bhluewry


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.”

Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu

Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.

Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.

Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.

“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”

Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.

“Pipi bolong.”

Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.

“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”

“Ah anjing! berisik lo anak setan.”

Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.

“Tai males banget gue sama lo anjing.”

“Lah, emang gue ngapain?”

“Najis pake nanya.”

“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent—


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.”

Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu

Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.

Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.

Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.

“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”

Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.

“Pipi bolong.”

Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.

“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”

“Ah anjing! berisik lo anak setan.”

Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.

“Tai males banget gue sama lo anjing.”

“Lah, emang gue ngapain?”

“Najis pake nanya.”

“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent —OH! Lo cemburu?”


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.”

Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu

Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing emosi, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.

Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.

Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.

“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”

Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.

“Pipi bolong.”

Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.

“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”

“Ah anjing! berisik lo anak setan.”

Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.

“Tai males banget gue sama lo anjing.”

“Lah, emang gue ngapain?”

“Najis pake nanya.”

“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent —OH! Lo cemburu?”


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.” Dia tidak bermaksud menyinggung siapa pun, hanya saja lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu.

on





“Beli dikit aja dah, kalo kurang suruh mereka beli sendiri.”

Panglima yang sedari tadi mendengar ocehan Kapten hanya diam sembari mendorong stroller belanjaan.

“Kita orang berapa?”

“30an.”

“5 ciki setiap jenis cukup ga?”

“Mungkin.”

“Jawab yang bener anjing gue colok juga mata lo bangsat!”

Kapten dan umpatannya memang susah sekali dipisahkan. Lupa dengan misi berkelakuan baik-baik pada Panglima.

“Beli bintang juga kali ya.”

“Ga.”

“Dih! giliran gini aja cepet lo nyaut.”

Bibirnya cemberut atas penolakan Panglima barusan. Lantas Panglima terkekeh tanpa diketahui Kapten, susah sekali untuk menyembunyikan perasaannya pada remaja dengan lesung pipi itu.

“Beli panther?”

“Sprite aja.”

“Ck! kita ini udah gede masa sprite sih harusnya pas gini tu minumnya vod—”

“Kapten.”

“Yaudah sprite..”

Botol kalengan itu diambil Kapten dengan lesu. Dia bahkan tidak lagi menghitung seberapa banyak yang dia masukan ke dalam keranjang.

“Udah cukup Kapten.”

“Apa sih kapten kapten! kan gue udah bilang gue ga suka lo manggil gue Kapten!” meledak sudah dia.

“Panggil aja Pipi bolong aja kayak biasanya!”

“Lo jangan teriak-teriak ini tempat rame Kap—”

“Kan anjing! gue jambak rambut lo sampe botak ye jancok —hmmp

Buru-buru Panglima membungkam mulut musuhnya itu. Orang-orang bahkan sudah melihat sinis ke arah mereka. Tapi bukan Kapten jika tidak peduli.

“Yaudah iya, Pipi bolong.”

Tapi sepertinya Kapten masih belum merasa puas. Dirinya masih cemberut sembari menatap Panglima sengit.

“Kenapa lagi?”

“Sebel gue sama lo anjing.”

“Gimana?”

“Iya tau gue salah gue minta maaf, tapi ga usah sampe diemin gue gini anak setan, gue ga suka.”

Dan kali ini Panglima terkekeh sarkas. Dia menarik Kapten untuk dibawa ke tempat yang lebih sepi.

“Jadi gue harus ngelakuin semua yang lo suka, sedangkan lo bebas ngelakuin apa aja termasuk hal yang ga gue suka, gitu?”

Mendengar hal itu, Kapten semakin menantang Panglima. Mata mereka yang saling beradu membagikan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“Ga gitu.”

“Lo bilang kita harus profesional kan? jadi yaudah, pura-pura aja ga ada apa-apa. Toh sebelumnya juga kita udah biasa perang dingin gini kan?”

Spontan Kapten menggeleng keras, “Ga ya anjing! lo jangan mainin perasaan gue gini dong, katanya lo sayang sama gue, kenapa sekarang lagak lo kayak orang ga punya perasaan?”

“Disaat gue lagi berusaha ngerti perasaan gue sendiri, lo malah gini?”

Secara tiba-tiba Kapten merengkuh Panglima untuk dia peluk erat.

“Pipi bolong.”

“Bentar.” semakin dia eratkan pelukannya, “Gue mau cari irama detak jantung lo yang buat gue.”

Lantas kali ini Panglima membalas pelukan Kaptennya. Sebab debarnya masih sama, tidak ada yang berubah barang sedikit pun. Semua masih milik Kapten, milik Atlantisnya.

“Maafin gue.”

“Gue ga marah, Pipi bolong.”

“Buktinya lo diemin gue?”

“Gue cuma butuh waktu buat redahin emosi gue.”

“Sekarang udah redah?”

Gelengan kepala Panglima membuat Kapten melepaskan pelukannya. Sejenak tenggelam dalam bulatan hitam yang tergambar di bola mata Panglima.

“Kalo gue bikin lo ga marah lagi sama gue gimana, Panglima?”

cup!

Kecupan singkat Kapten berikan di sudut bibir Panglima.

Kapten itu orang gila; dirinya penuh dengan teka-teki yang tak terusik. Tidak untuk orang lain, dirinya sendiri saja dia tidak ingin mengerti.

Kapten itu orang egois; dia ingin dicintai tapi tidak ingin mencintai. Dirinya terlampau terlilit rumit dalam kotak sempit.

Tapi sayangnya, Kapten tetaplah Kapten. Sang juara satu pemilik hatinya yang meski harus hancur berkeping di tangannya lagi dan lagi.

Entah akan dibawa kemana perasaannya. Ada kemungkinan terkubur jauh dalam dasar lautan. Sialnya, setiap bersama Kapten jatuh dan cinta tidak dapat dipisahkan lagi

Tapi Panglima tidak masalah.

“Ayok pulang, udah hampir malem.”

“Nanti aja.” dia menggenggam tangan Panglima.

“Gue masih mau lama-lama berdua sama lo, anak setan.”


“Kalo gue bikin lo suka sama gue gimana, Kapten?

Haha sialan.. gue kalah, Panglima.


“Beli dikit aja dah, kalo kurang suruh mereka beli sendiri.”

Panglima yang sedari tadi mendengar ocehan Kapten hanya diam sembari mendorong stroller belanjaan.

“Kita orang berapa?”

“30an.”

“5 ciki setiap jenis cukup ga?”

“Mungkin.”

“Jawab yang bener anjing gue colok juga mata lo bangsat!”

Kapten dan umpatannya memang susah sekali dipisahkan. Lupa dengan misi berkelakuan baik-baik pada Panglima.

“Beli bintang juga kali ya.”

“Ga.”

“Dih! giliran gini aja cepet lo nyaut.”

Bibirnya cemberut atas penolakan Panglima barusan. Lantas Panglima terkekeh tanpa diketahui Kapten, susah sekali untuk menyembunyikan perasaannya pada remaja dengan lesung pipi itu.

“Beli panther?”

“Sprite aja.”

“Ck! kita ini udah gede masa sprite sih harusnya pas gini tu minumnya vod—”

“Kapten.”

“Yaudah sprite..”

Botol kalengan itu diambil Kapten dengan lesu. Dia bahkan tidak lagi menghitung seberapa banyak yang dia masukan ke dalam keranjang.

“Udah cukup Kapten.”

“Apa sih kapten kapten! kan gue udah bilang gue ga suka lo manggil gue Kapten!” meledak sudah dia.

“Panggil aja Pipi bolong aja kayak biasanya!”

“Lo jangan teriak-teriak ini tempat rame Kap—”

“Kan anjing! gue jambak rambut lo sampe botak ye jancok —hmmp

Buru-buru Panglima membungkam mulut musuhnya itu. Orang-orang bahkan sudah melihat sinis ke arah mereka. Tapi bukan Kapten jika tidak peduli.

“Yaudah iya, Pipi bolong.”

Tapi sepertinya Kapten masih belum merasa puas. Dirinya masih cemberut sembari menatap Panglima sengit.

“Kenapa lagi?”

“Sebel gue sama lo anjing.”

“Gimana?”

“Iya tau gue salah gue minta maaf, tapi ga usah sampe diemin gue gini anak setan, gue ga suka.”

Dan kali ini Panglima terkekeh sarkas. Dia menarik Kapten untuk dibawa ke tempat yang lebih sepi.

“Jadi gue harus ngelakuin semua yang lo suka, sedangkan lo bebas ngelakuin apa aja termasuk hal yang ga gue suka, gitu?”

Mendengar hal itu, Kapten semakin menantang Panglima. Mata mereka yang saling beradu membagikan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“Ga gitu.”

“Lo bilang kita harus profesional kan? jadi yaudah, pura-pura aja ga ada apa-apa. Toh sebelumnya juga kita udah biasa perang dingin gini kan?”

Spontan Kapten menggeleng keras, “Ga ya anjing! lo jangan mainin perasaan gue gini dong, katanya lo sayang sama gue, kenapa sekarang lagak lo kayak orang ga punya perasaan?”

“Disaat gue lagi berusaha ngerti perasaan gue sendiri, lo malah gini?”

Secara tiba-tiba Kapten merengkuh Panglima untuk dia peluk erat.

“Pipi bolong.”

“Bentar.” semakin dia eratkan pelukannya, “Gue mau cari irama detak jantung lo yang buat gue.”

Lantas kali ini Panglima membalas pelukan Kaptennya. Sebab debarnya masih sama, tidak ada yang berubah barang sedikit pun. Semua masih milik Kapten, milik Atlantisnya.

“Maafin gue.”

“Gue ga marah, Pipi bolong.”

“Buktinya lo diemin gue?”

“Gue cuma butuh waktu buat redahin emosi gue.”

“Sekarang udah redah?”

Gelengan kepala Panglima membuat Kapten melepaskan pelukannya. Sejenak tenggelam dalam bulatan hitam yang tergambar di bola mata Panglima.

“Kalo gue bikin lo ga marah lagi sama gue gimana, Panglima?”

cup!

Kecupan singkat Kapten berikan di sudut bibir Panglima.

Kapten itu orang gila; dirinya penuh dengan teka-teki yang tak terusik. Tidak untuk orang lain, dirinya sendiri saja dia tidak ingin mengerti.

Kapten itu orang egois; dia ingin dicintai tapi tidak ingin mencintai. Dirinya terlampau terlilit rumit dalam kotak sempit.

Tapi sayangnya, Kapten tetaplah Kapten. Sang juara satu pemilik hatinya yang meski harus hancur berkeping di tangannya lagi dan lagi.

Entah akan dibawa kemana perasaannya. Ada kemungkinan terkubur jauh dalam dasar lautan. Sialnya, setiap bersama Kapten jatuh dan cinta tidak dapat dipisahkan lagi

Tapi Panglima tidak masalah.

“Ayok pulang, udah hampir malem.”

“Nanti aja.” dia menggenggam tangan Panglima.

“Gue masih mau lama-lama berdua sama lo, anak setan.”


“Kalo gue bikin lo suka sama gue gimana, Kapten?

Haha sialan.. lo berhasil, Panglima.


“Beli dikit aja dah, kalo kurang suruh mereka beli sendiri.”

Panglima yang sedari tadi mendengar ocehan Kapten hanya diam sembari mendorong stroller belanjaan.

“Kita orang berapa?”

“30an.”

“5 ciki setiap jenis cukup ga?”

“Mungkin.”

“Jawab yang bener anjing gue colok juga mata lo bangsat!”

Kapten dan umpatannya memang susah sekali dipisahkan. Lupa dengan misi berkelakuan baik-baik pada Panglima.

“Beli bintang juga kali ya.”

“Ga.”

“Dih! giliran gini aja cepet lo nyaut.”

Bibirnya cemberut atas penolakan Panglima barusan. Lantas Panglima terkekeh tanpa diketahui Kapten, susah sekali untuk menyembunyikan perasaannya pada remaja dengan lesung pipi itu.

“Beli panther?”

“Sprite aja.”

“Ck! kita ini udah gede masa sprite sih harusnya pas gini tu minumnya vod—”

“Kapten.”

“Yaudah sprite..”

Botol kalengan itu diambil Kapten dengan lesu. Dia bahkan tidak lagi menghitung seberapa banyak yang dia masukan ke dalam keranjang.

“Udah cukup Kapten.”

“Apa sih kapten kapten! kan gue udah bilang gue ga suka lo manggil gue Kapten!” meledak sudah dia.

“Panggil aja Pipi bolong aja kayak biasanya!”

“Lo jangan teriak-teriak ini tempat rame Kap—”

“Kan anjing! gue jambak rambut lo sampe botak ye jancok —hmmp

Buru-buru Panglima membungkam mulut musuhnya itu. Orang-orang bahkan sudah melihat sinis ke arah mereka. Tapi bukan Kapten jika tidak peduli.

“Yaudah iya, Pipi bolong.”

Tapi sepertinya Kapten masih belum merasa puas. Dirinya masih cemberut sembari menatap Panglima sengit.

“Kenapa lagi?”

“Sebel gue sama lo anjing.”

“Gimana?”

“Iya tau gue salah gue minta maaf, tapi ga usah sampe diemin gue gini anak setan, gue ga suka.”

Dan kali ini Panglima terkekeh sarkas. Dia menarik Kapten untuk dibawa ke tempat yang lebih sepi.

“Jadi gue harus ngelakuin semua yang lo suka, sedangkan lo bebas ngelakuin apa aja termasuk hal yang ga gue suka, gitu?”

Mendengar hal itu, Kapten semakin menantang Panglima. Mata mereka yang saling beradu membagikan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“Ga gitu.”

“Lo bilang kita harus profesional kan? jadi yaudah, pura-pura aja ga ada apa-apa. Toh sebelumnya juga kita udah biasa perang dingin gini kan?”

Spontan Kapten menggeleng keras, “Ga ya anjing! lo jangan mainin perasaan gue gini dong, katanya lo sayang sama gue, kenapa sekarang lagak lo kayak orang ga punya perasaan?”

“Disaat gue lagi berusaha ngerti perasaan gue sendiri, lo malah gini?”

Secara tiba-tiba Kapten merengkuh Panglima untuk dia peluk erat.

“Pipi bolong.”

“Bentar.” semakin dia eratkan pelukannya, “Gue mau cari irama detak jantung lo yang buat gue.”

Lantas kali ini Panglima membalas pelukan Kaptennya. Sebab debarnya masih sama, tidak ada yang berubah barang sedikit pun. Semua masih milik Kapten, milik Atlantisnya.

“Maafin gue.”

“Gue ga marah, Pipi bolong.”

“Buktinya lo diemin gue?”

“Gue cuma butuh waktu buat redahin emosi gue.”

“Sekarang udah redah?”

Gelengan kepala Panglima membuat Kapten melepaskan pelukannya. Sejenak tenggelam dalam bulatan hitam yang tergambar di bola mata Panglima.

“Kalo gue bikin lo ga marah lagi sama gue gimana, Panglima?”

cup

Kapten itu orang gila; dirinya penuh dengan teka-teki yang tak terusik. Tidak untuk orang lain, dirinya sendiri saja dia tidak ingin mengerti.

Kapten itu orang egois; dia ingin dicintai tapi tidak ingin mencintai. Dirinya terlampau terlilit rumit dalam kotak sempit.

Tapi sayangnya, Kapten tetaplah Kapten. Sang juara satu pemilik hatinya yang meski harus hancur berkeping di tangannya lagi dan lagi.

Entah akan dibawa kemana perasaannya. Ada kemungkinan terkubur jauh dalam dasar lautan. Sialnya, setiap bersama Kapten jatuh dan cinta tidak dapat dipisahkan lagi.

“Ayok pulang, udah hampir malem.”

“Nanti aja.” dia menggenggam tangan Panglima.

“Gue masih mau lama-lama berdua sama lo, Panglima.”


“Kalo gue bikin lo suka sama gue gimana, Kapten?

Haha sialan.. lo berhasil, Panglima.