bhluewry

Apa lagi? apa lagi yang ku tunggu? bukankah seharusnya tidak ada lagi?

Aku tau, aku harusnya tidak berhenti lalu berbalik. Tapi katakan bagaimana caranya? jika tumpuanku pergi dan tujuanku menarik pada pusaran neraka duniawi, aku harus apa?

Pun sejauh ini memang bukan aku yang ia rindukan, tidak ada namaku selain tempat singgahnya itu. Harusnya aku sadar, sudah hampir mati pun Hyunjin tidak akan pernah datang kalau bukan nafsunya yang menyuruh.

Dan untukmu yang menenangkan hari kelamku, bisakah aku mengatakan kalau aku tengah merindu?

Aku merindu.

Rindu akan sosokmu yang ada dalam hidupku.

Kepada bintang yang tidak pernah menaruh dendam pada bulan, kepada langit yang setia terbentang untuk samudra, kepada matahari yang tidak lelah untuk bersinar terang kala malam menyapa —ku ingin menitipkan sebuah kisah sejenak.

Kisah tentangku yang terkapar dalam cinta yang tak kunjung datang.

Dalam debar yang ingin kudengar saat tubuh saling bersandar; mata beradu pandang dengan senyuman. Nyatanya hanya indurasmi yang kupangku sepi.

Ini kisahku.

Perihal atma renjana yang tidak kunjung berhenti bergetar untuk kekasihnya.

Meski bukan bekas ciuman yang terpampang melainkan lebam yang diberikan, tetap kepadanyalah hati ini ingin berdetak tak karuan.

Bahkan ketika datang hanya untuk mencumbu, alih-alih melepas rindu, atmanya tetap sama.

Ingin tau kenapa? nyatanya sederhana; kala hati sudah menentukan rumah untuk berpulang, sendu akan mengalah pada bayangan harsa.

Nebastala sudah tau, apalagi bianglala yang berkunjung tidak tentu.

Mereka semua tau, bahwa cintamu tidak pernah luntur untuk menunggu kehadiran bayangannya berlari padamu.

-

Pun tau; bahwa kalbumu tidak pernah melihat ke arahku yang setia mencinta dalam gapah.

Tenang, jangan khawatir, lara-ku tidak sebanding dengan dera pada hatimu.

Jeongin, pria manis yang kukenal selalu bersama kelopak bulan sabit di matanya.

Jeongin, pria manis yang penuh dengan pesona dalam balutannya.

Jeongin.. dimana Jeongin yang kukenal dulu?

Yang bersuara merdu kala bernyanyi “drivers license” milik Olivia Rodrigo dengan akara aksa penuh arti.

Jeongin, aku tau dirimu tidak mengenalku. Tapi bolehkah ku berkata bahwa aku sangat mengenal dirimu?

Ku ingin bersamamu, sungguh, tapi kutau, tempatmu bukan bersamaku.

Jadi pergilah, terbang dan mendaratlah pada bandara yang dirimu inginkan.

Biar aku di sini, menitip kisah pada semesta, berharap malam-mu penuh dengan gemetang indah, serta luka yang segera padam dengan bahagia sebagai gantinya.

-

-

Andam Karam: LMH. Januari, 2020.

Untuk yang Pernah Singgah

content warning! kiss and abusive.


Lembayung fajar sudah tidak berteman dengan senyuman. Secangkir teh yang biasanya menjadi penikmat sudah terasa hambar. Pun kicauan burung yang terasa sangat bising. Seolah menganggu tubuh yang hanya ingin terdiam menatap gundukan penuh embun tanpa arti. Rasanya sunyi sekali, bukan?

Hampa

Kosong

Redup

Dan, gelap

Sekarang kita sudah sama. Ukiran senyuman indah kala menatap mataku sudah hilang. Tidak akan pernah kujumpai lagi meski aku meminta. Dunia memang tidak adil, tapi tidak sekali pun aku berpikir akan seperti saat ini. Sumarah yang merayap naik memenuhi hatiku membuatku ingin berhenti melangkah. Lelahnya bukan main.

“Harusnya masih banyak kisah yang kita rangkai, kan?” alih-alih suara konyolmu yang terdengar dersik malah menyapa dengan meraung, ah benar, aku yang tidak tau malu.

“Harusnya aku ga pernah ngebiarin kamu masuk ke hidup aku kan, kak?”

Rinai tak lagi berbisik untuk turun ke bumi. Menyembunyikan mentari yang kehilangan sang bintang kala pagi menyambut. Atau memang mereka tidak pernah ditakdirkan bersama? terlahir untuk rasa sepi yang tidak pernah habis. Beri tau aku, bukankah rasanya sama seperti saat ini? dera tak kunjung menghilang, mengikis tonggak penopang.

“Aku harus gimana sekarang?” kalimat itu keluar begitu saja. Terjatuh bersama dengan air mata yang tidak bisa kucegah. “Aku kesakitan, kak.”

Jika dijabarkan rasanya seperti elegi renjana. Kesendirian yang berlarut dengan mencari cara untuk menerjang pusaran waktu, berharap akan ada kisah saat aku merangkai nama cintaku menjadi nyata. Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Lalu kenapa kau harus datang kala aku hanya ingin terberai dari waktu ke waktu?

Kenapa harus datang dengan semua perasaan yang kau bawa itu?

Aku tidak pernah meminta, namun gilanya sekarang aku ingin memohon untuk kembali datang. Berlari sekali lagi, genggam tanganku selama yang kau mau, —bawa aku menjauh, jangan biarkan aku terberai, hapus namanya dalam hatiku, lalu gantilah dengan namamu seperti keinginan yang kau ucapkan di bawah gemetang.

Sakit sekali. Rasanya sakit sekali.

Meski sudah kehilangan pun rasa terhadapnya masih sama.

“Katamu tidak boleh menyerah, tapi sekarang aku ingin me— ARGH!”

Pening menyergap tanpa bisa terkendali kala tangan besar menarik rambutku dengan tiba-tiba. Memaksaku untuk mendongak dan bertatap pada mata yang mengabut marah. Tidak ada belas kasih seperti yang ia janjikan. Hancur.

Sekali lagi hancur.

Dia. Seorang yang menjadi alasan kenapa aku bertahan hingga detik ini. Seorang yang menjadi alasan aku masih berharap pada bumantara. Dan seorang yang menjadi alasan untuk air mata yang jatuh pada gundukan tubuh yang ia hilangkan.

Dia, Hwang Hyunjin. Alasan atas warna merah pada pipi yang baru saja ia berikan padaku.

“Gue cari lo kemana-mana taunya lo malah duduk kayak orang sakit jiwa nangisin orang yang udah mati? jalang ga tau diri.”


Bayanganku terpantul pada matanya. Perasaan berdebar yang selama ini menyergap bertambah dengan rasa takut yang masih ada. “Mnhh.. akh!”

Lagi dan lagi rasa anyir dapat kurasakan kala Hyunjin menggigit bibirku dengan kasar. “Mikirin apa lagi?” tanyanya dengan dingin.

“Argh! bukan apa-apa.” kepalaku tidak henti-hentinya berdenyut. Seolah kulit kepalaku akan terlepas, namun Hyunjin malah semakin mengencangkan genggamannya. Mataku menatap caramelnya, mencari tanda kekhawatiran dibalik kemarahan dan nafsu yang menggebu.

Sayup-sayup terdengar suaranya berteriak nyalang. Menghempaskan sekali lagi tubuhku yang sudah basah akibat hujan ke pintu mobil yang dingin. Remuk. Punggungku remuk. Seremuk hatiku.

Gundah memeluk atma kelabu. Nestapa menjadi saksi akan sosok yang tetap kupuja. Gemerisik angin bercampur dengan isakan yang hanya bisa ku layangkan.

Grep!

Daksaku yang lusuh didekap dengan erat. Sebuah kerinduan kala pundak itu membiarkanku bersandar sejenak. Meski pupus yang kuinginkan, nyatanya renjana masih sama. Bagaimana bisa aku tetap merindukanmu meski ku tau kau yang menjadi alasan seorang yang mencintaiku terbaring di bawah gundukan tanah, Hyunjin?

“Maaf, gue ga bermaksud buat ngelakuin itu di sini.” ada getaran dalam suaranya, lara yang terdengar tipis merasuki tubuhku. “Gue khawatir sama lo, Je.”

Hangat sekali.

Rasanya hangat sekali.

Bagaimana bisa hanya satu kalimat bualan seperti itu membuat aksama pada relung hati yang remuk? amaraloka menjauhkan waktu kala kumenangis ingin hancur.

Biar saja. Bila nantinya akan terbanting pada kasur yang lusuh. Membentuk bercak dimana-mana hingga nafas tak lagi beraturan. Biar saja. Aku terbiasa untuk jatuh dalam mencintai dan membenci pada nama yang kupinjam dalam rangkaian kisah ku sendiri. Biar saja.

Jika akhirnya pun aku harus lenyap, maka biarkanlah aku lenyap dalam pelukanmu, Hyunjin.

Untuk yang Pernah Singgah.


Terkadang aku bingung, rasa apa yang sedang singgah saat ini? nyatanya derana yang tak dapat dijabarkan dengan kata. Teriknya matahari di siang kala itu menyentuh belenggu yang sudah lelah. Berhenti. Aku ingin berhenti.

Aku ketakutan pada diriku sendiri. Nebastala menerjang tanpa belas kasih pada perasaan putus asa yang gilanya bukan main. Jatuh cinta. Rasa manis yang kutunggu saat itu malah membuatku rapuh —baiklah, katakan padaku sayang, bisakah aku menjadi milikmu bila kuberikan semua yang kupunya padamu? bak tekad namun nyatanya hanya melodi kehancuran yang kugenggam saat itu. Redup. Aku sudah redup.

Hatimu bukan untukku, aku tau. Lantas apa? bolehkah aku singgah sejenak untukmu?

Namun rangkaian cerita itu malah kusut. Bak memori yang diterjang ombak sepi.

Lalu hari pun berlalu, hujan mengguyur bentala yang lusuh membuatku mengenang masa lalu. Hari-hari yang kita lalui terasa seperti permen kapas di alun-alun penuh tawa dan cerita romansa indah. Manis dan cepat habis. Itulah kita.

Nuraga sudah habis tersepai. Hancur bagaikan cahaya rembulan di tengah lautan lepas. Aku ketakutan. Memikirkan bahwa dirimu jauh dari-ku membuatku kehilangan akal. Tergamang dalam balutan memori yang kita ciptakan. Hyunjin, bagaimana bisa aku sangat mencintaimu? —hah, menyebalkan sekali.

Lakuna pun rasanya tidak seperti ini. Rasa hampa yang berperang dalam genangan harsa yang tak terhingga kala bersamamu malah membunuhku secara perlahan. Terbesit dalam pikiranku, Bagaimana bisa tawa itu mengalun merdu? Beruntungnya Jisung yang dapat mendengar melodi surga itu.

Hyunjin katakan padaku, apakah aku milikmu?

Hyunjin katakan padaku, bisakah aku terus bersamamu?

Hyunjin katakan padaku, akankah matamu dapat melihat cintaku dibandingkan seonggok tubuh yang sudah rusak ini?

Aku terberai. Rusak dan hancur. Berharap pun sudah lelah, apalagi untuk melangkah.

Sudah. mari berhenti.

Tapi, sebelum itu bisakah kau katakan padaku—

—bagaimana rasanya membunuh?

Ajarkan padaku rasa itu agar nantinya saat aku kembali padamu, aku dapat memberi taumu, bagaimana rasa cinta berubah menjadi jejal yang tidak dapat dijabarkan dengan kata. Hancur.

Mari kita hancur bersama, Hyunjin.


Sehancurnya kehilangan seseorang yang mencintaimu.


Sehancurnya aku.

Terkadang aku bingung, rasa apa yang sedang singgah saat ini? nyatanya suatu asa yang tidak bisa kujabarkan dengan kata. Teriknya matahari di siang kala itu menyentuh belenggu yang sudah lelah. Berhenti. Aku ingin berhenti.

Aku ketakutan pada kabut yang tidak dapat menarik diriku sendiri. Menerjang tanpa belas kasih pada perasaan putus asa yang gilanya bukan main. Jatuh cinta. Rasa manis yang kutunggu saat itu malah membuatku rapuh —baiklah, aku berikan semua yang ku punya padamu. Itu tekad yang ku genggam saat itu. Namun nyatanya, liar angin menuntun ku pada angan yang sudah hancur. Redup. Aku sudah redup.

Hatimu bukan untukku. Lantas apa? bolehkah aku hadir sejenak untukmu?

Namun rangkain cerita itu malah kusut. Bak memori yang diterjang ombak sepi.

Lalu hari pun berlalu, hujan lebat yang mengguyur bumi kala itu membuatku mengenang masa lalu. Hari-hari yang kita lalui terasa seperti permen kapas yang dijual di alun-alun penuh tawa dan cerita romansa indah. Manis dan cepat habis. Itulah kita.

Terkadang aku bingung, rasa apa yang sedang singgah saat ini? nyatanya suatu asa yang tidak bisa kujabarkan dengan kata. Teriknya matahari di siang kala itu menyentuh belenggu yang sudah lelah. Berhenti. Aku ingin berhenti.

Aku ketakutan pada kabut yang tidak dapat menarik diriku sendiri. Menerjang tanpa belas kasih pada perasaan putus asa yang gilanya bukan main. Jatuh cinta. Rasa manis yang kutunggu saat itu malah membuatku rapuh —baiklah, aku berikan semua yang ku punya padamu. Itu tekad yang ku genggam saat itu. Namun nyatanya, liar angin menuntun ku pada angan yang sudah hancur. Redup. Aku sudah redup.

Hatimu bukan untukku. Lantas apa? bolehkah aku hadir sejenak untukmu?

Namun rangkain cerita itu malah kusut. Bak memori yang diterjang ombak sepi.

Terkadang aku bingung, rasa apa yang sedang singgah saat ini? nyatanya suatu asa yang tidak bisa kujabarkan dengan kata. Teriknya matahari di siang kala itu menyentuh belenggu yang sudah lelah. Berhenti. Aku ingin berhenti.

Aku ketakutan pada kabut yang tidak dapat menarik diriku sendiri. Menerjang tanpa belas kasih pada perasaan putus asa yang gilanya bukan main. Jatuh cinta. Rasa manis yang kutunggu saat itu malah membuatku rapuh —baiklah, aku berikan semua yang ku punya padamu. Itu tekad yang ku genggam saat itu. Namun nyatanya, liar angin menuntun ku pada angan yang sudah hancur. Redup. Aku sudah redup.

Terkadang aku bingung, rasa apa yang sedang singgah saat ini? nyatanya suatu asa yang tidak bisa kujabarkan dengan kata. Teriknya matahari di siang kala itu menyentuh belenggu yang sudah lelah. Berhenti. Aku ingin berhenti.

Aku ketakutan pada kabut yang tidak dapat menarik diriku sendiri. Menerjang tanpa belas kasih pada perasaan putus asa yang gilanya bukan main. Jatuh cinta. Rasa manis yang kutunggu saat itu malah membuatku rapuh —baiklah, aku berikan semua yang ku punya padamu.

Setiap tarikan koper itu tersela sebuah harapan. Perasaan berdebar yang menciptakan sunyi hingga suara jantung yang terdengar, seakan musim semi di tengah bulan February.

Ia disana. Tersenyum manis dengan langkah kaki kecil. Sebelah tangannya menggenggam se-bouquet bunga mawar merah muda sebagai tanda pertemuan. Dan Hyunjin tidak dapat berbohong, ulasan senyuman lebar dengan tetesan air mata yang tidak dapat ia tahan menjadi makna sebuah arti kerinduan.

“Honey.” ia bergumam sangat pelan kala pria yang selama ini ia cari dengan perasaan penuh cinta itu berjalan semakin dekat ke arahnya.

“Selamat pagi dan selamat datang pak Hyunjin, mohon maaf sudah membuat bapak menunggu. Saya Jeongin, perwakilan dari Gryst Ent. yang akan mengantar bapak ke Hotel hari ini.”

Jika ada, jika bisa, ayo kita bertemu kembali dikehidupan selanjutnya.

Setiap tarikan koper itu tersela sebuah harapan. Perasaan berdebar yang menciptakan sunyi hingga suara jantung yang terdengar, seakan musim semi di tengah bulan February.

Ia disana. Tersenyum manis dengan langkah kaki kecil. Sebelah tangannya menggenggam se-bouquet bunga mawar merah muda sebagai tanda pertemuan. Dan Hyunjin tidak dapat berbohong, ulasan senyuman lebar dengan tetesan air mata yang tidak dapat ia tahan menjadi makna sebuah arti kerinduan.

“Honey.” ia bergumam sangat pelan.

“Selamat pagi dan selamat datang pak Hyunjin, mohon maaf sudah membuat bapak menunggu. Saya Jeongin, perwakilan dari Gryst Ent. yang akan mengantar bapak ke Hotel hari ini.”

Jika ada, jika bisa, ayo kita bertemu kembali dikehidupan selanjutnya.