor.”

Merasa ia akan ditinggal, Lily menarik Hyunjin untuk ia rangkul. Pria itu tidak membalas, hanya membiarkan Lily bersandar padanya dengan hati berusaha merapal nama Jeongin.

Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

“Kamu bisa ga usah pergi? Aku ga mau sendirian.” rajuk Lily.

“Papa

I'm coming home! narasi. 03


“Kamu beneran mau punya anak, dek? ga mau adopsi aja?”

Pertanyaan dari Felix menarik atensi Jeongin kala ia termenung sendu. Lalu Jeongin hanya tersenyum menatap Felix.

“Pake ibu penggati itu kalo ga ada perjanjian dan persetujuan tertulis bakalan sulit, namanya naluri ibu, bawa janin 9 bulan kemana-mana, pasti ngerasa kayak anaknya sendiri. Kamu udah buat perjanjian sama ibu penggantinya, kan, dek?”

Ucapan Felix bak angin yang menerpa halus. Tak tau ingin menjawab apa, rasanya kelu, hatinya tercabik, dan dia tidak ingin menangis di depan banyak orang.

“Sudah, kak.”

Ntah keberapa kali ia berbohong untuk semua yang sudah terjadi tanpa keinginannya. Membiarkan akal yang mengambil alih dan hati yang hancur dalam sepi.

Toh, juga semua bakalan baik-baik saja.

Pun sudah terjadi, Jeongin tidak mungkin meminta Hyunjin menggugurkan anak itu, kan?

Biarpun nantinya membekas, namun semuanya bakalan baik-baik saja selagi ada Hyunjin.

Mungkin.

Suatu hari nanti.

“Dek.”

Lamunannya kembali buyar sesaat suara berat memeluknya hangat. Aroma vanilla dengan kayu manis milik Bangchan menjadi netra penenang hatinya sejenak.

“Tumben kesini kak?”

“Mau jemput bayi ini, Lix.”

“Heh! udah punya suami gini mana bayi lagi, kak?” Jeongin protes dengan dua alis mengerut lucu. Bibirnya maju dan ia malah mendusal ke Felix sebagai tanda tidak setuju atas ucapan Bangchan.

Gemas sekali.

Dan detik itu juga, pria berstatus sebagai wali Jeongin bersumpah pada Tuhan, bahwa ia tidak akan memberi rasa sakit untuk adiknya itu.


“Aku mau ke kantor.”

I'm coming home! narasi. 03


“Kamu beneran mau punya anak, dek? ga mau adopsi aja?”

Pertanyaan dari Felix menarik atensi Jeongin kala ia termenung sendu. Lalu Jeongin hanya tersenyum menatap Felix.

“Pake ibu penggati itu kalo ga ada perjanjian dan persetujuan tertulis bakalan sulit, namanya naluri ibu, bawa janin 9 bulan kemana-mana, pasti ngerasa kayak anaknya sendiri. Kamu udah buat perjanjian sama ibu penggantinya, kan, dek?”

Ucapan Felix bak angin yang menerpa halus. Tak tau ingin menjawab apa, rasanya kelu, hatinya tercabik, dan dia tidak ingin menangis di depan banyak orang.

“Sudah, kak.”

Ntah keberapa kali ia berbohong untuk semua yang sudah terjadi tanpa keinginannya. Membiarkan akal yang mengambil alih dan hati yang hancur dalam sepi.

Toh, juga semua bakalan baik-baik aja.

Pun sudah terjadi, Jeongin tidak mungkin meminta Hyunjin menggugurkan anak itu, kan?

Biarpun nantinya membekas, namun semuanya bakalan baik-baik saja selagi ada Hyunjin.

Mungkin.

Suatu hari nanti.

“Dek.”

Lamunannya kembali buyar sesaat suara berat memeluknya hangat. Aroma vanilla dengan kayu manis milik Bangchan menjadi netra penenang hatinya sejenak.

“Tumben kesini kak?”

“Mau jemput bayi ini, Lix.”

“Heh! udah punya suami gini mana bayi lagi, kak?” Jeongin protes dengan dua alis mengerut lucu. Bibirnya maju dan ia malah mendusal ke Felix sebagai tanda tidak setuju atas ucapan Bangchan.

Gemas sekali.

Dan detik itu juga, pria berstatus sebagai wali Jeongin bersumpah pada Tuhan, bahwa ia tidak akan memberi rasa sakit untuk adiknya itu.


“Aku mau ke kantor.”