Untuk yang Pernah Singgah
Terkadang, ada saat dimana aku kembali mengingat masa lalu. Seorang anak penuh cinta dan bahagia seutuhnya. Penuh tawa dan senyuman bak swastamita terbentang lepas di angkasa. Indah bagaikan suar yang menggentarkan. Tercantum pada ufuk yang setia menjadi atap kala aku aku mengadah dengan berbunga-bunga. Aku masih ingat semuanya, bahwa aku sebahagia itu dulunya.
Namun aku tidak dapat mengingat, kenapa aku menjadi seperti ini?
Redup, penuh dengan nestapa kelabu, sendu yang tak ada habisnya, hingga mimpi yang berubah menjadi gapaian angan.
Aku tau, aku tidak seperti ini.
Tapi aku juga tidak tau, sedari kapan aku kehilangan diri?
“Orang bilang, kita dua badan dengan separuh jiwa. Gue ga pernah percaya dan ga pernah mau dibilang begitu, karena klise, gue ga suka sama sifat lo yanga aneh tapi diem-diem tau semuanya. Kadang gue pernah mikir, kok bisa gue sama lo hidup bareng tapi ga ada satu pun kesamaan diantara kita.”
Dumalannya tidak berhenti meski banyak tubuh yang berlalu lalang. Tetap pada dunianya sendiri, berbicara seakan ada tubuh lain yang bersamanya saat ini. Tubuh dari seorang pria yang setiap paginya harus datang lebih cepat untuk sekedar memberikan banyak makanan manis dengan stickynote di atasnya pada loker yang selalu penuh makanan darinya tanpa ada satupun yang tersentuh keluar.
“Dulu gue mana mau kalo lo suruh ngelakuin ini. Kayak malu ga sih, udah berjuang kayak bayangan aja tetep dia ga ngelirik ke lo?”
Ia menghela nafas sejenak kala semua makanan manis tersebut sudah tersusun dan dapat masuk pada loker kecil tersebut. Menutupnya pelan-pelan seperti yang dilakukan kembarannya dulu. “Hari ini, tanpa lo suruh, gue udah ngasih makanan manis kesukaan jeje lo. Nanti kalo kita udah bareng-bareng lagi, gue minta bayaran top up seumur hidup ya, Min—”
“Jadi semua itu dari kak Joel?”
“Bukan! Bukan dari gue, sumpah.”
Belum ada satu menit dari angin pagi yang berhembus di atap gedung fakultas lama, pria itu secara tiba-tiba berkata bahkan sebelum aku memulai percakapan. Guratan pada wajahnya terlihat sangat panik. Tinggi nada bicaranya pun seakan maling yang baru tertangkap basah.
“Ada orang lain, tapi bukan gue! Lo jangan salah paham, gue bukan orang itu. Gimana ya ngomongnya, tapi demi tuhan bukan gue kok.”
Gerak-gerik darinya mengingatkanku pada seseorang. Seakan biasa kulihat, nyatanya aku tau nama pria yang setia berdiri di belakang pintu atap saja sudah seperti kelebihan. Aku memang tidak mengenalnya pun tidak tertarik kala banyak orang bercakap tentang dirinya dan seorang yang kukenal, akan tetapi, mereka seperti jiplakan yang sama persis.
“Dari siapa?” itu kalimat yang selama ini ingin ku tanyakan. Aku sudah tau dari lama, ada seseorang yang selalu memberikan banyak coklat di loker yang tidak pernah ku buka lagi
Pria tinggi itu menatapku datar, berjalan mendekat untuk sekedar mengambil tempat duduk di pagar pembatas. “Kalo lo penasaran, kenapa ga ngambil salah satu dari stickynote yang ada inisial namanya di bawah?”
Aku mau melakukannya.
Sudah banyak kali aku berusaha untuk melihat dan membaca apa yang tertulis di sana.
Tapi aku enggan, takut nantinya dilihat Hyunjin lalu pria itu berpikiran jika aku memiliki orang lain.
“Orang yang ada di pikiran lo, tapi bukan Hyunjin.” Ia melirik ke arahku, tersenyum tipis sebelum membuang muka.
Seolah hima datang menyelimutiku di tengah mentari yang bersinar terik. Aku tau. Bahkan berulang kali menebak bahwa dari pria tersebut. Namun memilih menyangkal daripada menerima kenyataan.
Lagi-lagi kak Ino.
“Kakak harusnya benci sama gue.”
Kuberanikan diri untuk mendekat, ingin tau apakah mungkin pria itu akan mendorongnya terbang ke bawah. Mungkin lebih baik rasanya daripada menahan rasa ini.
“Awalnya.” dia berbalik untuk menyeka air mata yang ntah sejak kapan sudah membasahi pelupuk matanya. “Tapi Minho sayang banget sama lo, Je. Dia selalu bilang, kalo dia lagi ga ada, gue harus jagain lo karena gue sedikit jago ngebanting orang dibanding dia.”
“Gue pengen benci lo, tapi gue ga bisa.”
“Kenapa?”
“Gue ga mau nambahin kesedihan lo.”
Benar. Mereka berdua itu sangat mirip. Keduanya penuh dengan hati yang sangat lembut bagaikan kapas. Mementingkan orang lain dibandingkan hati yang harusnya luka.
“Maaf.” setidaknya kata itu dapat terucap pada orang yang tepat, “Maaf karena gue kita harus kehilangan kak Minho.”
“Lo bisa pukul gue, kak.”
Tangannya terangkat mendekat, aku tau, aku pantas mendapatkannya. Sudah banyak kesedihan yang aku cipta, kesedihan yang tidak ada obat untuk menyembuhkannya.
Puk!
“Udah?” ia tersenyum kala ku tatap dengan bingung. Tangan yang harusnya memukul itu memilih untuk menepuk pelan punggungku, “Sekarang udah ngerasa lega?”
Perasaan bersalah yang menyergap tanpa hati itu membunuhku setiap detiknya. Menciptakan kabut dan takut, tidak tau harus memohon ampun pada siapa selain pada Tuhan. Namun sekarang sudah berbeda, ada sedikit batu karang yang terangkat dalam hatiku.
“Jangan ngerasa bersalah, karena kita ga pernah kehilangan Minho. Dia hidup sama kita, Je. Mungkin angin yang sekarang berhembus ini Minho atau disalah satu bunga itu ada Minho yang lahir lagi.”
Kala bibirnya melengkung ke atas dengan indah, aku dapat melihat ada senyuman Kak Minho disana. “Ayok turun, gue ada kelas sebentar lagi.”
Aku menggeleng samar, masih ingin berada di sini untuk sekedar melepas penat diri. Pun percuma jika mengikuti kelas, pikiran yang melalang buana ini sangat susah sekali untuk dikendalikan.
“Duluan aja kak.”
Ia mengangguk, tidak memaksaku untuk bersamanya. Memberikan ruang seperti yang sering Kak Minho lakukan. Mungkin karena mereka kembar yang diberkati kasih sayang dengan Tuhan.
“Je.”
“Ya?”
“Kalo mau turun lewat pintu ya hehe.” tawanya membuatku tersenyum tipis, mengangguk singkat untuk meyakinkan bahwa belum saatnya.
“Oh ya—” dirinya kembali berbalik untuk memberikan susu kotak yang ia simpan di balik jaket tebalnya, “Panggil gue Juyeon aja, yang boleh manggil gue Joel cuma kembaran gue.”
“Maaf bos, saya kehilangan Jeongin tadi saya lihat dia sudah masuk ke gedung fakultasnya, tapi—”
“Cari. Gue ga mau tau setiap ada orang yang deket sama Jeongin lo harus lapor ke gue atau lo yang bakalan mati sebagai gantinya nanti.”