Untuk yang Pernah Singgah
content warning! kiss and abusive.
Lembayung fajar sudah tidak berteman dengan senyuman. Secangkir teh yang biasanya menjadi penikmat sudah terasa hambar. Pun kicauan burung yang terasa sangat bising. Seolah menganggu tubuh yang hanya ingin terdiam menatap gundukan penuh embun tanpa arti. Rasanya sunyi sekali, bukan?
Hampa
Kosong
Redup
Dan, gelap
Sekarang kita sudah sama. Ukiran senyuman indah kala menatap mataku sudah hilang. Tidak akan pernah kujumpai lagi meski aku meminta. Dunia memang tidak adil, tapi tidak sekali pun aku berpikir akan seperti saat ini. Sumarah yang merayap naik memenuhi hatiku membuatku ingin berhenti melangkah. Lelahnya bukan main.
“Harusnya masih banyak kisah yang kita rangkai, kan?” alih-alih suara konyolmu yang terdengar dersik malah menyapa dengan meraung, ah benar, aku yang tidak tau malu.
“Harusnya aku ga pernah ngebiarin kamu masuk ke hidup aku kan, kak?”
Rinai tak lagi berbisik untuk turun ke bumi. Menyembunyikan mentari yang kehilangan sang bintang kala pagi menyambut. Atau memang mereka tidak pernah ditakdirkan bersama? terlahir untuk rasa sepi yang tidak pernah habis. Beri tau aku, bukankah rasanya sama seperti saat ini? dera tak kunjung menghilang, mengikis tonggak penopang.
“Aku harus gimana sekarang?” kalimat itu keluar begitu saja. Terjatuh bersama dengan air mata yang tidak bisa kucegah. “Aku kesakitan, kak.”
Jika dijabarkan rasanya seperti elegi renjana. Kesendirian yang berlarut dengan mencari cara untuk menerjang pusaran waktu, berharap akan ada kisah saat aku merangkai nama cintaku menjadi nyata. Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Lalu kenapa kau harus datang kala aku hanya ingin terberai dari waktu ke waktu?
Kenapa harus datang dengan semua perasaan yang kau bawa itu?
Aku tidak pernah meminta, namun gilanya sekarang aku ingin memohon untuk kembali datang. Berlari sekali lagi, genggam tanganku selama yang kau mau, —bawa aku menjauh, jangan biarkan aku terberai, hapus namanya dalam hatiku, lalu gantilah dengan namamu seperti keinginan yang kau ucapkan di bawah gemetang.
Sakit sekali. Rasanya sakit sekali.
Meski sudah kehilangan pun rasa terhadapnya masih sama.
“Katamu tidak boleh menyerah, tapi sekarang aku ingin me— ARGH!”
Pening menyergap tanpa bisa terkendali kala tangan besar menarik rambutku dengan tiba-tiba. Memaksaku untuk mendongak dan bertatap pada mata yang mengabut marah. Tidak ada belas kasih seperti yang ia janjikan. Hancur.
Sekali lagi hancur.
Dia. Seorang yang menjadi alasan kenapa aku bertahan hingga detik ini. Seorang yang menjadi alasan aku masih berharap pada bumantara. Dan seorang yang menjadi alasan untuk air mata yang jatuh pada gundukan tubuh yang ia hilangkan.
Dia, Hwang Hyunjin. Alasan atas warna merah pada pipi yang baru saja ia berikan padaku.
“Gue cari lo kemana-mana taunya lo malah duduk kayak orang sakit jiwa nangisin orang yang udah mati? jalang ga tau diri.”
Bayanganku terpantul pada matanya. Perasaan berdebar yang selama ini menyergap bertambah dengan rasa takut yang masih ada. “Mnhh.. akh!”
Lagi dan lagi rasa anyir dapat kurasakan kala Hyunjin menggigit bibirku dengan kasar. “Mikirin apa lagi?” tanyanya dengan dingin.
“Argh! bukan apa-apa.” kepalaku tidak henti-hentinya berdenyut. Seolah kulit kepalaku akan terlepas, namun Hyunjin malah semakin mengencangkan genggamannya. Mataku menatap caramelnya, mencari tanda kekhawatiran dibalik kemarahan dan nafsu yang menggebu.
Sayup-sayup terdengar suaranya berteriak nyalang. Menghempaskan sekali lagi tubuhku yang sudah basah akibat hujan ke pintu mobil yang dingin. Remuk. Punggungku remuk. Seremuk hatiku.
Gundah memeluk atma kelabu. Nestapa menjadi saksi akan sosok yang tetap kupuja. Gemerisik angin bercampur dengan isakan yang hanya bisa ku layangkan.
Grep!
Daksaku yang lusuh didekap dengan erat. Sebuah kerinduan kala pundak itu membiarkanku bersandar sejenak. Meski pupus yang kuinginkan, nyatanya renjana masih sama. Bagaimana bisa aku tetap merindukanmu meski ku tau kau yang menjadi alasan seorang yang mencintaiku terbaring di bawah gundukan tanah, Hyunjin?
“Maaf, gue ga bermaksud buat ngelakuin itu di sini.” ada getaran dalam suaranya, lara yang terdengar tipis merasuki tubuhku. “Gue khawatir sama lo, Je.”
Hangat sekali.
Rasanya hangat sekali.
Bagaimana bisa hanya satu kalimat bualan seperti itu membuat aksama pada relung hati yang remuk? amaraloka menjauhkan waktu kala kumenangis ingin hancur.
Biar saja. Bila nantinya akan terbanting pada kasur yang lusuh. Membentuk bercak dimana-mana hingga nafas tak lagi beraturan. Biar saja. Aku terbiasa untuk jatuh dalam mencintai dan membenci pada nama yang kupinjam dalam rangkaian kisah ku sendiri. Biar saja.
Jika akhirnya pun aku harus lenyap, maka biarkanlah aku lenyap dalam pelukanmu, Hyunjin.