SALAM DAMAI
“Ganggu banget setan.”
“Dih anjing gue baru masuk udah dibilang ganggu.”
“Lo diem doang aja udah ngusik hidup gue sat.”
SALAM DAMAI
“Ganggu banget setan.”
“Dih anjing gue baru masuk udah dibilang ganggu.”
“Lo diem doang aja udah ngusik hidup gue sat.”
Senyuman mengembang di bibir si Labu manis kala dirinya merasa puas dengan tampilan barunya hari ini. Beanie yang ia pasangkan terlihat sangat cocok dengan rambut pink dan wajah manisnya itu. Sempurna.
Benar-benar menakjubkan.
“Jeje ga keliatan aneh, kan?”
“NGGAK!”
Changbin dan Ryujin yang menemani labu manis serentak membantah. Aneh darimana? tuan muda mereka malah lebih mirip seperti malaikat yang baru lahir.
“Prince cakep banget, udah manis banget kayak gulali pengen kakak makan rasanya.”
“Ih bukan gulali! Jeje pumpkin!”
Jeongin dan pumpkin. Mereka sudah terlampau melekat erat. Bukan lagi dua suku kata, melainkan satu kata yang memiliki arti yang sama.
Manis.
BRUG
“ARGHH!”
Seketika senyuman di bibir Jeongin menghilang digantikan wajah dinginnya yang tajam. Dia bisa melihat beberapa anak buah papinya sedang menyeret kasar dua wanita dengan badan penuh luka dan memar.
Jeongin sedikit mendecak, wajahnya mendengus kesal karena suara teriakan wanita-wanita itu. Sangat berisik.
“Prince—”
“Bunuh aja.”
“Je?”
“Kak Jae mau ngebantah Jeje?”
Suara dingin dan tatapan tajam Jeongin sangat kontras dengan Prince yang selama ini semua orang kenal. Tapi jangan pernah lupa, bahwa sang “Angel” lahir dalam keluarga penuh dengan darah dan dunia bawah.
Tanpa banyak orang tau, Jeongin tetaplah Jeongin. Anak mafia berdarah dingin yang tidak segan membunuh orang jika mengusik kehidupan mereka.
Tanpa perlu menunduk, Jeongin melirik ke arah wanita yang di bawa masuk ke dalam ruangan oleh Jaehyun dan beberapa orang lain.
“Mau lo apain gue?! Lepasin ga?! Gue bakalan laporin kalian semua ke polisi!”
Jeongin tertawa kecil melihat wajah ketakutan mainannya kala moncong pistol sudah di arahkan tepat di kening mereka. Rasanya Jeongin ingin berlama-lama di sana jika denting notifikasi dan pesan singkat dari kekasih si labu manis tidak menghentikannya.
Lantas Jeongin mendekat dan berbisik, “Udah gue bilang, lo cuma perlu diem. Tapi sayangnya lo berisik banget, jadi jangan salahin gue kalo gue harus buat lo diem—”
DOR!
” —selamanya.”
“ARGHHH!”
Satu peluru tepat bersarang di kaki mainan si tuan muda. Jeongin tersenyum manis, berlalu begitu saja tanpa peduli ruang hiasnya tiba-tiba berubah bising lolongan rintihan dan bau darah yang menyengat.
“Kakak-kakak main aja, jeje bakalan pergi berdua sama kak Hyun.”
Ryujin seketika antusias, “Oke! Have fun ya Prince!“
“Okeee kakak! Dadaaaah~”
Dan Jeongin memilih pergi, meninggalkan orang-orang yang telah membuat dua harinya berantakan.
DOR!
“Udah Jeje bilang, Jeje ga sekecil yang kalian kira.”
Senyuman mengembang di bibir si Labu manis kala dirinya merasa puas dengan tampilan barunya hari ini. Beanie yang ia pasangkan terlihat sangat cocok dengan rambut pink dan wajah manisnya itu. Sempurna.
Benar-benar menakjubkan.
“Jeje ga keliatan aneh, kan?”
“NGGAK!”
Changbin dan Ryujin yang menemani labu manis serentak membantah. Aneh darimana? tuan muda mereka malah lebih mirip seperti malaikat yang baru lahir.
“Prince cakep banget, udah manis banget kayak gulali pengen kakak makan rasanya.”
“Ih bukan gulali! Jeje pumpkin!”
Jeongin dan pumpkin. Mereka sudah terlampau melekat erat. Tidak lagi dua kata, melainkan satu kata yang memiliki arti yang sama.
Manis.
BRUG
“ARGHH!”
Seketika senyuman di bibir Jeongin menghilang digantikan wajah dinginnya yang tajam. Dia bisa melihat beberapa anak buah papinya sedang menyeret kasar dua wanita dengan badan penuh luka dan memar.
Jeongin sedikit mendecak, wajahnya mendengus kesal karena suara teriakan wanita-wanita itu. Sangat berisik.
“Prince—”
“Bunuh aja.”
“Je?”
“Kak Jae, mau ngebantah Jeje?”
Suara dingin dan tatapan tajam Jeongin sangat kontras dengan Prince yang selama ini semua orang kenal. Tapi jangan pernah lupa, bahwa sang “Angel” lahir dalam keluarga penuh dengan darah dan dunia bawah.
Tanpa banyak orang tau, Jeongin tetaplah Jeongin. Anak mafia berdarah dingin yang tidak segan membunuh orang jika mengusik kehidupan mereka.
Tanpa perlu menunduk, Jeongin melirik ke arah wanita yang di bawa masuk ke dalam ruangan oleh Jaehyun dan beberapa orang lain.
“Mau lo apain gue?! Lepasin ga?! Gue bakalan laporin kalian semua ke polisi!”
Jeongin tertawa kecil melihat wajah ketakutan mainannya kala moncong pistol sudah di arahkan tepat di kening mereka. Rasanya Jeongin ingin berlama-lama di sana jika denting notifikasi dan pesan singkat dari kekasih si labu manis tidak menghentikannya.
Lantas Jeongin mendekat dan berbisik, “Udah gue bilang, lo cuma perlu diem. Tapi sayangnya lo berisik banget, jadi jangan salahin gue kalo gue harus buat lo diem—”
DOR!
” —selamanya.”
“ARGHHH!”
Satu peluru tepat bersarang di kaki mainan si tuan muda. Jeongin tersenyum manis, berlalu begitu saja tanpa peduli ruang hiasnya tiba-tiba berubah bising lolongan rintihan dan bau darah yang menyengat.
“Kakak-kakak main aja, jeje bakalan pergi berdua sama kak Hyun.”
Ryujin seketika antusias, “Oke! Have fun ya Prince!“
“Okeee kakak! Dadaaaah~”
Dan Jeongin memilih pergi, meninggalkan orang-orang yang telat membuat dua harinya berantakan.
DOR!
“Udah gue bilang, gue ga sekecil kalian kira.”
Senyuman mengembang di bibir si Labu manis kala dirinya merasa puas dengan tampilan barunya hari ini. Beanie yang ia pasangkan terlihat sangat cocok dengan rambut pink dan wajah manisnya itu. Sempurna.
Benar-benar menakjubkan.
“Jeje ga keliatan aneh, kan?”
“NGGAK!”
Changbin dan Ryujin yang menemani labu manis serentak membantah. Aneh darimana? tuan muda mereka malah lebih mirip seperti malaikat yang baru lahir.
“Prince cakep banget, udah manis banget kayak gulali pengen kakak makan rasanya.”
“Ih bukan gulali! Jeje pumpkin!”
Jeongin dan pumpkin. Mereka sudah terlampat melekat erat. Tidak lagi dua kata, melainkan satu kata yang memiliki arti yang sama.
Manis.
BRUG
“ARGHH!”
Seketika senyuman di bibir Jeongin menghilang digantikan wajah dinginnya yang tajam. Dia bisa melihat beberapa anak buah papinya sedang menyeret kasar dua wanita dengan badan penuh luka dan memar.
Jeongin sedikit mendecak, wajahnya mendengus kesal karena suara teriakan wanita-wanita itu. Sangat berisik.
“Prince—”
“Bunuh aja.”
“Je?”
“Kak Jae, mau ngebantah Jeje?”
Suara dingin dan tatapan tajam Jeongin sangat kontras dengan Prince yang selama ini semua orang kenal. Tapi jangan pernah lupa, bahwa sang “Angel” lahir dalam keluarga penuh dengan darah dan dunia bawah.
Tanpa banyak orang tau, Jeongin tetaplah Jeongin. Anak mafia berdarah dingin yang tidak segan membunuh orang jika mengusik kehidupan mereka.
Tanpa perlu menunduk, Jeongin melirik ke arah wanita yang di bawa masuk ke dalam ruangan oleh Jaehyun dan beberapa orang lain.
“Mau lo apain gue?! Lepasin ga?! Gue bakalan laporin kalian semua ke polisi!”
Jeongin tertawa kecil melihat wajah ketakutan mainannya kala moncong pistol sudah di arahkan tepat di kening mereka. Rasanya Jeongin ingin berlama-lama di sana jika denting notifikasi dan pesan singkat dari kekasih si labu manis tidak menghentikannya.
Lantas Jeongin mendekat dan berbisik, “Udah gue bilang, lo cuma perlu diem. Tapi sayangnya lo berisik banget, jadi jangan salahin gue kalo gue harus buat lo diem—”
DOR!
” —selamanya.”
“ARGHHH!”
Satu peluru tepat bersarang di kaki mainan si tuan muda. Jeongin tersenyum manis, berlalu begitu saja tanpa peduli ruang hiasnya tiba-tiba berubah bising lolongan rintihan dan bau darah yang menyengat.
“Kakak-kakak main aja, jeje bakalan pergi berdua sama kak Hyun.”
Ryujin seketika antusias, “Oke! Have fun ya Prince!“
“Okeee kakak! Dadaaaah~”
Dan Jeongin memilih pergi, meninggalkan orang-orang yang telat membuat dua harinya berantakan.
DOR!
“Udah gue bilang, gue ga sekecil kalian kira.”
Senyuman mengembang di bibir si Labu manis kala dirinya merasa puas dengan tampilan barunya hari ini. Beanie yang ia pasangkan terlihat sangat cocok dengan rambut pink dan wajah manisnya itu. Sempurna.
Benar-benar menakjubkan.
“Jeje ga keliatan aneh, kan?”
“NGGAK!”
Changbin dan Ryujin yang menemani labu manis serentak membantah. Aneh darimana? tuan muda mereka malah lebih mirip seperti malaikat yang baru lahir.
“Prince cakep banget, udah manis banget kayak gulali pengen kakak makan rasanya.”
“Ih bukan gulali! Jeje pumpkin!”
Jeongin dan pumpkin. Mereka sudah terlampat melekat erat. Tidak lagi dua kata, melainkan satu kata yang memiliki arti yang sama.
Manis.
BRUG
“ARGHH!”
“Pumpkin jangan gemes-gemes dong, kakak kan jadi pengen cium.”
Cup!
“Cium mah cium aja kakak, Jeje bukan anak kecil lagi hehe..”
Kejadiannya sungguh cepat. Bahkan jauh lebih cepat dari detak jantung Hyunjin saat ini. Seolah waktu berhenti dan yang terjadi hanya tawa tipis dari sang pemilik hati.
Yang Jeongin.
Kenapa semua hal yang menyangkut labu manis bernyawa ini terasa manis?
Sial, bagaimana kecupan singkat itu malah membawa rasa candu?
Kalau begini ceritanya, Hyunjin benar-benar kelimpungan dimabuk cinta dibuat oleh labu manis.
Kerutan di dahi Jeongin semakin terlihat jelas kala dentingan notifikasi terus berdatangan tanpa henti. Rentetan kata itu terlampau susah dimengerti untuk seorang Prince Jeongin yang dijaga setengah mati oleh papinya.
“Emangnya salah ya post photo kakak-kakaknya Jeje?”
“Tapi kan mereka kakak Jeje, harusnya gapapa, eh tapi kak Hyun ga suka—?”
“Loh siapa bilang kakak ga suka?”
“Eh?”
Bulatnya mata Jeongin berpadu dengan ekspresi kaget sungguh menggemaskan jika dilihat dengan jarak sedekat ini. Hyunjin bahkan sampai tidak tahan untuk mengusap rambut kekasihnya dengan gemas sembari tertawa kecil.
“Ini labu manisnya kakak kenapa, hm? dari tadi ngedumel sambil ngeliatin hp, pacarnya malah dianggurin.”
“Loh kakak denger?”
“Denger dong.” sempat-sempatnya Hyunjin menoel pipi gembil si labu manis sebelum mengecup dahi kekasihnya dengan lembut, “Bibirnya pumpkin sampe ngerucut gini.”
“Ihhh Jeje ga gituuu!”
Jeongin yang merajuk ditambah semburat merah malu di kedua pipinya sukses meluluh lantahkan dunia Hwang Hyunjin. Rasanya seperti jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi. Perasaan mendebarkan yang sama gilanya seperti pertama kali mereka bertemu. Atau bahkan ritmenya semakin bertambah?
Ntahlah, yang pasti, Hwang Hyunjin semakin jatuh hati pada Labu Manisnya itu.
“Aduh ini Hwang Hyunjin beruntung banget punya pacar manisnya ngalahin gulali.”
“Kakakkk! Ihhh stop ga?”
Malam ini cukup berangin, dua jaket yang menyelemuti tubuhnya saja seakan tidak cukup menghalau dingin. Tapi anehnya rasa panas malah menjalar dari pipi sampai ke telinga Jeongin. Bak tomat rebus, atau kalau kata kak Achan, pipi bayi.
Yang satu pemalu dan yang satunya adalah peraturan ulung. Kombinasi yang pas bak gulali di tengah alun-alun.
Hyunjin semakin mendekat ke arah pumpkin yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lantas berbisik lembut, “Labu manisnya kak Hyun.”
“Kakak!”
“Kenapa pumpkin?”
“Stop duluuu.”
“Orang kakak ga ngapa-ngapain.”
“Ih kakak buat jantungnya Jeje main drum!”
Dan tawa Hyunjin pecah begitu saja. Ternyata keduanya memiliki ritme jantung yang sama. Bersuar dan hampir meledak. Seakan banyak kupu-kupu yang beterbangan.
“Pumpkin jangan gemes-gemes dong, kakak kan jadi pengen cium.”
Cup!
“Cium mah cium aja kakak, Jeje bukan anak kecil lagi hehe..”
Kejadiannya sungguh cepat. Bahkan jauh lebih cepat dari detak jantung Hyunjin saat ini. Seolah waktu berhenti dan yang terjadi hanya tawa tipis dari sang pemilik hati.
Yang Jeongin.
Kenapa semua hal yang menyangkut labu manis bernyawa ini terasa manis?
Sial, bagaimana kecupan singkat itu malah membawa rasa candu?
Kalau begini ceritanya, Hyunjin benar-benar kelimpungan dimabuk cinta dibuat oleh labu manis.
Kerutan di dahi Jeongin semakin terlihat jelas kala dentingan notifikasi terus berdatangan tanpa henti. Rentetan kata itu terlampau susah dimengerti untuk seorang Prince Jeongin yang dijaga setengah mati oleh papinya.
“Emangnya salah ya post photo kakak-kakaknya Jeje?”
“Tapi kan mereka kakak Jeje, harusnya gapapa, eh tapi kak Hyun ga suka—?”
“Loh siapa bilang kakak ga suka?”
“Eh?”
Bulatnya mata Jeongin berpadu dengan ekspresi kaget sungguh menggemaskan jika dilihat dengan jarak sedekat ini. Hyunjin bahkan sampai tidak tahan untuk mengusap rambut kekasihnya dengan gemas sembari tertawa kecil.
“Ini labu manisnya kakak kenapa, hm? dari tadi ngedumel sambil ngeliatin hp, pacarnya malah dianggurin.”
“Loh kakak denger?”
“Denger dong.” sempat-sempatnya Hyunjin menoel pipi gembil si labu manis sebelum mengecup dahi kekasihnya dengan lembut, “Bibirnya pumpkin sampe ngerucut gini.”
“Ihhh Jeje ga gituuu!”
Jeongin yang merajuk ditambah semburat merah malu di kedua pipinya sukses meluluh lantahkan dunia Hwang Hyunjin. Rasanya seperti jatuh lagi, lagi, dan lagi. Perasaan mendebarkan yang sama gilanya seperti pertama kali mereka bertemu. Atau bahkan ritmenya semakin bertambah?
Ntahlah, yang pasti, Hwang Hyunjin semakin jatuh hati pada Labu Manisnya itu.
“Aduh ini Hwang Hyunjin beruntung banget punya pacar manisnya ngalahin gulali.”
“Kakakkk! Ihhh stop ga?”
Malam ini cukup berangin, dua jaket yang menyelemuti tubuhnya saja seakan tidak cukup menghalau dingin. Tapi anehnya rasa panas malah menjalar dari pipi sampai ke telinga Jeongin. Bak tomat rebus, atau kalau kata kak Achan, pipi bayi.
Yang satu pemalu dan yang satunya adalah peraturan ulung. Kombinasi yang pas bak gulali di tengah alun-alun.
Hyunjin semakin mendekat ke arah pumpkin yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lantas berbisik lembut, “Labu manisnya kak Hyun.”
“Kakak!”
“Kenapa pumpkin?”
“Stop duluuu.”
“Orang kakak ga ngapa-ngapain.”
“Ih kakak buat jantungnya Jeje main drum!”
Dan tawa Hyunjin pecah begitu saja. Ternyata keduanya memiliki ritme jantung yang sama. Bersuar dan hampir meledak. Seakan banyak kupu-kupu yang beterbangan.
“Pumpkin jangan gemes-gemes dong, kakak kan jadi pengen cium.”
Cup!
“Cium mah cium aja, Jeje bukan anak kecil hehe..”
Kerutan di dahi Jeongin semakin terlihat jelas kala dentingan notifikasi terus berdatangan tanpa henti. Rentetan kata-kata itu terlampau susah dimengerti untuk seorang Prince Jeongin.
“Emangnya salah ya post photo kakak-kakaknya Jeje?”
“Tapi kan mereka kakak Jeje, harusnya gapapa, eh tapi kak Hyun ga suka—?”
“Loh siapa bilang kakak gua suka?”
“Eh?”
Untuk yang Pernah Singgah; Ini Akhir Kita, FWB Epilog.
Dia berlari dengan tergopoh-gopoh. Degup jantung yang berpacu cepat menghilangkan banyak warna pada dunia. Gelap. Kelabu menyerang kala berbagai pesan dari seorang yang bearti dalam hidupnya terus berdatangan dengan makna. Hyunjin kalut, ingin cepat sampai untuk memastikan. Tanpa sadar menangis saat langkah kakinya semakin dekat pada tujuan.
Gelap yang menyapa ketika pintu rumah terbuka. Tidak ada tanda kehidupan hingga deru nafasnya dapat terdengar dengan jelas. Dia tidak pernah sesulit ini untuk bernafas, bahkan saat kekasihnya jatuh terkapar pun tidak sehebat ini. Rasa kosong yang menyergap seperti putus asa.
“Je.” ia panggil dengan langkah kaki yang bergerak maju. “Jeongin.” dia terdiam dibalik pintu yang sudah tertutup, menunggu sosok manis yang biasanya berlari menyambut setiap kali dirinya datang. Yang terjadi kesunyian yang hadir disana.
“Jeongin gue manggil lo.”
Terdapat racun di salah satu gelas yang pasien minum bersama temannya. Namun beruntung serbuk yang ditemukan pada gelas pasien hanya obat tidur saja.
“Jeongin kalo lo ga keluar sekarang gue ga akan pernah maafin lo.” tubuhnya terjatuh bersandar pada pintu. Menutup wajahnya yang semakin basah akan kemungkinan dalam benaknya.
“Racun ini ditemukan di gelas teman pasien. Memang tidak berbahaya, namun dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani.*
Ia berdiam cukup lama di sana. Menyembunyikan isak tangis yang percuma. Tidak berani melangkah jauh meski hati yang memohon untuk segera bertemu. Bukan seperti ini yang diharapkan. Tapi apa pantas bayarannya seperti ini?
Hyunjin mengambil langkah setelah dapat mengontrol dirinya. Pandangannya mengedar ke sekeliling, hingga terjatuh pada daun pintu bewarna abu-abu yang sempat mereka cat acak-acakan. Bulir air matanya kembali terjatuh, merapal keyakinan bahwa mungkin saja Jeongin tengah pergi menghibur diri.
Dan nyatanya memang Jeongin sudah pergi.
Diri pria manis itu tidak ada, menyisahkan ruang kosong dengan seonggok tubuh penuh pucat terbaring dengan baju couple pemberian Hyunjin dengan damai.
“Je, gue panggil lo kenapa ga jawab?” Pria yang dicintai tubuh yang terbaring itu mendekat setelah melepas jaketnya. Ia dengan sangat perlahan memperhatikan sosok manis yang dulunya tersampir dengan senyuman manis.
Hyunjin mengambil tempat di sebelah Jeongin. Ia gapai tangan yang membiru itu untuk digenggam. “Tangan lo dingin banget.” dia mengambil jaketnya untuk diselimuti pada tubuh Jeongin. Menambah banyak selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
“Udah hangat kan, Je?”
Melihat tak ada respon dari Jeongin air matanya jatuh begitu saja. Terisak tanpa dapat berkata selain membawa tubuh pria itu untuk di dekapnya dengat erat. Membiarkan rasa dingin dari tubuh Jeongin bersentuhan pada tubuhnya.
“Jeje jangan gini, Hyunjin takut.” dibawanya wajah Jeongin untuk. Paras menawannya tidak tertutup meski ada begitu banyak luka yang Hyunjin berikan.
“Maaf.. maaf Jeje, jangan gini ayok bangun terus pukul gue, t-tapi hiks..”
Sunyi yang melanda Hyunjin membawanya untuk tersedu tanpa ragu. Semakin memangku tubuh kurus Jeongin untuk di dekap erat. Terguguh dengan perasaan yang sudah mati.
“Gue harus apa kalo lo ga ada, Je? selama ini gue takut lo pergi dari gue, kenapa sekarang...”
Hyunjin tak lagi mampu berucap, dirinya hanya menangis hebat mengucurkan perasaan yang sudah sia-sia. Jeongin benar, tidak ada luka yang menyakitkan daripada rasa bersalah dan kehilangan. Tapi, kenapa harus berakhir seperti ini? Hyunjin bahkan tak mengharapkan seperti ini. Pun dengan segala cara dilakukan untuk tetap membawa Jeongin hanya untuknya.
Segala cara. Sampai semesta akhirnya mengingatkan bahwa manusia itu hidup dengan perasaan, seperti Jeongin yang telah mengarungi semua perasaan dalam hidupnya.
Sampai akhirnya dirinya tidak menemukan rumah untuk menetap. Memilih pergi dan meninggalkan kenangan dan rasa sakit yang selama ini didera. Hingga sampai akhir pun yang tersisa hanya rasa cinta yang tak terbalas.
Aku tidak pernah mengira akan berada pada titik seperti saat ini, jatuh cinta melenyapkan caraku untuk menjadi manusia. Hari itu, aku mengarungi kenangan yang sudah ada, terdapat bahagia yang sudah terasa cukup untuk dirasa. Pun dengan sakit yang tak lagi dapat ditampung. Bianglala penuh dengan warna pun sudah terlihat kelabu. Menuntun untuk tak lagi menyamai rindu, Melainkan berjalan dengan perasaan yang baru.
Semesta tak membawa kita bersama, tapi biarkan kubawa rasa ini untuk melambung bersamaku. Sebab sudah kucoba untuk melupakanmu. Tapi tak kunjung keluar dari rasa ragu yang menganggu.
Hyunjin, mencintaimu adalah hal terindah dalam hidupku. Terimakasih sudah membiarkanku mencintaimu. Meski hanya aku yang menaruh cinta padamu.
Nebatastala: YJI —Febuari, 2022