bhluewry


Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama seperti saat prianya berjalan dengan langkah tegap dihiasi senyuman hingga bola matanya tertelan bulan sabit.

“Itu es krimnya jangan lo makan semua Pipi bolong, sisain buat besok.”

“Pelit.” cibirnya tidak terima.

“Bukan pelit cuma ini lo udah habis 3 anjing, sakit yang ada tengah malam makan dingin-dingin.”

“Udah pagi anjing.”

“Yaudah sama aja. Sisanya sini gue bawakin, kita pulang dulu udah hampir jam 4 ini bisa mati gue ditebas Nanon.”

Yang tadinya dersik hadir seorang diri, kali ini ditemani dengan harmoni manis dari tawa lepas sang pemilik lesung pipi. Matanya yang hilang dan bibirnya yang terangkat apik membuat Hyunjin tanpa sadar ikut terbawa bahagia olehnya.

“Lo takut sama Nanon?”

Hyunjin mendengus dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya, “Gue ga takut.” dia menjawab sangat tegas.

Tangannya sibuk memakaikan helm kepada Jeongin yang seluruh atensinya berada di es krim coklat yang Hyunjin beli.

“Gue cuma nepatin janji gue ke Nanon.” mendengar itu, Jeongin seakan membatu. Nyawanya seakan melayang kala Hyunjin melanjutkan ucapannya sembari merapikan poninya yang berantakan karna helm.

“Janji buat jagain lo dan ga biarin lo kena dinginnya malem, Pipi bolong gue yang cantik.”

Jalanan kosong dengan angin yang hadir hanya sesekali, semakin membuat nyaring dentuman jantung keduanya yang ramai.

“Anjing.”

Sautan dari Jeongin membuat Hyunjin memasang wajah malas, jarinya bahkan reflek menoyor kepala cintanya main-main.

“Anak setan!” semakin dipancing, semakin pula mulutnya tidak bisa ditahan.

“Ini kita pulang ke rumah Nanon?”

“Ya kalo lo mau pulang ke rumah gue, gue ayok-ayok aja.”

“Jauh bangsat, rumah lo dimana ini dimana.”

“Makanya, ini gue anter ke Cluster.”

“Terus lo nya?” Jeongin bertanya dengan wajah polos, kepalanya miring dengan bola mata khas anak kecil sembari memegang cone es krim di tangan Kanan.

Ah rasanya Hyunjin ingin mati kegemasan sekarang!

“Ga mungkin kan lo nawarin gue nginep secara itu rumah penuh sama anak-anak lo, kecuali lo nawarin gue nginep di rumah lo.”


Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak tau, pria itu hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama saat pertama kali dia melihat


Lagi-lagi bentala memangku memori. Entah sudah hitungan ke berapa malam menjadi saksi waktu keduanya habis di bawah kaki-kaki indurasmi. Jalanan sepi penanda hari seolah membuat mereka menjadi pemilik bumi.

Mulanya dari mana saja keduanya tidak tau. Seakan tiba-tiba status musuh yang diagung-agungkan itu terkikis jauh. Yang awalnya terkoyak habis, berhasil melangkahi serumpunan daksa mati yang telah lama pergi.

Paras tajamnya selalu diartikan jika ia susah untuk disentuh. Bengis bak hewan buas karena sebutannya sebagai penguasa jalanan tercantum dalam tubuh. Nyatanya mereka yang tidak aku, dia hanya sosok kalbu yang perasaannya dikubur hidup-hidup sedari dulu.

Maka saat malam dirinya datang dengan perasaan kalah pada semesta; bahwa dia memang sudah jatuh padak sosok itu, Hyunjin dengan kesederhanaannya meminta pada dunia bawa kembali senyuman manis yang dia cinta. Sama saat pertama kali dia melihat



Banyak hal yang secara sengaja dia tidak ingin mengerti. Pura-pura lari dari kenyataan, lantas hidup dalam keraguan selalu Jeongin pilih untuk menutup diri.

Jeongin dan Kapten; mereka dua orang yang berbeda.

Seberapa keras Jeongin ingin menjadi Kapten di hadapan keluarganya dia tidak akan pernah bisa. Tetapi, Kapten; sosok itu bisa menjadi Jeongin di seluruh kondisi.

Dia ingat, Desember tidak pernah benar-benar memberi haru dalam manisnya coklat panas sembari menonton TV bersama keluarga. Alih-alih seperti itu, Desember menjadi pengingat kala dia angkat kaki dari rumah, meninggalkan semuanya. Meninggalkan sosok Jeongin di sana.

Maka saat matanya menangkap sosok pria tinggi yang berdiri tepat di depan pagar rumahnya, Jeongin benar-benar merasa kacau. Perasaan campur aduk yang didominasi amarah itu hampir membuatnya kalap jika tidak melihat betapa berantakan wajah pria itu.

Genggaman tangan yang sudah siap dia layangkan berat hati ia urungkan. Masih memeliki hati untuk tidak menambah luka lebam di wajahnya entah ulah siapa. Hingga cengkraman di kerah baju Heeseung menjadi sapaan bahwa kehadirannya sudah tidak pernah Jeongin terima lagi.

“Lo tolol apa gimana sih anjing? lo lupa rumah Nanon deket sama rumah gue? kalo dia liat lo di sini bisa mati lo, anjing.”

Heeseung tidak menjawab, matanya sengaja menatap tepat pada idrak Jeongin yang penuh emosi.

“Lo udah dapet rumah keluarga gue, terus sekarang lo mau ngusik rumah pribadi gue gitu? ga pernah puas ya lo jadi manusia anjing.”

“Je..”

“Minimal mikir lah, di rumah Nanon ada anak Orion kalo gue ga cepet-cepet ke sini tadi, mati lo di tangan Jaehyuk, tolol.”

“Jeongin...”

Suara gemetar Heeseung membuat Jeongin bungkam seketika. Jarak keduanya yang cukup dekat memudahkan Heeseung menarik Jeongin untuk semakin mendekat

“Mau lo tu apa sih Hee? bisa ga sih jangan ngusik gue terus?” kali ini suara Jeongin sedikit melunak meski tetap penuh penenakanan dalam setiap katanya.

Bukannya menjawab, Heeseung malah menjatuhkan kepalanya pada pundak Jeongin sembari melingkarkan tangannya pada pinggang adik angkatnya sekaligus cinta pertamanya.

“Lepas.”

Seperti yang semua orang tau, kesabaran tidak lekat di diri Jeongin. Suaranya yang datar seakan menjadi pertanda sebelum emosinya meledak seperti gunung merapi.

“Lepas Heeseung! diliat orang tolol, lo mau gue gebukin juga di sini?”

“Bentar...”

“Sebentar aja, please...”

Mendengar suaranya yang lirih, sejenak Jeongin terdiam. Kedua tangannya yang tergantung menjadi arti bahwa hatinya tidak ingin dia membalas pelukan pria itu.

Hubungan keduanya sudah terlampau rumit. Mati-matian mencari jati diri, lantas akan hancur hanya karena pelukan dan air mata yang hadir di sela-sela keduanya?

Tidak.

Jeongin tidak ingin mengambil resiko patah kembali.

Dengan degup jantung yang sudah berbeda sewaktu dulu, Jeongin melepaskan pelukan Heeseung darinya.

Wajah pria itu benar-benar berantakan, seingat Jeongin, dia tidak pernah seberantakan hari ini selepas kematian orang tuanya beberapa tahun yang lalu.

Jeongin menarik musuhnya Orion itu untuk masuk selagi belum ada yang melihat mereka berdua.

“Gue ga mau tau permasalahan lo apa sampe lo babak belur gini, tapi kalo lo kesini karena ga bisa pulang ke rumah papa, masuk aja.”

Bukan, bukan itu yang Heeseung mau.

“Gue bolehin lo bukan bearti kehadiran lo sekarang bisa gue terima. Cuma semalem dan jangan keluar sampe anak Orion pulang besok. Gue ga mau temen-temen gue dicap pembunuh.”

Kunci rumah itu dia berikan pada orang yang rasanya sama seperti hatinya saat ini. Mati.

Jeongin tidak pernah mengira mereka akan pada titik sehebat arus dalam laut. Deras dan tidak sejalan.

“Pilih aja kamarnya tapi jangan masuk ke kamar gue, sampe berani lo masuk gue bunuh lo.” bahkan kalimat dingin dulunya tidak pernah dirangkai dalam bait kisah mereka.

Baru saja Jeongin ingin pergi, tangannya dicekal oleh Heeseung. Sosok itu tidak mau kalah sekaligus menyedihkan dalam satu waktu.

“Emang kita udah ga bisa kayak dulu lagi, Je?”

Kalimat itu langsung mengundang kekehan Jeongin.

“Emang kita pernah kayak gimana?”

Dan jawaban dari Jeongin seolah menikam Heeseung dari segala sisi. Seingatnya Jeongin itu pria manis yang akan memandangnya dengan mata penuh ke arahnya, bukan tatapan sinis dan kebencian yang dia terima seperti malam ini.

Bukankah; semua yang terjadi ini bukan kesalahannya? Dia pun korban dalam keserakahan bumantara, lalu kenapa dia harus dibenci oleh Jeongin sebegitu hebatnya?

Apa salahnya?

Heeseung hanya ingin seperti dulu.

Ingin duduk berdua, ingin mengobrol bersama, ingin bermain piano sampai lupa masa, ingin peluk sampai mati rasa,

Tapi satu yang Heeseung tidak tau; Desember dan kepergian Jeongin dari rumahnya kala dia menerima Om Win tinggal di sana, bukan hanya sosok Jeongin yang tertinggal —tetapi seluruh perasaan cinta dan belas kasihan telah dia bunuh disana.

Menyisakan kebencian dan amarah pada dunia.

Pada papa nya, pada mama nya, pada nya.


Sekali pun perasaan cinta itu ada, Jeongin pastikan cerita tentangnya dan Heeseung telah selesai sebelum dimulai.

Garis finish yang tidak akan pernah Jeongin berikan pada nya sekali pun kematian menjadi penutup dalam kisahnya.

Jeongin benci, dan Jeongin tidak ingin mengubahnya lagi.

Kecuali, pada sosok ini

Hanya kepada orang ini, dan hanya untuk orang ini.

“Kok lo malah lari ke sini Pipi bolong? padahal baru mau gue jemput.”

Saat tangannya ditarik olehnya untuk berdiri di bawah cahaya, Jeongin tidak ingin menolak.

Dan dia sadar, kalau dia sudah menerimanya.

Menerima eksistensi Panglima dan hanya Panglima.

“Dijemput juga ga bisa ngidupin motor udah lewat jam 1.”

“Ini lo sampe keringetan gini abis lari dari GI ke sini apa lo pipi bolong?”

“Anjing!”

“Lo ngerokok ya?”

“Enggak!” Jeongin menjawab secepat kilat. Intonasinya yang seolah panik dengan mata yang membulat lucu membuat Panglima tertawa.

“Anak-anak yang ngerokok gue ga.” bibirnya maju membela diri.

“Iya iya percaya, mulut lo ga bau rokok.” usapan yang diberikan Panglima sejenak melarutkan perasaan campur aduk yang masih mengganjal di hati.

“Hoodie lo buka aja, pake jaket gue basah gini ntar masuk angin.”

“Terus lo gimana?”

“Gapapa gue ini udah pake baju tangan panjang aman lah.”

Jeongin menurut saja. Ketika tangannya dituntun untuk mendekat ke arah motornya yang diparkir di samping pos satpam pun Jeongin menurut.

“Anak setan.”

“Oit Pipi bolong?” pergerakannya yang baru saja akan melepaskan jaketnya langsung dia hentikan dan menatap Jeongin dengan seluruh atensinya.

Remaja pemilik lesung pipi itu tidak langsung membuka suara, dia menatap mata Hyunjin seolah sedang berenang dalam bayangannya yang terpantul di sana.

“Boleh peluk gue bentar ga, Panglima?”

Dan senyuman manis Panglima menyambut dia untuk masuk dalam rengkuhannya yang hangat. Tangan Panglima yang tidak pernah absen mengusap kepalanya selalu berhasil membuatnya mabuk dalam kenyamanan.

“Lama juga boleh, Kapten.”

Lantas Kapten langsung memejamkan matanya, membiarkan emosi itu perlahan hilang digantikan perasaan nyaman dan aman.

Bisa saja; perasaan yang telah Jeongin bunuh di rumah keluarganya perlahan telah kembali.

“Thanks.” Kapten menjawab sembari membalas pelukan Panglima tidak kalah erat.


Banyak hal yang secara sengaja dia tidak ingin mengerti. Pura-pura lari dari kenyataan, lantas hidup dalam keraguan selalu Jeongin pilih untuk menutup diri.

Jeongin dan Kapten; mereka dua orang yang berbeda.

Seberapa keras Jeongin ingin menjadi Kapten di hadapan keluarganya dia tidak akan pernah bisa. Tetapi, Kapten; sosok itu bisa menjadi Jeongin di seluruh kondisi.

Dia ingat, Desember tidak pernah benar-benar memberi haru dalam manisnya coklat panas sembari menonton TV bersama keluarga. Alih-alih seperti itu, Desember menjadi pengingat kala dia angkat kaki dari rumah, meninggalkan semuanya. Meninggalkan sosok Jeongin di sana.

Maka saat matanya menangkap sosok pria tinggi yang berdiri tepat di depan pagar rumahnya, Jeongin benar-benar merasa kacau. Perasaan campur aduk yang didominasi amarah itu hampir membuatnya kalap jika tidak melihat betapa berantakan wajah pria itu.

Genggaman tangan yang sudah siap dia layangkan berat hati ia urungkan. Masih memeliki hati untuk tidak menambah luka lebam di wajahnya entah ulah siapa. Hingga cengkraman di kerah baju Heeseung menjadi sapaan bahwa kehadirannya sudah tidak pernah Jeongin terima lagi.

“Lo tolol apa gimana sih anjing? lo lupa rumah Nanon deket sama rumah gue? kalo dia liat lo di sini bisa mati lo, anjing.”

Heeseung tidak menjawab, matanya sengaja menatap tepat pada idrak Jeongin yang penuh emosi.

“Lo udah dapet rumah keluarga gue, terus sekarang lo mau ngusik rumah pribadi gue gitu? ga pernah puas ya lo jadi manusia anjing.”

“Je..”

“Minimal mikir lah, di rumah Nanon ada anak Orion kalo gue ga cepet-cepet ke sini tadi, mati lo di tangan Jaehyuk, tolol.”

“Jeongin...”

Suara gemetar Heeseung membuat Jeongin bungkam seketika. Jarak keduanya yang cukup dekat memudahkan Heeseung menarik Jeongin untuk semakin mendekat

“Mau lo tu apa sih Hee? bisa ga sih jangan ngusik gue terus?” kali ini suara Jeongin sedikit melunak meski tetap penuh penenakanan dalam setiap katanya.

Bukannya menjawab, Heeseung malah menjatuhkan kepalanya pada pundak Jeongin sembari melingkarkan tangannya pada pinggang adik angkatnya sekaligus cinta pertamanya.

“Lepas.”

Seperti yang semua orang tau, kesabaran tidak lekat di diri Jeongin. Suaranya yang datar seakan menjadi pertanda sebelum emosinya meledak seperti gunung merapi.

“Lepas Heeseung! diliat orang tolol, lo mau gue gebukin juga di sini?”

“Bentar...”

“Sebentar aja, please...”

Mendengar suaranya yang lirih, sejenak Jeongin terdiam. Kedua tangannya yang tergantung menjadi arti bahwa hatinya tidak ingin dia membalas pelukan pria itu.

Hubungan keduanya sudah terlampau rumit. Mati-matian mencari jati diri, lantas akan hancur hanya karena pelukan dan air mata yang hadir di sela-sela keduanya?

Tidak.

Jeongin tidak ingin mengambil resiko patah kembali.

Dengan degup jantung yang sudah berbeda sewaktu dulu, Jeongin melepaskan pelukan Heeseung darinya.

Wajah pria itu benar-benar berantakan, seingat Jeongin, dia tidak pernah seberantakan hari ini selepas kematian orang tuanya beberapa tahun yang lalu.

Jeongin menarik musuhnya Orion itu untuk masuk selagi belum ada yang melihat mereka berdua.

“Gue ga mau tau permasalahan lo apa sampe lo babak belur gini, tapi kalo lo kesini karena ga bisa pulang ke rumah papa, masuk aja.”

Bukan, bukan itu yang Heeseung mau.

“Gue bolehin lo bukan bearti kehadiran lo sekarang bisa gue terima. Cuma semalem dan jangan keluar sampe anak Orion pulang besok. Gue ga mau temen-temen gue dicap pembunuh.”

Kunci rumah itu dia berikan pada orang yang rasanya sama seperti hatinya saat ini. Mati.

Jeongin tidak pernah mengira mereka akan pada titik sehebat arus dalam laut. Deras dan tidak sejalan.

“Pilih aja kamarnya tapi jangan masuk ke kamar gue, sampe berani lo masuk gue bunuh lo.” bahkan kalimat dingin dulunya tidak pernah dirangkai dalam bait kisah mereka.

Baru saja Jeongin ingin pergi, tangannya dicekal oleh Heeseung. Sosok itu tidak mau kalah sekaligus menyedihkan dalam satu waktu.

“Emang kita udah ga bisa kayak dulu lagi, Je.”

Kalimat itu langsung mengundang kekehan Jeongin.

“Emang kita pernah kayak gimana?”

Dan jawaban dari Jeongin seolah menikam Heeseung dari segala sisi. Seingatnya Jeongin itu pria manis yang akan memandangnya dengan mata penuh ke arahnya, bukan tatapan sinis dan kebencian yang dia terima seperti malam ini.

Bukankah; semua yang terjadi ini bukan kesalahannya? Dia pun korban dalam keserakahan bumantara, lalu kenapa dia harus dibenci oleh Jeongin sebegitu hebatnya?

Apa salahnya?

Heeseung hanya ingin seperti dulu.

Ingin duduk berdua, ingin mengobrol bersama, ingin bermain piano sampai lupa masa, ingin peluk sampai mati rasa,

Tapi satu yang Heeseung tidak tau; Desember dan kepergian Jeongin dari rumahnya kala dia menerima Om Win tinggal di sana, bukan hanya sosok Jeongin yang tertinggal —tetapi seluruh perasaan cinta dan belas kasihan telah dia bunuh disana.

Menyisakan kebencian dan amarah pada dunia.

Pada papa nya, pada mama nya, pada nya.


Sekali pun perasaan cinta itu ada, Jeongin pastikan cerita tentangnya dan Heeseung telah selesai sebelum dimulai.

Garis finish yang tidak akan pernah Jeongin berikan pada nya sekali pun kematian menjadi penutup dalam kisahnya.

Jeongin benci, dan Jeongin tidak ingin mengubahnya lagi.

Kecuali, pada sosok ini

Hanya kepada orang ini, dan hanya untuk orang ini.

“Kok lo malah lari ke sini Pipi bolong? padahal baru mau gue jemput.”

Saat tangannya ditarik olehnya untuk berdiri di bawah cahaya, Jeongin tidak ingin menolak.

Dan dia sadar, kalau dia sudah menerimanya.

Menerima eksistensi Panglima dan hanya Panglima.

“Dijemput juga ga bisa ngidupin motor udah lewat jam 1.”

“Ini lo sampe keringetan gini abis lari dari GI ke sini apa lo pipi bolong?”

“Anjing!”

“Lo ngerokok ya?”

“Enggak!” Jeongin menjawab secepat kilat. Intonasinya yang seolah panik dengan mata yang membulat lucu membuat Panglima tertawa.

“Anak-anak yang ngerokok gue ga.” bibirnya maju membela diri.

“Iya iya percaya, mulut lo ga bau rokok.” usapan yang diberikan Panglima sejenak melarutkan perasaan campur aduk yang masih mengganjal di hati.

“Hoodie lo buka aja, pake jaket gue basah gini ntar masuk angin.”

“Terus lo gimana?”

“Gapapa gue ini udah pake baju tangan panjang aman lah.”

Jeongin menurut saja. Ketika tangannya dituntun untuk mendekat ke arah motornya yang diparkir di samping pos satpam pun Jeongin menurut.

“Anak setan.”

“Oit Pipi bolong?” pergerakannya yang baru saja akan melepaskan jaketnya langsung dia hentikan dan menatap Jeongin dengan seluruh atensinya.

Remaja pemilik lesung pipi itu tidak langsung membuka suara, dia menatap mata Hyunjin seolah sedang berenang dalam bayangannya yang terpantul di sana.

“Boleh peluk gue bentar ga, Panglima?”

Dan senyuman manis Panglima menyambut dia untuk masuk dalam rengkuhannya yang hangat. Tangan Panglima yang tidak pernah absen mengusap kepalanya selalu berhasil membuatnya mabuk dalam kenyamanan.

“Lama juga boleh, Kapten.”

Lantas Kapten langsung memejamkan matanya, membiarkan emosi itu perlahan hilang digantikan perasaan nyaman dan aman.

Bisa saja; perasaan yang telah Jeongin bunuh di rumah keluarganya perlahan telah kembali.

“Thanks.” Kapten menjawab sembari membalas pelukan Panglima tidak kalah erat.


Banyak hal yang secara sengaja dia tidak ingin mengerti. Pura-pura lari dari kenyataan, lantas hidup dalam keraguan selalu Jeongin pilih untuk menutup diri.

Jeongin dan Kapten; mereka dua orang yang berbeda.

Seberapa keras Jeongin ingin menjadi Kapten di hadapan keluarganya dia tidak akan pernah bisa. Tetapi, Kapten; sosok itu bisa menjadi Jeongin di seluruh kondisi.

Dia ingat, Desember tidak pernah benar-benar memberi haru dalam manisnya coklat panas sembari menonton TV bersama keluarga. Alih-alih seperti itu, Desember menjadi pengingat kala dia angkat kaki dari rumah, meninggalkan semuanya. Meninggalkan sosok Jeongin di sana.

Maka saat matanya menangkap sosok pria tinggi yang berdiri tepat di depan pagar rumahnya, Jeongin benar-benar merasa kacau. Perasaan campur aduk yang didominasi amarah itu hampir membuatnya kalap jika tidak melihat betapa berantakan wajah pria itu.

Genggaman tangan yang sudah siap dia layangkan berat hati ia urungkan. Masih memeliki hati untuk tidak menambah luka lebam di wajahnya entah ulah siapa. Hingga cengkraman di kerah baju Heeseung menjadi sapaan bahwa kehadirannya sudah tidak pernah Jeongin terima lagi.

“Lo tolol apa gimana sih anjing? lo lupa rumah Nanon deket sama rumah gue? kalo dia liat lo di sini bisa mati lo, anjing.”

Heeseung tidak menjawab, matanya sengaja menatap tepat pada idrak Jeongin yang penuh emosi.

“Lo udah dapet rumah keluarga gue, terus sekarang lo mau ngusik rumah pribadi gue gitu? ga pernah puas ya lo jadi manusia anjing.”

“Je..”

“Minimal mikir lah, di rumah Nanon ada anak Orion kalo gue ga cepet-cepet ke sini tadi, mati lo di tangan Jaehyuk, tolol.”

“Jeongin...”

Suara gemetar Heeseung membuat Jeongin bungkam seketika. Jarak keduanya yang cukup dekat memudahkan Heeseung menarik Jeongin untuk semakin mendekat

“Mau lo tu apa sih Hee? bisa ga sih jangan ngusik gue terus?” kali ini suara Jeongin sedikit melunak meski tetap penuh penenakanan dalam setiap katanya.

Bukannya menjawab, Heeseung malah menjatuhkan kepalanya pada pundak Jeongin sembari melingkarkan tangannya pada pinggang adik angkatnya sekaligus cinta pertamanya.

“Lepas.”

Seperti yang semua orang tau, kesabaran tidak lekat di diri Jeongin. Suaranya yang datar seakan menjadi pertanda sebelum emosinya meledak seperti gunung merapi.

“Lepas Heeseung! diliat orang tolol, lo mau gue gebukin juga di sini?”

“Bentar...”

“Sebentar aja, please...”

Mendengar suaranya yang lirih, sejenak Jeongin terdiam. Kedua tangannya yang tergantung menjadi arti bahwa hatinya tidak ingin dia membalas pelukan pria itu.

Hubungan keduanya sudah terlampau rumit. Mati-matian mencari jati diri, lantas akan hancur hanya karena pelukan dan air mata yang hadir di sela-sela keduanya?

Tidak.

Jeongin tidak ingin mengambil resiko patah kembali.

Dengan degup jantung yang sudah berbeda sewaktu dulu, Jeongin melepaskan pelukan Heeseung darinya.

Wajah pria itu benar-benar berantakan, seingat Jeongin, dia tidak pernah seberantakan hari ini selepas kematian orang tuanya beberapa tahun yang lalu.

Jeongin menarik musuhnya Orion itu untuk masuk selagi belum ada yang melihat mereka berdua.

“Gue ga mau tau permasalahan lo apa sampe lo babak belur gini, tapi kalo lo kesini karena ga bisa pulang ke rumah papa, masuk aja.”

Bukan, bukan itu yang Heeseung mau.

“Gue bolehin lo bukan bearti kehadiran lo sekarang bisa gue terima. Cuma semalem dan jangan keluar sampe anak Orion pulang besok. Gue ga mau temen-temen gue dicap pembunuh.”

Kunci rumah itu dia berikan pada orang yang rasanya sama seperti hatinya saat ini. Mati.

Jeongin tidak pernah mengira mereka akan pada titik sehebat arus dalam laut. Deras dan tidak sejalan.

“Pilih aja kamarnya tapi jangan masuk ke kamar gue, sampe berani lo masuk gue bunuh lo.” bahkan kalimat dingin dulunya tidak pernah dirangkai dalam bait kisah mereka.

Baru saja Jeongin ingin pergi, tangannya dicekal oleh Heeseung. Sosok yang tidak mau kalah sekaligus menyedihkan dalam satu waktu.

“Emang kita udah ga bisa kayak dulu lagi, Je.”

Kalimat itu langsung mengundang kekehan Jeongin.

“Emang kita pernah kayak gimana?”

Dan jawaban dari Jeongin seolah menikam Heeseung dari segala sisi. Seingatnya Jeongin itu pria manis yang akan memandangnya dengan mata penuh ke arahnya, bukan tatapan sinis dan kebencian yang dia terima seperti malam ini.

Bukankah; semua yang terjadi ini bukan kesalahannya? Dia pun korban dalam keserakahan bumantara, lalu kenapa dia harus dibenci oleh Jeongin sebegitu hebatnya?

Apa salahnya?

Heeseung hanya ingin seperti dulu.

Ingin duduk berdua, ingin mengobrol bersama, ingin bermain piano sampai lupa masa, ingin peluk sampai mati rasa,

Tapi satu yang Heeseung tidak tau; Desember dan kepergian Jeongin dari rumahnya kala dia menerima Om Win tinggal di sana, bukan hanya sosok Jeongin yang tertinggal —tetapi seluruh perasaan cinta dan belas kasihan telah dia bunuh disana.

Menyisakan kebencian dan amarah pada dunia.

Pada papa nya, pada mama nya, pada nya.


Sekali pun perasaan cinta itu ada, Jeongin pastikan cerita tentangnya dan Heeseung telah selesai sebelum dimulai.

Garis finish yang tidak akan pernah Jeongin berikan pada nya sekali pun kematian menjadi penutup dalam kisahnya.

Jeongin benci, dan Jeongin tidak ingin mengubahnya lagi.

Kecuali, pada sosok ini

Hanya kepada orang ini, dan hanya untuk orang ini.

“Kok lo malah lari ke sini Pipi bolong? padahal baru mau gue jemput.”

Saat tangannya ditarik olehnya untuk berdiri di bawah cahaya, Jeongin tidak ingin menolak.

Dan dia sadar, kalau dia sudah menerimanya.

Menerima eksistensi Panglima dan hanya Panglima.

“Dijemput juga ga bisa ngidupin motor udah lewat jam 1.”

“Ini lo sampe keringetan gini abis lari dari GI ke sini apa lo pipi bolong?”

“Anjing!”

“Lo ngerokok ya?”

“Enggak!” Jeongin menjawab secepat kilat. Intonasinya yang seolah panik dengan mata yang membulat lucu membuat Panglima tertawa.

“Anak-anak yang ngerokok gue ga.” bibirnya maju membela diri.

“Iya iya percaya, mulut lo ga bau rokok.” usapan yang diberikan Panglima sejenak melarutkan perasaan campur aduk yang masih mengganjal di hati.

“Hoodie lo buka aja, pake jaket gue basah gini ntar masuk angin.”

“Terus lo gimana?”

“Gapapa gue ini udah pake baju tangan panjang aman lah.”

Jeongin menurut saja. Ketika tangannya dituntun untuk mendekat ke arah motornya yang diparkir di samping pos satpam pun Jeongin menurut.

“Anak setan.”

“Oit Pipi bolong?” pergerakannya yang baru saja akan melepaskan jaketnya langsung dia hentikan dan menatap Jeongin dengan seluruh atensinya.

Remaja pemilik lesung pipi itu tidak langsung membuka suara, dia menatap mata Hyunjin seolah sedang berenang dalam bayangannya yang terpantul di sana.

“Boleh peluk gue bentar ga, Panglima?”

Dan senyuman manis Panglima menyambut dia untuk masuk dalam rengkuhannya yang hangat. Tangan Panglima yang tidak pernah absen mengusap kepalanya selalu berhasil membuatnya mabuk dalam kenyamanan.

“Lama juga boleh, Kapten.”

Lantas Kapten langsung memejamkan matanya, membiarkan emosi itu perlahan hilang digantikan perasaan nyaman dan aman.

Bisa saja; perasaan yang telah Jeongin bunuh di rumah keluarganya perlahan telah kembali.

“Thanks.” Kapten menjawab sembari membalas pelukan Panglima tidak kalah erat.


Banyak hal yang secara sengaja dia tidak ingin mengerti. Pura-pura lari dari kenyataan, lantas hidup dalam keraguan selalu Jeongin pilih untuk menutup diri.

Jeongin dan Kapten; mereka dua orang yang berbeda.

Seberapa keras Jeongin ingin menjadi Kapten di hadapan keluarganya dia tidak akan pernah bisa. Tetapi, Kapten; sosok itu bisa menjadi Jeongin di seluruh kondisi.

Dia ingat, Desember tidak pernah benar-benar memberi haru dalam manisnya coklat panas sembari menonton TV bersama keluarga. Alih-alih seperti itu, Desember menjadi pengingat kala dia angkat kaki dari rumah, meninggalkan semuanya. Meninggalkan sosok Jeongin di sana.

Maka saat matanya menangkap sosok pria tinggi yang berdiri tepat di depan pagar rumahnya, Jeongin benar-benar merasa kacau. Perasaan campur aduk yang didominasi amarah itu hampir membuatnya kalap jika tidak melihat betapa berantakan wajah pria itu.

Genggaman tangan yang sudah siap dia layangkan berat hati ia urungkan. Masih memeliki hati untuk tidak menambah luka lebam di wajahnya entah ulah siapa. Hingga cengkraman di kerah baju Heeseung menjadi sapaan bahwa kehadirannya sudah tidak pernah Jeongin terima lagi.

“Lo tolol apa gimana sih anjing? lo lupa rumah Nanon deket sama rumah gue? kalo dia liat lo di sini bisa mati lo, anjing.”

Heeseung tidak menjawab, matanya sengaja menatap tepat pada idrak Jeongin yang penuh emosi.

“Lo udah dapet rumah keluarga gue, terus sekarang lo mau ngusik rumah pribadi gue gitu? ga pernah puas ya lo jadi manusia anjing.”

“Je..”

“Minimal mikir lah, di rumah Nanon ada anak Orion kalo gue ga cepet-cepet ke sini tadi, mati lo di tangan Jaehyuk, tolol.”

“Jeongin...”

Suara gemetar Heeseung membuat Jeongin bungkam seketika. Jarak keduanya yang cukup dekat memudahkan Heeseung menarik Jeongin untuk semakin mendekat

“Mau lo tu apa sih Hee? bisa ga sih jangan ngusik gue terus?” kali ini suara Jeongin sedikit melunak meski tetap penuh penenakanan dalam setiap katanya.

Bukannya menjawab, Heeseung malah menjatuhkan kepalanya pada pundak Jeongin sembari melingkarkan tangannya pada pinggang adik angkatnya sekaligus cinta pertamanya.

“Lepas.”

Seperti yang semua orang tau, kesabaran tidak lekat di diri Jeongin. Suaranya yang datar seakan menjadi pertanda sebelum emosinya meledak seperti gunung merapi.

“Lepas Heeseung! diliat orang tolol, lo mau gue gebukin juga di sini?”

“Bentar...”

“Sebentar aja, please...”

Mendengar suaranya yang lirih, sejenak Jeongin terdiam. Kedua tangannya yang tergantung menjadi arti bahwa hatinya tidak ingin dia membalas pelukan pria itu.

Hubungan keduanya sudah terlampau rumit. Mati-matian mencari jati diri, lantas akan hancur hanya karena pelukan dan air mata yang hadir di sela-sela keduanya?

Tidak.

Jeongin tidak ingin mengambil resiko patah kembali.

Dengan degup jantung yang sudah berbeda sewaktu dulu, Jeongin melepaskan pelukan Heeseung darinya.

Wajah pria itu benar-benar berantakan, seingat Jeongin, dia tidak pernah seberantakan hari ini selepas kematian orang tuanya beberapa tahun yang lalu.

Jeongin menarik musuhnya Orion itu untuk masuk selagi belum ada yang melihat mereka berdua.

“Gue ga mau tau permasalahan lo apa sampe lo babak belur gini, tapi kalo lo kesini karena ga bisa pulang ke rumah papa, masuk aja.”

Bukan, bukan itu yang Heeseung mau.

“Gue bolehin lo bukan bearti kehadiran lo sekarang bisa gue terima. Cuma semalem dan jangan keluar sampe anak Orion pulang besok.”

Kunci rumah itu dia berikan pada orang yang rasanya sama seperti hatinya saat ini. Mati.

Jeongin tidak pernah mengira mereka akan pada titik sehebat arus dalam laut. Deras dan tidak sejalan.

“Pilih aja kamarnya tapi jangan masuk ke kamar gue, sampe berani lo masuk gue bunuh lo.” bahkan kalimat dingin dulunya tidak pernah dirangkai dalam bait kisah mereka.

Baru saja Jeongin ingin pergi, tangannya dicekal oleh Heeseung. Sosok yang tidak mau kalah sekaligus menyedihkan dalam satu waktu.

“Emang kita udah ga bisa kayak dulu lagi, Je.”

Kalimat itu langsung mengundang kekehan Jeongin.

“Emang kita pernah kayak gimana?”

Dan jawaban dari Jeongin seolah menikam Heeseung dari segala sisi. Seingatnya Jeongin itu pria manis yang akan memandangnya dengan mata penuh ke arahnya, bukan tatapan sinis dan kebencian yang dia terima seperti malam ini.

Bukankah; semua yang terjadi ini bukan kesalahannya? Dia pun korban dalam keserakahan bumantara, lalu kenapa dia harus dibenci oleh Jeongin sebegitu hebatnya?

Apa salahnya?

Heeseung hanya ingin seperti dulu.

Ingin duduk berdua, ingin mengobrol bersama, ingin bermain piano sampai lupa masa, ingin peluk sampai mati rasa,

Tapi satu yang Heeseung tidak tau; Desember dan kepergian Jeongin dari rumahnya kala dia menerima Om Win tinggal di sana, bukan hanya sosok Jeongin yang tertinggal —tetapi seluruh perasaan cinta dan belas kasihan telah dia bunuh disana.

Menyisakan kebencian dan amarah pada dunia.

Pada papa nya, pada mama nya, pada nya.


Sekali pun perasaan cinta itu ada, Jeongin pastikan cerita tentangnya dan Heeseung telah selesai sebelum dimulai.

Garis finish yang tidak akan pernah Jeongin berikan pada nya sekali pun kematian menjadi penutup dalam kisahnya.

Jeongin benci, dan Jeongin tidak ingin mengubahnya lagi.

Kecuali, pada sosok ini

Hanya kepada orang ini, dan hanya untuk orang ini.

“Kok lo malah lari ke sini Pipi bolong? padahal baru mau gue jemput.”

Saat tangannya ditarik olehnya untuk berdiri di bawah cahaya, Jeongin tidak ingin menolak.

Dan dia sadar, kalau dia sudah menerimanya.

Menerima eksistensi Panglima dan hanya Panglima.

“Dijemput juga ga bisa ngidupin motor udah lewat jam 1.”

“Ini lo sampe keringetan gini abis lari dari GI ke sini apa lo pipi bolong?”

“Anjing!”

“Lo ngerokok ya?”

“Enggak!” Jeongin menjawab secepat kilat. Intonasinya yang seolah panik dengan mata yang membulat lucu membuat Panglima tertawa.

“Anak-anak yang ngerokok gue ga.” bibirnya maju membela diri.

“Iya iya percaya, mulut lo ga bau rokok.” usapan yang diberikan Panglima sejenak melarutkan perasaan campur aduk yang masih mengganjal di hati.

“Hoodie lo buka aja, pake jaket gue basah gini ntar masuk angin.”

“Terus lo gimana?”

“Gapapa gue ini udah pake baju tangan panjang aman lah.”

Jeongin menurut saja. Ketika tangannya dituntun untuk mendekat ke arah motornya yang diparkir di samping pos satpam pun Jeongin menurut.

“Anak setan.”

“Oit Pipi bolong?” pergerakannya yang baru saja akan melepaskan jaketnya langsung dia hentikan dan menatap Jeongin dengan seluruh atensinya.

Remaja pemilik lesung pipi itu tidak langsung membuka suara, dia menatap mata Hyunjin seolah sedang berenang dalam bayangannya yang terpantul di sana.

“Boleh peluk gue bentar ga, Panglima?”

Dan senyuman manis Panglima menyambut dia untuk masuk dalam rengkuhannya yang hangat. Tangan Panglima yang tidak pernah absen mengusap kepalanya selalu berhasil membuatnya mabuk dalam kenyamanan.

“Lama juga boleh, Kapten.”

Lantas Kapten langsung memejamkan matanya, membiarkan emosi itu perlahan hilang digantikan perasaan nyaman dan aman.

Bisa saja; perasaan yang telah Jeongin bunuh di rumah keluarganya perlahan telah kembali.

“Thanks.” Kapten menjawab sembari membalas pelukan Panglima tidak kalah erat.


Banyak hal yang secara sengaja dia tidak ingin mengerti. Pura-pura lari dari kenyataan, lantas hidup dalam keraguan selalu Jeongin pilih untuk menutup diri.

Jeongin dan Kapten; mereka dua orang yang berbeda.

Seberapa keras Jeongin ingin menjadi Kapten di hadapan keluarganya dia tidak akan pernah bisa. Tetapi, Kapten; sosok itu bisa menjadi Jeongin di seluruh kondisi.

Dia ingat, Desember tidak pernah benar-benar memberi haru dalam manisnya coklat panas sembari menonton TV bersama keluarga. Alih-alih seperti itu, Desember menjadi pengingat kala dia angkat kaki dari rumah, meninggalkan semuanya. Meninggalkan sosok Jeongin di sana.

Maka saat matanya menangkap sosok pria tinggi yang berdiri tepat di depan pagar rumahnya, Jeongin benar-benar merasa kacau. Perasaan campur aduk yang didominasi amarah itu hampir membuatnya kalap jika tidak melihat betapa berantakan wajah pria itu.

Genggaman tangan yang sudah siap dia layangkan berat hati ia urungkan. Masih memeliki hati untuk tidak menambah luka lebam di wajahnya entah ulah siapa. Hingga cengkraman di kerah baju Heeseung menjadi sapaan bahwa kehadirannya sudah tidak pernah Jeongin terima lagi.

“Lo tolol apa gimana sih anjing? lo lupa rumah Nanon deket sama rumah gue? kalo dia liat lo di sini bisa mati lo, anjing.”

Heeseung tidak menjawab, matanya sengaja menatap tepat pada idrak Jeongin yang penuh emosi.

“Lo udah dapet rumah keluarga gue, terus sekarang lo mau ngusik rumah pribadi gue gitu? ga pernah puas ya lo jadi manusia anjing.”

“Je..”

“Minimal mikir lah, di rumah Nanon ada anak Orion kalo gue ga cepet-cepet ke sini tadi, mati lo di tangan Jaehyuk, tolol.”

“Jeongin...”

Suara gemetar Heeseung membuat Jeongin bungkam seketika. Jarak keduanya yang cukup dekat memudahkan Heeseung menarik Jeongin untuk semakin mendekat

“Mau lo tu apa sih Hee? bisa ga sih jangan ngusik gue terus?” kali ini suara Jeongin sedikit melunak meski tetap penuh penenakanan dalam setiap katanya.

Bukannya menjawab, Heeseung malah menjatuhkan kepalanya pada pundak Jeongin sembari melingkarkan tangannya pada pinggang adik angkatnya sekaligus cinta pertamanya.

“Lepas.”

Seperti yang semua orang tau, kesabaran tidak lekat di diri Jeongin. Suaranya yang datar seakan menjadi pertanda sebelum emosinya meledak seperti gunung merapi.

“Lepas Heeseung! diliat orang tolol, lo mau gue gebukin juga di sini?”

“Bentar...”

“Sebentar aja, please...”

Mendengar suaranya yang lirih, sejenak Jeongin terdiam. Kedua tangannya yang tergantung menjadi arti bahwa hatinya tidak ingin dia membalas pelukan pria itu.

Hubungan keduanya sudah terlampau rumit. Mati-matian mencari jati diri, lantas akan hancur hanya karena pelukan dan air mata yang hadir di sela-sela keduanya?

Tidak.

Jeongin tidak ingin mengambil resiko patah kembali.

Dengan degup jantung yang sudah berbeda sewaktu dulu, Jeongin melepaskan pelukan Heeseung darinya.

Wajah pria itu benar-benar berantakan, seingat Jeongin, dia tidak pernah seberantakan hari ini selepas kematian orang tuanya beberapa tahun yang lalu.

Jeongin menarik musuhnya Orion itu untuk masuk selagi belum ada yang melihat mereka berdua.

“Gue ga mau tau permasalahan lo apa sampe lo babak belur gini, tapi kalo lo kesini karena ga bisa pulang ke rumah papa, masuk aja.”

Bukan, bukan itu yang Heeseung mau.

“Gue bolehin lo bukan bearti kehadiran lo di hidup gue sekarang bisa gue terima. Cuma semalem dan jangan keluar sampe anak Orion pulang besok.”

Kunci rumah itu dia berikan pada orang yang rasanya sama seperti hatinya saat ini. Mati.

Jeongin tidak pernah mengira mereka akan pada titik sehebat arus dalam laut. Deras dan tidak sejalan.

“Pilih aja kamarnya tapi jangan masuk ke kamar gue, sampe berani lo masuk gue bunuh lo.” bahkan kalimat dingin dulunya tidak pernah dirangkai dalam bait kisah mereka.

Baru saja Jeongin ingin pergi, tangannya dicekal oleh Heeseung. Sosok yang tidak mau kalah sekaligus menyedihkan dalam satu waktu.

“Emang kita udah ga bisa kayak dulu lagi, Je.”

Kalimat itu langsung mengundang kekehan Jeongin.

“Emang kita pernah kayak gimana?”

Dan jawaban dari Jeongin seolah menikam Heeseung dari segala sisi. Seingatnya Jeongin itu pria manis yang akan memandangnya dengan mata penuh ke arahnya, bukan tatapan sinis dan kebencian yang dia terima seperti malam ini.

Bukankah; semua yang terjadi ini bukan kesalahannya? Dia pun korban dalam keserakahan bumantara, lalu kenapa dia harus dibenci oleh Jeongin sebegitu hebatnya?

Apa salahnya?

Heeseung hanya ingin seperti dulu.

Ingin duduk berdua, ingin mengobrol bersama, ingin bermain piano sampai lupa masa, ingin peluk sampai mati rasa,

Tapi satu yang Heeseung tidak tau; Desember dan kepergian Jeongin dari rumahnya kala dia menerima Om Win tinggal di sana, bukan hanya sosok Jeongin yang tertinggal —tetapi seluruh perasaan cinta dan belas kasihan telah dia bunuh disana.

Menyisakan kebencian dan amarah pada dunia.

Pada papa nya, pada mama nya, pada nya.


Sekali pun perasaan cinta itu ada, Jeongin pastikan cerita tentangnya dan Heeseung telah selesai sebelum dimulai.

Garis finish yang tidak akan pernah Jeongin berikan pada nya sekali pun kematian menjadi penutup dalam kisahnya.

Jeongin benci, dan Jeongin tidak ingin mengubahnya lagi.

Kecuali, pada sosok ini

Hanya kepada orang ini, dan hanya untuk orang ini.

“Kok lo malah lari ke sini Pipi bolong? padahal baru mau gue jemput.”

Saat tangannya ditarik olehnya untuk berdiri di bawah cahaya, Jeongin tidak ingin menolak.

Dan dia sadar, kalau dia sudah menerimanya.

Menerima eksistensi Panglima dan hanya Panglima.

“Dijemput juga ga bisa ngidupin motor udah lewat jam 1.”

“Ini lo sampe keringetan gini abis lari dari GI ke sini apa lo pipi bolong?”

“Anjing!”

“Lo ngerokok ya?”

“Enggak!” Jeongin menjawab secepat kilat. Intonasinya yang seolah panik dengan mata yang membulat lucu membuat Panglima tertawa.

“Anak-anak yang ngerokok gue ga.” bibirnya maju membela diri.

“Iya iya percaya, mulut lo ga bau rokok.” usapan yang diberikan Panglima sejenak melarutkan perasaan campur aduk yang masih mengganjal di hati.

“Hoodie lo buka aja, pake jaket gue basah gini ntar masuk angin.”

“Terus lo gimana?”

“Gapapa gue ini udah pake baju tangan panjang aman lah.”

Jeongin menurut saja. Ketika tangannya dituntun untuk mendekat ke arah motornya yang diparkir di samping pos satpam pun Jeongin menurut.

“Anak setan.”

“Oit Pipi bolong?” pergerakannya yang baru saja akan melepaskan jaketnya langsung dia hentikan dan menatap Jeongin dengan seluruh atensinya.

Remaja pemilik lesung pipi itu tidak langsung membuka suara, dia menatap mata Hyunjin seolah sedang berenang dalam bayangannya yang terpantul di sana.

“Boleh peluk gue bentar ga, Panglima?”

Dan senyuman manis Panglima menyambut dia untuk masuk dalam rengkuhannya yang hangat. Tangan Panglima yang tidak pernah absen mengusap kepalanya selalu berhasil membuatnya mabuk dalam kenyamanan.

“Lama juga boleh, Kapten.”

Lantas Kapten langsung memejamkan matanya, membiarkan emosi itu perlahan hilang digantikan perasaan nyaman dan aman.

Bisa saja; perasaan yang telah Jeongin bunuh di rumah keluarganya perlahan telah kembali.

“Thanks.” Kapten menjawab sembari membalas pelukan Panglima tidak kalah erat.