bhluewry

Sering kali kupandangi cermin dalam kamarku. Mencari titik kekurangan yang ada. Kemudian aku tau, kekuranganku hanyalah tak memiliki hatimu, Hyunjin.

Orang bilang, parasku terlampau elok, manis dan ceria. Sempurna. Lantas, tidak kah kamu pernah berpikir bahwa kita cocok bersanding bersama?

Namun ku tau, bukan diriku yang dapat mengusir rasa hampamu. Bukan aku yang tercantum dalam buku harianmu. Bukan aku yang mengubah duniamu.

Mungkin aku hanya tempat singgah kala rumahmu terasa muak.

Tapi kubiarkan semua itu, bukan karena aku yang terlalu murahan, tapi aku yang kehabisan cara untuk membawamu menetap.

Sudahkah ku bilang bahwa dirimu yang mengubah duniaku? entah suka atau duka. Nyatanya aku menyukai keduanya.

Tau kenapa?

Karena ada dirimu dalam setiap lembaran diksi yang kuciptakan ini.

Ada hadirmu yang membuatku terbiasa atas tawa atau runtuh dalam dunia.

Hyunjin, saat kubilang bahwa aku akan membunuhmu, aku tidak benar-benar mau. Bagaimana bisa? melihatmu terluka saja tidak bisa.

Aku selalu menunggu kehadiranmu. Sosok Hyunjin yang kukenal dulu. Sosok yang membawa begitu banyak bahagia. Namun saat ini kutau, jiwa yang menunggu ini sudah terberai sendu.

Hyunjin, kita tidak bisa seperti ini. Dunia tidak melulu tentang sakit dan menyakiti. Jadi biarkan aku pergi, aku pun ingin terbang sepertimu

Meski harus meninggalkan pelabuhanku dan melalang buana jauh mencari pelabuhan baru, aku ingin merasakannya.

Sebab jika aku terus di sini, aku tidak tau kapan hati ini akan berhenti mencintaimu. Sosok angan yang tak dapat kutangkap.

Kita ini hanya dua insan yang tidak mengerti tentang dunia. Pun bagaimana cara kerja cinta yang sesungguhnya.

Aku hanya insan yang mencintaimu dalam sabar, yang menunggu lembaran skenario tentang kebahagiaan kita dapat berkibar.

Tapi, atma ini sudah terlampau lelah. Tak ada lagi angan tentang cerita romansa di bawah nebastala. Karena, aku tidak ingin mengubahmu menjadi Hyunjin yang tidak ku kenal. Jadi, mari kita berhenti. Terbang dan mendarat pada pelabuhan kita masing-masing.

Biar aku yang menitip pada semesta. Berucap terimakasih telah meminjam dirimu untuk lembaran puisi yang kutulis saat ini; penuh cinta tanpa harus melepas asa.

Hyunjin, aku mencintaimu.

Untuk yang Pernah Singgah


Jeongin memangku kepalanya dalam lipatan tangan. Gerimis yang tak diundang masih setia mengucap salam pada bumantara. Menarik atensi Jeongin bersama panas yang mengujur dalam keheningan. Terkadang mencoba meringankan beban dengan helaan nafas kasar yang tersangkut pada batu karang. Dirinya tak karuan, semua kenangan berhambur masuk untuk dikenang.

“Je.”

Atensi Jeongin beralih kala suara lembut menyapa indra pendengarannya dengan tangan mengusap lembut rambut kasar. “Maaf ya tadi ban mobil kakak bocor, Jeje udah lama nung—” kalimatnya tergantung saat Jeongin menegakan tubuhnya. Memperlihatkan banyak luka lembam yang terlukis dimana-mana. “J-je, Jeje kenapa? yatuhan sayang.. bentar-bentar kakak minta P3K dulu!”

Sirat khawatir pada mata Jisung membuat Jeongin tidak biasa. Terlalu lama tidak diperhatikan kala sakit mematikan hati pada bayangan jenuh. Sebelum sempat pergi, tangan lemas Jeongin menggenggam tangan Jisung sembari menggeleng tanpa berkata.

“Kenapa ga mau? itu lukanya belum diobati saya—”

“Aku gapapa, kak.” dia memastikan dengan suara yang nyaris menghilang. Jisung yang tidak tau tentang Jeongin selain paras yang indah dan menawan, akhirnya membawa tubuh yang siap kapan saja tumbang dalam pelukan. Membiarkan pria yang lebih muda darinya itu bersandar sejenak padanya.

“Jeje kenapa? kok bisa gini?” mata bulat seperti cookies itu dibawa untuk memperhatikan setiap jengkal tubuh Jeongin. Mengelus sekitaran luka-lukanya dengan kasih. Lantas mengambil tempat di sebelah kursi Jeongin untuk lebih dekat.

Alih-alih menjawab, Jeongin malah berujar maaf. “Aku mau minta maaf sama kakak.”

“Hm? Maaf kenapa sayang?”

Jeongin mengulas senyumannya, melontarkan pandangan jauh kala hatinya selalu ingin merebut Hyunjin dari Jisung. Dari pria manis yang selalu perhatian padanya. Pria yang tidak tau seberapa gila kekasihnya itu.

“Maaf buat semuanya.” Jeongin bingung bagaimana cara mengatakannya, namun dia tidak ingin berhenti hari ini.

Usai. Mari buat semuanya usai.

“Jeje kenapa nangis?” lengannya kembali mendekap tubuh Jeongin yang kembali basah akan keringat dingin.

Dirinya mematung tanpa tau harus menjawab apa. Laksana samudra yang kesepian, terbuang bahkan dalam dirinya sendiri. Kosong. Jeongin seperti ruang kosong. Keberadannya yang penuh cahaya dalam sekejap berubah menjadi bayangan.

Semua ini tentang amaraloka yang tak dapat dicegah. Aroma yang memabukan untuk jatuh cinta nyatanya menyesatkan dalam jurang kehancuran. Itu kesahalannya, kesalahan Jeongin yang bersemayam dalam kenangan manis. Hingga lupa bahwa manusia hanya dapat berucap janji tragis.

Lisan yang enggan untuk berucap membawa tangan yang memberi tau semuanya. Satu, dua, tiga.. kancing kemeja yang ia kenakan dilepas untuk menampakkan duka cinta yang selama ini ia simpan. Membuat Jisung terperangah, kaget akan bercak merah hingga keunguan menjalar dari bawah leher hingga hampir bawah dada. Tak hanya itu saja, ada luka menyulur seperti bekas cambukan yang tak dapat hilang.

“Je..” panggilan Jisung menarik kembali kesadaran Jeongin yang tadinya terpaku pada vas bunga yang berujung tajam. Dirinya melihat ke arah pria itu yang menatapnya prihatin dengan genangan air mata.

“Hyunjin?” pandangannya menyelidik, menggenggam tangan Jeongin yang bergetar kala nama itu disebut. “Hyunjin tau kamu..?”

Atas segala penat yang ia derita selama ini, Jeongin tergugup takut jika berujar semuanya. Namun lembayung senja membawa harsa hangat tentang belenggu yang akan lepas. “Hyunjin yang ngelakuin semua ini.”

Mungkin gelagar petir yang menerjang di angkasa membatu Jisung. Pria itu terdiam, keraguan terpampang jelas dimana-mana. Mungkin kaget dengan kenyataan kecil seberapa bajingannya orang yang Jeongin cintai itu.

“Ga mung...”

“Mungkin. Alasan dia ga pernah nyentuh kakak itu karena ada aku.” dia memotong kalimat Jisung dengan yakin, pucat pada wajahnya semakin menjadi saat akan berucap fakta bahwa yang terjadi adalah angannya untuk bersama Hyunjin. “Dia ga maksa, aku ngebolehin dia.”

“Je, kamu sadar sama apa yang kamu omongin kan?”

“Kita ngelakuinnya bahkan sebelum ada kakak di hidup aku sama Hyun—”

Bunyi tamparan menjadi perhatian bagi pengunjung lain. Jeongin tidak mengelak, membiarkan pria itu marah padanya. Pantas, Jeongin pantas mendapatkan tamparannya.

“You love him?”

“I do.” jawabannya tanpa ragu. Menatap manik yang terisak akan rasa pengkhianatan yang mengunus tajam.

“Jadi kamu bilang semua ini buat ngehancurin hubungan aku sama Hyunjin? Kita udah tunangan, Je.”

“Aku tau.” jemari yang diperban sana-sini berusaha menggenggam tangan Jisung, “Aku kesini buat ngomong semuanya sama kakak, bukan mau ngerusak hubungan kalian, tapi aku mau kakak tau sebelum nantinya ga ada yang ngasih tau kakak.”

“Maksudnya?”

Rinai yang sudah berhenti membuat Jeongin membasahi tenggorokannya sebelum beranjak untuk bangkit. “Aku bakalan pergi.” tiga kata yang susahnya bukan main untuk diutarakan membawa pergi awan hitam pada diri. “Aku bakalan ngejauh dari kalian.”

“Kamu mau pergi setelah semua ini terjadi?” Jisung menatapnya dingin, meminum minumannya sedekit sebelum menghabiskannya diseluruh wajah Jeongin.

Rasa malu yang diberikan Jisung bersama dengan pintu caffee terbuka dan menampilkan sosok Hyunjin yang datang dengan penuh ketakutan. Jeongin tersenyum tipis, kamu merasakan apa yang kurasakan, kan? takut dan sesak yang tak ada habisnya.

Jeongin berjalan keluar, melewati Hyunjin yang mendesis benci padanya. Menelan bulat-bulat rasa cinta yang tidak pernah terbalas dengan rongga dada lega akan keputusannya di sini. Seperkian detik setelahnya, bunyi gaduh terdengar di balik pintu. Jeongin tidak berbalik, memilih tetap berjalan dengan rasa sakit yang mulai menjalar pada tubuhnya.

Sudah kubilang, kamu tidak mengenal aku, Hyunjin.

Mari hancur bersama, jika diri ini tidak dapat bersamamu, maka ku buat orang lain juga merasakannya. Rasa sakit yang dirimu berikan kepada kak Minho dan kak Juyeon, kuberikan juga pada kekasihmu.

Kematian.

Untuk yang Pernah Singgah


Jeongin memangku kepalanya dalam lipatan tangan. Gerimis yang tak diundang masih setia mengucap salam pada bumantara. Menarik atensi Jeongin bersama panas yang mengujur dalam keheningan. Terkadang mencoba meringankan beban dengan helaan nafas kasar yang tersangkut pada batu karang. Dirinya tak karuan, semua kenangan berhambur masuk untuk dikenang.

“Je.”

Atensi Jeongin beralih kala suara lembut menyapa indra pendengarannya dengan tangan mengusap lembut rambut kasar. “Maaf ya tadi ban mobil kakak bocor, Jeje udah lama nung—” kalimatnya tergantung saat Jeongin menegakan tubuhnya. Memperlihatkan banyak luka lembam yang terlukis dimana-mana. “J-je, Jeje kenapa? yatuhan sayang.. bentar-bentar kakak minta P3K dulu!”

Sirat khawatir pada mata Jisung membuat Jeongin tidak biasa. Terlalu lama tidak diperhatikan kala sakit mematikan hati pada bayangan jenuh. Sebelum sempat pergi, tangan lemas Jeongin menggenggam tangan Jisung sembari menggeleng tanpa berkata.

“Kenapa ga mau? itu lukanya belum diobati saya—”

“Aku gapapa, kak.” dia memastikan dengan suara yang nyaris menghilang. Jisung yang tidak tau tentang Jeongin selain paras yang indah dan menawan, akhirnya membawa tubuh yang siap kapan saja tumbang dalam pelukan. Membiarkan pria yang lebih muda darinya itu bersandar sejenak padanya.

“Jeje kenapa? kok bisa gini?” mata bulat seperti cookies itu dibawa untuk memperhatikan setiap jengkal tubuh Jeongin. Mengelus sekitaran luka-lukanya dengan kasih. Lantas mengambil tempat di sebelah kursi Jeongin untuk lebih dekat.

Alih-alih menjawab, Jeongin malah berujar maaf. “Aku mau minta maaf sama kakak.”

“Hm? Maaf kenapa sayang?”

Jeongin mengulas senyumannya, melontarkan pandangan jauh kala hatinya selalu ingin merebut Hyunjin dari Jisung. Dari pria manis yang selalu perhatian padanya. Pria yang tidak tau seberapa gila kekasihnya itu.

“Maaf buat semuanya.” Jeongin bingung bagaimana cara mengatakannya, namun dia tidak ingin berhenti hari ini.

Usai. Mari buat semuanya usai.

“Jeje kenapa nangis?” lengannya kembali mendekap tubuh Jeongin yang kembali basah akan keringat dingin.

Dirinya mematung tanpa tau harus menjawab apa. Laksana samudra yang kesepian, terbuang bahkan dalam dirinya sendiri. Kosong. Jeongin seperti ruang kosong. Keberadannya yang penuh cahaya dalam sekejap berubah menjadi bayangan.

Semua ini tentang amaraloka yang tak dapat dicegah. Aroma yang memabukan untuk jatuh cinta nyatanya menyesatkan dalam jurang kehancuran. Itu kesahalannya, kesalahan Jeongin yang bersemayam dalam kenangan manis. Hingga lupa bahwa manusia hanya dapat berucap janji tragis.

Lisan yang enggan untuk berucap membawa tangan yang memberi tau semuanya. Satu, dua, tiga.. kancing kemeja yang ia kenakan dilepas untuk menampakkan duka cinta yang selama ini ia simpan. Membuat Jisung terperangah, kaget akan bercak merah hingga keunguan menjalar dari bawah leher hingga hampir bawah dada. Tak hanya itu saja, ada luka menyulur seperti bekas cambukan yang tak dapat hilang.

“Je..” panggilan Jisung menarik kembali kesadaran Jeongin yang tadinya terpaku pada vas bunga yang berujung tajam. Dirinya melihat ke arah pria itu yang menatapnya prihatin dengan genangan air mata.

“Hyunjin?” pandangannya menyelidik, menggenggam tangan Jeongin yang bergetar kala nama itu disebut. “Hyunjin tau kamu..?”

Atas segala penat yang ia derita selama ini, Jeongin tergugup takut jika berujar semuanya. Namun lembayung senja membawa harsa hangat tentang belenggu yang akan lepas. “Hyunjin yang ngelakuin semua ini.”

Mungkin gelagar petir yang menerjang di angkasa membatu Jisung. Pria itu terdiam, keraguan terpampang jelas dimana-mana. Mungkin kaget dengan kenyataan kecil seberapa bajingannya orang yang Jeongin cintai itu.

“Ga mung...”

“Mungkin. Alasan dia ga pernah nyentuh kakak itu karena ada aku.” dia memotong kalimat Jisung dengan yakin, pucat pada wajahnya semakin menjadi saat akan berucap fakta bahwa yang terjadi adalah angannya untuk bersama Hyunjin. “Dia ga maksa, aku ngebolehin dia.”

“Je, kamu sadar sama apa yang kamu omongin kan?”

“Kita ngelakuinnya bahkan sebelum ada kakak di hidup aku sama Hyun—”

Bunyi tamparan menjadi perhatian bagi pengunjung lain. Jeongin tidak mengelak, membiarkan pria itu marah padanya. Pantas, Jeongin pantas mendapatkan tamparannya.

“You love him?”

“I do.” jawabannya tanpa ragu. Menatap manik yang terisak akan rasa pengkhianatan yang mengunus tajam.

“Jadi kamu bilang semua ini buat ngehancurin hubungan aku sama Hyunjin? Kita udah tunangan, Je.”

“Aku tau.” jemari yang diperban sana-sini berusaha menggenggam tangan Jisung, “Aku kesini buat ngomong semuanya sama kakak, bukan mau ngerusak hubungan kalian, tapi aku mau kakak tau sebelum nantinya ga ada yang ngasih tau kakak.”

“Maksudnya?”

Rinai yang sudah berhenti membuat Jeongin membasahi tenggorokannya sebelum beranjak untuk bangkit. “Aku bakalan pergi.” tiga kata yang susahnya bukan main untuk diutarakan membawa pergi awan hitam pada diri. “Aku bakalan ngejauh dari kalian.”

“Kamu mau pergi setelah semua ini terjadi?” Jisung menatapnya dingin, meminum minumannya sedekit sebelum menghabiskannya diseluruh wajah Jeongin.

Rasa malu yang diberikan Jisung bersama dengan pintu caffee terbuka dan menampilkan sosok Hyunjin yang datang dengan penuh ketakutan. Jeongin tersenyum tipis, kamu merasakan apa yang kurasakan, kan? takut dan sesak yang tak ada habisnya.

Jeongin berjalan keluar, melewati Hyunjin yang mendesis benci padanya. Menelan bulat-bulat rasa cinta yang tidak pernah terbalas dengan rongga dada lega akan keputusannya di sini. Seperkian detik setelahnya, bunyi gaduh terdengar di balik pintu. Jeongin tidak berbalik, memilih tetap berjalan dengan rasa sakit yang mulai menjalar pada tubuhnya.

Sudah kubilang, kamu tidak mengenal aku, Hyunjin.

Mari hancur bersama, jika diri ini tidak dapat bersamamu, maka ku buat orang lain juga merasakannya. Rasa sakit yang dirimu berikan kepada kak Minho dan kak Juyeon, kuberikan juga pada kekasihmu.

Kematian.

Untuk yang Pernah Singgah —mari kita pergi.

content warning: mental abuse, blood, mention of suicide, murder


Samar-samar ku dengar bagaimana makian saling beradu, tubuh yang sesekali terpental hingga bising menyebut namaku diantara mereka. Sakit yang menjalar seakan sudah tertanam hingga membuat tubuh kaku, kupaksakan untuk melihat dengan benar, meski sesekali kegelapan menyerang pandangan.

“Gue paling ga suka milik gue disentuh orang lain.”

Sosok itu mendekat padaku. Bersuara merdu dalam tatanan lembut memabukan. Aku mengenal dirinya, sangat tau tentangnya. Bahkan saat kedua tangan itu mencekik oksigen yang tertahan ku hanya memberi tersenyum tanpa melawan.

“Lihat gue.”

Bagaimana caranya? Mata ini bahkan terus berbayang mengabur. Merangkak naik hingga air mata semakin membentang. Sakit.

“Gue udah peringatin lo, jadi kalo bajingan ini nyusul kembarannya sekarang, bukan salah gue kan, Je?”

Kalimat yang berbisik pada telingaku seakan membawa petir. Bunyi cakrawala yang beradu semakin memaksa untuk tidak lunglai. Hingga dengan susah mata ini menangkap sosok Juyeon terkapar menggenangi darah dengan beberapa tusukan terpampang pada kaos putih yang ia kenakan.

“Hahh.. ga.” udaraku seakan habis, berusaha menyingkirkan tubuh yang mencengkram leherku. Rasanya detak jantung tak lagi terdengar, mata yang tertutup itu sedikit membuka matanya untuk menatapku dengan senyuman kecil.

“Ahh.. m-minggir hah, kakak hiks.. lo gila Hyunjin AKHH!”

Diriku memberontak dengan sisa tenaga yang ada. Tidak peduli lagi dengan Hyunjin yang dapat terluka karenaku. Rasa pahit membelenggu tanpa dapat terpaku dengan apa yang sudah terjadi.

Aku menangis dengan saat keras saat itu. Berteriak lantang kala bibir Juyeon berucap tanpa bersuara, “Maaf.”

Untuk apa? Kenapa meminta maaf?

Kakak tidak membuat kesalahan hingga harus memohon maaf, kan?

“MINGGIR!” kuberusaha untuk mengais tubuhnya. “Jangan, jangan... KAKAK!”

Aku melihat bagaimana matanya tertutup saat memandangku dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan. Entah darimana aku dapat mendorong Hyunjin untuk terjerambab ke belakang. Dan dengan tubuh yang sudah basah akan keringat dingin bercampur derai air mata yang tak kunjung berhenti ini membawa tubuh Juyeon yang tertidur dengan pucat untuk menjadikan paha sebagai bantalan. Ada beberapa lebam pada wajahnya, namun tak separah Hyunjin yang berantakan dengan darah mengucur dari dahi.

“Hei.. kak hiks...jangan tidur dulu.”

Tubuh yang bergetar termangu pada tubuh yang tak bergerak lagi. Ku pandang bagaimana dua luka tusukan terpanjang pada pinggang dan punggung atasnya. Tidak, jangan lagi. Kumohon jangan lagi.

“Jeongin.”

Tak pernah sekali pun ku abaikan kala dia memanggil namaku. Tapi ruang kali ini terlalu sempit untuk berbagi sedih. Dengan jemari yang gemetar ku berusaha menelpon Ambulance. Namun belum sempat ku jawab panggilan kala telpon terangkat, Hyunjin terlebih dulu menarik lenganku dengan kasar. Memaksa untuk berdiri sampai membuat kepala Kak Juyeon terhempar pada lantai dingin.

“Lo mau apa sih?! Lo ga liat kak Juyeon butuh pertolongan sekarang?!”

Tamparan keras diberikan Hyunjin, menyalarkan rasa panas dari kepala hingga kepala yang berdenyut. “Terus lo mau bantu dia?”

“Hyun, jangan gini.”

Terberai sudah, kalimat sederhana pun sulit untuk dirangkai. Ku hadirkan semua rasa ketakutan yang bercampur ampunan untuknya. Namun harusnya ku tau, sekalipun aku mencium kakinya, Hyunjin tidak akan memberi perasaan simpati yang lebih kuinginkan daripada cinta.

“Kalo lo mau bantu dia, harusnya lo denger sama omongan gue sebelumnya.”


Dentuman keras pada pintu kamar sedikit membuat Jeongin berjingkit kaget. Dalam memorinya masih berputar wajah Juyeon yang menutup mata. Kembali terisak dalam diam hingga tiba-tiba saja tubuhnya terbalik dan sebuah bibir mencumbu bibirnya kasar. Memaksa Jeongin untuk mundur sebelum diamnya menyulut emosi Hyunjin lagi.

“Kenapa ga lo bales.”

Jeongin termenung dalam lamunannya, berdiri bak orangan sawah dengan mata kosong tergenang air mata. Bukan, bukan tidak ingin membalas. Namun nuraga yang tersepai ini menjadi tak dapat mengerti arti kehidupan saat ini.

Harusnya tidak pernah percaya, bahwa omongan tetaplah omongan.

Harusnya tidak pernah berharap, dengan katanya yang terasa omong kosong itu.

Apa katanya? kita akan baik-baik saja? harusnya tawa yang mengalun lucu daripada berharap keluar dari labirin yang sudah tercipta.

Tubuhnya sudah seperti boneka kapas, terjatuh tanpa ringisan yang keluar. Bahkan saat pinggangnya menyikut pinggiran meja kaca yang tajam pun seakan tidak ada rasa peduli lagi. Lelah; itu yang dipikirkannya.

“Lo kalo ga mau ini terjadi, lo pake otak lo sebelum lo pake badan lo buat lo jual ke orang la—”

“Jadi selama ini lo pikir gue semurah itu?” ia menatap Jeongin dengan pandangan yang selama hidupnya tak pernah ia berikan pada pria itu. Dingin dan muak yang bercampur.

“Emang kan?” Hyunjin menarik sudut bibirnya sebelum duduk pada ranjang kasur, “Lo aja ngasih tubuh lo ke gue cuma-cuma.”

Kalimat itu. Kalimat singkat itu. Telah menghentikan roda waktu Jeongin. Menghabiskan seluruh harap yang tertinggal. “Cuma-cuma.” pria manis itu terkekeh gamang, berdiri dengan bermodal tangan yang menjadi tumpu tanpa bantuan, menyambar tubuh Hyunjin seperti yang tak pernah ia bayangkan.

Tubuhnya terhuyung kala satu pukulan telak Jeongin berikan pada pelipis Hyunjin. “Apa selama ini pernah lo tanya kenapa gue lakuin semua ini ke lo?”

“Karena lo murahan.”

KARENA GUE CINTA SAMA LO!

Jeongin ingin berteriak seperti itu, melimpahkan rasa pedihnya yang sudah tak dapat ditampung. Akan tetapi, tidak seharusnya untuk berkata seperti itu. Jeongin tak sehebat Orion, tak pula seperti bintang yang terus gemerlap.

Jeongin hanya seorang insan yang sudah lelah. Yang mencari rumah pada dunia yang bewarna. Berharap pada tawa akan dapat membuat letupan jada jiwa yang lusuh.

Jeongin hanya insan yang sudah terberai berselimut angan yang dibawa pergi bersama dandelion sepi. “Bunuh gue Hyun.” Sebab rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk bertumpu dengan detak jantung, “Bunuh gue, lepasin gue dari rasa sakit ini.”


Jika kalian berpikir aku sudah tak mencitainya, maka kalian salah. Garis cinta ini terlalu fana untuk dapat dilihat. Namun terlalu nyata untuk sekedar diujar. Ku hanya seorang manusia yang dulunya berharap pada kisah romansa; namun anehnya, Tuhan tidak ingin berpihak padaku. Membentuk jalan kisah yang tak indah menimpa hingga bangkit pun menjadi kesalahan.

Ceritaku harus segera usai. Perasaan ini harus dikubur damai. Sebab ku sudah paham, bahwa yang selama ini kuharapkan hanya seorang insan yang sudah berpemilik sebelum dapat kugapai.

Untuk yang Pernah Singgah.


Bunyi gelagar petir di luar membangunkan diri yang tertidur lelap. Ia berdiam sejenak, memandang langit-langit rumah kekasihnya. Tak ada suara lain melainkan rinai yang mulai menjatuhkan kesedihannya pada bumantara. Mengusir sepi yang mendera tak lagi kuat.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja kembali bergetar dengan sosok tanpa nama muncul di layar panggilan. Sulit untuk dimengerti, kala hati ingin berlari, dirinya malah datang untuk mengejar tanpa harapan. Buat apa? menyakiti keduanya? atau menyakiti banyak orang seperti yang sering dilakukan?

Kepada waktu yang terus bergerak maju, tolong bawa semua ingatan tentangnya. Kuras habis hingga tak ada lagi bayangannya yang memenuhi diri ini.

“Mau pulang.” ia bergumam gamang. Menghirup oksigen sebanyak rongga parunya mampu, lalu beranjak untuk duduk dan bersandar setelahnya.

Seketika arah pandangnya menyesir rumah sederhana Minho. Tidak sebesar yang dibayangkan, namun cukup nyaman untuk ditinggali sendiri. Ornamen kayu menjadi ciri khas, sesekali terselip warna pastel tersebar dimana-mana. Figura yang terpajang menjadi sasaran untuk bersinggah. Ada banyak foto Minho dan Juyeon di sana, mulai dari kecil hingga mereka yang dewasa, berpose konyol seperti yang sering dilakukan. Dan diantara figura itu, ada figura yang cukup menarik perhatian dengan bingkai putih kayu berukir mawar dikelilingnya.

“Kapan kakak ngambil foto ini?”

Sebuah foto Jeongin tengah bernyanyi di panggung. Ada senyuman kecil yang mungkin Minho buat bersanding dengan wajah muram Jeongin. Dia berusaha mengingat, seperti acara penting, tapi tidak ada sedikit kelibat ingatan yang menyerang memorinya.

Jeongin pun beralih, ada begitu banyak peralatan masak yang terpajang rapi pada dapur minimalisnya Minho. Sudut pandangnya pun menangkap dua kulkas yang berjajar, ada begitu banyak stickynote di salah satu kulkas yang lebih kecil. Ia tau bahwa pelaku yang memberinya banyak snacks itu dari Minho, namun Jeongin penasaran apa saja yang ditulis oleh pria itu.

Matanya menangkap tulisan rapi dengan emotikan aneh-aneh yang digambarkan di penghujung tulisan.

Hai jeje ^^ gimana harinya? aku harap hari kamu selalu baik ya, kalaupun hari ini ga sebaik hari sebelumnya, jangan patah semangat. Jarum waktu terus berputar pada takdir bahagia.

Jeje tanganku sakit karena capek dipake nulis laporan :( jadi aku ga bisa nulis banyak deh, so jeje jangan lupa bahagia!

Pelangi itu datangnya kadang-kadang, tapi awan selalu ada untuk menciptakan pelangi nantinya, jeje aku ga tau apa yang kamu rasain, tapi aku harap dairymilk ini bisa sedikit mengobati hari kamu ya hehe..

Ini dariku yang mencitaimu dalam diam, tapi aku harap ada saatnya aku keluar dari persembunyian.

Jeje, lacinya dibuka dong, snacksnya udah hampir ga muat :(

Bekorban demi yang orang kita sayang itu baik, tapi coba lihat lagi, ada hati yang terluka akibat bekorban ga. Kalo ada, tanya sama hatinya, itu rasa cinta atau hanya obsesi takut kehilangan.

Dan begitu banyak lagi, memenuhi pintu kulkas bagian atas dengan namanya yang tertulis di sana. Dia masih ingin melihat lagi, ingin membaca kalimat singkat penuh makna yang selama ini selalu ia dambakan bahwa itu semua dari Hyunjin. Pandangannya mengabur, terjatuh dengan mengenggam stickynote terakhir yang ia baca. Terguguh tanpa arti, menangis terseduh dengan derana yang semakin menghujam telak.

Ada begitu banyak cinta yang menjadi angan kosong. Tidak ingin percaya lagi pada bumantara, sebab di sana tidak ada yang bisa menjaga kata-katanya sebaik Jeongin yang mendamba pada janji yang terlupa.

“Kita harus jadi pasangan terus ya, Jeje. Kalau ga ada Jeje, semuanya jadi ga seru, jadi Jeje harus sama Hyunjin selama-lamanya ya hehe Hyunjin sayang Jeje.”

Ucapan yang terus berdengung pada telinganya itu membuat Jeongin menjambak rambutnya kasar. Memukul beberapa kali telinganya berharap suara pria itu segera menghilang. Jika dulunya Jeongin akan terbiasa dengan kenangan yang selalu teringat kala pundaknya semakin pupus, namun hari ini berbeda, rasanya seperti tercabik dalam semu.


“Loh Je, mau kemana?” Juyeon yang baru saja pulang dengan menenteng kantong belanja terkaget melihat wajah muram Jeongin. Matanya terlihat merah dengan berjalan sangat pelan.

“Pulang.”

Hampir saja tubuhnya ambruk kalau Juyeon tidak cepat menangkapnya. Rasa panas menjalar kala kulit mereka bersentuhan. “Lo demam, Je. Pulangnya nanti aja, sekarang lo istirahat dulu.”

Jeongin tidak mau, meracau pulang terus-menerus. Tetapi dengan tubuh yang jika duduk saja bisa tumbang, apalagi harus berdiri lama menunggu taxi datang disaat hujan masih setia mengguyur di luar.

“Mau pu—”

Kalimatnya terpotong saat secara tiba-tiba tarikan pada rambutnya menghuyung untuk menjauh dari tubuh Juyeon lalu terhempas pada dinding. Suara bising seakan menyeruak darimana-mana. Cakrawala yang mengamuk memaksa Jeongin untuk berusaha bangkit dengan susah. Pandangannya mengabur dengan sesekali kegelapan hadir. Bunyi tubuh yang saling beradu memecah ringisan.

“Lo sinting ya?!”

Samar-samar Jeongin dapat mendengar dibalik dengungan telinga. Menangkap sedikit bayangan yang terpojok, dipukuli habis-habisan pada punggung yang memberi sandaran. Hingga sejenak pandangannya beruba jernih, Jeongin menangkap sebuah pisau digenggam dengan tubuh lain.

“Sudah gue bilang, kalo gue pulang dan ga ada lo di rumah, lo bakalan gue abisin.”

Untuk yang Pernah Singgah


Embun kala itu bersorak ketika diterpa angin pagi. Berselimut kabut saat langkah kaki menginjak rumput yang masih basah. Tidak ada mentari di sana, dingin yang menusuk menunjukkan betapa sunyi tempat beristirahat damai kekasihnya.

Jeongin memeluk satu bouquet mawar merah besar dengan penuh ke hatian. Membiarkan pria yang lebih tinggi darinya berjalan memimpin di depan. Tak ada suara di antara mereka, pun Jeongin enggan untuk bersuara banyak. Satu yang Jeongin tau, seberapa banyak kemiripan diantara mereka, nyatanya Juyeon tidak akan pernah sama dengan Kak Minho.

“Duluan aja, gue tunggu di sini.”

Tubuh besar itu beralih untuk duduk di bawah pohon sembari menyesap nikotin. Memberi ruang kepada Jeongin untuk tersenyum lembut. “Hai kak, maaf beberapa hari kemarin ga ke sini.” sejenak dia terdiam dengan tangan yang sibuk mengusap batu yang menjadi atap rumah Minho saat ini.

“Tapi kali ini aku ga dateng sendiri, ada kak Juyeon yang nemenin aku.”

Semilir angin membawa sejenak keraguan dalam diri Jeongin. Sedikit mengeluh nyeri kala pening menyerang. “Kakak tau, sekarang Hyunjin udah ngelamar kak Jisung.” mutiara itu akhirnya kembali jatuh membasahi sebelah kelopak mawar yang masih ia dekap.

“Sekarang aku ga tau harus apa, kadang aku mikir, sebelumnya aku bisa hidup tanpa Hyunjin, tanpa kamu. Tapi kenapa sekarang susah?”

Bena seakan menghangtam tubuhnya yang hampir saja tersungkur. Insan tersebut sudah seperti boneka hidup. Tidak ada binar dalam matanya, lengkungan pada bibir pun sudah mati rasa, pun tubuh yang semakin terbalut kulit saja.

“Tapi aku juga udah bisa sedikit demi sedikit ngabain Hyunjin, kayak yang kamu bilang, aku harus bisa hidup dengan diriku sendiri. Walaupun sakit karena jauh dari Hyunjin, aku harus bisa.”

Lembayung hari yang selalu bergerak maju tak dapat merubah sedikit pun cinta Jeongin pada Hyunjin. Berulang kali disakiti, kerap kali diabaikan, namun angannya terus saja berdetak. “Seandainya aku cintanya sama kamu, mungkin kita ga akan sesakit ini ya, kak.”


Aku pernah berpikir bahwa dunia hanya tentang roda kesakitan yang berputar. Membentuk jalan buntu yang menantang. Membiarkan teriakan pilu yang tertahan menjadi hiburan. Layaknya kepulan asap kala musim dingin datang, rupawan dengan rasa penasaran, tapi mudah terberai.

Hyunjin, kenapa pergi terlalu jauh? tidakkah takut tersesat dan semakin kehilangan arah?

Padahal dulu kita selalu dekat, bagaikan bumi yang tidak dapat pernah meninggalkan bulan meski pagi terbentang di cakrawala. Bahkan kita terlampau bahagia dengan dunia yang terbuat. Lantas kenapa ingin berlari dan pergi?

Atau karena seonggok tubuh ini yang hanya dirimu butuhkan?

Aku tidak ingin menerka jalan pikiranmu, sebab tidak ada yang mengenal dirimu sebaik ku. Semua pun tau tentang itu. Tetapi cerita ini harus segera usai, cukup banyak yang menderita karena kita, hingga rangkain kata umpatan terus saja terlontar.

Dirimu bukan monster Hyunjin. Dirimu itu penuh dengan tawa merdu. Yang kerap kali membuat jantung ini tak karuan karenanya. Jadi mari berhenti, biar aku yang menggenggam rasa ini, karena jatuh berkali-kali membuatku terbiasa untuk sakit yang tak berujung itu.


“Mau makan dulu?” Juyeon bertanya setelah melirik arloji yang semakin bergerak mendekati jam makan siang. Yang ditanya hanya menggeleng, setia memandang jalanan dalam diam.

“Ngantuk.” berat pada suaranya tidak seperti biasanya.

“Yaudah tidur aja, nanti kalo udah sampe gue bangunin.”

Dia menggeleng, semakin bersandar pada kaca jendela dan menatap kosong. “Mau tidur di kasur.”

“Kalo pulang ke rumah lo bakalan lama, mau mampir di rumah Minho aja? rumahnya ga terlalu jauh, lo bisa istirahat disana kalo mau.”

Jeongin tidak lagi peduli, dia hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Terlampau lelah akan beban yang tidak ada apa-apanya ini. Menelan luka mati-matian dalam bayangan semu yang tak pernah merasa memberi semu.

Sesak itu kembali datang, degup jantung mulai tak terkendali lagi. Perasaan gemetar yang menghujam membuat pening dan mual datang secara bersamaan.

“Nih —lo gemeteran?”

Suaranya membawaku melihat kedua tangan yang bertaut bergetar hebat. “Hm, mungkin kedinginan.”

Sunyi memenuhi setelahnya. Aku yang berperang dalam akara Hyunjin menuntunku untuk semakin tenggelam pada kegelapan. Bagaimana bisa aku mengatakan bahwa sesak ini rasa takut yang sama seperti beberapa minggu ke belakang? Persis saat ancaman itu menjadi nyata.

“Hyunjin ga pernah main-main.”

Pria yang tengah mengemudi hanya berdeham tanpa peduli. Sesekali bersenandung kecil pada lagu yang berputar diantara mereka. Dan lagi-lagi aku terdiam, apa mungkin keputusannya berjalan bersama pria tadi merupakan kesalahan? Ya, benar, itu kesalahan.

Kesalahan yang kuperbuat lagi.

Kalau saja tadi aku tetap pulang sendiri mungkin Hyunjin tidak akan semarah itu lagi.

“Je.”

Atau, seharusnya memang aku tidak keluar rumah?

“Jeongin?”

Ada banyak orang yang nyawanya terancam karena ku, mungkin benar kalau aku membawa kesialan ke orang la—

“Jeongin? hei?”

“Hah? iya?”

“Lo kenapa? Muka lo pucet banget, lo sakit?” tangan besar itu menyentuh dahiku yang entah sejak kapan sudah basah karena keringat.

“Lo mikirin Hyunjin?” pertanyaan itu membuatku mengangguk singkat. Terlampau takut hingga pikiranku terinjak dengan kalimatnya yang berulang kali terputar di memori.

“Ga usah khawatir, gue sama lo bakalan baik-baik aja.”

Aku terkekeh karenanya, “Terakhir kali kak Minho juga bilang gitu sebelum jam 3 pagi gue ditelfon dia udah ga ada.”

Untuk yang Pernah Singgah


Terkadang, ada saat dimana aku kembali mengingat masa lalu. Seorang anak penuh cinta dan bahagia seutuhnya. Penuh tawa dan senyuman bak swastamita terbentang lepas di angkasa. Indah bagaikan suar yang menggentarkan. Tercantum pada ufuk yang setia menjadi atap kala aku aku mengadah dengan berbunga-bunga. Aku masih ingat semuanya, bahwa aku sebahagia itu dulunya.

Namun aku tidak dapat mengingat, kenapa aku menjadi seperti ini?

Redup, penuh dengan nestapa kelabu, sendu yang tak ada habisnya, hingga mimpi yang berubah menjadi gapaian angan.

Aku tau, aku tidak seperti ini.

Tapi aku juga tidak tau, sedari kapan aku kehilangan diri?


“Orang bilang, kita dua badan dengan separuh jiwa. Gue ga pernah percaya dan ga pernah mau dibilang begitu, karena klise, gue ga suka sama sifat lo yanga aneh tapi diem-diem tau semuanya. Kadang gue pernah mikir, kok bisa gue sama lo hidup bareng tapi ga ada satu pun kesamaan diantara kita.”

Dumalannya tidak berhenti meski banyak tubuh yang berlalu lalang. Tetap pada dunianya sendiri, berbicara seakan ada tubuh lain yang bersamanya saat ini. Tubuh dari seorang pria yang setiap paginya harus datang lebih cepat untuk sekedar memberikan banyak makanan manis dengan stickynote di atasnya pada loker yang selalu penuh makanan darinya tanpa ada satupun yang tersentuh keluar.

“Dulu gue mana mau kalo lo suruh ngelakuin ini. Kayak malu ga sih, udah berjuang kayak bayangan aja tetep dia ga ngelirik ke lo?”

Ia menghela nafas sejenak kala semua makanan manis tersebut sudah tersusun dan dapat masuk pada loker kecil tersebut. Menutupnya pelan-pelan seperti yang dilakukan kembarannya dulu. “Hari ini, tanpa lo suruh, gue udah ngasih makanan manis kesukaan jeje lo. Nanti kalo kita udah bareng-bareng lagi, gue minta bayaran top up seumur hidup ya, Min—”

“Jadi semua itu dari kak Joel?”


“Bukan! Bukan dari gue, sumpah.”

Belum ada satu menit dari angin pagi yang berhembus di atap gedung fakultas lama, pria itu secara tiba-tiba berkata bahkan sebelum aku memulai percakapan. Guratan pada wajahnya terlihat sangat panik. Tinggi nada bicaranya pun seakan maling yang baru tertangkap basah.

“Ada orang lain, tapi bukan gue! Lo jangan salah paham, gue bukan orang itu. Gimana ya ngomongnya, tapi demi tuhan bukan gue kok.”

Gerak-gerik darinya mengingatkanku pada seseorang. Seakan biasa kulihat, nyatanya aku tau nama pria yang setia berdiri di belakang pintu atap saja sudah seperti kelebihan. Aku memang tidak mengenalnya pun tidak tertarik kala banyak orang bercakap tentang dirinya dan seorang yang kukenal, akan tetapi, mereka seperti jiplakan yang sama persis.

“Dari siapa?” itu kalimat yang selama ini ingin ku tanyakan. Aku sudah tau dari lama, ada seseorang yang selalu memberikan banyak coklat di loker yang tidak pernah ku buka lagi

Pria tinggi itu menatapku datar, berjalan mendekat untuk sekedar mengambil tempat duduk di pagar pembatas. “Kalo lo penasaran, kenapa ga ngambil salah satu dari stickynote yang ada inisial namanya di bawah?”

Aku mau melakukannya.

Sudah banyak kali aku berusaha untuk melihat dan membaca apa yang tertulis di sana.

Tapi aku enggan, takut nantinya dilihat Hyunjin lalu pria itu berpikiran jika aku memiliki orang lain.

“Orang yang ada di pikiran lo, tapi bukan Hyunjin.” Ia melirik ke arahku, tersenyum tipis sebelum membuang muka.

Seolah hima datang menyelimutiku di tengah mentari yang bersinar terik. Aku tau. Bahkan berulang kali menebak bahwa dari pria tersebut. Namun memilih menyangkal daripada menerima kenyataan.

Lagi-lagi kak Ino.

“Kakak harusnya benci sama gue.”

Kuberanikan diri untuk mendekat, ingin tau apakah mungkin pria itu akan mendorongnya terbang ke bawah. Mungkin lebih baik rasanya daripada menahan rasa ini.

“Awalnya.” dia berbalik untuk menyeka air mata yang ntah sejak kapan sudah membasahi pelupuk matanya. “Tapi Minho sayang banget sama lo, Je. Dia selalu bilang, kalo dia lagi ga ada, gue harus jagain lo karena gue sedikit jago ngebanting orang dibanding dia.”

“Gue pengen benci lo, tapi gue ga bisa.”

“Kenapa?”

“Gue ga mau nambahin kesedihan lo.”

Benar. Mereka berdua itu sangat mirip. Keduanya penuh dengan hati yang sangat lembut bagaikan kapas. Mementingkan orang lain dibandingkan hati yang harusnya luka.

“Maaf.” setidaknya kata itu dapat terucap pada orang yang tepat, “Maaf karena gue kita harus kehilangan kak Minho.”

“Lo bisa pukul gue, kak.”

Tangannya terangkat mendekat, aku tau, aku pantas mendapatkannya. Sudah banyak kesedihan yang aku cipta, kesedihan yang tidak ada obat untuk menyembuhkannya.

Puk!

“Udah?” ia tersenyum kala ku tatap dengan bingung. Tangan yang harusnya memukul itu memilih untuk menepuk pelan punggungku, “Sekarang udah ngerasa lega?”

Perasaan bersalah yang menyergap tanpa hati itu membunuhku setiap detiknya. Menciptakan kabut dan takut, tidak tau harus memohon ampun pada siapa selain pada Tuhan. Namun sekarang sudah berbeda, ada sedikit batu karang yang terangkat dalam hatiku.

“Jangan ngerasa bersalah, karena kita ga pernah kehilangan Minho. Dia hidup sama kita, Je. Mungkin angin yang sekarang berhembus ini Minho atau disalah satu bunga itu ada Minho yang lahir lagi.”

Kala bibirnya melengkung ke atas dengan indah, aku dapat melihat ada senyuman Kak Minho disana. “Ayok turun, gue ada kelas sebentar lagi.”

Aku menggeleng samar, masih ingin berada di sini untuk sekedar melepas penat diri. Pun percuma jika mengikuti kelas, pikiran yang melalang buana ini sangat susah sekali untuk dikendalikan.

“Duluan aja kak.”

Ia mengangguk, tidak memaksaku untuk bersamanya. Memberikan ruang seperti yang sering Kak Minho lakukan. Mungkin karena mereka kembar yang diberkati kasih sayang dengan Tuhan.

“Je.”

“Ya?”

“Kalo mau turun lewat pintu ya hehe.” tawanya membuatku tersenyum tipis, mengangguk singkat untuk meyakinkan bahwa belum saatnya.

“Oh ya—” dirinya kembali berbalik untuk memberikan susu kotak yang ia simpan di balik jaket tebalnya, “Panggil gue Juyeon aja, yang boleh manggil gue Joel cuma kembaran gue.”


“Maaf bos, saya kehilangan Jeongin tadi saya lihat dia sudah masuk ke gedung fakultasnya, tapi—”

“Cari. Gue ga mau tau setiap ada orang yang deket sama Jeongin lo harus lapor ke gue atau lo yang bakalan mati sebagai gantinya nanti.”

Dari banyaknya insan di dunia Mengapa dirimu yang aku sangka Bisa temani hari-hariku yang tak selalu indah Walau kita tak bisa bersama

Lembut tutur katamu Merdu tawamu Parasmu yang menawan Buat diriku tak bisa lupa

ジョエル

Untuk yang Pernah Singgah

content warning: a little nsfw, severe depression, self harm, blood.


Ketika malam akan mengambil Hyunjin pergi diesokan harinya.

“Ahh..” tubuh Jeongin menggila, erangan terus-menerus keluar dari celah bibirnya yang basah. Membiarkan telapak tangan pria yang dicintainya bermain pada tubuh yang penuh dengan bercak bercampur darah.

Cup!

Kecupan singkat dari Hyunjin menarik atensi Jeongin yang sedari tadi melalang buana jauh. Ditatapnya pria yang kini bermain pada buah dadanya yang memerah, lantas tersenyum kecil tanpa disadari keduanya. Ada perasaan berdebar saat itu, perasaan yang sangat Jeongin sukai. Seakan paru-parunya akan meledak bersamaan detak jantung berpacu tak karuan, penuh dengan rasa menggelitik yang hanya Jeongin rasakan kala bersama Hyunjin.

“Ngh.. ah! b-bentar.”

“Lo ga fokus.” rajuk Hyunjin.

Tawa kecil Jeongin mengiringi dua insan bertubuh polos dengan bhama yang menguar tinggi. Diberinya kecupan singkat pada kening Hyunjin —menandakan cinta dalam diam— lalu memeluk erat tubuh yang lebih tinggi darinya itu.

“Mnhh maaf.”

*Dan setelahnya tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. Memenuhi sudut ruangan dengan desahan di tengah malam. Ada begitu banyak benda yang sudah menjadi saksi, pun mungkin bintang di luar sana sudah merasa bosan mendengar racuan mereka. Jangan merasa kasihan, toh itu kemauan bukan paksaan. Bisa saja hal tersebut yang dipikirkan.*

Jangan kasihan —tidak perlu kasihan.

*“AHH!” puncak memenuhi mereka. Dunia putih yang diidamkan, nafas yang tak karuan, hingga peluh yang bergelimpang. *

Hyunjin membaringkan Jeongin dengan hati-hati. Pria yang lebih muda itu tengah mengatur parunya, mengais oksigen sebanyak mungkin. Sedangkan Hyunjin, pria itu berjalan dengan tubuh polosnya untuk sekedar menyesap alkohol yang berada di ujung nakas. Setelahnya mengambil tempat di sebelah Jeongin, sekedar untuk merapikan rambut yang lepek karena keringat dengan sangat hati-hati.

“Ayok mandi.”

Hampir saja tubuh itu terangkat, Jeongin dengan susah paya merangkak naik dengan tangan yang masih teborgol dikedua pergelanga tangannya. “Lagi.” suara parau yang menyapa telinga sangat tidak enak, bergetar seakan ingin menangis.

Dahi pria itu mengernyit, kembali duduk berpangku tubuh kurus Jeongin. “Tumben.” tidak ada jawaban yang keluar, terdayuh pada aroma maskulin Hyunjin.

Kepalanya mendusal pada ceruk leher Hyunjin. Mengecup, menjilat, dan merangsang untuk sahabatnya kembali menggerayangi tubuhnya. Hyunjin bukan tipe yang mudah menahan nafsu, tapi bukan pula yang akan membiarkan kejadian yang tidak biasa seperti ini.

Mudah saja baginya untuk menatap Jeongin yang menunduk lesu. Meski hanya indurasmi yang menjadi penopang cahaya, Hyunjin masih dapat melihat jembatan air di kedua pipi Jeongin yang lebam akibat tamparannya tadi.

“Kok lo nangis? kenapa? ada yang sakit?” rasa khawatir yang didengar dari nada bicara Hyunjin membawa mata rubahnya menatap manik karamel di hadapannya sendu. Ia menggeleng, gigitan pada bibirnya semakin erat saat isakan ingin keluar. Lantas tanpa aba-aba Hyunjin kembali memeluk tubuh Jeongin setelah memberi kecupan singkat dimana-mana.

“Badan lo panas.” borgol itu terlepas hingga menciptakan bunyi bising kala bersentuhan dengan ubin. “Kenapa ga bilang kalo lo demam sih?”

Bukan tidak mau bilang, hanya saja, apa tidak sadar?

“Tunggu sebentar, gue ambil handuk buat lap badan lo dulu.”

“Ga mau.”

“Je.”

“Gue gapapa, gue ga sakit.”

“Jeongin!”

*Bahu itu tergelonjak kaget saat suara berat milik Hyunjin tidak segan membentaknya. *

“Gue bilang gue gapapa! hiks.” dan Jeongin pun bukan seorang yang suka dibentak pun membalas pitam.

Hyunjin melunak. Mengucap maaf sembari menghapus air mata yang tidak berhenti keluar. Jeongin sakit memang sangat clingy. Hyunjin suka itu, sejujurnya, pria yang mirip rubah kala merengek itu sangat gemas.

“Jangan pergi.”

“Gue ga pergi Je, gue cuma mau ambil handuk sama obat buat lo.”

“Jangan tinggalin gue hyunjin hiks.. gue ga mau.”

Paras Jeongin yang terisak dengan wajah seperti bayi itu malah mengundang tawa Hyunjin. Mencubit main-main pipi Jeongin yang bersinar terkena pantulan cahaya temaram. “Emangnya Hyunjin mau kemana, hm? Hyunjin bakalan terus sama Jeje.”


Palapa berbohong. Memikat serta menarik hati katanya, lucu sekali. Menarik hati apanya? nyatanya terus saja terasa menjauh kesana.

Bisakah seseorang berkata, memberi tauku kenapa dari banyaknya insan di dunia, aku harus jatuh padanya?

Jatuh pada Hyunjin yang sudah berada pada pelabuhannya.

“Hiks..”

Rasanya dunia tidak ada lagi oksigen, pun cahaya yang memudar.

“Hyunjin, jeje sakit.”

Ada sedikit memori yang tersisa. Kala dua insan tertawa bersama di bawah hujan, saling bersenggama bahagia. “ARGHHH! APA LAGI YANG HARUS GUE KASIH? BILANG APA LAGI HIKS... apa lagi..?”

Retislaya lagi-lagi mendera. Luka hati yang semakin dalam. Tak ada obat untuknya, selain goresan pada pergelangan tangan yang mengalihkan. Genangan merah sejenak menenangkan, namun katakan, bagaimana dengan rasa kosong yang berada dalam hatiku ini? Apa obatnya?

“Haha.. bahkan yang bilang bakalan bawa gue pergi jauh dari Hyunjin juga ga ada.”

Sakit sekali. Jangan tanya seperti apa rasanya, jika menangis saja tidak cukup lalu tawa yang menggantikan itu rasanya seperti terkoyak habis. Jangan, jangan tanya. Untuk bergerak saja sudah lelah, apalagi untuk berkata.

“Jeje capek, jeje pengen tidur.”


“Maaf karena ga ada di sisi kamu secara nyata, tapi aku di sini, kamu ga sendiri, babe.”