bhluewry

Setiap tarikan koper itu tersela sebuah harapan. Perasaan berdebar yang menciptakan sunyi hingga suara jantung yang terdengar, seakan musim semi di tengah bulan February.

Ia disana. Tersenyum manis dengan langkah kaki kecil. Sebelah tangannya menggenggam se-bouquet bunga mawar pink sebagai tanda pertemuan. Dan Hyunjin tidak dapat berbohong, ulasan senyuman lebar dengan tetesan air mata yang tidak dapat ia tahan menjadi makna sebuah arti kerinduan.

“Honey.” ia bergumam sangat pelan.

“Selamat pagi dan selamat datang pak Hyunjin, mohon maaf sudah membuat bapak menunggu. Saya Jeongin, perwakilan dari Gryst Ent. yang akan mengantar bapak ke Hotel hari ini.”

Jika ada, jika bisa, ayo kita bertemu kembali dikehidupan selanjutnya.

our home!


Alunan gemuruh tepat di pucuk kepala Mingyu tidak dapat menghentikan langkah kakinya yang berlari menuju rumah kekasih. Persetan dengan tubuh yang basah kuyup, pun dengan tubuh yang tidak kuat dengan dinginya hari, atau bahkan mobil yang ia tinggalkan begitu saja dipinggir jalanan, untuk Mingyu tidak ada yang jauh lebih penting dari pria manis yang lebih muda 4 tahun itu.

Harusnya tidak pulang.

Harusnya menetap.

Harusnya membiarkan pria manis itu bersandar lebih lama lagi untuk terlelap.

Harusnya Jeongin menjadi lebih penting dibandingkan kanvas gambar yang baru jadi itu tertinggal di luar rumah.

Harusnya...

“Sebentar lagi.”

Langkah kakinya semakin berpacu dengan detak jantung. Patung wanita dengan ornamen modern menyambut pandangannya lega.

“Kakak sampai, sayang.”


Letaknya di rumah putih yang megah. Kiasannya terlihat sangat jelas, bunga matahari yang menghiasi halaman dengan indah. Jeongin mengingatnya dengan jelas, rumah itu melingkupinya dengan hangat.

Kaki telanjangnya menyentuh ubin dingin. Perasaan gelisah yang sebelumnya merasuki semakin memudar kala indra pendengarannya menangkap suara pria di balik salah satu pintu di lantai dua.

“Honey.”

Suara samarnya membawa Jeongin untuk mendekat. Ada perasaan aneh yang merasuki tubuhnya. Sebuah perasaan yang—

“Honey ku, Jeongin ku..”

“Sayang? Hei, ada apa?”

“Hah?”

Cup!

“Kesayangannya Mingyu mikirin apa, hm?” pria itu bertanya setelah mendaratkan kecupan manis di sudut bibir Jeongin.

Pertanyaan lembut dari kekasih hatinya membuat Jeongin segera mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan.

Ruangan minimalis bercorak biru bercampur abu-abu pastel disetiap dinding itu adalah kamarnya. Beberapa koleksi gundam yang setiap akhir pekan ia rakit bersama Mingyu pun masih sama dari terakhir kali ia letakan.

“It's oke, kamu lagi di kamar kamu sayang.”

Benar! Ini kamarnya.

Bukan rumah putih megah dengan banyak bunga matahari di mana-mana.

Jeongin menghela nafas berat, seluruh tubuhnya mendidih akan seruan yang tertahan. Memilih memejamkan matanya lantas mengubur seorang diri.

“It's oke, kakak di sini.”

Pelukan Mingyu terasa hangat. Mendekapnya erat hingga Jeongin dapat bersandar sepenuhnya pada dada bidang miliknya.

Tangan lebarnya mengusap pugung Jeongin yang basah akan keringat. Melontarkan kata-kata manis seperti, “Mimpi buruk jangan nakal sama kekasihnya Mingyu atau aku akan memarahi kalian di dalam mimpiku.” konyol memang, tapi berhasil menenangkan Jeongin yang gelisah.

“Kita ganti baju dulu, ya.”

Gelengan ribut diberikan Jeongin saat Mingyu ingin melepaskan pelukan mereka. Pria manis itu malah beranjak untuk duduk dipangkuan Mingyu dan kembali bersandar padanya.

“Jangan pergi.”

“Kakak ga pergi sayang, kakak cuma mau ngambil baju tidur kamu.”

Tidak.

Ada kebohongan di matanya. Kecupan singkat tidak pernah ia berikan sebelumnya. Terburu-buru saat mendapatkan notifikasi di ponselnya.

“Honey, aku pergi dulu, ya.”

“Ga! ga mau. Jangan pergi.”

Air matanya jatuh piluh. Hatinya terasa sesak saat kepingan mimpi itu merasuki pikiran Jeongin.

Melihat Jeongin menangis, Mingyu malah terkekeh manis, ia tangkup wajah kekasihnya itu untuk ia kecupi.

“Kalo mau kakak tidur di sini, sayang harus ganti baju.”

Wajah manis Jeongin langsung berubah kesal. Bibirnya mengerucut dengan mata yang memandang Mingyu sebal. Manis sekali. Persis seperti kucing.

“Tapi, janji ya, jangan pergi.”

Cup!

“Memangnya kakak mau kemana kalau rumah kakak di sini, hm?”

Jeongin terdiam.

Kalimat itu terasa tidak asing. Debaran jantung yang tidak pernah ia rasakan menjerembab kenangan yang tidak dapat Jeongin ingat. Pedih.

“Sayang.” panggilan Mingyu menarik atensi Jeongin yang terdiam, “Kamu mimpi apa?”

Dan Jeongin tidak dapat menjawab. Ia pandangi wajah kekasihnya dengan lamat sebelum merengkuh lehernya untuk ia peluk.

Jeongin kembali menggeleng, “Bukan apa-apa.”

Memilih diam dan memendam semuanya adalah yang terbaik bagi Jeongin. Pun bingung untuk menjelaskanya bagaimana. Mimpi buruk yang terasa seperti bukan.

Ia merasa ada debaran kupu-kupu di dalam tidurnya. Namun terbangun dalam kebingungan. Siapa? Kenapa ada dia?

Siapa? Semua orang itu siapa?

Dimana Mingyu kekasihnya?

Benang mimpi yang seperti episode itu tidak menayangkan kekasihnya. Menjatuhkan Jeongin dalam labirin yang tidak ia mengerti. Meninggalkan perasaan pada hatinya yang selalu bertanya-tanya.

Kenapa merasa seperti kehilangan seseorang?

“Bukan apa-apa, kakak. Cuma mimpi buruk biasa.”

our home!


Alunan gemuruh tepat di pucuk kepala Mingyu tidak dapat menghentikan langkah kakinya yang berlari menuju rumah kekasih. Persetan dengan tubuh yang basah kuyup, pun dengan tubuh yang tidak kuat dengan dinginnya hari, untuk Mingyu tidak ada yang jauh lebih penting dari pria yang lebih muda 4 tahun itu.

Harusnya tidak pulang, harusnya menetap.

Harusnya membiarkan pria manis itu bersandar lebih lama lagi untuk terlelap.

Harusnya Jeongin menjadi lebih penting dibandingkan kanvas gambar yang baru jadi itu tertinggal di luar rumah.

Harusnya...

“Sebentar lagi.”

Langkah kakinya semakin berpacu dengan detak jantung. Patung wanita dengan ornamen modern menyambut pandangannya lega.

“Kakak sampai, sayang.”


our home!


Alunan gemuruh tepat di pucuk kepala Mingyu tidak dapat menghentikan langkah kakinya yang berlari menuju rumah kekasih. Persetan dengan tubuh yang basah kuyup, pun dengan tubuh yang tidak kuat dengan dinginnya hari, untuk Mingyu tidak ada yang jauh lebih penting dari pria yang lebih muda 4 tahun itu.

Harusnya tidak pulang, harusnya menetap.

Harusnya membiarkan pria manis itu bersandar lebih lama lagi untuk terlelap.

Harusnya Jeongin menjadi lebih penting dibandingkan kanvas gambar yang baru jadi itu tertinggal di luar rumah.

“Sebentar lagi.”

Langkah kakinya semakin berpacu dengan detak jantung. Patung wanita dengan ornamen modern menyambut pandangannya lega.

“Kakak sampai, sayang.”

our home!


Alunan gemuruh tepat di pucuk kepala Mingyu tidak dapat menghentikan langkah kakinya yang berlari menuju rumah kekasih. Persetan dengan tubuh yang basah kuyup, pun dengan tubuh yang tidak kuat dengan dinginnya hari, untuk Mingyu tidak ada yang jauh lebih penting dari pria yang lebih muda 4 tahun itu.

I'm coming home! narasi 05


Hyunjin berlari dengan sangat kencang menembus dinding putih yang hening. Tampilannya berantakan, ada bekas luka di beberapa tempat yang sudah mengering, dan sekarang ditambah dengan genangan air mata di pelupuk yang sendu.

Tidak, jangan sekarang.

Lututnya lemas, namun untuk berhenti pun tidak mungkin. Lorong itu terasa panjang, mencambik setiap jantung yang berdetak.

Bangchan di sana. Duduk dengan tatapan kosong bersama suaminya, Minho mengelus punggungnya. Lalu di depannya ada Heeseung yang terseduh mengadu dan satu pria yang tidak Hyunjin kenal.

Langkahnya memelan, berbeda dengan air mata yang tidak henti-hentinya terjatuh. Lampu di depan ruangan belum menunjukkan Dokter sudah keluar dari ruangan ICU. Hyunjin mengadu, tidak tau lagi harus berucap apa.

BUG!

“Harus nunggu Jeongin gini dulu baru lo bisa ngerti siapa Jeongin itu?!”

Heeseung menerjangnya tanpa bisa dicegah Sunghoon. Menarik kerah Hyunjin dan melampiaskan amarahnya yang tidak dapat ditampung.

“Harus nunggu Jeongin sekarat dulu baru lo mau pulang?!”

Hyunjin menerima setiap pukulan Heeseung, ia menangis sejadi-jadinya. Memohon ampun pun percuma, semua salahnya.

“Kak, udah kak.”

Sunghoon membawa Heeseung menjauh, membiarkan tubuh Hyunjin merosot terduduk.

Lain dengan Heeseung, Bangchan masih terdiam. Tidak ada ekspresi saat kedatangannya barusan, ia hanya —menatap kosong pada pintu ruangan yang belum terbuka.

Hyunjin memberanikan diri untuk mendekat. Ia menyentuh lutut Chan dan memeluknya.

“Jeongin lagi dioperasi, pembuluh darahnya pecah, tapi darahnya juga membeku. Dokter ga bisa kasih apa-apa selain dioperasi, dan menurut saksi yang lihat Jeongin kepental agak jauh. Dia juga masih sempet sadar sebentar sebelum dia kehilangan kesadarannya.”

Penjelasan Bangchan semakin menghujam jantungnya. Ia menggeleng rapuh, memohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Berkelit pada pikiran yang selama ini disematkan bahwa yang dilakukan hanya untuk kekasihnya, Jeongin.

Hingga secara sadar ia menghancurkan hati Jeongin. Meninggalkannya untuk sesaat, melontarkan kata kasar, hingga secara sadar pun ia mencium Lily di depan Jeongin saat itu.

“Jeongin salah apa, Jin?”

Hyunjin menggeleng, semakin memeluk lutut Bangchan.

“Kakak minta maaf kalo adek kakak ada salah.”

Tidak, dia yang salah.

Dia yang menghancurkan semuanya dengan dalih kebahagiaan diakhirnya. Namun apa? Kekasihnya berada diujung tanduk kematian juga karena ulahnya.

Ulah Hyunjin yang ingin melindungi Jeongin.

Ulah Hyunjin yang diam-diam menutup mulut semua orang atas pembicaraan yang akan menusuk hati kekasihnya.

Ulah Hyunjin yang membawa orang asing masuk ke dalam hubungan mereka.

Tapi demi tuhan, sampai detik ini pun ia sangat mencintai kekasihnya. Ia memang berbuat salah, tapi berpikiran untuk melepaskan Jeongin adalah pikiran yang tidak pernah ia bayangkan.

Ting!

Semua yang berada di sana segera menoleh. Bangchan bahkan segera menghambur ke depan pintu menunggu Dokter yang akan keluar sebentar lagi.

Hampir 4 jam dan akhirnya ia bisa melihat adiknya yang terpasang banyak alat tertidur dengan perban melilit ditubuhnya penuh.

Hyunjin segera mendekat, menyentuh hati-hati telapak tangan Jeongin. Ia kecup sebentar kening kekasihnya yang diperban.

“Honey.”


Hyunjin berjalan masuk bersama dengan Bangchan yang sudah menghambur pada satu-satunya keluarga yang ia punya selain Minho.

Diambilnya telapak tangan Jeongin untuk ia bawa pada genggaman hangatnya.

“Aku pulang, Honey.”

Bunyi kardiograf menyapa Hyunjin dengan menyebalkan. Ia ingin mendengar suara manis kekasihnya yang selalu menyambut penuh hangat.

Lagi-lagi lidahnya keluh, tidak dapat mengatakan apapun hingga hanya tatapan hancur yang tergambar jelas pada mata Hyunjin.

“Adek, ini Hyunjin udah di sini. Katanya mau kasih bunga matahari yang kita beli tadi siang, itu bunganya udah hancur karena basah, kita beli lagi untuk kamu kasih ke Hyunjin mau ga? Kalo mau, tolong bertahan ya adeknya kakak.”

Hyunjin yang mendengar itu terisak. Heeseung bahkan harus keluar untuk menenangkan dirinya.

“Pasien mengalami benturan yang cukup keras sehingga mengalami cedera otak yang hebat. Saya tidak bisa menjamin apapun selain ada kersusakan otak pada pasien dan saat ini, pasien mengalami hilangnya kesadaran dengan waktu yang tidak bisa kami tentunkan atau umumnya pasien mengalami koma. Saya sudah berusaha semampu saya, jadi terus berdo'a pada tuhan untuk kesembuhan pasien, sejatihnya hidup dan mati seseorang hanya di tangan Tuhan.”

Jika ini karmanya, lantas kenapa harus Jeongin? Cabut saja nyawanya untuk membuktikan betapa ia tidak sanggup melihat kekasihnya terbaring tanpa nyawa.

Tuhan, beri aku kesempatan sekali lagi.

I'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun. Meski tidak terlalu deras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat tubuh kuyup dingin serta —air mata yang sudah melebur menjadi satu.

Sesekali ia menoleh ke belakang. Berharap sosok yang ia harapkan berlari mengejar dirinya, “Kamu tidak mengerjaku, bae?”

Jalanan kosong menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

Ia, Hwang Jeongin, hanya terkekeh hambar lalu lanjut melangkah dengan amat pelan. Meski tubuhnya sudah terasa lunglai dan sangat letih, Jeongin tidak ingin mengambil pusing.

Sudah cukup banyak ia berdiri dan tersenyum, lantas hari ini, semuanya sudah terkubur —dan Jeongin melepas topeng yang ia pakai selama beberapa hari ke belakang.

Runtuh.

Jeongin runtuh.

Terjerembab dalam cinta yang sampai detik ini masih sama besarnya.

Jeongin runtuh.

Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang mengubur hatinya. Meruntuhkan pondasinya. Lantas membiarkan tergeletak dengan kenangan sempit yang semakin ingin tergantikan.

“Bae.”


“Aku butuh anak dan Jeongin tidak bisa memberikannya, aku mencari seseorang yang bisa memberikan kami keturunan nantinya.”

Saat itu ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya, Hyunjin, di hadapan Ayah Seungcheol dan wanita cantik yang sudah Hyunjin kenal dari 3 bulan yang lalu di sampingnya.

Langkah kakinya terhenti, membiarkan Hyunjin berbincang di dalam sana. Memantapkan hati untuk bersanding dan berjalan bersama Hyunjin kembali.

Jeongin tau, hatinya tidak menerima semua itu, tapi ia juga tau, jauh dari Hyunjin sama sekali tidak akan membantu.

“Saya Lily, saya sudah kenal dengan anak anda tidak terlalu lama, namun tidak terlalu singkat untuk saya bisa menjadi ibu pengganti untuk anak anda dan pasangannya. Dan saya pun— ” wanita itu melirik Hyunjin, menggenggam tangannya dan tersenyum. “—sudah hamil satu bulan.”

Jeongin menarik nafas, menahan isakannya dengan telapak tangan. Beberapa orang yang melihat sosok dirinya terjatuh di pinggir jalan, ingin segera membantu sebelum Jeongin menggeleng dan berkata, “No, i'm fine.. i'm... hiks.. i'm good.”

Dengan susah payah ia berdiri pada kaki yang sudah letih. Pada tubuh yang menggigil tidak karuan. Pada hati yang remuk. Dan air mata yang tidak dapat berhenti mengalir.

“Aku sudah program bayi itu sekitar dua bulan yang lalu.”

Tapi, kenapa kau mengatakan baru beberapa minggu lalu?

Ah— Jeongin mengerti. Semua itu untuk kebaikan dirinya, bukan?

Kebaikan yang menghancurkan dirinya menjadi berantakan.

Tapi, semua itu bukan salah, Hyunjin. Ia bertanggung jawab atas pilihan kekasihnya memilih bersembunyi. Semua itu pasti berat untuk, Hyunjin.

Iya.

Sangat berat untuk mengatakan kalau perjalanan ke Denmark hanya alasan untuk bersembunyi dari segala tes bayi tabung dan makan malam romantis di salah satu tempat Hyunjin melamarnya dulu.

Sangat sulit untuk mengatakan kalau kesibukannya hanya alasan untuk—

“Aku tinggal bersama Lily.”

“Tidak.”

Jeongin terguguh. Menutup telinganya kala suara kekasihnya masuk ke dalam memori rusak. Isakannya melirih, menjatuhkan sakit hatinya di bawah hujan yang semakin deras.

“Aku akan bawa Lily ke Jepang untuk kesehatan bayi-nya dan—” ia melirik ragu. “Aku akan ikut Lily untuk sementara waktu.”

“hiks... tidak, tidak..”

Harus bagaimana lagi Jeongin menarik Hyunjin kepadanya? Isak tangisnya semakin kencang, dirinya pun semakin takut.

Jeongin takut ia tidak bisa menarik Hyunjin lagi.

Gemuruh yang menggelegar di angkasa seperti raungan amarah. Lantas menangis seperti Jeongin. Membalut tubuh itu kalau alam pun berduka pada sosok yang menghargai cinta.

Jeongin itu manis. Ia jatuh cinta hanya untuk sekali. Dan Hyunjin, menjadi pertama dan terakhir kali ia memberi hati. Pada pria yang ia kenal dari tahun terakhir ia kuliah. Pria yang selalu memberi bahagia, hingga untuk sesaat, Jeongin lupa atas nama duka.

“Bae, aku hanya butuh kamu.”

Suara halusnya diterpa angin. Tatapan kosongnya terjatuh pada bumi. Ia berdiri di pinggir jalan yang sepi, mengulur tangannya yang tersemat cincin pernikahan dengan ukiran nama dan merpati kecil di tengahnya.

Lantas ia tersenyum, merpati memang abadi bersama kekasihnya, kalau ia tau di mana pasangannya berada. Tapi untuk hal ini, mungkin kah kekasih merpatinya memiliki pasangan baru yang ia temui?

Ia kembali menjatuhkan air mata, kembali berjalan untuk semakin menghibur diri. Setelahnya satu tarikan nafas menjadi penghantar pada tubuh yang lunglai.

Benar kata Heeseung, melepaskan adalah jalan yang terbaik.

Bruk!

Waktu terjadi begitu cepat. Seperti kedipan mata yang mengundang untuk tetap terbuka. Dan saat itu, Jeongin dapat melihat langit kelabu.

Tes

Tes tes

Ribuan air mata awan membasahi tubuhnya yang terlentang di tengah jalan. Samar-samar ia mendengar suara jeritan. Tubuhnya ingin bangkit, ingin kembali berjalan menjauh untuk melepas penat pada hatinya.

Namun semua itu gugur kala kesadarannya semakin tipis. Dengan susah payah ia menoleh, kerumunan orang berlari ke arahnya.

“Untuk apa?

Lalu semua terjawab kala matanya yang ingin tertutup melihat kaca depan mobil yang tidak jauh dari tubuhnya sudah hancur.

“Ah, sama seperti ku.”

Jeongin ingin menertawai dunia. Ingin berteriak kesal untuk melepas jauh ribuan jarum yang merambat sakit di seluruh tubuh. Dan nantinya pun ia akan berucap menang bahwa ia memang sudah baik-baik saja.

Lantas semua itu menjadi angan. Tarikan pada sudut buburnya pun sudah sangat susah. Bau anyir semakin menghilang sebab dihancurkan oleh air hujan. Maka dengan sangat perlahan, Jeongin menutup matanya.

“Bae, untuk waktu yang singkat ini, aku berbahagia denganmu. Hingga aku lupa, tentang kebahagiaan dirimu. Maafkan aku ya, aku yang salah karena tidak bisa memberi kebahagiaan untukmu seperti kamu memberikannya padaku.”

Cincin dalam genggaman Jeongin menggelinding pada darah yang semakin merembas keluar.

“Bae, aku melepasmu.”

I'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun. Meski tidak terlalu deras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat tubuh kuyup dingin serta —air mata yang sudah melebur menjadi satu.

Sesekali ia menoleh ke belakang. Berharap sosok yang ia harapkan berlari mengejar dirinya, “Kamu tidak mengerjaku, bae?”

Jalanan kosong menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

Ia, Hwang Jeongin, hanya terkekeh hambar lalu lanjut melangkah dengan amat pelan. Meski tubuhnya sudah terasa lunglai dan sangat letih, Jeongin tidak ingin mengambil pusing.

Sudah cukup banyak ia berdiri dan tersenyum, lantas hari ini, semuanya sudah terkubur —dan Jeongin melepas topeng yang ia pakai selama beberapa hari ke belakang.

Runtuh.

Jeongin runtuh.

Terjerembab dalam cinta yang sampai detik ini masih sama besarnya.

Jeongin runtuh.

Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang mengubur hatinya. Meruntuhkan pondasinya. Lantas membiarkan tergeletak dengan kenangan sempit yang semakin ingin tergantikan.

“Bae.”


“Aku butuh anak dan Jeongin tidak bisa memberikannya, aku mencari seseorang yang bisa memberikan kami keturunan nantinya.”

Saat itu ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya, Hyunjin, di hadapan Ayah Seungcheol dan wanita cantik yang sudah Hyunjin kenal dari 3 bulan yang lalu di sampingnya.

Langkah kakinya terhenti, membiarkan Hyunjin berbincang di dalam sana. Memantapkan hati untuk bersanding dan berjalan bersama Hyunjin kembali.

Jeongin tau, hatinya tidak menerima semua itu, tapi ia juga tau, jauh dari Hyunjin sama sekali tidak akan membantu.

“Saya Lily, saya sudah kenal dengan anak anda tidak terlalu lama, namun tidak terlalu singkat untuk saya bisa menjadi ibu pengganti untuk anak anda dan pasangannya. Dan saya pun— ” wanita itu melirik Hyunjin, menggenggam tangannya dan tersenyum. “—sudah hamil satu bulan.”

Jeongin menarik nafas, menahan isakannya dengan telapak tangan. Beberapa orang yang melihat sosok dirinya terjatuh di pinggir jalan, ingin segera membantu sebelum Jeongin menggeleng dan berkata, “No, i'm fine.. i'm... hiks.. i'm good.”

Dengan susah payah ia berdiri pada kaki yang sudah letih. Pada tubuh yang menggigil tidak karuan. Pada hati yang remuk. Dan air mata yang tidak dapat berhenti mengalir.

“Aku sudah program bayi itu sekitar dua bulan yang lalu.”

Tapi, kenapa kau mengatakan baru beberapa minggu lalu?

Ah— Jeongin mengerti. Semua itu untuk kebaikan dirinya, bukan?

Kebaikan yang menghancurkan dirinya menjadi berantakan.

Tapi, semua itu bukan salah, Hyunjin. Ia bertanggung jawab atas pilihan kekasihnya memilih bersembunyi. Semua itu pasti berat untuk, Hyunjin.

Iya.

Sangat berat untuk mengatakan kalau perjalanan ke Denmark hanya alasan untuk bersembunyi dari segala tes bayi tabung dan makan malam romantis di salah satu tempat Hyunjin melamarnya dulu.

Sangat sulit untuk mengatakan kalau kesibukannya hanya alasan untuk—

“Aku tinggal bersama Lily.”

“Tidak.”

Jeongin terguguh. Menutup telinganya kala suara kekasihnya masuk ke dalam memori rusak. Isakannya melirih, menjatuhkan sakit hatinya di bawah hujan yang semakin deras.

“Aku akan bawa Lily ke Jepang untuk kesehatan bayi-nya dan—” ia melirik ragu. “Aku akan ikut Lily untuk sementara waktu.”

“hiks... tidak, tidak..”

Harus bagaimana lagi Jeongin menarik Hyunjin kepadanya? Isak tangisnya semakin kencang, dirinya pun semakin takut.

Jeongin takut ia tidak bisa menarik Hyunjin lagi.

Gemuruh yang menggelegar di angkasa seperti raungan amarah. Lantas menangis seperti Jeongin. Membalut tubuh itu kalau alam pun berduka pada sosok yang menghargai cinta.

Jeongin itu manis. Ia jatuh cinta hanya untuk sekali. Dan Hyunjin, menjadi pertama dan terakhir kali ia memberi hati. Pada pria yang ia kenal dari tahun terakhir ia kuliah. Pria yang selalu memberi bahagia, hingga untuk sesaat, Jeongin lupa atas nama duka.

“Bae, aku hanya butuh kamu.”

Suara halusnya diterpa angin. Tatapan kosongnya terjatuh pada bumi. Ia berdiri di pinggir jalan yang sepi, mengulur tangannya yang tersemat cincin pernikahan dengan ukiran nama dan merpati kecil di tengahnya.

Lantas ia tersenyum, merpati memang abadi bersama kekasihnya, kalau ia tau di mana pasangannya berada. Tapi untuk hal ini, mungkin kah kekasih merpatinya memiliki pasangan baru yang ia temui?

Ia kembali menjatuhkan air mata, kembali berjalan untuk semakin menghibur diri. Setelahnya satu tarikan nafas menjadi penghantar pada tubuh yang lunglai.

Benar kata Heeseung, melepaskan adalah jalan yang terbaik.

Bruk!

Waktu terjadi begitu cepat. Seperti kedipan mata yang mengundang untuk tetap terbuka. Dan saat itu, Jeongin dapat melihat langit kelabu.

Tes

Tes tes

Ribuan air mata awan membasahi tubuhnya yang terlentang di tengah jalan. Samar-sama ia mendengar suara jeritan. Tubuhnya ingin bangkit, ingin kembali berjalan menjauh untuk melepas penat pada hatinya.

Namun semua itu gugur kala kesadarannya semakin tipis. Dengan susah payah ia menoleh, kerumunan orang berlari ke arahnya.

“Untuk apa?

Lalu semua terjawab kala matanya yang ingin tertutup melihat kaca depan mobil yang tidak jauh dari tubuhnya sudah hancur.

“Ah, sama seperti ku.”

I'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun. Meski tidak terlalu deras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat tubuh kuyup dingin serta —air mata yang sudah melebur menjadi satu.

Sesekali ia menoleh ke belakang. Berharap sosok yang ia harapkan berlari mengejar dirinya, “Kamu tidak mengerjaku, bae?”

Jalanan kosong menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

Ia, Hwang Jeongin, hanya terkekeh hambar lalu lanjut melangkah dengan amat pelan. Meski tubuhnya sudah terasa lunglai dan sangat letih, Jeongin tidak ingin mengambil pusing.

Sudah cukup banyak ia berdiri dan tersenyum, lantas hari ini, semuanya sudah terkubur —dan Jeongin melepas topeng yang ia pakai selama beberapa hari ke belakang.

Runtuh.

Jeongin runtuh.

Terjerembab dalam cinta yang sampai detik ini masih sama besarnya.

Jeongin runtuh.

Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang mengubur hatinya. Meruntuhkan pondasinya. Lantas membiarkan tergeletak dengan kenangan sempit yang semakin ingin tergantikan.

“Bae.”


“Aku butuh anak dan Jeongin tidak bisa memberikannya, aku mencari seseorang yang bisa memberikan kami keturunan nantinya.”

Saat itu ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya, Hyunjin, di hadapan Ayah Seungcheol dan wanita cantik yang sudah Hyunjin kenal dari 3 bulan yang lalu di sampingnya.

Langkah kakinya terhenti, membiarkan Hyunjin berbincang di dalam sana. Memantapkan hati untuk bersanding dan berjalan bersama Hyunjin kembali.

Jeongin tau, hatinya tidak menerima semua itu, tapi ia juga tau, jauh dari Hyunjin sama sekali tidak akan membantu.

“Saya Lily, saya sudah kenal dengan anak anda tidak terlalu lama, namun tidak terlalu singkat untuk saya bisa menjadi ibu pengganti untuk anak anda dan pasangannya. Dan saya pun— ” wanita itu melirik Hyunjin, menggenggam tangannya dan tersenyum. “—sudah hamil satu bulan.”

Jeongin menarik nafas, menahan isakannya dengan telapak tangan. Beberapa orang yang melihat sosok dirinya terjatuh di pinggir jalan, ingin segera membantu sebelum Jeongin menggeleng dan berkata, “No, i'm fine.. i'm... hiks.. i'm good.”

Dengan susah payah ia berdiri pada kaki yang sudah letih. Pada tubuh yang menggigil tidak karuan. Pada hati yang remuk. Dan air mata yang tidak dapat berhenti mengalir.

“Aku sudah program bayi itu sekitar dua bulan yang lalu.”

Tapi, kenapa kau mengatakan baru beberapa minggu lalu?

*”

I'm coming home! kita sudah usai


Deru mesin besi yang melaju kencang di tengah jalanan basah berlalu datang dan pergi. Angin yang menerjang tubuh terasa berkali-kali lipat dinginnya. Membalut tubuh ringkih yang berjalan tanpa arah.

Tes

Senyumnya terukir cantik. Dalam hati bersyukur akan hujan yang turun. Meski tidak terlalu deras seperti biasanya, namun cukup untuk membuat tubuh kuyup dingin serta —air mata yang sudah melebur menjadi satu.

Sesekali ia menoleh ke belakang. Berharap sosok yang ia harapkan berlari mengejar dirinya, “Kamu tidak mengerjaku, bae?”

Jalanan kosong menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

Ia, Hwang Jeongin, hanya terkekeh hambar lalu lanjut melangkah dengan amat pelan. Meski tubuhnya sudah terasa lunglai dan sangat letih, Jeongin tidak ingin mengambil pusing.

Sudah cukup banyak ia berdiri dan tersenyum, lantas hari ini, semuanya sudah terkubur —dan Jeongin melepas topeng yang ia pakai selama beberapa hari ke belakang.

Runtuh.

Jeongin runtuh.

Terjerembab dalam cinta yang sampai detik ini masih sama besarnya.

Jeongin runtuh.

Mengingat kejadian beberapa jam lalu yang mengubur hatinya. Meruntuhkan pondasinya. Lantas membiarkan tergeletak dengan kenangan sempit yang semakin ingin tergantikan.

“Bae.”


“Aku butuh anak dan Jeongin tidak bisa memberikannya, aku mencari seseorang yang bisa memberikan kami keturunan nantinya.”

Saat itu ia sudah terbiasa mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya, Hyunjin, di hadapan Ayah Seungcheol dan wanita cantik yang sudah Hyunjin kenal dari 3 bulan yang lalu di sampingnya.

Langkah kakinya terhenti, membiarkan Hyunjin berbincang di dalam sana. Memantapkan hati untuk bersanding dan berjalan bersama Hyunjin kembali.

Jeongin tau, hatinya tidak menerima semua itu, tapi ia juga tau, jauh dari Hyunjin sama sekali tidak akan membantu.

“Saya Lily, saya sudah kenal dengan anak anda tidak terlalu lama, namun tidak terlalu singkat untuk saya bisa menjadi ibu pengganti untuk anak anda dan pasangannya. Dan saya pun— ” wanita itu melirik Hyunjin, menggenggam tangannya dan tersenyum. “—sudah hamil satu bulan.”

Jeongin menarik nafas, menahan isakannya dengan telapak tangan. Beberapa orang yang melihat sosok dirinya terjatuh di pinggir jalan, ingin segera membantu sebelum Jeongin menggeleng dan berkata, “No, i'm fine.. i'm hiks.. i'm good.”