bhluewry


“Beli dikit aja dah, kalo kurang suruh mereka beli sendiri.”

Panglima yang sedari tadi mendengar ocehan Kapten hanya diam sembari mendorong stroller belanjaan.

“Kita orang berapa?”

“30an.”

“5 ciki setiap jenis cukup ga?”

“Mungkin.”

“Jawab yang bener anjing gue colok juga mata lo bangsat!”

Kapten dan umpatannya memang susah sekali dipisahkan. Lupa dengan misi berkelakuan baik-baik pada Panglima.

“Beli bintang juga kali ya.”

“Ga.”

“Dih! giliran gini aja cepet lo nyaut.”

Bibirnya cemberut atas penolakan Panglima barusan. Lantas Panglima terkekeh tanpa diketahui Kapten, susah sekali untuk menyembunyikan perasaannya pada remaja dengan lesung pipi itu.

“Beli panther?”

“Sprite aja.”

“Ck! kita ini udah gede masa sprite sih harusnya pas gini tu minumnya vod—”

“Kapten.”

“Yaudah sprite..”

Botol kalengan itu diambil Kapten dengan lesu. Dia bahkan tidak lagi menghitung seberapa banyak yang dia masukan ke dalam keranjang.

“Udah cukup Kapten.”

“Apa sih kapten kapten! kan gue udah bilang gue ga suka lo manggil gue Kapten!” meledak sudah dia.

“Panggil aja Pipi bolong aja kayak biasanya!”

“Lo jangan teriak-teriak ini tempat rame Kap—”

“Kan anjing! gue jambak rambut lo sampe botak ye jancok —hmmp

Buru-buru Panglima membungkam mulut musuhnya itu. Orang-orang bahkan sudah melihat sinis ke arah mereka. Tapi bukan Kapten jika tidak peduli.

“Yaudah iya, Pipi bolong.”

Tapi sepertinya Kapten masih belum merasa puas. Dirinya masih cemberut sembari menatap Panglima sengit.

“Kenapa lagi?”

“Sebel gue sama lo anjing.”

“Gimana?”

“Iya tau gue salah gue minta maaf, tapi usah sampe diemin gue gini anak setan, gue ga suka.”

Dan kali ini Panglima terkekeh sarkas. Dia menarik Kapten untuk dibawa ke tempat yang lebih sepi.

“Jadi gue harus ngelakuin semua yang lo suka, sedangkan lo bebas ngelakuin apa aja termasuk hal yang ga gue suka, gitu?”

Mendengar hal itu, Kapten semakin menantang Panglima. Mata mereka yang saling beradu membagikan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“Ga gitu.”

“Lo bilang kita harus profesional kan? jadi yaudah, pura-pura aja ga ada apa-apa. Toh sebelumnya juga kita udah biasa perang dingin gini kan?”

Spontan Kapten menggeleng keras, “Ga ya anjing! lo jangan mainin perasaan gue gini dong, katanya lo sayang sama gue, kenapa sekarang lagak lo kayak orang ga punya perasaan?”

“Disaat gue lagi berusaha ngerti perasaan gue sendiri, lo malah gini?”

Secara tiba-tiba Kapten merengkuh Panglima untuk dia peluk erat.

“Pipi bolong.”

“Bentar.” semakin dia eratkan pelukannya, “Gue mau cari irama detak jantung lo yang buat gue.”

Lantas kali ini Panglima membalas pelukan Kaptennya. Sebab debarnya masih sama, tidak ada yang berubah barang sedikit pun. Semua masih milik Kapten, milik Atlantisnya.

“Maafin gue.”

“Gue ga marah, Pipi bolong.”

“Buktinya lo diemin gue?”

“Gue cuma butuh waktu buat redahin emosi gue.”

“Sekarang udah redah?”

Gelengan kepala Panglima membuat Kapten melepaskan pelukannya. Sejenak tenggelam dalam bulatan hitam yang tergambar di bola mata Panglima.

“Kalo gue bikin lo ga marah lagi sama gue gimana, Panglima?”

cup

Kapten itu orang gila; dirinya penuh dengan teka-teki yang tak terusik. Tidak untuk orang lain, dirinya sendiri saja dia tidak ingin mengerti.

Kapten itu orang egois; dia ingin dicintai tapi tidak ingin mencintai. Dirinya terlampau terlilit rumit dalam kotak sempit.

Tapi sayangnya, Kapten tetaplah Kapten. Sang juara satu pemilik hatinya yang meski harus hancur berkeping di tangannya lagi dan lagi.

Entah akan dibawa kemana perasaannya. Ada kemungkinan terkubur jauh dalam dasar lautan. Sialnya, setiap bersama Kapten jatuh dan cinta tidak dapat dipisahkan lagi.

“Ayok pulang, udah hampir malem.”

“Nanti aja.” dia menggenggam tangan Panglima.

“Gue masih mau lama-lama berdua sama lo, Panglima.”


“Kalo gue bikin lo suka sama gue gimana, Kapten?

Haha sialan.. lo berhasil, Panglima.


“Kapten sini!”

Jasmine menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya, meminta Kapten duduk di sana yang seketika membuat suasana bis agak sedikit canggung. Bagaimana tidak kalau singa yang sudah lebih dulu duduk di bangku paling belakang berdecak keras dengan wajah sangat terganggu.

Anjing!

Kapten mengumpat ke dirinya sendiri. Sedikit tersenyum terpaksa sembari berjalan ke arah Jasmine. Posisi mereka yang terbilang cukup belakang dapat merasakan panas di sana. Bahkan dari sudut ekor saja dia dapat melihat Panglima menatap ke arahnya.

Tepat saat dirinya duduk, bis pariwasata yang membawa mereka melaju ke tempat tuju. Bangku depan sudah sangat berisik.

“Care bebek lah anjing!”

“Bagusan runtah bangke!”

“Kagak ada kagak ada, lagu nasional kita dulu.”

Baru juga berangkat sudah ada lagi.

“Palak lu nasional, gue puter juga ni halo-halo bandung!”

“Ribut sekali lagi gue hajar kalian semua.”

Belum juga dia sempat buka suara, Panglima lebih dulu melerai mereka. Dan benar saja, seisi bis langsung diam, bahkan teman-temannya sekali pun.

Mati gue!

Jika Orion terkenal sangat hormat padanya, lain dengan Warior yang sangat slengekan pada Panglima. Mereka sering adu bacot dan terbilang tidak suka diatur. Tapi hebatnya, intrupsi Panglima barusan mampu membuat Warior terdiam.

“Eh?”

Kapten yang tadinya masih sibuk membodoh-bodohi diri sendiri dalam hati terkaget saat bahunya menjadi sandaran Jasmine tanpa bertanya lebih dulu.

“Sorry cil, tapi gue ga suka skinship.”

“Numpang sebentar aja boleh ga kak Je? aku ngantuk banget.”


“Kapten sini!”

Jasmine menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya, meminta Kapten duduk di sampingnya yang seketika membuat suasana bis agak sedikit canggung. Bagaimana tidak kalau singa yang sudah lebih dulu duduk di bangku paling belakang berdecak keras dengan wajah sangat terganggu.

Anjing!

Kapten mengumpat ke dirinya sendiri. Sedikit tersenyum terpaksa sembari berjalan ke arah Jasmine. Posisi mereka yang terbilang cukup belakang dapat merasakan panas di sana. Bahkan dari sudut ekor saja dia dapat melihat Panglima menatap ke arahnya.

Tepat saat dirinya duduk, bis pariwasata yang membawa mereka melaju ke tempat tuju. Bangku depan sudah sangat berisik.

“Care bebek lah anjing!”

“Bagusan runtah bangke!”

“Kagak ada kagak ada, lagu nasional kita dulu.”

Baru juga berangkat sudah ada lagi.

“Palak lu nasional, gue puter juga ni halo-halo bandung!”

“Ribut sekali lagi gue hajar kalian semua.”

Belum juga dia sempat buka suara, Panglima lebih dulu melerai mereka. Dan benar saja, seisi bis langsung diam, bahkan teman-temannya sekali pun.

Mati gue!

Jika Orion terkenal sangat hormat padanya, lain dengan Warior yang sangat slengekan pada Panglima. Mereka sering adu bacot dan terbilang tidak suka diatur. Tapi hebatnya, intrupsi Panglima barusan mampu membuat Warior terdiam.

“Eh?”

Kapten yang tadinya masih sibuk membodoh-bodohi diri sendiri dalam hati terkaget saat bahunya menjadi sandaran Jasmine tanpa bertanya lebih dulu.

“Sorry cil, tapi gue ga suka skinship.”

“Numpang sebentar aja boleh ga kak Je? aku ngantuk banget.”



Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi semakin membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau pasti. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan harga diri yang mulai pergi.

Paras tajam milik musuhnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; entah saat dia kalang kabut menarik Jeongin yang hampir mati di gang sempit kala gerimis atau saat perasaan egoisnya luluh lantah di tengah pemukiman padat penduduk dengan sirine polisi di belakang mereka, dia tidak tau, yang pasti Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama seperti saat prianya berjalan dengan langkah tegap dihiasi senyuman hingga bola matanya tertelan bulan sabit 3 tahun yang lalu.

“Yaelah itu muka cemong semua, udah kayak anjing kecebur got tau gak lo?”

“Haha. Lucu.”

Ngambek sudah pasti. Bukannya takut, Panglima malah terkekeh gemas. Kapten dengan bola matanya yang dibuat-buat sinis sembari sibuk memakan es krim dan tangan yang memegang sekantong jelly berhasil menjadikan hati Panglima seperti permen kapas.

“Jangan dimakan semua es krimnya.” tubuhnya dia bawa untuk merapat pada Kapten, harap punggungnya mampu menghalau angin malam yang datang ke arah prianya. Sedangkan tangannya dengan lembut menghapus jejak-jejak es krim di sudut bibir cherry Kapten. “Udah tengah malem, gue ga mau lo kena flu.”

Hangat seperti biasa hadir kala keduanya habis ditelan waktu bersama. Tetapi tetap saja, Jeongin dengan segala permasalahan hidupnya masih merasa asing dengannya.

“Mau ga?” Es krim paddle pop coklat itu sengaja dia sodorkan. “Biar lo ga nyapnyap kek anak ayam.”

Lagi-lagi semua orang harus tau, Hyunjin disebut Panglima bukan tanpa alasan. Jika Kapten menantang dengan kuasa berada di kepalanya, maka Panglima tidak perlu berpikir untuk mengalahkannya sampai harga diri lawannya berada di bawah kakinya.

Alih-alih memakan es krim yang tergantung di udara itu, Panglima malah mengecup sudut bibir Kapten yang terdapat sisa es krim di sana yang sukses membuat musuh sekaligus pria yang dia cintai terdiam membeku.

“Dih anjing malah nyium orang sembarangan lo anak setan bangsat ngentot—

Cup!

“Manisnya.” wajah berseri Panglima saat lidahnya penuh dengan rasa coklat sangat kontras dengan milik Kapten yang sudah semerah tomat. Bola mata rubahnya memandang tajam Panglima dengan deru nafas yang mulai tidak beraturan.

Salah tingkah, jelas.

“Perjanjian non tertulis kita masih berlaku ya Pipi bolong.” satu sentilan diberikan Panglima, sengaja semakin memancing emosi Kapten. Usil sekali memang.

“Lo ngomong N word gue cium lo atau lo emang ketagihan gue cium?” sudut bibirnya terangkat membentuk smirk.

“ANAK SETAN! ANJING BANGSAT LO BABI!”

Yang satu ini memang tidak tau malu. Mentang-mentang malam sudah seperti milik mereka, dirinya berteriak seperti tidak ada hari esok. Diam-diam menyembunyikan degupan jantung yang iramanya semakin menjadi-jadi.

“Berantem kita anjing! Mau kemana lo woi, bangsat?!”

“Pulang!” Panglima balas berteriak. Dirinya lebih dulu duduk di atas motor sembari memegang helm dan menatap Kapten yang masih setia di tempat. “Mau pulang ga lo anjing? makin malem nih.”

“Udah pagi anjing.”

“Yaudah sama aja. Buru naik, kantongnya gue bawakin sini, kita pulang dulu udah hampir jam 4 ini bisa mati gue ditebas Nanon lo belum balik.”

Yang tadinya angin hadir seorang diri, kali ini ditemani dengan harmoni manis dari tawa lepas sang pemilik lesung pipi yang kini berjalan ke arahnya. Mata miliknya yang hilang dan bibirnya yang terangkat apik membuat Hyunjin tanpa sadar ikut terbawa bahagia olehnya.

“Lo takut sama Nanon?”

Hyunjin mendengus dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya, “Gue ga takut.” dia menjawab sangat tegas.

Tangannya sibuk memakaikan helm kepada Jeongin, sedangkan prianya masih sibuk men es krim yang Hyunjin beli.

“Gue cuma mau nepatin janji gue ke Nanon.” Hyunjin melanjutkan ucapannya sembari merapikan poninya yang berantakan karna helm.

“Janji buat jagain lo dan ga biarin lo kena dinginnya malem, Pipi bolong gue yang cantik.”

Jalanan kosong dengan angin yang hadir hanya sesekali, semakin membuat nyaring dentuman jantung keduanya yang ramai.

“Anjing.”

Sautan dari Jeongin membuat Hyunjin memasang wajah malas, jarinya bahkan reflek menoyor kepala cintanya main-main.

“Ini kita pulang ke rumah Nanon?”

“Ya kalo lo mau pulang ke rumah gue, ayok-ayok aja.”

“Jauh bangsat, rumah lo dimana ini dimana.”

“Makanya, ini mau gue anter ke Cluster.”

“Terus lo nya?” Jeongin bertanya dengan wajah polos, kepalanya miring dengan bola mata khas anak kecil.

Ah rasanya Hyunjin akan melebur kegemasan sekarang!

“Ya pulang, Pipi bolong. Ga mungkin kan lo nawarin gue nginep.”

Jeongin kembali manyun tanpa dia sadari. Kelopak rubahnya seperti sedang berpikir, malam singkat akan segera usai dan dia masih ingin berada di luar. Bak senja pergi dengan tangan kosong, Jeongin pun tidak ingin fajar datang bersama kesepian untuknya.

Terbuai dalam nyaman, mati dalam keinginan.

“Misal ya ini misal.” Jeongin memastikan terlebih dulu sebelum dia berucap pada intinya. “Kira-kira lo keberatan ga misal lo ketemu bokap gue dan dia tiba-tiba ngamuk ga jelas?”

Melebihi kilat kala mengamuk pada bumi, Hyunjin tersenyum sembari menggenggam tangan Jeongin penuh kasih. Menarik cintanya untuk semakin merapat padanya. Berbagi dingin bersama, menyalurkan hangat untuk sesama.

“Kenapa gue harus keberatan? malah ni ya, kalo bokap lo ketemu gue dan dia ngamuk ke lo kayak tempo hari, harusnya yang lo khawatirin bokap lo Pipi bolong. Bisa aja bokap lo bangun-bangun udah di rumah sakit.”

“Si anjing!”

Lantas keduanya saling berbagi tawa. Rona merah terpancar bak pelangi sehabis hujan di pipi Jeongin. Diam-diam Hyunjin menyimpan memori betapa cantiknya Jeongin dengan senyuman manis. Seakan Aphrodite lahir padanya, yang mudah memikat melampaui garis radar pada bumantara.

Hyunjin kalah telak. Semesta membuatnya menyamai perasaan cinta pada Jeongin seluas cakrawala. Tanpa dasar, tanpa batas.

“Yaudah kalo gitu lo minggir, gue yang bawa motor lo.”

“Jangan dingin, udah gue aja Pipi bolong.”

“Justru karna dingin biar gue aja, jaket lo juga gue yang pake.”

“Santai Pipi—

“Mundur ga lo sekarang? gue colok ya mata lo, buru dah anjing. Lo biasa bonceng gue, gantian sekarang gue yang bonceng lo, anak setan.

Nyatanya banyak yang Kapten tidak tau. Selain status dan harga diri yang mulai menjauh, perubahan kecil juga datang bersamaan perasaan yang dirinya belum mengerti.

Persis saat dirinya yang mulai mengambil alih kemudi, lalu perlahan melaju di tengah gelapnya malam, dan diam-diam tersenyum di balik helm kala dirinya dapat melihat senyuman Panglima di kaca spion tanpa pria itu sadari.


Pemberhentian mereka tepat di rumah mewah di tengah kota. Hanya berjarak 15 menit dari tempat mereka sebelumnya. Hyunjin nyaris menganga melihat bangunan luas di pusat perumahan —yang dia kira cluster sudah tempat perkumpulan orang-orang berada.

Dan dia benar-benar menganga saat melihat isi rumah itu. Setiap sudut yang dipahat dengan ornamen modern bercampur aksen Yunani sangat memperlihatkan beda kasta yang kontras.

“Ini kita di istana presiden?”

“Palak lo istana presiden, ini rumah—

“Loh Aden! Ibu kira Kakak yang pulang, kaget Ibu kok ga bilang-bilang ibu pulangnya?”

Seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang memotong ucapan Kapten. Dari raut wajahnya yang tersenyum lebar dengan bulir air mata yang siap terjatuh dan wajah hangat Kapten yang menyambutnya membuat Panglima sedikit tenang.

“Aku lebih kaget password pintu belum di ganti bu hehe.. lagian ini juga ga ada rencana buat pulang bu, Ibu belum tidur?”

“Gimana mau diganti kan yang bikin password dulu si Aden.”

“Ibu belum tidur nungguin kakak belum pulang-pulang, tadi abis berantem sama bapak terus keluar rumah ga pamit sama Ibu.”

Interaksi keduanya tidak bisa lepas dari mata Panglima. Bahkan setiap sisi rumah yang tadinya menarik kalah dengan Kaptennya yang kini tersenyum lembut sembari menggenggam tangan wanita yang dia panggil Ibu itu.

“Udah ibu tidur aja, aku tau kok dia dimana.”

“Iya Ibu tadinya khawatir ga pernah-pernah Bapak berantem sama Kakak. Tadi sampe kelepasan si Bapak untung ada Mas Win, jadi langsung diajak pergi.”

“Aden mau makan? atau mau mandi? biar Ibu siapin dulu ya.”

“Udah gapapa bu, Ibu tidur aja. Kalo aku perlu apa-apa nanti aku ambil sendiri, kamar ku masih ada kan?” tanya Kapten bercanda yang sukses membuat wanita itu tertawa.

“Masih lah Aden, setiap hari Ibu bersihin walaupun yang punya kamar ga pernah pulang.”

Dan kali ini Jeongin yang terkekeh kecil, matanya yang melengkung menggambarkan kepalsuan yang ketara di sana.

“Oh ya ini Hyunjin, temenku.

Hyunjin yang sedari tadi berdiri di belakang Kapten langsung maju untuk mencium tangan wanita tersebut yang kini senyumnya semakin merekah bak bunga-bunga yang baru bermekaran.

“Ya Tuhan, ini pertama kalinya Aden bawa temen ke rumah tapi Ibu ga siapin apa-apa.”

“Ya lagian niatnya cuma mau numpang tidur bu.” Panglima bahkan tidak pernah mengira Kapten yang sedingin lautan bisa sangat lembut tepat di hadapannya.

“Itu kamar gue di atas pintu putih di sebelah kiri, lo duluan aja gue mau ambil minum sama baju buat lo.”

Belum sempat Hyunjin berucap dirinya sudah ditinggal Kapten yang kini berjalan sembari menggenggam wanita paruh baya tersebut. Meninggalkannya dengan kesunyian yang tanpa Panglima sadari dirinya tersenyum.

Setidaknya; di rumah yang sangat sepi dan dingin ini, Kaptennya tidak benar-benar sendiri.


“Lo ngapa jadi telanjang dada gitu anjing?”

Kapten tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya lagi. Bagaimana tidak jika musuhnya itu sudah berlagak seperti berada di kamar sendiri. Badannya yang terekspos dihantam oleh dinginnya AC yang dihidupkan tanpa peduli bibirnya yang memucat karena suhu semakin turun.

“Basah baju gue abis bersih-bersih tadi.”

“Ya ngotak dikit lah anjing, pakein handuk kek selimut kek ga lo anyapin banget ni badan kena AC, udah tau abis dari luar, sakit mampus lo.”

Pun Panglima yang tidak dapat menahan tangannya untuk tidak menghadiahi Kapten usapan lembut di pucuk kepalanya. Tau persis bagaimana hal-hal kecil dapat membuat Kaptennya terbuai.

“Ututu ini musuh gue lagi nyapnyap apa lagi perhatian?”

“Najis.”

Tampang muak yang selalu diberikan Kapten sukses membuat Panglima tertawa.

“Tuh pake, masih pada baru —ya jangan pula lo buka sisanya di depan muka gue bangsat.”

“Yaelah sama-sama cowok juga anjing.”

“Kagak ada urat malu apa gimana sih lo babi?”

“Ada cuma kalo buat lo mah ga ada lagi, apa adanya aja gue.”

Akhirnya Kapten yang menyerah lebih dulu. Bulan sudah semakin bergerak turun dan nyawanya sudah seperti terbang di bawa arus malam. Dari pada adu bacot, dia lebih memilih untuk berbaring di kasur tanpa peduli pada Panglima.

Sejenak Kapten memejamkan matanya, hari yang panjang ini tidak dibayangkan akan berakhir di bangunan ini. Bersamaan helaan nafas pertama, dirinya dapat merasakan ada pergerakan di sisi kasur yang kosong.

“Gue kira kamar lo bakalan kosong gitu, ternyata barang-barangnya masih banyak.”

Banyak hal yang Kapten hindari, termasuk pembicaraan tentang rumah yang hanya simbol bangunan untuknya. Selain tidak memiliki jawaban, Kapten juga tidak tau harus memulai percakapan dari mana.

“Lo harusnya ga perlu maksain buat ke sini, Kapten.”

Usapan lembut di kepalanya memaksa Kapten untuk terjaga. Wajah Panglima yang tersenyum hangat menjadi hal yang pertama yang dia tatap.

“Banyak hal yang sengaja gue tinggalin di sini.”

“Lo tau, kalo ga ada lo kayaknya gue ga bakal berani masuk ke rumah ini lagi, Anak setan.”

Kapten memiringkan badannya selaras seperti yang Panglima lakukan. Saling tatap tanpa berucap kata. Berbagi rasa hanya dari mata dan sentuhan hati-hati penenang jiwa.

“Itu tadi siapa?” Panglima lebih dulu membuka suara.

“Asisten rumah tangga di sini, tapi emang gue panggil Ibu karena perannya di sini udah kayak Ibu pengganti buat gue.”

Saat kedua mata itu saling terikat dan gelanyar aneh kembali merasuki Kapten, pria dengan lesung pipi itu tersenyum tipis. “Lo ga mau nanya?”

“Tentang?”

“Apa aja, secara lo musuh gue dan cuma lo yang tau kalo keluarga gue ini berantakan.”

Mendengar hal tersebut, Panglima hanya dapat mengulum senyumannya. Tangan kanannya dia bawa untuk mengusap pipi Kapten.

“Kita musuh kan cuma buat di sekolah, untuk hal pribadi lo gue ga perlu tau Pipi bolong.” dia rapikan rambut-rambut Kapten yang menutupi wajah manisnya. “Lo bisa cerita ke gue, tapi kalo dengan cerita bikin lo sakit, gue ga bakal nanya apa pun itu. Telinga gue emang bisa denger semuanya, mata gue bisa liat semuanya, tapi cukup gue yang tau. Rahasia lo bakal selalu aman Kapten.

“Lo bakal selalu dikenang Kapten Orion yang paling kuat, yang paling sempurna, yang ga punya celah.”

Cup!

“Ga usah khawatir, hubungan musuh kita kan sehat.”

Dan di ujung hari, Panglima dapat bersumpah tawa lepas Kapten lebih indah dari pada senja dan seisinya. Satu tamparan kecil diberikan si lesung pipi karena telah berani mencium keningnya tanpa izin.

“Lo orang pertama yang gue bawa ke sini.”

“How lucky i am.”

It's not. Mau di sini atau pun di Cluster, dua-duanya sama-sama berantakan, gue ga pernah ngerasa bisa napas dengan baik setiap gue ada di sini atau di sana.”

Dia kembali menjatuhkan pandangannya pada mata Panglima. Mencari bayangannya untuk semakin tenggelam.

“Tapi karena ada lo, gue ga ngerasa apa-apa. Gue ga takut dan gue malah —ngerasa nyaman.”

“Ngebayangin rumah ini aja bikin gue sakit, gue bahkan udah lupa berapa kali bokap gebukin gue di rumah ini. Tapi lo tau, mau berapa kali gue ngelupain malem bokap sama nyokap gue berantem hebat karena bokap ngaku dia selingkuh dan nyokap yang ga terima, gue ga pernah bisa lupa.”

“Setiap sisi rumah ini udah jadi saksi gue ngelalui setiap masalah itu sendiri. Walaupun di sini ada Ibu, tetep aja gue ga bisa ngerasa sembuh. Ditambah nyokap gue pergi ninggalin gue dan bokap bawa Om Win tinggal di sini, di rumah tempat gue lahir, gue ga pernah bisa terima.”

“Kap..”

“Cuma karena ini udah malem dan lo pasti udah capek seharian bantuin Jihoon bongkar motor, terus harus nganter gue ke Cluster dan baru balik ke rumah yang pasti capeknya bakal double, akhirnya kita malah ada di sini haha..”

Keduanya terkekeh hambar. Tangan Kapten yang dingin dia genggam sebelum dia kecup ringan.

“Makasih ya udah khawatir sama gue, Kapten.”

“Hm.”

Dan genggaman tangan itu terputus dengan Kapten yang memunggungi Panglima. Malam akan segera habis dan seluruh raganya sudah tidak kuat untuk menahan urusan bumi.

“Good night, Pipi bolong.”

Kalimat itu diucapkan Panglima setelah menghadiahi kecupan manis di pucuk kepala Kapten. Memastikan Kapten terselimuti hangat sebelum akhirnya dia berbalik memunggungi Kapten juga.

Baru saja alam mimpi akan menjemputnya, tiba-tiba tangan dingin memeluk dirinya bersamaan helaan napas tipis menerpa punggungnya yang lebar.

Tanpa membuka matanya, dengan senang hati Panglima mengubah posisi tidurnya. Dia berbalik untuk memeluk Kapten dengan seluruh atensi padanya. Membiarkan tangan kirinya menjadi bantalan Kapten dan sisa tubuhnya menenggalamkan tubuh kurus itu dalam jiwanya yang dia biarkan tidak padam.

Tanpa keduanya tau, masing-masing senyuman mengantarkan dua jiwa untuk terlelap nyenyak semalaman.

Nyatanya; di rumah yang sepi dan luas ini, Jeongin hanya butuh Panglima untuk mengatasi perasaan mati rasa yang dia alami.

Belenggu Kapten telah bebas. Dibebaskan oleh Sagara. Meski takut pada hari, banyak hal yang tidak dipercayai. Setidaknya hidup sekali lagi sudah dirasakan di bumi yang berantakan ini.


Then, good night, Panglima.


Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama seperti saat prianya berjalan dengan langkah tegap dihiasi senyuman hingga bola matanya tertelan bulan sabit 3 tahun yang lalu.

“Itu es krimnya jangan lo makan semua Pipi bolong, sisain buat besok.”

“Pelit.” cibirnya tidak terima.

“Bukan pelit cuma ini lo udah habis 3 anjing, sakit yang ada tengah malam makan dingin-dingin.”

“Udah pagi anjing.”

“Yaudah sama aja. Sisanya sini gue bawakin, kita pulang dulu udah hampir jam 4 ini bisa mati gue ditebas Nanon.”

Yang tadinya dersik hadir seorang diri, kali ini ditemani dengan harmoni manis dari tawa lepas sang pemilik lesung pipi. Matanya yang hilang dan bibirnya yang terangkat apik membuat Hyunjin tanpa sadar ikut terbawa bahagia olehnya.

“Lo takut sama Nanon?”

Hyunjin mendengus dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya, “Gue ga takut.” dia menjawab sangat tegas.

Tangannya sibuk memakaikan helm kepada Jeongin yang seluruh atensinya berada di es krim coklat yang Hyunjin beli.

“Gue cuma mau nepatin janji gue ke Nanon.” mendengar itu, Jeongin seakan membatu. Nyawanya seakan melayang kala Hyunjin melanjutkan ucapannya sembari merapikan poninya yang berantakan karna helm.

“Janji buat jagain lo dan ga biarin lo kena dinginnya malem, Pipi bolong gue yang cantik.”

Jalanan kosong dengan angin yang hadir hanya sesekali, semakin membuat nyaring dentuman jantung keduanya yang ramai.

“Anjing.”

Sautan dari Jeongin membuat Hyunjin memasang wajah malas, jarinya bahkan reflek menoyor kepala cintanya main-main.

“Anak setan!” semakin dipancing, semakin pula mulutnya tidak bisa ditahan.

“Ini kita pulang ke rumah Nanon?”

“Ya kalo lo mau pulang ke rumah gue, ayok-ayok aja.”

“Jauh bangsat, rumah lo dimana ini dimana.”

“Makanya, ini mau gue anter ke Cluster.”

“Terus lo nya?” Jeongin bertanya dengan wajah polos, kepalanya miring dengan bola mata khas anak kecil sembari memegang cone es krim di tangan Kanan.

Ah rasanya Hyunjin akan melebur kegemasan sekarang!

“Ya pulang, Pipi bolong. Ga mungkin juga kan lo nawarin gue nginep.”

Jeongin kembali manyun tanpa dia sadari. Kelopak rubahnya seperti sedang berpikir, malam singkat akan segera usai dan dia masih ingin berada di luar. Bak senja pergi dengan tangan kosong, Jeongin tidak ingin fajar datang bersama kelabu yang mulai tergambar di cakrawala.

Terbuai dalam nyaman, mati dalam keinginan.

“Lo keberatan ga misal lo ketemu bokap gue dan dia tiba-tiba ngamuk ga jelas?”

Melebihi kilat kala mengamuk pada bumi, Hyunjin tersenyum sembari menggenggam tangan Jeongin penuh kasih. Menarik cintanya untuk semakin merapat padanya yang sudah duduk di atas motor lebih dulu.

“Kenapa gue harus keberatan? malah kalo bokap lo ketemu gue dan dia ngamuk ke lo kayak tempo hari, harusnya yang lo khawatirin bokap lo Pipi bolong. Bisa aja bokap lo bangun-bangun udah di rumah sakit.”

“Si anjing!”

Lantas keduanya saling berbagi tawa. Rona merah terpancar bak pelangi sehabis hujan di pipi Jeongin. Diam-diam Hyunjin menyimpan memori betapa cantiknya Jeongin dengan senyuman manis. Seakan Aphrodite lahir padanya, yang mudah memikat melampaui garis radar bumantara.

Hyunjin kalah telak. Semesta membuatnya menyamai perasaan cinta pada Jeongin seluas lautan.

“Kalo gitu kita ke rumah gue aja.”

“Rumah lo?”

“Iya, rumah gue, bukan yang di Cluster.”



Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama seperti saat prianya berjalan dengan langkah tegap dihiasi senyuman hingga bola matanya tertelan bulan sabit 3 tahun yang lalu.

“Itu es krimnya jangan lo makan semua Pipi bolong, sisain buat besok.”

“Pelit.” cibirnya tidak terima.

“Bukan pelit cuma ini lo udah habis 3 anjing, sakit yang ada tengah malam makan dingin-dingin.”

“Udah pagi anjing.”

“Yaudah sama aja. Sisanya sini gue bawakin, kita pulang dulu udah hampir jam 4 ini bisa mati gue ditebas Nanon.”

Yang tadinya dersik hadir seorang diri, kali ini ditemani dengan harmoni manis dari tawa lepas sang pemilik lesung pipi. Matanya yang hilang dan bibirnya yang terangkat apik membuat Hyunjin tanpa sadar ikut terbawa bahagia olehnya.

“Lo takut sama Nanon?”

Hyunjin mendengus dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya, “Gue ga takut.” dia menjawab sangat tegas.

Tangannya sibuk memakaikan helm kepada Jeongin yang seluruh atensinya berada di es krim coklat yang Hyunjin beli.

“Gue cuma mau nepatin janji gue ke Nanon.” mendengar itu, Jeongin seakan membatu. Nyawanya seakan melayang kala Hyunjin melanjutkan ucapannya sembari merapikan poninya yang berantakan karna helm.

“Janji buat jagain lo dan ga biarin lo kena dinginnya malem, Pipi bolong gue yang cantik.”

Jalanan kosong dengan angin yang hadir hanya sesekali, semakin membuat nyaring dentuman jantung keduanya yang ramai.

“Anjing.”

Sautan dari Jeongin membuat Hyunjin memasang wajah malas, jarinya bahkan reflek menoyor kepala cintanya main-main.

“Anak setan!” semakin dipancing, semakin pula mulutnya tidak bisa ditahan.

“Ini kita pulang ke rumah Nanon?”

“Ya kalo lo mau pulang ke rumah gue, ayok-ayok aja.”

“Jauh bangsat, rumah lo dimana ini dimana.”

“Makanya, ini mau gue anter ke Cluster.”

“Terus lo nya?” Jeongin bertanya dengan wajah polos, kepalanya miring dengan bola mata khas anak kecil sembari memegang cone es krim di tangan Kanan.

Ah rasanya Hyunjin akan melebur kegemasan sekarang!

“Ya pulang, Pipi bolong. Ga mungkin juga kan lo nawarin gue nginep.”

Jeongin kembali manyun tanpa dia sadari. Kelopak rubahnya seperti sedang berpikir, malam singkat akan segera usai dan dia masih ingin berada di luar. Bak senja pergi dengan tangan kosong, Jeongin tidak ingin fajar datang bersama kelabu yang mulai tergambar di cakrawala.

Terbuai dalam nyaman, mati dalam keinginan.

“Lo keberatan ga misal lo ketemu bokap gue dan dia tiba-tiba ngamuk ga jelas?”

Melebihi kilat kala mengamuk pada bumi, Hyunjin tersenyum sembari menggenggam tangan Jeongin penuh kasih. Menarik cintanya untuk semakin merapat padanya yang sudah duduk di atas motor lebih dulu.

“Kenapa gue harus keberatan? malah kalo bokap lo ketemu gue dan dia ngamuk ke lo kayak tempo hari, harusnya yang lo khawatirin bokap lo Pipi bolong. Bisa aja bokap lo bangun-bangun udah di rumah sakit.”

“Si anjing!”

Lantas keduanya saling berbagi tawa. Rona merah terpancar bak pelangi sehabis hujan di pipi Jeongin. Diam-diam Hyunjin menyimpan memori betapa cantiknya Jeongin dengan senyuman manis. Seakan Aphrodite lahir padanya, yang mudah memikat melampaui garis radar bumantara.

Hyunjin kalah telak. Semesta membuatnya menyamai perasaan cinta pada Jeongin seluas lautan.

“Kalo gitu kita ke rumah gue aja.”

“Rumah lo?”

“Iya, rumah gue, bukan yang di Cluster.”


Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama seperti saat prianya berjalan dengan langkah tegap dihiasi senyuman hingga bola matanya tertelan bulan sabit 3 tahun yang lalu.

“Itu es krimnya jangan lo makan semua Pipi bolong, sisain buat besok.”

“Pelit.” cibirnya tidak terima.

“Bukan pelit cuma ini lo udah habis 3 anjing, sakit yang ada tengah malam makan dingin-dingin.”

“Udah pagi anjing.”

“Yaudah sama aja. Sisanya sini gue bawakin, kita pulang dulu udah hampir jam 4 ini bisa mati gue ditebas Nanon.”

Yang tadinya dersik hadir seorang diri, kali ini ditemani dengan harmoni manis dari tawa lepas sang pemilik lesung pipi. Matanya yang hilang dan bibirnya yang terangkat apik membuat Hyunjin tanpa sadar ikut terbawa bahagia olehnya.

“Lo takut sama Nanon?”

Hyunjin mendengus dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya, “Gue ga takut.” dia menjawab sangat tegas.

Tangannya sibuk memakaikan helm kepada Jeongin yang seluruh atensinya berada di es krim coklat yang Hyunjin beli.

“Gue cuma mau nepatin janji gue ke Nanon.” mendengar itu, Jeongin seakan membatu. Nyawanya seakan melayang kala Hyunjin melanjutkan ucapannya sembari merapikan poninya yang berantakan karna helm.

“Janji buat jagain lo dan ga biarin lo kena dinginnya malem, Pipi bolong gue yang cantik.”

Jalanan kosong dengan angin yang hadir hanya sesekali, semakin membuat nyaring dentuman jantung keduanya yang ramai.

“Anjing.”

Sautan dari Jeongin membuat Hyunjin memasang wajah malas, jarinya bahkan reflek menoyor kepala cintanya main-main.

“Anak setan!” semakin dipancing, semakin pula mulutnya tidak bisa ditahan.

“Ini kita pulang ke rumah Nanon?”

“Ya kalo lo mau pulang ke rumah gue, ayok-ayok aja.”

“Jauh bangsat, rumah lo dimana ini dimana.”

“Makanya, ini mau gue anter ke Cluster.”

“Terus lo nya?” Jeongin bertanya dengan wajah polos, kepalanya miring dengan bola mata khas anak kecil sembari memegang cone es krim di tangan Kanan.

Ah rasanya Hyunjin akan melebur kegemasan sekarang!

“Ya pulang, Pipi bolong. Ga mungkin juga kan lo nawarin gue nginep.”

Jeongin kembali manyun tanpa dia sadari. Kelopak rubahnya seperti sedang berpikir, malam singkat akan segera usai dan dia masih ingin berada di luar. Bak senja pergi dengan tangan kosong, Jeongin tidak ingin fajar datang bersama kelabu yang mulai tergambar di cakrawala.

Terbuai dalam nyaman, mati dalam keinginan.

“Lo keberatan ga misal lo ketemu bokap gue dan dia tiba-tiba ngamuk ga jelas?”

Melebihi kilat kala mengamuk pada bumi, Hyunjin tersenyum sembari menggenggam tangan Jeongin penuh kasih. Menarik cintanya untuk semakin merapat padanya yang sudah duduk di atas motor lebih dulu.

“Kenapa gue harus keberatan? malah kalo bokap lo ketemu gue dan dia ngamuk ke lo kayak tempo hari, harusnya yang lo khawatirin bokap lo Pipi bolong. Bisa aja bokap lo bangun-bangun udah di rumah sakit.”

“Si anjing!”

Lantas keduanya saling berbagi tawa. Rona merah terpancar bak pelangi sehabis hujan di pipi Jeongin. Diam-diam Hyunjin menyimpan memori betapa cantiknya Jeongin dengan senyuman manis. Seakan Aphrodite lahir padanya, yang mudah memikat melampaui garis radar bumantara.

Hyunjin kalah telak. Semesta membuatnya menyamai perasaan seluas lautan.

“Kalo gitu kita ke rumah gue aja.”

“Rumah lo?”

“Iya, rumah gue, bukan yang di Cluster.”


Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama seperti saat prianya berjalan dengan langkah tegap dihiasi senyuman hingga bola matanya tertelan bulan sabit 3 tahun yang lalu.

“Itu es krimnya jangan lo makan semua Pipi bolong, sisain buat besok.”

“Pelit.” cibirnya tidak terima.

“Bukan pelit cuma ini lo udah habis 3 anjing, sakit yang ada tengah malam makan dingin-dingin.”

“Udah pagi anjing.”

“Yaudah sama aja. Sisanya sini gue bawakin, kita pulang dulu udah hampir jam 4 ini bisa mati gue ditebas Nanon.”

Yang tadinya dersik hadir seorang diri, kali ini ditemani dengan harmoni manis dari tawa lepas sang pemilik lesung pipi. Matanya yang hilang dan bibirnya yang terangkat apik membuat Hyunjin tanpa sadar ikut terbawa bahagia olehnya.

“Lo takut sama Nanon?”

Hyunjin mendengus dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya, “Gue ga takut.” dia menjawab sangat tegas.

Tangannya sibuk memakaikan helm kepada Jeongin yang seluruh atensinya berada di es krim coklat yang Hyunjin beli.

“Gue cuma nepatin janji gue ke Nanon.” mendengar itu, Jeongin seakan membatu. Nyawanya seakan melayang kala Hyunjin melanjutkan ucapannya sembari merapikan poninya yang berantakan karna helm.

“Janji buat jagain lo dan ga biarin lo kena dinginnya malem, Pipi bolong gue yang cantik.”

Jalanan kosong dengan angin yang hadir hanya sesekali, semakin membuat nyaring dentuman jantung keduanya yang ramai.

“Anjing.”

Sautan dari Jeongin membuat Hyunjin memasang wajah malas, jarinya bahkan reflek menoyor kepala cintanya main-main.

“Anak setan!” semakin dipancing, semakin pula mulutnya tidak bisa ditahan.

“Ini kita pulang ke rumah Nanon?”

“Ya kalo lo mau pulang ke rumah gue, ayok-ayok aja.”

“Jauh bangsat, rumah lo dimana ini dimana.”

“Makanya, ini mau gue anter ke Cluster.”

“Terus lo nya?” Jeongin bertanya dengan wajah polos, kepalanya miring dengan bola mata khas anak kecil sembari memegang cone es krim di tangan Kanan.

Ah rasanya Hyunjin akan melebur kegemasan sekarang!

“Ya pulang, Pipi bolong. Ga mungkin juga kan lo nawarin gue nginep.”

Jeongin kembali manyun tanpa dia sadari. Kelopak rubahnya seperti sedang berpikir, malam singkat akan segera usai dan dia masih ingin berada di luar. Bak senja pergi dengan tangan kosong, Jeongin tidak ingin fajar datang bersama kelabu yang mulai tergambar di cakrawala.

Terbuai dalam nyaman, mati dalam keinginan.

“Lo keberatan ga misal lo ketemu bokap gue dan dia tiba-tiba ngamuk ga jelas?”

Melebihi kilat kala mengamuk pada bumi, Hyunjin tersenyum sembari menggenggam tangan Jeongin penuh kasih. Menarik cintanya untuk semakin merapat padanya yang sudah duduk di atas motor lebih dulu.

“Kenapa gue harus keberatan? malah kalo bokap lo ketemu gue dan dia ngamuk ke lo kayak tempo hari, harusnya yang lo khawatirin bokap lo Pipi bolong. Bisa aja bokap lo bangun-bangun udah di rumah sakit.”

“Si anjing!”

Lantas keduanya saling berbagi tawa. Rona merah terpancar bak pelangi sehabis hujan di pipi Jeongin. Diam-diam Hyunjin menyimpan memori betapa cantiknya Jeongin dengan senyuman manis. Seakan Aphrodite lahir padanya, yang mudah memikat melampaui garis radar bumantara.

Hyunjin kalah telak. Semesta membuatnya menyamai perasaan seluas lautan.

“Kalo gitu kita ke rumah gue aja.”

“Rumah lo?”

“Iya, rumah gue, bukan yang di Cluster.”


Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama seperti saat prianya berjalan dengan langkah tegap dihiasi senyuman hingga bola matanya tertelan bulan sabit.

“Itu es krimnya jangan lo makan semua Pipi bolong, sisain buat besok.”

“Pelit.” cibirnya tidak terima.

“Bukan pelit cuma ini lo udah habis 3 anjing, sakit yang ada tengah malam makan dingin-dingin.”

“Udah pagi anjing.”

“Yaudah sama aja. Sisanya sini gue bawakin, kita pulang dulu udah hampir jam 4 ini bisa mati gue ditebas Nanon.”

Yang tadinya dersik hadir seorang diri, kali ini ditemani dengan harmoni manis dari tawa lepas sang pemilik lesung pipi. Matanya yang hilang dan bibirnya yang terangkat apik membuat Hyunjin tanpa sadar ikut terbawa bahagia olehnya.

“Lo takut sama Nanon?”

Hyunjin mendengus dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya, “Gue ga takut.” dia menjawab sangat tegas.

Tangannya sibuk memakaikan helm kepada Jeongin yang seluruh atensinya berada di es krim coklat yang Hyunjin beli.

“Gue cuma nepatin janji gue ke Nanon.” mendengar itu, Jeongin seakan membatu. Nyawanya seakan melayang kala Hyunjin melanjutkan ucapannya sembari merapikan poninya yang berantakan karna helm.

“Janji buat jagain lo dan ga biarin lo kena dinginnya malem, Pipi bolong gue yang cantik.”

Jalanan kosong dengan angin yang hadir hanya sesekali, semakin membuat nyaring dentuman jantung keduanya yang ramai.

“Anjing.”

Sautan dari Jeongin membuat Hyunjin memasang wajah malas, jarinya bahkan reflek menoyor kepala cintanya main-main.

“Anak setan!” semakin dipancing, semakin pula mulutnya tidak bisa ditahan.

“Ini kita pulang ke rumah Nanon?”

“Ya kalo lo mau pulang ke rumah gue, ayok-ayok aja.”

“Jauh bangsat, rumah lo dimana ini dimana.”

“Makanya, ini mau gue anter ke Cluster.”

“Terus lo nya?” Jeongin bertanya dengan wajah polos, kepalanya miring dengan bola mata khas anak kecil sembari memegang cone es krim di tangan Kanan.

Ah rasanya Hyunjin akan melebur kegemasan sekarang!

“Ya pulang, Pipi bolong. Ga mungkin juga kan lo nawarin gue nginep.”

Jeongin kembali manyun tanpa dia sadari. Kelopak rubahnya seperti sedang berpikir, malam singkat akan segera usai dan dia masih ingin berada di luar. Bak senja pergi dengan tangan kosong, Jeongin tidak ingin fajar datang bersama kelabu yang mulai tergambar di cakrawala.

Terbuai dalam nyaman, mati dalam keinginan.

“Lo keberatan ga misal lo ketemu bokap gue dan dia tiba-tiba ngamuk ga jelas?”

Melebihi kilat kala mengamuk pada bumi, Hyunjin tersenyum sembari menggenggam tangan Jeongin penuh kasih. Menarik cintanya untuk semakin merapat padanya yang sudah duduk di atas motor lebih dulu.

“Kenapa gue harus keberatan? malah kalo bokap lo ketemu gue dan dia ngamuk ke lo kayak tempo hari, harusnya yang lo khawatirin bokap lo Pipi bolong. Bisa aja bokap lo bangun-bangun udah di rumah sakit.”

“Si anjing!”

Lantas keduanya saling berbagi tawa. Rona merah terpancar bak pelangi sehabis hujan di pipi Jeongin. Diam-diam Hyunjin menyimpan memori betapa cantiknya Jeongin dengan senyuman manis. Seakan Aphrodite lahir padanya, yang mudah memikat melampaui garis radar bumantara.

Hyunjin kalah telak. Semesta membuatnya menyamai perasaan seluas lautan.

“Kalo gitu kita ke rumah gue aja.”

“Rumah lo?”

“Iya, rumah gue, bukan yang di Cluster.”