bhluewry

— Bumantara, awal mula April 2023; dari Diri Mati untuk yang Dinanti.


Ada banyak kata yang tidak bisa diungkapkan melalui suara. Warna-warna dunia perlahan memudar hingga abu-abu menyapa terlampau lekat. Bahkan kehadiran lentera malam tidak lagi mampu ditemukan dalam temaram.

Gelap.

Benar-benar gelap.

Secara tiba-tiba semesta hadir dalam kesunyian. Kepingan memori dari tawa bahagia kita kala dengan sengaja berlari mengejar hujan tidak lagi memenuhi sudut rumah untuk mengisi kehangatan.

Bagaimana, apakah perjalananmu sudah sampai pada tujuan yang sedari lama dirimu idam-idamkan?

Jeongin, setiap kali aku memikirkan dirimu, hatiku selalu jauh dari kata jenuh. 2017 menjadi tahun kala mataku bertemu senyuman manismu sampai-sampai malam itu pil tidur jauh dari rengkuhan ku.

Malam itu, aku pulang dengan tanda tanya besar, kenapa udara dingin sehabis hujan lebat dapat berubah hangat saat diriku menemani dirimu ke halte bus?

Lengkungan matamu yang lebih indah dari bulan sabit menyentuh relung hati sunyi ku. Aku bahkan tidak tau, sejak kapan bibir mati ini perlahan terangkat untuk tertawa bersamamu kala itu.

Jika boleh jujur, sejatinya aku benar-benar tidak mengerti, kenapa takdir harus menyatukan tujuan kita hari itu. Saat aku dengan terpaksa berbohong dimana pemberhentian ku yang sebenarnya padamu.

Mungkin, jika malam itu aku tetap teguh pada pendirianku yang menolak ajakan makan malam Jisung dan akhirnya tidak bertemu denganmu yang ternyata adik tingkatnya semasa sekolah dulu; mungkin 2017 menjadi Tahun penutup hidupku.

Aku sudah tersesat. Hilang di atas keberanian untuk melangkah pada bumi. Goresan yang ku gambar abadi di atas tangan menjadi saksi bahwa sedari awal kedua tangan ini telah gagal menjaga diri sendiri. Pada tubuh yang tidak pernah merasa nyaman berada dikeramaian, namun selalu takut mati dalam sepi.

Kenapa aku harus mengenal dirimu, Jeongin?

“Biasanya objek foto kakak apa aja?”

“Ga spesifik.”

“Ah! tergantung mood.”

Tanpa ku sadari sudut bibirku kembali melengkung, “Sok tau.”

Aku bakan tidak sadar membalas ucapannya seperti itu, sedangkan pria muda berlesung pipi terkekeh kecil setelah menghadiahi satu pukulan pada lenganku yang kurus.

“Yah...”

Suara kecewanya spontan membuatku bertanya-tanya.

“Bus-nya udah dateng.” bibirnya maju sembari menatapku bak kucing jalanan basah sehabis hujan.

Aku yang tidak terbiasa berinteraksi dengan siapa pun dengan bodohnya membalas seadanya.

“Hati-hati, ya.”

Kali itu, Jeongin yang tidak pernah berhenti berbicara memilih bungkam kala aku berucap. Masih dengan bibirnya yang manyun dia berjalan ke arah pintu bus yang sudah berhenti.

Melihatnya yang sudah berada pada tujuan, lantas membuatku kembali jalan dengan kesunyian. Hari itu, pertama kalinya aku mampu berinteraksi dengan orang lain tanpa gemetar yang memenuhi sekujur tubuh.

Sebab, sepanjang jalan singkat tadi, aku dengan rasa tidak malu ku menebak bahwa Jeongin itu pria dengan segudang rasa cinta. Dia gampang menarik hati seseorang, bahkan dengan mudah mampu membuat orang merasa nyaman dengan kehadirannya.

“Kak Hyunjin!”

Seakan telah disetting langkahku terhenti untuk menoleh pada suara yang memanggil.

“Kapan-kapan jadiin aku objek foto kakak ya! hati-hati pulangnya kak!”

Lambaian tangannya menjadi terakhir kali aku lihat sebelum pintu bus itu tertutup dan melaju meninggalkan aku yang masih terpaku di pinggir jalan.

Jeongin, kalimat yang kamu ucapkan sebelum dirimu hilang ditelan tujuan; menghentikan ku untuk menegak beberapa pil tidur dengan harap tidak pernah lagi terbangun.

Tanpa kamu ketahui, kalimat sederhana mu berhasil memberikanku sedikit tujuan untuk kembali bernafas esok hari.



Gumpalan awan hitam masih setia membentang di atas sana, siap akan menjatuhkan airnya kepada bumantara. Orang-orang yang telah habis dimakan masa bergerak semakin cepat, takut tubuhnya basah karena derai hujan datang tanpa dapat dicegah.

Lain dari mereka, aku malah menikmati suasana. Buat apa? aku memang sengaja untuk berada di sana, di bawah ufuk yang berkabung pada semestanya yang berantakan.

Bulir-bulir yang perlahan berjatuhan membuat mataku terpejam. Membiarkan tubuhku terasa lembab, pun wajahku yang dibelai hangat dalam kedinginan. Dersik berhembus menjadi pengingat untuk jiwa yang ramai.

Tunggu sebentar.

Jika pergi sekarang, hujan tidak akan kembali datang.

Sayangnya, aku dengan tubuh lusuh ini telah kesusahan mencari penopang. Kamera yang tergantung di leher ini sudah seperti tali pengikat diri.

“Kemana aku harus pergi sekarang?”

Bayangan tentang kita seolah masih tersisa di pagi hari tadi. Padahal nyatanya sudah 7 tahun bukan? aku masih pintar menghitung sayang, jejak kaki mu yang menghilang pun masih kerap aku kejar meski akhirnya aku kehilangan arah untuk pulang.

Mentari yang setia kembali menyiratkan bahwa narasi ku dalam ceritamu akan segera habis. Haruskah aku kembali memburu sisa-sisa langkahmu, agar cerita kita tertulis meski dilain bumi?

Aku sudah terlampau khawatir, bagaimana jika kamu pergi terlalu jauh seorang diri? siapa yang akan mengingatkan kamu tentang arah mata angin? siapa yang akan mengikat tubuhmu dengan jaket demi mengahalau dingin? siapa yang akan membuatkan mu secangkir teh manis di sore hari?

Bukankah lebih baik untuk kita melangkah bersama meski ujung bumi masih jauh di depan sana?

“Tuh kan bener kak Hyunjin! kok kakak hujan-hujanan? ayok minggir sebentar nanti makin basah.”

Aku dibuat semakin tidak mengerti, untuk apa bertemu kembali? payung yang dia genggam dipegang erat agar tidak terbawa angin, bukankah lebih baik untuk semakin ditelan hujan yang perlahan memukul keras tubuh?

“Jeongin..”

Dia tersenyum lembut sembari menggenggam tanganku untuk mendekat ke arahnya. Tanpa peduli sebagian tubuhnya basah karena payung itu tidak cukup besar menampung kedua insan yang kembali bertemu tanpa disengaja.

Atap toko roti yang sudah tutup membawa aku berdiri di sana. Entah sejak kapan Jeongin sudah berdiri sedekat ini dengan sapu tangannya menyapu lembut kepala ku yang basah.

“Biar aku aja.” sesungguhnya meski Jeongin datang tanpa keraguan, aku masih terbiasa untuk tetap sendiri.

“Kakak ga bawa payung?” dia bertanya sembari mengusap-ngusapkan tangannya agar segera hangat.

“Lupa.” lagi-lagi aku berbohong.

Lalu dia kembali manyun, persis seperti tempo hari. “Coba aja aku keluar kantornya lebih cepet, jadi kakak ga perlu kehujanan kan.”

Aneh, ucapan Jeongin barusan seolah menggelitik telinga ku.

“Kayaknya ini hujan bakal awet sampe malem deh kak, rumah ku ga terlalu jauh dari sini. Kakak bisa nunggu di sana sampe hujannya redah.”


Ribuan kosa kata tidak akan pernah cukup menceritakan betapa luar biasa sosoknya. Meski tidak lekat pada hangat, bahkan ramah jauh dalam penggambarannya, namun bijaksananya sangat mengagumkan.

Tentang insan yang sangat setia pada hubungan, yang rela ditikam di depan mata sendiri hingga mati berkali-kali. Sosok itu tau caranya menarik hati tanpa simpati. Bak bintang-bintang yang menghiasi kaki langit, perannya hadir menjadi petrikor di ruang sempit.

Dia memang tidak seindah senja, tidak pula sehangat bagaskara, atau sampai secantik efemeral. Dirinya erat dalam misteri, potongan enigma yang dirakit pada benang merah hingga akhirnya tercipta sketsa hitam-putih. Sampai tanda tanya besar selalu hadir

kenapa? ada apa? butuh bantuan seperti apa?

Ungkapan dia tidak butuh dunia, tetapi dunia butuh dia amat tepat dalam narasi pribadinya. Dia; Yang Jeongin —Kapten Orion yang selalu diagung-agungkan. Baris-baris kata yang sedingin lautan berakar tepat dalam dirinya. Sungguh, tidak ada yang benar-benar mengenal pasti siapa dirinya.

Misalnya seperti saat ini.

“Rokok, kap.”

Jika dia benar Kapten Orion yang Seungmin kenal, seharusnya tidak butuh tawaran untuk nikotin itu terapit di bibirnya. Sebab semua orang tau, Kapten dan rokok sudah seperti hujan dan jalanan. Mereka menyatu dan semua orang akan tau.

Tetapi hari ini, tidak satu pun dari Orion yang dapat mengerti Kapten mereka sendiri.

“Udah berenti nyebat lo?” Jaehyuk bertanya penasaran.

“Masih, lagi jarang aja.”

“Widih mau jadi anak baek lo?”

“Anjing!” sempat-sempatnya dia melemparkan popcorn ke arah Seungmin. “Mandang orang baek jangan diliat dari dia ngerokok apa kagak tolol.”

“Dikasih banyak halaman biar bisa dibaca malah liat cover nya doang kan goblok.”

“Gila kap bahasa lo.” Nanon sengaja menggoda, dia bertepuk tepat di wajah Kapten sampai satu geplakan dihadiahi Kapten kepadanya.

“Emang kagak asem mulut lo kap? secara lo biasa setengah bungkus abis sehari.”

“Gue ngestock permen.” berapa bungkus mentos dan yupi Kapten keluarkan dari kantong jaketnya. “Mau lo?”

Seungmin terkekeh setelah berhasil mencomot yupi lebih dulu dibanding Jisung yang kini mengumpatinya. “Kalo permennya gue mau, kalo ngurangin rokok mah kagak dulu.”

“Sakit baru tau rasa.”

“Anjing, gue sakit lo juga sakit nyon, lo kira yg di mulut lo itu astor?”

“Berisik dah lo dua babi.” Jisung yang sedang main PS berdua sama Felix menyaut tanpa diajak. Muka anak Pak RT itu sudah sangat masam, beda sama Felix yang tertawa di belakangnya.

“Kalah dikit ngambek.”

“Ya gimana engga, udah dikit lagi gue menang tetiba ditelpon bokap nanya kode token apa kagak semawen gue, asu.”

“Hormat lu, dicoret dari warganya berabe lu.”

Jisung mengibas tangannya santai setelah mengapit rokok di bibirnya, “Santai boy, rumah Kapten luas.”

“Dih.” Kapten yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya menoleh sinis, “Nyaut aje lo knalpot racing.”

“Lucu Kap mantap.” kali ini Felix yang menggoda ketuanya itu dibarengi dengan Jaehyuk yang tertawa palsu.

“Babi.”

Pada malam yang tidak sehangat malam sebelumnya, namun tidak juga sedingin musim hujan di tengah kemarau, Enam remaja dengan sampul yang berbeda dari isinya duduk memenuhi meja taman rumah Nanon. Bangunan-bangunan megah menjadi gambaran betapa sepinya penghuni di sana, tapi malam ini, pembicaraan yang entah akan dibawa kemana oleh remaja-remaja seakan ingin memenuhi setiap sudut Cluster sampai pagi menjemput.

Tidak ada pikiran tentang esok, hanya cerita konyol yang sesekali diselingi umpatan dan tawa khas remaja. Sejenak bernapas dari dunia yang memaksa untuk menjadi dewasa. Dari masa kecil yang dirampas oleh keinginan menjadi remaja, hingga masa remaja yang kembali ditarik paksa untuk mengerti kemauan dunia.

“Udah mau jam 1 ini lo pada ga mau pulang apa gimana anjing?” Nanon bertanya selepas 4 rokok telah dia habiskan.

“Ga usah pulang sampe disuruh balik.”

“Ya kalo gitu gue ga balik-balik anjing min.”

Kapten menyaut bercanda. Pria pemilik pipi bolong itu sedang mati-matian tidak tergoda dari penghilang resa. Sudah tidak terhitung berapa banyak permen dia habiskan saat ini.

“Di sini yang masih dicari kalo kagak pulang cuma Jaehyuk, Anyon, Jisung, selebihnya mah balik ga balik sama aja.” Seungmin berujar sembari menyandarkan tubuhnya di bahu Jaehyuk.

“Gue mau disuruh balik gimana babi? suruh bangun dari tanah dulu coba bonyok gue.”

“Orang tidur jangan diganggu Lix.”

Sebagian orang mungkin akan bertanya, dimana letak lucunya sampai mereka kembali tertawa selepas itu? nyatanya, tidak semua candaan perlu dimengerti semua orang.

Orion tidak pernah berdiri di posisi yang sama, porsi mereka berbeda-beda. Dimulai dari yang cemara, biasa, runtuh, sampai berteman pada ilusi.

“Abang gue ada di rumah.” Seungmin kembali berucap. Matanya memandang ke arah langit-langit yang penuh bintang.

“Udah nginep aja lo pada.” Nanon memotong sebelum ucapan Seungmin menjadi panjang.

“Kalo ga ditawarin nginep juga gue bodo amat nyon kagak bakal balik gue.”

Botol bekas coca-cola dilempar Nanon mengenai tepat di kepala Seungmin yang membuat dua remaja kucing dan anjing itu beradu umpatan.

“Magadir anjing.”

“Nginep aja lah semua, balik pas tahun baru.”

“Nah ini udah magadir mokondo pula ngentot lo Han Jisung!”

“Ga boleh pelit-pelit lo sama bespren Nyon.”

“Kagak ye Ji, ini kan lo ada pacar yak tapi perasaan tiap malem lo ngerusuhin kita emang lo kagak ngapel apa sama Ryujin?”

“Oh iya juga ya, gue baru inget gue punya pacar.”

“Yailah ngentot!” Kapten yang sedari tadi memperhatikan anak-anaknya tidak dapat menahan emosinya mendengar jawaban Jisung.

“Ini nih kalo pacaran modal menang main Truth or Dare gini.”

“Ya mending gue ada pacar, lah elu udah musuhan lagak udah kayak beranak lima sama Panglima, Kap.”

“Bajingan mulut lo anjing, sini lo gue hantam pake ni gelas mampus lo ngentot.”

“Mulai nyapnyap nya keluar.”

“Lo orang dari tadi bacot mulu apa kagak laper?” Felix memotong adu mulut teman-temannya dengan konteks yang —ya cukup mereka saja yang mengerti.

“Bakmi enak juga.”

“Elu kalo ngomongin makanan cepet ye Kap.” Nanon terkekeh melihat sautan Kapten yang tiba-tiba melunak bak kucing jalanan. Anak sulung dari pemilik rumah mengusap kepala Kaptennya tidak kalah hangat seperti Pangmila. Bahkan Kapten tidak mengelak dan terkesan menerima saja apa yang Nanon lakukan padanya.

“Bakmi deket gang Seungmin enak tuh.”

“Beli Jae, gue kasih duitnya.”

“Go-food aja lah, mager Kap udah malem.”

“Ya ga ada juga yang ngomong ini subuh.”

Jika mengesampingkan sifat keras kepalanya, Kapten itu lebih dari royal dan loyal. Remaja 17 tahun yang bisa dikatakan solidnya melebihi bintang yang setia pada langit. Seorang yang akan berlari paling kencang jika teman-temannya butuh sesuatu.

Seperti sekarang, Felix baru berucap lapar dan dia sudah melakukan apa pun untuk memenuhi kemauan temannya.

Kecewa banyak mengajarkan Kapten menjadi sosok yang baiknya melebihi bunga kepada kupu-kupu.

Duit 2 lembar 100 ribuan itu dikasih Kapten tanpa pikir panjang. “Temenin Jaehyuk sana Ji.”

“Lah jadi gua.”

“Bacot, mau kagak?”

“Mau.. minjem vario Felix aja Jae jangan pake ninja lo males.”

“Iye bawel.”

Belum sempat Jaehyuk dan Jisung berdiri, Kapten sudah lebih dulu beranjak dari duduknya. “Yang gue simpenin dulu aja, gue mau keluar bentar.”

“Yaudah sekalian di lo aja Kap.”

“Gue tonjok juga ni muka lo Jae.” dasar sumbu pendek.

“Mau pergi sama Jasmine?”

“Ngapa jadi Jasmine sama Panglima anjing.”

Umpan berhasil di makan.

“CAILAHHH MAU NGAPEL LU SAMA MUSUH PIUPIUPIU.”

“Anjing babi emang biadab gue liat-liat lo babi nyon!”

“Mau ngambil motor kan lo?” Kapten mengangguk menjawab pertanyaa Jaehyuk. “Yaudah sini boti.”

Masih dengan raut sungutnya karena suitan Nanon dan Felix yang menggoda dirinya, Kapten mendekat ke arah Jaehyuk Jisung. Baru saja dirinya akan naik ke motor, bunyi notifikasi sontak menghentikan Kapten begitu saja.

Dirinya terpaku di samping motor dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Eh itu bakmi biar gue aja yang beli, lo pada tunggu di sini aja, gue duluan!”

Dan dirinya lenyap sebelum teman-temannya berhasil membuka suara.

“KAPTEN DUITNYA! dih ga jelas banget Kapten lo pada anjing.”

Benar. Tidak ada yang mengenal Kapten dan pikirannya yang serumit labirin.

Bahkan Nanon saja tidak tau, apa yang membuat Kapten berlari sekencang itu di penghujung malam kali ini.


Ribuan kosa kata tidak akan pernah cukup menceritakan betapa luar biasa sosoknya. Meski tidak lekat pada hangat, bahkan ramah jauh dalam penggambarannya, namun bijaksananya sangat mengagumkan.

Tentang insan yang sangat setia pada hubungan, yang rela ditikam di depan mata sendiri hingga mati berkali-kali. Sosok itu tau caranya menarik hati tanpa simpati. Bak bintang-bintang yang menghiasi kaki langit, perannya hadir menjadi petrikor di ruang sempit.

Dia memang tidak seindah senja, tidak pula sehangat bagaskara, atau sampai secantik efemeral. Dirinya erat dalam misteri, potongan enigma yang dirakit pada benang merah hingga akhirnya tercipta sketsa hitam-putih. Sampai tanda tanya besar selalu hadir kenapa? ada apa? butuh bantuan seperti apa?

Ungkapan Dia tidak butuh dunia, tetapi dunia butuh dia amat tepat dalam narasi pribadinya. Dia; Yang Jeongin —Kapten Orion yang sangat diagung-agungkan. Baris-baris kata yang sedingin lautan berakar tepat dalam dirinya. Sungguh, tidak ada yang benar-benar mengenal pasti siapa dirinya.

Seperti saat ini misalnya.

“Rokok, kap.”

Jika



Aroma rumput basah membekas sore itu. Berteman dengan kicauan burung yang tak lagi bising, sayup mentari menyapa dari balik helaian rambut legam milik pujaan yang setia mencetak memori baru. Pundak memang tidak selamanya tegap, namun lebih dari cukup untuk menjadi sandaran yang tak akan luput dari waktu.

Rangkaian sajak sengaja ditulis untuk membentuk kata aku, kamu, menjadi kita. Harap yang selalu diusahakan hingga suatu saat sampai menjadi selamat.

Hyunjin tau, mustahil berada di antara cerita dirinya dan Jeongin. Tapi Hyunjin juga lebih dari tau, usaha mampu mengubah mustahil menjadi satu.

“Lo ga jadi ketemu Asahi?”

Suara pujaannya menarik Hyunjin dari lamunan. Pria yang indahnya melebihi angkasa malam.

Entah bagaimana Panglima harus mendeskripsikan betapa dirinya sangat mengagumi sang Kapten perang.

“Enggak si Klepon langsung gabung futsal sama yang lain.”

“Lo ga ikut?”

Pertanyaan retoris dari Kapten mengundang tawa kecil Panglima. Tidak ada yang lucu di sana, namun lagi-lagi bahagia selalu datang bersama cinta dari yang dipuja-puja.

“Enggak juga, lebih enak di sini.”

Dia mengangguk setuju, “Iya banyak angin, tumben juga cuacanya bagus gini. Panas kagak, mendung juga kagak.” Kapten berujar seolah dirinya pakar cuaca.

Bukan pakar hati seperti Panglima.

“Maksud gue enak di sini tuh karena ada lo, Pipi bolong.” pergerakan Kapten terhenti selaras pana waktu. “Percuma gue ikut futsal kalo lo nya ga ada di sana, mending di sini, gue bisa ngabisin sore bareng sama lo.”

Karena faktanya, Kapten tidak pernah dibuat benar-benar berharga. Pada bangunan yang selalu sama, utuh sempurna dari luar, namun runtuh di dalam, waktu terbuang sia-sia dalam kesendirian.

Namun, duduk di atas tikar beralas tumpukan kapas hijau tidak pernah se-menyenangkan dalam imajinasi Kapten. Bersama satu set impian yang mulai dirakit pada goresan cat warna-wani, raganya tidak pernah seantusias saat ini.

Atau ini bukan tentang tempat dan mimpi, melainkan si pembuat memori?

“Anjing, jelek lo.” dan kalimat itu selalu dipilih Kapten untuk menutupi gejolak aneh dalam diri.

Tentu Panglima tau, jelas Kapten salting. Tapi sayang, gengsi tetap nomor satu.

Meski begitu, Panglima dengan cintanya yang luar biasa selalu paham dengan teka-teki Kapten. Alih-alih tersinggung, dia malah tertawa manis, seolah kemarahan dalam dirinya telah dikuras habis oleh Kapten, lalu digantikan hal-hal kecil tentangnya yang mampu membuat Panglima selalu bahagia.

“Emang lo ga suka ngabisin hari sama gue, Pipi bolong?”

“Dih, ya menurut lo aja anjing.”

“Kalo menurut gue sih...” Hyunjin sengaja menjeda kalimatnya untuk mencubit pipi gembil Jeongin, “Lo lebih dari seneng.”

“Bangun-bangun, kagak usah mimpi lo anak setan.”

“Udah ngaku aja lo lagi berbunga-bunga kan gue ajak ke sini.”

“Najis!”

Dan sekali lagi Panglima terkekeh manis. Lain dengan Kapten yang dirinya terbalut balok es batu, remaja pemilik lesung pipi cantik itu jarang meluapkan suka-dukanya dengan lantang. Bukannya tertawa bersama, dia malah tersenyum tipis sampai Panglima tidak mampu menyaksikan momen indah itu.

“Tadi Asahi mau ngasih dua tiket nonton buat jam 9 malem.”

Kapten sempat berpikir Panglima tidak akan memberitahunya perihal Asahi yang mau meminjam Panglima darinya.

Tunggu!

Sejak kapan Panglima menjadi miliknya sampai kata meminjam mampu dia sandingkan dalam hubungan abu-abu mereka? Tolol Jeongin!

Sejenak Jeongin berusaha mengusir pikirannya yang aneh “Buat gue sama lo?” dia bertanya tanpa tau malu.

“Iya.”

Jawaban Panglima benar-benar menghentikan kegiatan Kapten. “Kenapa? ga dia pake buat nonton bareng sama Jaehyuk?”

Panglima tidak langsung menjawab. Dirinya meluruskan kakinya terlebih dulu sebelum menepuk paha kanannya siap menyambut Kapten berbaring di sana. Mengistirahatkan jiwa dan raga pada nyawa Hyunjin yang paling nyaman.

Lantas satu set alas lukis itu segera disingkirkan Kapten. Jika saja ada anak sekolah yang melihat mereka sekarang, status musuh mereka pasti akan sangat dipertanyakan. Mana ada musuh yang menjadikan raga masing-masing menjadi rumah tanpa bangunan.

“Jaehyuk nya ga mau, mungkin takut ada yang liat dia ngedate sama Klepon. Kan yang tau status mereka baru kita berdua, Pipi bolong.”

“Dih kok gitu anjing?”

“Ya gitu.” Panglima membalas sembari mengusap rambut Kapten hangat. Membuat pujaannya terbuai dalam kenyamanan yang tiada habisnya.

“Kayak Nanon dulu, kayak kita juga, setiap mau jalan harus sembunyi-sembunyi biar ga ada yang tau.”

“Karena status kita?”

“Apa lagi bukan itu, Pipi bolong? kan yang bikin ada jarak di antara IPA IPS itu status musuh yang udah kayak adat turun-temurun. Yang satu nganggep jurusannya paling oke, yang satu ga mau kalah. Padahal mau di jurusan mana pun, ya tetep aja sama, tetep satu sekolah, satu seragam.”

Ada getaran aneh kala Panglima berucap. Fakta yang dijadikan rahasia umum dari dua kubu. Mungkin tidak hanya di sekolah mereka yang menganggap IPA lebih baik dari IPS, atau IPS yang lebih lekat dengan lambang bebas dan nakal dibanding IPA yang dituntut menjadi anak sempurna.

Kapten tidak membantah, toh memang yang dikatakan benar adanya.

“Padahal mau IPA atau IPS, dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang nganggep IPA jurusan anak pinter, bisa masuk ke jurusan mana pun pas kuliah.”

“Atau IPS yang selalu dianggep jadi buangan anak IPA.” Panglima melanjutkan ucapan Kapten.

Hazel hitam milik Panglima merakit jembatan pada milik Kapten yang melengkung karena cahaya matahari sore.

Sesaat Kapten mengubah posisinya untuk sepenuhnya menghadap Panglima. Menetap pada mata Panglima yang memandang dirinya memuja.

“Emang lo ga takut ya kalo kita ke gep anak sekolah, anak setan?”

Mendengar itu Panglima kembali terkekeh, sejenak dia bawa keningnya untuk menyatu pada milik Kapten yang masih berbaring menjadikan pahanya sebagai bantalan.

“Buat apa gue takut? malah kalo bisa, gue mau ngumumin ke satu sekolah kalo gue ini cinta banget sama lo.”

Bibir Panglima mengulas senyuman, “Dan lagi berjuang dapetin hati lo, Kapten Orion.”

Maka kali ini, bukan hanya Panglima yang mengulas senyum. Tanpa sadar bibir Kapten mengukir pahatan indah bak bulan sabit di tengah musim panas.

“Najis.” lagi-lagi dia sembunyikan perasaan berbunga-bunganya itu.

Dasar Kapten.

“Jadi gimana?”

“Ga gimana-gimana, ga ada yang harus digimanain juga kan? mau ngelangkah lebih jauh juga susah kalo damai ga ada di antara IPA IPS atau Orion Warior.”

Benar.

Fakta bahwa dua kubu bermusuhan itu bak diukir di kepala masing-masing. Tidak ada damai, tidak ada tentram. Hanya musuh dan bukan sekutu.

“Pipi bolong, gue mau minta maaf dan minta izin. Berhubung Klepon udah kecewa Jaehyuk ga bisa diajak ngedate, jadi gue nawarin diri buat nemenin dia nonton ntar malem. Maaf karena seharusnya gue bawa lo makan di langganan kwetiau gue, dan gue minta izin buat ngelanggar janji gue kali ini, Pipi bolong.”

Buat apa lagi? toh Kapten juga tau dirinya tidak dapat meminta Panglima tetap bersamanya nanti malam.

Kapten menarik diri, dia duduk tepat di hadapan Panglima, setelahnya secara sengaja Kapten menjambak rambut pria di hadapannya sampai sang empu meringis sakit.

“Gue izinin.”

“Ya diizinin mah diizinin aja pipi, kagak usah pake segala lo jambak anjing.”

“Peduli amat gue anjing, itu balesan karna lo ngelanggar janji kita.”

Seperkian detik setelahnya raut Panglima berubah. Tangan yang tadinya mengusap ubun-ubun kepalanya dia alihkan untuk menggenggam tangan Kapten.

“Maaf.”

“Santai. Gue kalo jadi lo juga bakal gitu.”

Kali ini bukan Panglima yang lebih dulu menyatukan kening mereka, melainkan Kapten dengan sangat pelan menyandarkan keningnya seperti yang sering Panglima lakukan. Pada jarak sedekat ini, keduanya mampu merasakan nafas hangat yang saling menerpa wajah mereka. Atau bahkan diam-diam telinga ikut hadir mendengarkan irama jantung yang lebih cepat dari biasanya.

“Kita harus cari cara biar IPA IPS bisa damai.”

Dan kalimat penuh makna itu tidak pernah ada dalam bayangan Hyunjin akan diucapkan Kapten. Si keras kepala penguasa sekolah.

“Biar kalo ada yang saling suka atau pacaran ga perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

Meski bukan hubungan mereka yang menjadi alasan utama, tidak apa. Bahkan itu sudah lebih dari cukup. Karena kuncinya bukan pada Panglima dan antek-anteknya.

Tapi pada Kapten dan rantai yang mengikat dirinya untuk tetap pada jalur yang telah ditentukan orang-orang. Menjadikan sang pujaan boneka pajang atau tameng berlebihan.

“Biar kita juga bisa berubah dari musuh jadi pac—”

“ANJING!”

Belum sempat Panglima berucap, Kapten telah berdiri dengan wajah panik. Spontan Panglima pun ikut panik karenanya.

“Kenapa pipi?”

Jari Kapten menunjuk langit, “Ada capung anjing!”

“BUSET MANA?” Panglima bertanya lebih kaget dari Kapten tadi.

“Kok lo ikutan panik sih anjing?”

“Gue takut capung anjing.”

“Dih asu, gue juga! tai sama capung aja lo takut gimana mau jagain gue babi?”

Masih dengan wajah was-was mengikuti pergerakan capung agar tidak mendekat ke arah mereka, Panglima menjawab tanpa melihat Kapten yang memandangnya malas.

“Gue bisa jagain lo dari manusia atau binatang lain Kapten, tapi kalo capung..”

“Apa kalo capung?”

“KITA PUTUS HUBUNGAN.”

“ANJING! LO MAU KEMANA BABI JANGAN NINGGALIN GUE PANGLIMAAAAA”

Dan momen mereka di tutup pada dua anak adam yang berlari menjauh dari tempat piknik mereka. Panglima dengan tingkahnya yang suka mencari masalah dengan Kapten, dengan sengaja memancing emosi remaja itu dengan pura-pura meninggalkannya sampai Kapten harus mengejar dirinya.

Di bawah mentari yang semakin beranjak turun dan langit yang mencetak duka senja, Panglima dan Kapten menciptakan memori suka.

Hantaman ombak pada batu karang sebagai bentuk penyambutan senja, menceritakan kisah gelombang laut yang memeluk atlantis dalam keabadian.

“Udah jalan aja, kaki pendek lo ga bisa ngejer gue, Pipi bolong!”

“Anjing!”

Keduanya berada jauh dari kerumunan. Tempat sepi namun indah ini menjadi saksi atas perasaan yang perlahan ditampilkan kapten.

Kita harus damai, biar gue ga takut buat nerima perasaan di hati gue ini, Panglima.

Dari harap, lalu menjadi mantap.

Dari semesta yang kini mungkin berbaik hati pada keduanya, mari bersama untuk menjadi kata kita.

Sebentar, jangan pergi dulu, kisah Panglima dan Kapten belum menyentuh garis finis dalam utas kata bersama.

Lantas tunggu mereka untuk terikat, ya?


Aroma rumput basah membekas sore itu. Berteman dengan kicauan burung yang tak lagi bising, sayup mentari menyapa dari balik helaian rambut legam milik pujaan yang setia mencetak memori baru. Pundak memang tidak selamanya tegap, namun lebih dari cukup untuk menjadi sandaran yang tak akan luput dari waktu.

Rangkaian sajak sengaja ditulis untuk membentuk kata aku, kamu, menjadi kita. Harap yang selalu diusahakan hingga suatu saat sampai menjadi selamat.

Hyunjin tau, mustahil berada di antara cerita dirinya dan Jeongin. Tapi Hyunjin juga lebih dari tau, usaha mampu mengubah mustahil menjadi satu.

“Lo ga jadi ketemu Asahi?”

Suara pujaannya menarik Hyunjin dari lamunan. Pria yang indahnya melebihi angkasa malam.

Entah bagaimana Panglima harus mendeskripsikan betapa dirinya sangat mengagumi sang Kapten perang.

“Enggak si Klepon langsung gabung futsal sama yang lain.”

“Lo ga ikut?”

Pertanyaan retoris dari Kapten mengundang tawa kecil Panglima. Tidak ada yang lucu di sana, namun lagi-lagi bahagia selalu datang bersama cinta dari yang dipuja-puja.

“Enggak juga, lebih enak di sini.”

Dia mengangguk setuju, “Iya banyak angin, tumben juga cuacanya bagus gini. Panas kagak, mendung juga kagak.” Kapten berujar seolah dirinya pakar cuaca.

Bukan pakar hati seperti Panglima.

“Maksud gue enak di sini tuh karena ada lo, Pipi bolong.” pergerakan Kapten terhenti selaras pana waktu. “Percuma gue ikut futsal kalo lo nya ga ada di sana, mending di sini, gue bisa ngabisin sore bareng sama lo.”

Karena faktanya, Kapten tidak pernah dibuat benar-benar berharga. Pada bangunan yang selalu sama, utuh sempurna dari luar, namun runtuh di dalam, waktu terbuang sia-sia dalam kesendirian.

Namun, duduk di atas tikar beralas tumpukan kapas hijau tidak pernah se-menyenangkan dalam imajinasi Kapten. Bersama satu set impian yang mulai dirakit pada goresan cat warna-wani, raganya tidak pernah seantusias saat ini.

Atau ini bukan tentang tempat dan mimpi, melainkan si pembuat memori?

“Anjing, jelek lo.” dan kalimat itu selalu dipilih Kapten untuk menutupi gejolak aneh dalam diri.

Tentu Panglima tau, jelas Kapten salting. Tapi sayang, gengsi tetap nomor satu.

Meski begitu, Panglima dengan cintanya yang luar biasa selalu paham dengan teka-teki Kapten. Alih-alih tersinggung, dia malah tertawa manis, seolah kemarahan dalam dirinya telah dikuras habis oleh Kapten, lalu digantikan hal-hal kecil tentangnya yang mampu membuat Panglima selalu bahagia.

“Emang lo ga suka ngabisin hari sama gue, Pipi bolong?”

“Dih, ya menurut lo aja anjing.”

“Kalo menurut gue sih...” Hyunjin sengaja menjeda kalimatnya untuk mencubit pipi gembil Jeongin, “Lo lebih dari seneng.”

“Bangun-bangun, kagak usah mimpi lo anak setan.”

“Udah ngaku aja lo lagi berbunga-bunga kan gue ajak ke sini.”

“Najis!”


Aroma rumput basah membekas sore itu. Berteman dengan kicauan burung yang tak lagi bising, sayup mentari menyapa dari balik helaian rambut legam milik pujaan yang setia mencetak memori baru. Pundak memang tidak selamanya tegap, namun lebih dari cukup untuk menjadi sandaran yang tak akan luput dari waktu.

Rangkaian sajak sengaja ditulis untuk membentuk kata aku, kamu, menjadi kita. Harap yang selalu diusahakan hingga suatu saat sampai menjadi selamat.

Hyunjin tau, mustahil berada di antara cerita dirinya dan Jeongin. Tapi Hyunjin juga lebih dari tau, usaha mampu mengubah mustahil menjadi satu.

“Lo ga jadi ketemu Asahi?”

Suara pujaannya menarik Hyunjin dari lamunan. Pria yang indahnya melebihi angkasa malam.

Entah bagaimana Panglima harus mendeskripsikan betapa dirinya sangat mengagumi sang Kapten perang.

“Enggak si Klepon langsung gabung futsal sama yang lain.”

“Lo ga ikut?”

Pertanyaan retoris dari Kapten mengundang tawa kecil Panglima. Tidak ada yang lucu di sana, namun lagi-lagi bahagia selalu datang bersama cinta dari yang dipuja-puja.

“Enggak juga, lebih enak di sini.”

Dia mengangguk setuju, “Iya banyak angin, tumben juga cuacanya bagus gini. Panas kagak, mendung juga kagak.” Kapten berujar seolah dirinya pakar cuaca.

Bukan pakar hati seperti Panglima.

“Maksud gue enak di sini tuh karena ada lo, Pipi bolong.” pergerakan Kapten terhenti selaras pana waktu. “Percuma gue ikut futsal kalo lo nya ga ada di sana, mending di sini, gue bisa ngabisin sore bareng sama lo.”

Karena faktanya, Kapten tidak pernah dibuat benar-benar berharga. Pada bangunan yang selalu sama, utuh sempurna dari luar, namun runtuh di dalam, waktu terbuang sia-sia dalam kesendirian.

Namun, duduk di atas tikar beralas tumpukan kapas hijau tidak pernah se-menyenangkan dalam imajinasi Kapten. Bersama satu set impian yang mulai dirakit pada goresan cat warna-wani, raganya tidak pernah seantusias saat ini.

Atau ini bukan tentang tempat dan mimpi, melainkan si pembuat memori?

“Anjing, jelek lo.” dan kalimat itu selalu dipilih Kapten untuk menutupi gejolak aneh dalam diri.

Tentu dia tau, jelas dirinya salting. Tapi sayang, gengsi tetap nomor satu.

Meski begitu, Panglima dengan cintanya yang luar biasa selalu paham dengan teka-teki Kapten. Alih-alih tersinggung, dia malah tertawa manis, seolah kemarahan dalam dirinya telah diambil alih oleh Kapten.

“Emang lo ga suka ngabisin hari sama gue, Pipi bolong?”

“Dih, ya menurut lo aja anjing.”

“Kalo menurut gue sih...” Hyunjin sengaja menjeda kalimatnya untuk mencubit pipi gembil Jeongin, “Lo lebih dari seneng.”

“Bangun-bangun, kagak usah mimpi lo anak setan.”

“Udah ngaku aja lo lagi berbunga-bunga kan gue ajak ke sini.”

“Najis!”


Aroma rumput basah membekas sore itu. Berteman dengan kicauan burung yang tak lagi bising, sayup mentari menyapa dari balik helaian rambut legam milik pujaan yang setia mencetak memori baru. Pundak memang tidak selamanya tegap, namun lebih dari cukup untuk menjadi sandaran yang tak akan luput dari waktu.

Rangkaian sajak sengaja ditulis untuk membentuk kata aku, kamu, menjadi kita. Harap yang selalu diusahakan hingga suatu saat sampai menjadi selamat.

Hyunjin tau, mustahil berada di antara cerita dirinya dan Jeongin. Tapi Hyunjin juga lebih dari tau, usaha mampu mengubah mustahil menjadi satu.

“Lo ga jadi ketemu Asahi?”

Suara pujaannya menarik Hyunjin dari lamunan. Pria yang indahnya melebihi angkasa malam.

Entah bagaimana Panglima harus mendeskripsikan betapa dirinya sangat mengagumi sang Kapten perang.

“Enggak si Klepon langsung gabung futsal sama yang lain.”

“Lo ga ikut?”

Pertanyaan retoris dari Kapten mengundang tawa kecil Panglima. Tidak ada yang lucu di sana, namun lagi-lagi bahagia selalu datang bersama cinta dari yang dipuja-puja.

“Enggak juga, lebih enak di sini.”

Dia mengangguk setuju, “Iya banyak angin, tumben juga cuacanya bagus gini. Panas kagak, mendung juga kagak.” Kapten berujar seolah dirinya pakar cuaca.

Bukan pakar hati seperti Panglima.

“Maksud gue enak di sini tuh karena ada lo, Pipi bolong.” pergerakan Kapten terhenti selaras pana waktu. “Percuma gue ikut futsal kalo lo nya ga ada di sana, mending di sini, gue bisa ngabisin sore bareng sama lo.”

Karena faktanya, Kapten tidak pernah dibuat benar-benar berharga. Pada bangunan yang selalu sama, utuh sempurna dari luar, namun runtuh di dalam, waktu terbuang sia-sia dalam kesendirian.

Namun, duduk di atas tikar beralas tumpukan kapas hijau tidak pernah semenyenangkan dalam imajinasi Kapten. Bersama satu set impian yang mulai dirakit pada goresan cat warna-wani, raganya tidak pernah seantusias saat ini.

Atau ini bukan tentang tempat dan mimpi, melainkan si pembuat memori.

“Anjing, jelek lo.” dan kalimag itu selalu dipilih Kapten untuk menutupi gejolak aneh dalam diri.

Tentu dia tau, jelas dirinya salting. Tapi sayang, gengsi tetap nomor satu.

Meski begitu, Panglima dengan cintanya yang luar biasa selalu paham dengan teka-teki Kapten. Alih-alih tersinggung, dia malah tertawa manis, seolah kemarahan dalam dirinya telah diambil alih oleh Kapten.

“Emang lo ga suka ngabisin hari sama gue, Pipi bolong?”

“Dih, ya menurut lo aja anjing.”

“Kalo menurut gue sih...” Hyunjin sengaja menjeda kalimatnya untuk mencubit pipi gembil Jeongin, “Lo lebih dari seneng.”

“Bangun-bangun, kagak usah mimpi lo anak setan.”

“Udah ngaku aja lo lagi berbunga-bunga kan gue ajak ke sini.”

“Najis!”


Aroma rumput basah membekas sore itu. Berteman dengan kicauan burung yang tak lagi bising, sayup mentari menyapa dari balik helaian rambut legam milik pujaan yang setia mencetak memori baru. Pundak memang tidak selamanya tegap, namun lebih dari cukup untuk menjadi sandaran yang tak akan luput dari waktu.

Rangkaian sajak sengaja ditulis untuk membentuk kata aku, kamu, menjadi kita. Harap yang selalu diusahakan hingga suatu saat sampai menjadi selamat.

Hyunjin tau, mustahil berada di antara cerita dirinya dan Jeongin. Tapi Hyunjin juga lebih dari tau, usaha mampu mengubah mustahil menjadi satu.

“Lo ga jadi ketemu Asahi?”

Suara pujaannya menarik Hyunjin dari lamunan. Pria yang indahnya melebihi angkasa malam.

Entah bagaimana Panglima harus mendeskripsikan betapa dirinya sangat mengagumi sang Kapten perang.

“Enggak si Klepon langsung gabung futsal sama yang lain.”

“Lo ga ikut?”

Pertanyaan retoris dari Kapten mengundang tawa kecil Panglima. Tidak ada yang lucu di sana, namun lagi-lagi bahagia selalu datang bersama cinta dari yang dipuja-puja.

“Enggak juga, lebih enak di sini.”

Dia mengangguk setuju, “Iya banyak angin, tumben juga cuacanya bagus gini. Panas kagak, mendung juga kagak.” Kapten berujar seolah dirinya pakar cuaca.

Bukan pakar hati seperti Panglima.

“Maksud gue enak di sini tuh karena ada lo, Pipi bolong.” pergerakan Kapten terhenti selaras pana waktu. “Percuma gue ikut futsal kalo lo nya ga ada di sana, mending di sini, gue bisa ngabisin sore bareng sama lo.”

Karena faktanya, Kapten tidak pernah dibuat benar-benar berharga. Pada bangunan yang selalu sama, utuh sempurna dari luar, namun runtuh di dalam, waktu terbuang sia-sia dalam kesendirian.

Namun, duduk di atas tikar beralas tumpukan kapas hijau tidak pernah semenyenangkan ini dalam imajinasi Kapten. Bersama satu set impian yang mulai dirakit pada goresan cat warna-wani, raganya tidak pernah seantusias saat ini.

Atau ini bukan tentang tempat dan mimpi, melainkan si pembuat memori.

“Anjing, jelek lo.” dan kalimag itu selalu dipilih Kapten untuk menutupi gejolak aneh dalam diri.

Tentu dia tau, jelas dirinya salting. Tapi sayang, gengsi tetap nomor satu.

Meski begitu, Panglima dengan cintanya yang luar biasa selalu paham dengan teka-teki Kapten. Alih-alih tersinggung, dia malah tertawa manis, seolah kemarahan dalam dirinya telah diambil alih oleh Kapten.

“Emang lo ga suka ngabisin hari sama gue, Pipi bolong?”

“Dih, ya menurut lo aja anjing.”

“Kalo menurut gue sih...” Hyunjin sengaja menjeda kalimatnya untuk mencubit pipi gembil Jeongin, “Lo lebih dari seneng.”

“Bangun-bangun, kagak usah mimpi lo anak setan.”

“Udah ngaku aja lo lagi berbunga-bunga kan gue ajak ke sini.”

“Najis!”


Aroma rumput basah membekas sore itu. Berteman dengan kicauan burung yang tak lagi bising, sayup mentari menyapa dari balik helaian rambut legam milik pujaan yang setia mencetak memori baru. Pundak memang tidak selamanya tegap, namun lebih dari cukup untuk menjadi sandaran yang tak akan luput dari waktu.

Rangkaian sajak sengaja ditulis untuk membentuk kata aku, kamu, menjadi kita. Harap yang selalu diusahakan sampai menjadi selamat.

Hyunjin tau, mustahil berada di antara cerita dirinya dan Jeongin. Tapi Hyunjin juga lebih dari tau, usaha mampu mengubah mustahil menjadi satu.

“Lo ga jadi ketemu Asahi?”

Suara pujaannya menarik Hyunjin dari lamunan. Pria yang indahnya melebihi angkasa malam.

Entah bagaimana Panglima harus mendeskripsikan betapa dirinya sangat mengagumi sang Kapten perang.

“Enggak si Klepon langsung gabung futsal sama yang lain.”

“Lo ga ikut?”

Pertanyaan retoris dari Kapten mengundang tawa kecil Panglima. Tidak ada yang lucu di sana, namun lagi-lagi bahagia selalu datang bersama cinta dari yang dipuja-puja.

“Enggak juga, lebih enak di sini.”

Dia mengangguk setuju, “Iya banyak angin, tumben juga cuacanya bagus gini. Panas kagak, mendung juga kagak.” Kapten berujar seolah dirinya pakar cuaca.

Bukan pakar hati seperti Panglima.

“Maksud gue enak di sini tuh karena ada lo, Pipi bolong.” pergerakan Kapten terhenti selaras pana waktu. “Percuma gue ikut futsal kalo lo nya ga ada di sana, mending di sini, gue bisa ngabisin sore bareng sama lo.”

Karena faktanya, Kapten tidak pernah dibuat benar-benar berharga. Pada bangunan yang selalu sama, utuh sempurna dari luar, namun runtuh di dalam, waktu terbuang sia-sia dalam kesendirian.

Namun, duduk di atas tikar beralas tumpukan kapas hijau tidak pernah semenyenangkan ini dalam imajinasi Kapten. Bersama satu set impian yang mulai dirakit pada goresan cat warna-wani, raganya tidak pernah seantusias saat ini.

Atau ini bukan tentang tempat dan mimpi, melainkan si pembuat memori.

“Anjing, jelek lo.” dan kalimag itu selalu dipilih Kapten untuk menutupi gejolak aneh dalam diri.

Tentu dia tau, jelas dirinya salting. Tapi sayang, gengsi tetap nomor satu.

Meski begitu, Panglima dengan cintanya yang luar biasa selalu paham dengan teka-teki Kapten. Alih-alih tersinggung, dia malah tertawa manis, seolah kemarahan dalam dirinya telah diambil alih oleh Kapten.

“Emang lo ga suka ngabisin hari sama gue, Pipi bolong?”

“Dih, ya menurut lo aja anjing.”

“Kalo menurut gue sih...” Hyunjin sengaja menjeda kalimatnya untuk mencubit pipi gembil Jeongin, “Lo lebih dari seneng.”

“Bangun-bangun, kagak usah mimpi lo anak setan.”

“Udah ngaku aja lo lagi berbunga-bunga kan gue ajak ke sini.”

“Najis!”