bhluewry



Hal pertama yang Jeongin rasakan ketika duduk berdua bersama Bright sebagai papa dan anak adalah mati rasa. Dia kira akan bahagia, ternyata hati pun tidak berdegup kencang, alih-alih bahagia yang datang pertanyaan malah bermunculan dalam otaknya.

Untuk apa?

Ada apa?

Kenapa?

Aneh memang. Asing yang singgap tidak dapat berbohong. Sosok papa bagi Jeongin hanyalah figur yang hilang. Mendeskripsikannya saja tidak bisa, lantas berbahagia untuk apa?

Pun dia yang terlalu takut untuk merasa bahagia dan memilih bersama duka

Perbuatan siapa? haruskah dijawab?

Hows school?

“Biasa.” pertanyaan tiba-tiba itu hanya dibalas seadanya. Bingung ingin menjawab seperti apa.

“Win bilang dia kasih kamu uang?”

“Iya.”

“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap orangnya, Jeongin.” nada suara yang tadinya dibuat-buat lembut langsung berubah dingin seperti yang sudah-sudah.

Jika saja mereka tidak di tempat umum, jelas Jeongin akan semakin menantang. Biar luka sebagai balasan, tetap lebih baik dari pada tunduk pada orang yang menghancurkan segalanya.

“Papa mau apa?”

Tepat sasaran.

“Ya dinner buat ngerayain kamu juara umum, Jeongin.”

“Aku cuma juara umum di sekolah bukan seluruh sekolah di Indonesia.”

Bright langsung berhenti mengunyah kala mendengar ucapan Jeongin. Sedangkan si anak menatap bola mata papanya dengan banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan.

Dingin pun tidak, datar apa lagi.

Hanya kekosongan.

“Papa selalu dateng buat ngamuk dan mukulin aku kalo apa yang papa mau ga aku turutin, kali ini papa dateng dengan omongan sok baik.” sudut bibirnya terangkat untuk tertawa meremehkan diri, “Kenapa? disuruh selingkuhan papa?”

“Jeongin.” Bright mendesis tajam, selalu tidak suka jika pacarnya direndahkan.

Rasa mual diperutnya memaksa memakan Aglio Olio pesanan Bright yang katanya makanan favorit Jeongin itu sudah tergantikan dengan raut wajah papanya saat ini.

Seperti yang pernah Jeongin katakan, mereka hanya berhubungan darah, tapi tidak untuk saling mengenal.

Ada hembusan nafas sebelum Bright membuka suara tidak ramah.

“Heeseung keterima beasiswa kedokteran UI.”

Anjing

Jeongin mengulum bibirnya sebelum terkekeh hambar, anak pungut itu. Mau sampai kapan Heeseung berlagak menjadi satu-satunya korban disaat Jeongin pun sama?

Setelah keluarganya, sekarang dia mau mengambil satu-satunya tujuan hidup yang Jeongin punya? Anjing.

“Bukannya dia harusnya nerusin perusahaan papa?”

Bright menggeleng membuat Jeongin semakin mati rasa, “Dia berubah pikiran.”

“Bangsat!”

“Jeongin, jaga ucapan kamu! ada banyak orang di sini!”

“Jadi intinya dinner kali ini papa mau aku ngalah lagi kan?” pun Jeongin yang tidak dapat lagi suaranya yang bergetar.

“Kamu anak papa satu-satunya Je.”

“Kemarin papa bilang papa nyesel punya anak kayak aku? kenapa sekarang semuanya dilimpahin ke aku?”

Alih-alih meminta maaf, Bright dengan kelakuannya malah seakan mengoyak habis perasaan anaknya.

“Karena itu kewajiban kamu.”

Kewajiban apa?

Kewajiban mengalah?

Kewajiban tidak memiliki impian?

Anjing, orang gila.

Aku pindah dari IPS ke IPA nurutin mama sama papa yang mau aku jadi dokter. Aku ngebenci IPS karena aku ga bisa belajar apa yang aku mau. Tapi sekarang disaat aku udah terbiasa dengan impian kalian, aku juga yang harus bekorban?”

“Jeongin, please.”

“Lucu banget hidup gue, anjing hahaha..”

“Kamu baru mau masuk kelas 12, masih banyak waktu buat kamu belajar, tapi Heeseung udah selesai. Dia ga punya pilihan lain.”

“Dia punya pilihan buat ga nerima beasiswanya papa.”

“Jeongin! kamu ga bisa bantah keputusan papa!”

Anjing!

Ingin sekali rasanya Jeongin berteriak sekarang. Bahkan rasanya oksigen perlahan mulai menghilang.

Memang seharusnya dia tidak perlu berharap banyak hal. Mati berkali-kali di tangan keluarga harusnya mampu membuat terbiasa. Tapi sesak di dada ternyata terus saja hinggap datang.

Lantas alih-alih berdebat, Jeongin ingin cepat-cepat pulang. Makanan dengan rasa bawang yang menyengat itu dia habiskan demi prinsip yang dia pegang. Harus menghargai makanan.

Jeongin terlalu manis untuk pahitnya bumantara.

“Aku pamit pulang.”

Jeongin bahkan tidak tau kenapa rasa mualnya semakin terasa berkali-kali lipat.

“Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu mau.”

Apa lagi sekarang?

Pergerakannya seketika berhenti mendengar kalimat itu. Jelas otaknya tidak menaruh harapan di sana, lalu kenapa hatinya tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut?

“Asalkan setelah lulus, kamu kerja di perusahaan papa.”

Semuanya tetap tidak menarik. Berat sebelah pun pasti.

“Kamu bisa masuk DKV kalo kamu mau.”

“Papa serius?”

Makhluk Tuhan yang menjadi ayah ini terlalu tau cara mengontrol Jeongin atau Jeongin yang terlalu polos dalam hidup?

Anggukan kepala Bright membuat Jeongin tanpa sadar tersenyum. Menjadi dokter bukan keinginannya, tetapi jatuh cinta dengan kimia mengubah segalanya.

Namun DKV, itu impiannya dari lama.

“Papa bakal ngomong sama mama.” pun Bright yang ikut tersenyum melihat anaknya.

Benar-benar seperti foto-copyan. Keras kepala Jeongin menurun dari siapa jika tidak dari Bright, pun sifat denial keduanya menjelaskan semua. Alih-alih berbincang dari hati ke hati, keduanya memilih untuk memancing emosi satu sama lain.

Bright mengeluarkan uang sebelum beranjak, “Ayok pulang.”

Dan kini keduanya berjalan beriringan keluar restoran setelah 5 tahun tidak pernah datang bersama. Mati rasa seolah hilang digantikan dengan harapan yang —bolehkah dia menaruh harap?

“Kamu ga bawa motor?” Bright mencari motor ducati hitam milik anaknya. “Mau papa anter?”

“Gak usah, nanti aku dijemput.” siapa juga yang mau kembali di antara ruang sempit penuh awkward seperti di dalam.

“Sama siapa?”

“Ada tem—”

“PIPI BOLOOOONGGGGGG!”

Lantas suara teriakan yang sangat Jeongin kenali, tidak hanya menarik atensi yang dipanggil. Hyunjin berdiri di depan pos satpam melambai-lambaikan tangannya seperti adegan di film-film, seolah menyambut kekasihnya yang sudah 10 tahun tidak bertemu.

“Papa aku dulu— apa?” Jeongin langsung mengubah ucapannya saat Bright memberikan senyuman menggoda.

“Dia bukan pacarku!”

Bright semakin tersenyum jahil, “Papa ga bilang dia pacar kamu. Ey!”

Sial, Jeongin!

Ayah—anak itu benar-benar. Beberapa saat lalu perang dingin di dalam, tapi tiba-tiba berubah di luar. Yang satu menggoda anaknya, yang satu mencibir ayahnya.

Sudah lupa kah adegan memukul dan sengaja memancing emosi yang lalu lalu?

Memang tidak habis pikir.

“PIPI BOLONGGGG!”

“SABAR! GA USAH TERIAK!”

“ITU LO JUGA TERIAKKK!”

“Anak setan!”

“GUE TAU LO NGATAIN GUE ANAK SETAN, PIPI BOLONG.”

Jeongin pun tertawa. Suatu pemandangan indah yang ditangkap Bright. Sangat berbeda dengan Jeongin yang seperti mati di dalam tadi. Kini anaknya seolah hidup, matanya bahkan tidak kosong, seakan penuh dengan warna-warna.

“Papa, aku duluan.”

Seketika lamunannya berhamburan. Bright mengangguk, senyuman di wajahnya menghilang selaras Jeongin berjalan ke arah pria yang Bright tidak sengaja lihat sudah ada dari awal dinner mereka.

Baru saja Ayah satu anak itu akan beranjak dari tempat, anaknya tiba-tiba berbalik untuk berucap.

“Papa makasih buat hadiah gundamnya, om Win bilang itu dari papa tapi nyuruh om Win bilang itu dari dia. Makasih juga buat makan malemnya, hati-hati di jalan.”

Lantas bibirnya kembali mengulas senyuman meski tidak dapat dilihat anaknya yang sudah kembali berjalan pergi. Bright seakan terpaku, dia tau pasta yang dia pesan untuk Jeongin salah, tapi anak manisnya sama sekali tidak protes dan tetap makan hingga habis. Dewasa memang bukan tentang perihal umur.

“Ah! hangatnya.”

Pun malam berangin kali ini mampu menyelimuti Bright dalam kesendirian menunggu bayangan anaknya hilang dari pandangan.

Bright mau pun Jeongin bukan orang yang mampu mengucapkan perasaan secara tepat. Keduanya punya cara untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang—

“Makasih juga udah jadi anak papa.”

—dalam diam.


Hal pertama yang Jeongin rasakan ketika duduk berdua bersama Bright sebagai papa dan anak adalah mati rasa. Dia kira akan bahagia, ternyata hati pun tidak berdegup kencang, alih-alih bahagia yang datang pertanyaan malah bermunculan dalam otaknya.

Untuk apa?

Ada apa?

Kenapa?

Aneh memang. Asing yang singgap tidak dapat berbohong. Sosok papa bagi Jeongin hanyalah figur yang hilang. Mendeskripsikannya saja tidak bisa, lantas berbahagia untuk apa?

Pun dia yang terlalu takut untuk merasa bahagia dan memilih bersama duka

Perbuatan siapa? haruskah dijawab?

Hows school?

“Biasa.” pertanyaan tiba-tiba itu hanya dibalas seadanya. Bingung ingin menjawab seperti apa.

“Win bilang dia kasih kamu uang?”

“Iya.”

“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap orangnya, Jeongin.” nada suara yang tadinya dibuat-buat lembut langsung berubah dingin seperti yang sudah-sudah.

Jika saja mereka tidak di tempat umum, jelas Jeongin akan semakin menantang. Biar luka sebagai balasan, tetap lebih baik dari pada tunduk pada orang yang menghancurkan segalanya.

“Papa mau apa?”

Tepat sasaran.

“Ya dinner buat ngerayain kamu juara umum, Jeongin.”

“Aku cuma juara umum di sekolah bukan seluruh sekolah di Indonesia.”

Bright langsung berhenti mengunyah kala mendengar ucapan Jeongin. Sedangkan si anak menatap bola mata papanya dengan banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan.

Dingin pun tidak, datar apa lagi.

Hanya kekosongan.

“Papa selalu dateng buat ngamuk dan mukulin aku kalo apa yang papa mau ga aku turutin, kali ini papa dateng dengan omongan sok baik.” sudut bibirnya terangkat untuk tertawa meremehkan diri, “Kenapa? disuruh selingkuhan papa?”

“Jeongin.” Bright mendesis tajam, selalu tidak suka jika pacarnya direndahkan.

Rasa mual diperutnya memaksa memakan Aglio Olio pesanan Bright yang katanya makanan favorit Jeongin itu sudah tergantikan dengan raut wajah papanya saat ini.

Seperti yang pernah Jeongin katakan, mereka hanya berhubungan darah, tapi tidak untuk saling mengenal.

Ada hembusan nafas sebelum Bright membuka suara tidak ramah.

“Heeseung keterima beasiswa kedokteran UI.”

Anjing

Jeongin mengulum bibirnya sebelum terkekeh hambar, anak pungut itu. Mau sampai kapan Heeseung berlagak menjadi satu-satunya korban disaat Jeongin pun sama?

Setelah keluarganya, sekarang dia mau mengambil satu-satunya tujuan hidup yang Jeongin punya? Anjing.

“Bukannya dia harusnya nerusin perusahaan papa?”

Bright menggeleng membuat Jeongin semakin mati rasa, “Dia berubah pikiran.”

“Bangsat!”

“Jeongin, jaga ucapan kamu! ada banyak orang di sini!”

“Jadi intinya dinner kali ini papa mau aku ngalah lagi kan?” pun Jeongin yang tidak dapat lagi suaranya yang bergetar.

“Kamu anak papa satu-satunya Je.”

“Kemarin papa bilang papa nyesel punya anak kayak aku? kenapa sekarang semuanya dilimpahin ke aku?”

Alih-alih meminta maaf, Bright dengan kelakuannya malah seakan mengoyak habis perasaan anaknya.

“Karena itu kewajiban kamu.”

Kewajiban apa?

Kewajiban mengalah?

Kewajiban tidak memiliki impian?

Anjing, orang gila.

Aku pindah dari IPS ke IPA nurutin mama sama papa yang mau aku jadi dokter. Aku ngebenci IPS karena aku ga bisa belajar apa yang aku mau. Tapi sekarang disaat aku udah terbiasa dengan impian kalian, aku juga yang harus bekorban?”

“Jeongin, please.”

“Lucu banget hidup gue, anjing hahaha..”

“Kamu baru mau masuk kelas 12, masih banyak waktu buat kamu belajar, tapi Heeseung udah selesai. Dia ga punya pilihan lain.”

“Dia punya pilihan buat ga nerima beasiswanya papa.”

“Jeongin! kamu ga bisa bantah keputusan papa!”

Anjing!

Ingin sekali rasanya Jeongin berteriak sekarang. Bahkan rasanya oksigen perlahan mulai menghilang.

Memang seharusnya dia tidak perlu berharap banyak hal. Mati berkali-kali di tangan keluarga harusnya mampu membuat terbiasa. Tapi sesak di dada ternyata terus saja hinggap datang.

Lantas alih-alih berdebat, Jeongin ingin cepat-cepat pulang. Makanan dengan rasa bawang yang menyengat itu dia habiskan demi prinsip yang dia pegang. Harus menghargai makanan.

Jeongin terlalu manis untuk pahitnya bumantara.

“Aku pamit pulang.”

Jeongin bahkan tidak tau kenapa rasa mualnya semakin terasa berkali-kali lipat.

“Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu mau.”

Apa lagi sekarang?

Pergerakannya seketika berhenti mendengar kalimat itu. Jelas otaknya tidak menaruh harapan di sana, lalu kenapa hatinya tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut?

“Asalkan setelah lulus, kamu kerja di perusahaan papa.”

Semuanya tetap tidak menarik. Berat sebelah pun pasti.

“Kamu bisa masuk DKV kalo kamu mau.”

“Papa serius?”

Makhluk Tuhan yang menjadi ayah ini terlalu tau cara mengontrol Jeongin atau Jeongin yang terlalu polos dalam hidup?

Anggukan kepala Bright membuat Jeongin tanpa sadar tersenyum. Menjadi dokter bukan keinginannya, tetapi jatuh cinta dengan kimia mengubah segalanya.

Namun DKV, itu impiannya dari lama.

“Papa bakal ngomong sama mama.” pun Bright yang ikut tersenyum melihat anaknya.

Benar-benar seperti foto-copyan. Keras kepala Jeongin menurun dari siapa jika tidak dari Bright, pun sifat denial keduanya menjelaskan semua. Alih-alih berbincang dari hati ke hati, keduanya memilih untuk memancing emosi satu sama lain.

Bright mengeluarkan uang sebelum beranjak, “Ayok pulang.”

Dan kini keduanya berjalan beriringan keluar restoran setelah 5 tahun tidak pernah datang bersama. Mati rasa seolah hilang digantikan dengan harapan yang —bolehkah dia menaruh harap?

“Kamu ga bawa motor?” Bright mencari motor ducati hitam milik anaknya. “Mau papa anter?”

“Gak usah, nanti aku dijemput.” siapa juga yang mau kembali di antara ruang sempit penuh awkward seperti di dalam.

“Sama siapa?”

“Ada tem—”

“PIPI BOLOOOONGGGGGG!”

Lantas suara teriakan yang sangat Jeongin kenali, tidak hanya menarik atensi yang dipanggil. Hyunjin berdiri di depan pos satpam melambai-lambaikan tangannya seperti adegan di film-film, seolah menyambut kekasihnya yang sudah 10 tahun tidak bertemu.

“Papa aku dulu— apa?” Jeongin langsung mengubah ucapannya saat Bright memberikan senyuman menggoda.

“Dia bukan pacarku!”

Bright semakin tersenyum jahil, “Papa ga bilang dia pacar kamu. Ey!”

Sial, Jeongin!

Ayah—anak itu benar-benar. Beberapa saat lalu perang dingin di dalam, tapi tiba-tiba berubah di luar. Yang satu menggoda anaknya, yang satu mencibir ayahnya.

Sudah lupa kah adegan memukul dan sengaja memancing emosi yang lalu lalu?

Memang tidak habis pikir.

“PIPI BOLONGGGG!”

“SABAR! GA USAH TERIAK!”

“ITU LO JUGA TERIAKKK!”

“Anak setan!”

“GUE TAU LO NGATAIN GUE ANAK SETAN, PIPI BOLONG.”

Jeongin pun tertawa. Suatu pemandangan indah yang ditangkap Bright. Sangat berbeda dengan Jeongin yang seperti mati di dalam tadi. Kini anaknya seolah hidup, matanya bahkan tidak kosong, seakan penuh dengan warna-warna.

“Papa, aku duluan.”

Seketika lamunannya berhamburan. Bright mengangguk, senyuman di wajahnya menghilang selaras Jeongin berjalan ke arah pria yang Bright tidak sengaja lihat sudah ada dari awal dinner mereka.

Baru saja Ayah satu anak itu akan beranjak dari tempat, anaknya tiba-tiba berbalik untuk berucap.

“Papa makasih buat hadiah gundamnya, om Win bilang itu dari papa tapi nyuruh om Win bilang itu dari dia. Makasih juga buat makan malemnya, hati-hati di jalan.”

Lantas bibirnya kembali mengulas senyuman meski tidak dapat dilihat anaknya yang sudah kembali berjalan pergi. Bright seakan terpaku, dia tau pasta yang dia pesan untuk Jeongin salah, tapi anak manisnya sama sekali tidak protes dan tetap makan hingga habis. Dewasa memang bukan tentang perihal umur.

“Ah! hangatnya.”

Pun malam berangin kali ini mampu menyelimuti Bright dalam kesendirian menunggu bayangan anaknya hilang dari pandangan.

Bright mau pun Jeongin bukan orang yang mampu mengucapkan perasaan secara tepat. Keduanya punya cara untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang—

“Makasih juga udah jadi anak papa.”

—dalam diam.


Hal pertama yang Jeongin rasakan ketika duduk berdua bersama Bright sebagai papa dan anak adalah mati rasa. Dia kira akan bahagia, ternyata hati pun tidak berdegup kencang, alih-alih bahagia yang datang pertanyaan malah bermunculan dalam otaknya.

Untuk apa?

Ada apa?

Kenapa?

Aneh memang. Asing yang singgap tidak dapat berbohong. Sosok papa bagi Jeongin hanyalah figur yang hilang. Mendeskripsikannya saja tidak bisa, lantas berbahagia untuk apa?

Pun dia yang terlalu takut untuk merasa bahagia dan memilih bersama duka

Perbuatan siapa? haruskah dijawab?

Hows school?

“Biasa.” pertanyaan tiba-tiba itu hanya dibalas seadanya. Bingung ingin menjawab seperti apa.

“Win bilang dia kasih kamu uang?”

“Iya.”

“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap orangnya, Jeongin.” nada suara yang tadinya dibuat-buat lembut langsung berubah dingin seperti yang sudah-sudah.

Jika saja mereka tidak di tempat umum, jelas Jeongin akan semakin menantang. Biar luka sebagai balasan, tetap lebih baik dari pada tunduk pada orang yang menghancurkan segalanya.

“Papa mau apa?”

Tepat sasaran.

“Ya dinner buat ngerayain kamu juara umum, Jeongin.”

“Aku cuma juara umum di sekolah bukan seluruh sekolah di Indonesia.”

Bright langsung berhenti mengunyah kala mendengar ucapan Jeongin. Sedangkan si anak menatap bola mata papanya dengan banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan.

Dingin pun tidak, datar apa lagi.

Hanya kekosongan.

“Papa selalu dateng buat ngamuk dan mukulin aku kalo apa yang papa mau ga aku turutin, kali ini papa dateng dengan omongan sok baik.” sudut bibirnya terangkat untuk tertawa meremehkan diri, “Kenapa? disuruh selingkuhan papa?”

“Jeongin.” Bright mendesis tajam, selalu tidak suka jika pacarnya direndahkan.

Rasa mual diperutnya memaksa memakan Aglio Olio pesanan Bright yang katanya makanan favorit Jeongin itu sudah tergantikan dengan raut wajah papanya saat ini.

Seperti yang pernah Jeongin katakan, mereka hanya berhubungan darah, tapi tidak untuk saling mengenal.

Ada hembusan nafas sebelum Bright membuka suara tidak ramah.

“Heeseung keterima beasiswa kedokteran UI.”

Anjing

Jeongin mengulum bibirnya sebelum terkekeh hambar, anak pungut itu. Mau sampai kapan Heeseung berlagak menjadi satu-satunya korban disaat Jeongin pun sama?

Setelah keluarganya, sekarang dia mau mengambil satu-satunya tujuan hidup yang Jeongin punya? Anjing.

“Bukannya dia harusnya nerusin perusahaan papa?”

Bright menggeleng membuat Jeongin semakin mati rasa, “Dia berubah pikiran.”

“Bangsat!”

“Jeongin, jaga ucapan kamu! ada banyak orang di sini!”

“Jadi intinya dinner kali ini papa mau aku ngalah lagi kan?” pun Jeongin yang tidak dapat lagi suaranya yang bergetar.

“Kamu anak papa satu-satunya Je.”

“Kemarin papa bilang papa nyesel punya anak kayak aku? kenapa sekarang semuanya dilimpahin ke aku?”

Alih-alih meminta maaf, Bright dengan kelakuannya malah seakan mengoyak habis perasaan anaknya.

“Karena itu kewajiban kamu.”

Kewajiban apa?

Kewajiban mengalah?

Kewajiban tidak memiliki impian?

Anjing, orang gila.

Aku pindah dari IPS ke IPA nurutin mama sama papa yang mau aku jadi dokter. Aku ngebenci IPS karena aku ga bisa belajar apa yang aku mau. Tapi sekarang disaat aku udah terbiasa dengan impian kalian, aku juga yang harus bekorban?”

“Jeongin, please.”

“Lucu banget hidup gue, anjing hahaha..”

“Kamu baru mau masuk kelas 12, masih banyak waktu buat kamu belajar, tapi Heeseung udah selesai. Dia ga punya pilihan lain.”

“Dia punya pilihan buat ga nerima beasiswanya papa.”

“Jeongin! kamu ga bisa bantah keputusan papa!”

Anjing!

Ingin sekali rasanya Jeongin berteriak sekarang. Bahkan rasanya oksigen perlahan mulai menghilang.

Memang seharusnya dia tidak perlu berharap banyak hal. Mati berkali-kali di tangan keluarga harusnya mampu membuat terbiasa. Tapi sesak di dada ternyata terus saja hinggap datang.

Lantas alih-alih berdebat, Jeongin ingin cepat-cepat pulang. Makanan dengan rasa bawang yang menyengat itu dia habiskan demi prinsip yang dia pegang. Harus menghargai makanan.

Jeongin terlalu manis untuk pahitnya bumantara.

“Aku pamit pulang.”

Jeongin bahkan tidak tau kenapa rasa mualnya semakin terasa berkali-kali lipat.

“Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu mau.”

Apa lagi sekarang?

Pergerakannya seketika berhenti mendengar kalimat itu. Jelas otaknya tidak menaruh harapan di sana, lalu kenapa hatinya tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut?

“Asalkan setelah lulus, kamu kerja di perusahaan papa.”

Semuanya tetap tidak menarik. Berat sebelah pun pasti.

“Kamu bisa masuk DKV kalo kamu mau.”

“Papa serius?”

Makhluk Tuhan yang menjadi ayah ini terlalu tau cara mengontrol Jeongin atau Jeongin yang terlalu polos dalam hidup?

Anggukan kepala Bright membuat Jeongin tanpa sadar tersenyum. Menjadi dokter bukan keinginannya, tetapi jatuh cinta dengan kimia mengubah segalanya.

Namun DKV, itu impiannya dari lama.

“Papa bakal ngomong sama mama.” pun Bright yang ikut tersenyum melihat anaknya.

Benar-benar seperti foto-copyan. Keras kepala Jeongin menurun dari siapa jika tidak dari Bright, pun sifat denial keduanya menjelaskan semua. Alih-alih berbincang dari hati ke hati, keduanya memilih untuk memancing emosi satu sama lain.

Bright mengeluarkan uang sebelum beranjak, “Ayok pulang.”

Dan kini keduanya berjalan beriringan keluar restoran setelah 5 tahun tidak pernah datang bersama. Mati rasa seolah hilang digantikan dengan harapan yang —bolehkah dia menaruh harap?

“Kamu ga bawa motor?” Bright mencari motor ducati hitam milik anaknya. “Mau papa anter?”

“Gak usah, nanti aku dijemput.” siapa juga yang mau kembali di antara ruang sempit penuh awkward seperti di dalam.

“Sama siapa?”

“Ada tem—”

“PIPI BOLOOOONGGGGGG!”

Lantas suara teriakan yang sangat Jeongin kenali, tidak hanya menarik atensi yang dipanggil. Hyunjin berdiri di depan pos satpam melambai-lambaikan tangannya seperti adegan di film-film, seolah menyambut kekasihnya yang sudah 10 tahun tidak bertemu.

“Papa aku dulu— apa?” Jeongin langsung mengubah ucapannya saat Bright memberikan senyuman menggoda.

“Dia bukan pacarku!”

Bright semakin tersenyum jahil, “Papa ga bilang dia pacar kamu. Ey!”

Sial, Jeongin!

Ayah—anak itu benar-benar. Beberapa saat lalu perang dingin di dalam, tapi tiba-tiba berubah di luar. Yang satu menggoda anaknya, yang satu mencibir ayahnya.

Sudah lupa kah adegan memukul dan sengaja memancing emosi yang lalu lalu?

Memang tidak habis pikir.

“PIPI BOLONGGGG!”

“SABAR! GA USAH TERIAK!”

“ITU LO JUGA TERIAKKK!”

“Anak setan!”

“GUE TAU LO NGATAIN GUE ANAK SETAN, PIPI BOLONG.”

Jeongin pun tertawa. Suatu pemandangan indah yang ditangkap Bright. Sangat berbeda dengan Jeongin yang seperti mati di dalam tadi. Kini anaknya seolah hidup, matanya bahkan tidak kosong, seakan penuh dengan warna-warna.

“Papa, aku duluan.”

Seketika lamunannya berhamburan. Bright mengangguk, senyuman di wajahnya menghilang selaras Jeongin berjalan ke arah pria yang Bright tidak sengaja lihat sudah ada dari awal dinner mereka.

Baru saja Ayah satu anak itu akan beranjak dari tempat, anaknya tiba-tiba berbalik untuk berucap.

“Papa makasih buat hadiah gundamnya, om Win bilang itu dari papa tapi nyuruh om Win bilang itu dari dia. Makasih juga buat akan malemnya, hati-hati di jalan.”

Lantas bibirnya kembali mengulas senyuman meski tidak dapat dilihat anaknya yang sudah kembali berjalan pergi. Bright seakan terpaku, dia tau pasta yang dia pesan untuk Jeongin salah, tapi anak manisnya sama sekali tidak protes dan tetap makan hingga habis. Dewasa memang bukan tentang perihal umur.

“Ah! hangatnya.”

Pun malam berangin kali ini mampu menyelimuti Bright dalam kesendirian menunggu bayangan anaknya hilang dari pandangan.

Bright mau pun Jeongin bukan orang yang mampu mengucapkan perasaan secara tepat. Keduanya punya cara untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang—

“Makasih juga udah jadi anak papa.”

—dalam diam.


Hal pertama yang Jeongin rasakan ketika duduk berdua bersama Bright sebagai papa dan anak adalah mati rasa. Dia kira akan bahagia, ternyata hati pun tidak berdegup kencang, alih-alih bahagia yang datang pertanyaan malah bermunculan dalam otaknya.

Untuk apa?

Ada apa?

Kenapa?

Aneh memang. Asing yang singgap tidak dapat berbohong. Sosok papa bagi Jeongin hanyalah figur yang hilang. Mendeskripsikannya saja tidak bisa, lantas berbahagia untuk apa?

Pun dia yang terlalu takut untuk merasa bahagia dan memilih bersama duka

Perbuatan siapa? haruskah dijawab?

Hows school?

“Biasa.” pertanyaan tiba-tiba itu hanya dibalas seadanya. Bingung ingin menjawab seperti apa.

“Win bilang dia kasih kamu uang?”

“Iya.”

“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap orangnya, Jeongin.” nada suara yang tadinya dibuat-buat lembut langsung berubah dingin seperti yang sudah-sudah.

Jika saja mereka tidak di tempat umum, jelas Jeongin akan semakin menantang. Biar luka sebagai balasan, tetap lebih baik dari pada tunduk pada orang yang menghancurkan segalanya.

“Papa mau apa?”

Tepat sasaran.

“Ya dinner buat ngerayain kamu juara umum, Jeongin.”

“Aku cuma juara umum di sekolah bukan seluruh sekolah di Indonesia.”

Bright langsung berhenti mengunyah kala mendengar ucapan Jeongin. Sedangkan si anak menatap bola mata papanya dengan banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan.

Dingin pun tidak, datar apa lagi.

Hanya kekosongan.

“Papa selalu dateng buat ngamuk dan mukulin aku kalo apa yang papa mau ga aku turutin, kali ini papa dateng dengan omongan sok baik.” sudut bibirnya terangkat untuk tertawa meremehkan diri, “Kenapa? disuruh selingkuhan papa?”

“Jeongin.” Bright mendesis tajam, selalu tidak suka jika pacarnya direndahkan.

Rasa mual diperutnya memaksa memakan Aglio Olio pesanan Bright yang katanya makanan favorit Jeongin itu sudah tergantikan dengan raut wajah papanya saat ini.

Seperti yang pernah Jeongin katakan, mereka hanya berhubungan darah, tapi tidak untuk saling mengenal.

Ada hembusan nafas sebelum Bright membuka suara tidak ramah.

“Heeseung keterima beasiswa kedokteran UI.”

Anjing

Jeongin mengulum bibirnya sebelum terkekeh hambar, anak pungut itu. Mau sampai kapan Heeseung berlagak menjadi satu-satunya korban disaat Jeongin pun sama?

Setelah keluarganya, sekarang dia mau mengambil satu-satunya tujuan hidup yang Jeongin punya? Anjing.

“Bukannya dia harusnya nerusin perusahaan papa?”

Bright menggeleng membuat Jeongin semakin mati rasa, “Dia berubah pikiran.”

“Bangsat!”

“Jeongin, jaga ucapan kamu! ada banyak orang di sini!”

“Jadi intinya dinner kali ini papa mau aku ngalah lagi kan?” pun Jeongin yang tidak dapat lagi suaranya yang bergetar.

“Kamu anak papa satu-satunya Je.”

“Kemarin papa bilang papa nyesel punya anak kayak aku? kenapa sekarang semuanya dilimpahin ke aku?”

Alih-alih meminta maaf, Bright dengan kelakuannya malah seakan mengoyak habis perasaan anaknya.

“Karena itu kewajiban kamu.”

Kewajiban apa?

Kewajiban mengalah?

Kewajiban tidak memiliki impian?

Anjing, orang gila.

Aku pindah dari IPS ke IPA nurutin mama sama papa yang mau aku jadi dokter. Aku ngebenci IPS karena aku ga bisa belajar apa yang aku mau. Tapi sekarang disaat aku udah terbiasa dengan impian kalian, aku juga yang harus bekorban?”

“Jeongin, please.”

“Lucu banget hidup gue, anjing hahaha..”

“Kamu baru mau masuk kelas 12, masih banyak waktu buat kamu belajar, tapi Heeseung udah selesai. Dia ga punya pilihan lain.”

“Dia punya pilihan buat ga nerima beasiswanya papa.”

“Jeongin! kamu ga bisa bantah keputusan papa!”

Anjing!

Ingin sekali rasanya Jeongin berteriak sekarang. Bahkan rasanya oksigen perlahan mulai menghilang.

Memang seharusnya dia tidak perlu berharap banyak hal. Mati berkali-kali di tangan keluarga harusnya mampu membuat terbiasa. Tapi sesak di dada ternyata terus saja hinggap datang.

Lantas alih-alih berdebat, Jeongin ingin cepat-cepat pulang. Makanan dengan rasa bawang yang menyengat itu dia habiskan demi prinsip yang dia pegang. Harus menghargai makanan.

Jeongin terlalu manis untuk pahitnya bumantara.

“Aku pamit pulang.”

Jeongin bahkan tidak tau kenapa rasa mualnya semakin terasa berkali-kali lipat.

“Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu mau.”

Apa lagi sekarang?

Pergerakannya seketika berhenti mendengar kalimat itu. Jelas otaknya tidak menaruh harapan di sana, lalu kenapa hatinya tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut?

“Asalkan setelah lulus, kamu kerja di perusahaan papa.”

Semuanya tetap tidak menarik. Berat sebelah pun pasti.

“Kamu bisa masuk DKV kalo kamu mau.”

“Papa serius?”

Makhluk Tuhan yang menjadi ayah ini terlalu tau cara mengontrol Jeongin atau Jeongin yang terlalu polos dalam hidup?

Anggukan kepala Bright membuat Jeongin tanpa sadar tersenyum. Menjadi dokter bukan keinginannya, tetapi jatuh cinta dengan kimia mengubah segalanya.

Namun DKV, itu impiannya dari lama.

“Papa bakal ngomong sama mama.” pun Bright yang ikut tersenyum melihat anaknya.

Benar-benar seperti foto-copyan. Keras kepala Jeongin menurun dari siapa jika tidak dari Bright, pun sifat denial keduanya menjelaskan semua. Alih-alih berbincang dari hati ke hati, keduanya memilih untuk memancing emosi satu sama lain.

“Ayok pulang.”

Dan kini keduanya berjalan beriringan keluar restoran setelah 5 tahun tidak pernah datang bersama. Mati rasa seolah hilang digantikan dengan harapan yang —bolehkah dia menaruh harap?

“Kamu ga bawa motor?” Bright mencari motor ducati hitam milik anaknya. “Mau papa anter?”

“Gak usah, nanti aku dijemput.” siapa juga yang mau kembali di antara ruang sempit penuh awkward seperti di dalam.

“Sama siapa?”

“Ada tem—”

“PIPI BOLOOOONGGGGGG!”

Lantas suara teriakan yang sangat Jeongin kenali, tidak hanya menarik atensi yang dipanggil. Hyunjin berdiri di depan pos satpam melambai-lambaikan tangannya seperti adegan di film-film, seolah menyambut kekasihnya yang sudah 10 tahun tidak bertemu.

“Papa aku dulu— apa?” Jeongin langsung mengubah ucapannya saat Bright memberikan senyuman menggoda.

“Dia bukan pacarku!”

Bright semakin tersenyum jahil, “Papa ga bilang dia pacar kamu. Ey!”

Sial, Jeongin!

Ayah—anak itu benar-benar. Beberapa saat lalu perang dingin di dalam, tapi tiba-tiba berubah di luar. Yang satu menggoda anaknya, yang satu mencibir ayahnya.

Sudah lupa kah adegan memukul dan sengaja memancing emosi yang lalu lalu?

Memang tidak habis pikir.

“PIPI BOLONGGGG!”

“SABAR! GA USAH TERIAK!”

“ITU LO JUGA TERIAKKK!”

“Anak setan!”

“GUE TAU LO NGATAIN GUE ANAK SETAN, PIPI BOLONG.”

Jeongin pun tertawa. Suatu pemandangan indah yang ditangkap Bright. Sangat berbeda dengan Jeongin yang seperti mati di dalam tadi. Kini anaknya seolah hidup, matanya bahkan tidak kosong, seakan penuh dengan warna-warna.

“Papa, aku duluan.”

Seketika lamunannya berhamburan. Bright mengangguk, senyuman di wajahnya menghilang selaras Jeongin berjalan ke arah pria yang Bright tidak sengaja lihat sudah ada dari awal dinner mereka.

Baru saja Ayah satu anak itu akan beranjak dari tempat, anaknya tiba-tiba berbalik untuk berucap.

“Papa makasih buat hadiah gundamnya, om Win bilang itu dari papa tapi nyuruh om Win bilang itu dari dia. Makasih juga buat akan malemnya, hati-hati di jalan.”

Lantas bibirnya kembali mengulas senyuman meski tidak dapat dilihat anaknya yang sudah kembali berjalan pergi. Bright seakan terpaku, dia tau pasta yang dia pesan untuk Jeongin salah, tapi anak manisnya sama sekali tidak protes dan tetap makan hingga habis. Dewasa memang bukan tentang perihal umur.

“Ah! hangatnya.”

Pun malam berangin kali ini mampu menyelimuti Bright dalam kesendirian menunggu bayangan anaknya hilang dari pandangan.

Bright mau pun Jeongin bukan orang yang mampu mengucapkan perasaan secara tepat. Keduanya punya cara untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang—

“Makasih juga udah jadi anak papa.”

—dalam diam.


Hal pertama yang Jeongin rasakan ketika duduk berdua bersama Bright sebagai papa dan anak adalah mati rasa. Dia kira akan bahagia, ternyata hati pun tidak berdegup kencang, alih-alih bahagia yang datang pertanyaan malah bermunculan dalam otaknya.

Untuk apa?

Ada apa?

Kenapa?

Aneh memang. Asing yang singgap tidak dapat berbohong. Sosok papa bagi Jeongin hanyalah figur yang hilang. Mendeskripsikannya saja tidak bisa, lantas berbahagia untuk apa?

Pun dia yang terlalu takut untuk merasa bahagia dan memilih bersama duka

Perbuatan siapa? haruskah dijawab?

Hows school?

“Biasa.” pertanyaan tiba-tiba itu hanya dibalas seadanya. Bingung ingin menjawab seperti apa.

“Win bilang dia kasih kamu uang?”

“Iya.”

“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap orangnya, Jeongin.” nada suara yang tadinya dibuat-buat lembut langsung berubah dingin seperti yang sudah-sudah.

Jika saja mereka tidak di tempat umum, jelas Jeongin akan semakin menantang. Biar luka sebagai balasan, tetap lebih baik dari pada tunduk pada orang yang menghancurkan segalanya.

“Papa mau apa?”

Tepat sasaran.

“Ya dinner buat ngerayain kamu juara umum, Jeongin.”

“Aku cuma juara umum di sekolah bukan seluruh sekolah di Indonesia.”

Bright langsung berhenti mengunyah kala mendengar ucapan Jeongin. Sedangkan si anak menatap bola mata papanya dengan banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan.

Dingin pun tidak, datar apa lagi.

Hanya kekosongan.

“Papa selalu dateng buat ngamuk dan mukulin aku kalo apa yang papa mau ga aku turutin, kali ini papa dateng dengan omongan sok baik.” sudut bibirnya terangkat untuk tertawa meremehkan diri, “Kenapa? disuruh selingkuhan papa?”

“Jeongin.” Bright mendesis tajam, selalu tidak suka jika pacarnya direndahkan.

Rasa mual diperutnya memaksa memakan Aglio Olio pesanan Bright yang katanya makanan favorit Jeongin itu sudah tergantikan dengan raut wajah papanya saat ini.

Seperti yang pernah Jeongin katakan, mereka hanya berhubungan darah, tapi tidak untuk saling mengenal.

Ada hembusan nafas sebelum Bright membuka suara tidak ramah.

“Heeseung keterima beasiswa kedokteran UI.”

Anjing

Jeongin mengulum bibirnya sebelum terkekeh hambar, anak pungut itu. Mau sampai kapan Heeseung berlagak menjadi satu-satunya korban disaat Jeongin pun sama?

Setelah keluarganya, sekarang dia mau mengambil satu-satunya tujuan hidup yang Jeongin punya? Anjing.

“Bukannya dia harusnya nerusin perusahaan papa?”

Bright menggeleng membuat Jeongin semakin mati rasa, “Dia berubah pikiran.”

“Bangsat!”

“Jeongin, jaga ucapan kamu! ada banyak orang di sini!”

“Jadi intinya dinner kali ini papa mau aku ngalah lagi kan?” pun Jeongin yang tidak dapat lagi suaranya yang bergetar.

“Kamu anak papa satu-satunya Je.”

“Kemarin papa bilang papa nyesel punya anak kayak aku? kenapa sekarang semuanya dilimpahin ke aku?”

Alih-alih meminta maaf, Bright dengan kelakuannya malah seakan mengoyak habis perasaan anaknya.

“Karena itu kewajiban kamu.”

Kewajiban apa?

Kewajiban mengalah?

Kewajiban tidak memiliki impian?

Anjing, orang gila.

Aku pindah dari IPS ke IPA nurutin mama sama papa yang mau aku jadi dokter. Aku ngebenci IPS karena aku ga bisa belajar apa yang aku mau. Tapi sekarang disaat aku udah terbiasa dengan impian kalian, aku juga yang harus bekorban?”

“Jeongin, please.”

“Lucu banget hidup gue, anjing hahaha..”

“Kamu baru mau masuk kelas 12, masih banyak waktu buat kamu belajar, tapi Heeseung udah selesai. Dia ga punya pilihan lain.”

“Dia punya pilihan buat ga nerima beasiswanya papa.”

“Jeongin! kamu ga bisa bantah keputusan papa!”

Anjing!

Ingin sekali rasanya Jeongin berteriak sekarang. Bahkan rasanya oksigen perlahan mulai menghilang.

Memang seharusnya dia tidak perlu berharap banyak hal. Mati berkali-kali di tangan keluarga harusnya mampu membuat terbiasa. Tapi sesak di dada ternyata terus saja hinggap datang.

Lantas alih-alih berdebat, Jeongin ingin cepat-cepat pulang. Makanan dengan rasa bawang yang menyengat itu dia habiskan demi prinsip yang dia pegang. Harus menghargai makanan.

Jeongin terlalu manis untuk pahitnya bumantara.

“Aku pamit pulang.”

Jeongin bahkan tidak tau kenapa rasa mualnya semakin terasa berkali-kali lipat.

“Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu mau.”

Apa lagi sekarang?

Pergerakannya seketika berhenti mendengar kalimat itu. Jelas otaknya tidak menaruh harapan di sana, lalu kenapa hatinya tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut?

“Asalkan setelah lulus, kamu kerja di perusahaan papa.”

Semuanya tetap tidak menarik. Berat sebelah pun pasti.

“Kamu bisa masuk DKV kalo kamu mau.”

“Papa serius?”

Makhluk Tuhan yang menjadi ayah nya ini terlalu tau cara mengontrol Jeongin atau Jeongin yang terlalu polos dalam hidup?

Anggukan kepala Bright membuat Jeongin tanpa sadar tersenyum. Menjadi dokter bukan keinginannya, tetapi jatuh cinta dengan kimia mengubah segalanya.

Namun DKV, itu impiannya dari lama.

“Papa bakal ngomong sama mama.” pun Bright yang ikut tersenyum melihat anaknya.

Benar-benar seperti foto-copyan. Keras kepala Jeongin menurun dari siapa jika tidak dari Bright, pun sifat denial keduanya menjelaskan semua. Alih-alih berbincang dari hati ke hati, keduanya memilih untuk memancing emosi satu sama lain.

“Ayok pulang.”

Dan kini keduanya berjalan beriringan keluar restoran setelah 5 tahun tidak pernah datang bersama. Mati rasa seolah hilang digantikan dengan harapan yang —bolehkah dia menaruh harap?

“Kamu ga bawa motor?” Bright mencari motor ducati hitam milik anaknya. “Mau papa anter?”

“Gak usah, nanti aku dijemput.” siapa juga yang mau kembali di antara ruang sempit penuh awkward seperti di dalam.

“Sama siapa?”

“Ada tem—”

“PIPI BOLOOOONGGGGGG!”

Lantas suara teriakan yang sangat Jeongin kenali, tidak hanya menarik atensi yang dipanggil. Hyunjin berdiri di depan pos satpam melambai-lambaikan tangannya seperti adegan di film-film, seolah menyambut kekasihnya yang sudah 10 tahun tidak bertemu.

“Papa aku dulu— apa?” Jeongin langsung mengubah ucapannya saat Bright memberikan senyuman menggoda.

“Dia bukan pacarku!”

Bright semakin tersenyum jahil, “Papa ga bilang dia pacar kamu. Ey!”

Sial, Jeongin!

Ayah—anak itu benar-benar. Beberapa saat lalu perang dingin di dalam, tapi tiba-tiba berubah di luar. Yang satu menggoda anaknya, yang satu mencibir ayahnya.

Sudah lupa kah adegan memukul dan sengaja memancing emosi yang lalu lalu?

Memang tidak habis pikir.

“PIPI BOLONGGGG!”

“SABAR! GA USAH TERIAK!”

“ITU LO JUGA TERIAKKK!”

“Anak setan!”

“GUE TAU LO NGATAIN GUE ANAK SETAN, PIPI BOLONG.”

Jeongin pun tertawa. Suatu pemandangan indah yang ditangkap Bright. Sangat berbeda dengan Jeongin yang seperti mati di dalam tadi. Kini anaknya seolah hidup, matanya bahkan tidak kosong, seakan penuh dengan warna-warna.

“Papa, aku duluan.”

Seketika lamunannya berhamburan. Bright mengangguk, senyuman di wajahnya menghilang selaras Jeongin berjalan ke arah pria yang Bright tidak sengaja lihat sudah ada dari awal dinner mereka.

Baru saja Ayah satu anak itu akan beranjak dari tempat, anaknya tiba-tiba berbalik untuk berucap.

“Papa makasih buat hadiah gundamnya, om Win bilang itu dari papa tapi nyuruh om Win bilang itu dari dia. Makasih juga buat akan malemnya, hati-hati di jalan.”

Lantas bibirnya kembali mengulas senyuman meski tidak dapat dilihat anaknya yang sudah kembali berjalan pergi. Bright seakan terpaku, dia tau pasta yang dia pesan untuk Jeongin salah, tapi anak manisnya sama sekali tidak protes dan tetap makan hingga habis. Dewasa memang bukan tentang perihal umur.

“Ah! hangatnya.”

Pun malam berangin kali ini mampu menyelimuti Bright dalam kesendirian menunggu bayangan anaknya hilang dari pandangan.

Bright mau pun Jeongin bukan orang yang mampu mengucapkan perasaan secara tepat. Keduanya punya cara untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang—

“Makasih juga udah jadi anak papa.”

—dalam diam.


Hal pertama yang Jeongin rasakan ketika duduk berdua bersama Bright sebagai papa dan anak adalah mati rasa. Dia kira akan bahagia, ternyata hati pun tidak berdegup kencang, alih-alih bahagia yang datang pertanyaan malah bermunculan dalam otaknya.

Untuk apa?

Ada apa?

Kenapa?

Aneh memang. Asing yang singgap tidak dapat berbohong. Sosok papa bagi Jeongin hanyalah figur yang hilang. Mendeskripsikannya saja tidak bisa, lantas berbahagia untuk apa?

Pun dia yang terlalu takut untuk merasa bahagia dan memilih bersama duka

Perbuatan siapa? haruskah dijawab?

Hows school?

“Biasa.” pertanyaan tiba-tiba itu hanya dibalas seadanya. Bingung ingin menjawab seperti apa.

“Win bilang dia kasih kamu uang?”

“Iya.”

“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap orangnya, Jeongin.” nada suara yang tadinya dibuat-buat lembut langsung berubah dingin seperti yang sudah-sudah.

Jika saja mereka tidak di tempat umum, jelas Jeongin akan semakin menantang. Biar luka sebagai balasan, tetap lebih baik dari pada tunduk pada orang yang menghancurkan segalanya.

“Papa mau apa?”

Tepat sasaran.

“Ya dinner buat ngerayain kamu juara umum, Jeongin.”

“Aku cuma juara umum di sekolah bukan seluruh sekolah di Indonesia.”

Bright langsung berhenti mengunyah kala mendengar ucapan Jeongin. Sedangkan si anak menatap bola mata papanya dengan banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan.

Dingin pun tidak, datar apa lagi.

Hanya kekosongan.

“Papa selalu dateng buat ngamuk dan mukulin aku kalo apa yang papa mau ga aku turutin, kali ini papa dateng dengan omongan sok baik.” sudut bibirnya terangkat untuk tertawa meremehkan diri, “Kenapa? disuruh selingkuhan papa?”

“Jeongin.” Bright mendesis tajam, selalu tidak suka jika pacarnya direndahkan.

Rasa mual diperutnya memaksa memakan Aglio Olio pesanan Bright yang katanya makanan favorit Jeongin itu sudah tergantikan dengan raut wajah papanya saat ini.

Seperti yang pernah Jeongin katakan, mereka hanya berhubungan darah, tapi tidak untuk saling mengenal.

Ada hembusan nafas sebelum Bright membuka suara tidak ramah.

“Heeseung keterima beasiswa kedokteran UI.”

Anjing

Jeongin mengulum bibirnya sebelum terkekeh hambar, anak pungut itu. Mau sampai kapan Heeseung berlagak menjadi satu-satunya korban disaat Jeongin pun sama?

Setelah keluarganya, sekarang dia mau mengambil satu-satunya tujuan hidup yang Jeongin punya? Anjing.

“Bukannya dia harusnya nerusin perusahaan papa?”

Bright menggeleng membuat Jeongin semakin mati rasa, “Dia berubah pikiran.”

“Bangsat!”

“Jeongin, jaga ucapan kamu! ada banyak orang di sini!”

“Jadi intinya dinner kali ini papa mau aku ngalah lagi kan?” pun Jeongin yang tau tidak dapat lagi suaranya yang bergetar.

“Kamu anak papa satu-satunya—”

“Kemarin papa bilang papa nyesel punya anak kayak aku? kenapa sekarang semuanya dilimpahin ke aku?”

Alih-alih meminta maaf, Bright dengan kelakuannya malah seakan mengoyak habis perasaan anaknya.

“Karena itu kewajiban kamu.”

Kewajiban apa?

Kewajiban mengalah?

Kewajiban tidak memiliki impian?

Anjing, orang gila.

Aku pindah dari IPS ke IPA nurutin mama sama papa yang mau aku jadi dokter. Aku ngebenci IPS karena aku ga bisa belajar apa yang aku mau. Tapi sekarang disaat aku udah terbiasa dengan impian kalian, aku juga yang harus bekorban?”

“Jeongin, please.”

“Lucu banget hidup gue, anjing hahaha..”

“Kamu baru mau masuk kelas 12, masih banyak waktu buat kamu belajar, tapi Heeseung udah selesai. Dia ga punya pilihan lain.”

“Dia punya pilihan buat ga nerima beasiswanya papa.”

“Jeongin! kamu ga bisa bantah keputusan papa!”

Anjing!

Ingin sekali rasanya Jeongin berteriak sekarang. Bahkan rasanya oksigen perlahan mulai menghilang.

Memang seharusnya dia tidak perlu berharap banyak hal. Mati berkali-kali di tangan keluarga harusnya mampu membuat terbiasa. Tapi sesak di dada ternyata terus saja hinggap datang.

Lantas alih-alih berdebat, Jeongin ingin cepat-cepat pulang. Makanan dengan rasa bawang yang menyengat itu dia habiskan demi prinsip yang dia pegang. Harus menghargai makanan.

Jeongin terlalu manis untuk pahitnya bumantara.

“Aku pamit pulang.”

Jeongin bahkan tidak tau kenapa rasa mualnya semakin terasa berkali-kali lipat.

“Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu mau.”

Apa lagi sekarang?

Pergerakannya seketika berhenti mendengar kalimat itu. Jelas otaknya tidak menaruh harapan di sana, lalu kenapa hatinya tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut?

“Asalkan setelah lulus, kamu kerja di perusahaan papa.”

Semuanya tetap tidak menarik. Berat sebelah pun pasti.

“Kamu bisa masuk DKV kalo kamu mau.”

“Papa serius?”

Makhluk Tuhan yang menjadi ayah nya ini terlalu tau cara mengontrol Jeongin atau Jeongin yang terlalu polos dalam hidup?

Anggukan kepala Bright membuat Jeongin tanpa sadar tersenyum. Menjadi dokter bukan keinginannya, tetapi jatuh cinta dengan kimia mengubah segalanya.

Namun DKV, itu impiannya dari lama.

“Papa bakal ngomong sama mama.” pun Bright yang ikut tersenyum melihat anaknya.

Benar-benar seperti foto-copyan. Keras kepala Jeongin menurun dari siapa jika tidak dari Bright, pun sifat denial keduanya menjelaskan semua. Alih-alih berbincang dari hati ke hati, keduanya memilih untuk memancing emosi satu sama lain.

“Ayok pulang.”

Dan kini keduanya berjalan beriringan keluar restoran setelah 5 tahun tidak pernah datang bersama. Mati rasa seolah hilang digantikan dengan harapan yang —bolehkah dia menaruh harap?

“Kamu ga bawa motor?” Bright mencari motor ducati hitam milik anaknya. “Mau papa anter?”

“Gak usah, nanti aku dijemput.” siapa juga yang mau kembali di antara ruang sempit penuh awkward seperti di dalam.

“Sama siapa?”

“Ada tem—”

“PIPI BOLOOOONGGGGGG!”

Lantas suara teriakan yang sangat Jeongin kenali, tidak hanya menarik atensi yang dipanggil. Hyunjin berdiri di depan pos satpam melambai-lambaikan tangannya seperti adegan di film-film, seolah menyambut kekasihnya yang sudah 10 tahun tidak bertemu.

“Papa aku dulu— apa?” Jeongin langsung mengubah ucapannya saat Bright memberikan senyuman menggoda.

“Dia bukan pacarku!”

Bright semakin tersenyum jahil, “Papa ga bilang dia pacar kamu. Ey!”

Sial, Jeongin!

Ayah—anak itu benar-benar. Beberapa saat lalu perang dingin di dalam, tapi tiba-tiba berubah di luar. Yang satu menggoda anaknya, yang satu mencibir ayahnya.

Sudah lupa kah adegan memukul dan sengaja memancing emosi yang lalu lalu?

Memang tidak habis pikir.

“PIPI BOLONGGGG!”

“SABAR! GA USAH TERIAK!”

“ITU LO JUGA TERIAKKK!”

“Anak setan!”

“GUE TAU LO NGATAIN GUE ANAK SETAN, PIPI BOLONG.”

Jeongin pun tertawa. Suatu pemandangan indah yang ditangkap Bright. Sangat berbeda dengan Jeongin yang seperti mati di dalam tadi. Kini anaknya seolah hidup, matanya bahkan tidak kosong, seakan penuh dengan warna-warna.

“Papa, aku duluan.”

Seketika lamunannya berhamburan. Bright mengangguk, senyuman di wajahnya menghilang selaras Jeongin berjalan ke arah pria yang Bright tidak sengaja lihat sudah ada dari awal dinner mereka.

Baru saja Ayah satu anak itu akan beranjak dari tempat, anaknya tiba-tiba berbalik untuk berucap.

“Papa makasih buat hadiah gundamnya, om Win bilang itu dari papa tapi nyuruh om Win bilang itu dari dia. Makasih juga buat akan malemnya, hati-hati di jalan.”

Lantas bibirnya kembali mengulas senyuman meski tidak dapat dilihat anaknya yang sudah kembali berjalan pergi. Bright seakan terpaku, dia tau pasta yang dia pesan untuk Jeongin salah, tapi anak manisnya sama sekali tidak protes dan tetap makan hingga habis. Dewasa memang bukan tentang perihal umur.

“Ah! hangatnya.”

Pun malam berangin kali ini mampu menyelimuti Bright dalam kesendirian menunggu bayangan anaknya hilang dari pandangan.

Bright mau pun Jeongin bukan orang yang mampu mengucapkan perasaan secara tepat. Keduanya punya cara untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang—

“Makasih juga udah jadi anak papa.”

—dalam diam.


Hal pertama yang Jeongin rasakan ketika duduk berdua bersama Bright sebagai papa dan anak adalah mati rasa. Dia kira akan bahagia, ternyata hati pun tidak berdegup kencang, alih-alih bahagia yang datang pertanyaan malah bermunculan dalam otaknya.

Untuk apa?

Ada apa?

Kenapa?

Aneh memang. Asing yang singgap tidak dapat berbohong. Sosok papa bagi Jeongin hanyalah figur yang hilang. Mendeskripsikannya saja tidak bisa, lantas berbahagia untuk apa?

Pun dia yang terlalu takut untuk merasa bahagia dan memilih bersama duka

Perbuatan siapa? haruskah dijawab?

Hows school?

“Biasa.” pertanyaan tiba-tiba itu hanya dibalas seadanya. Bingung ingin menjawab seperti apa.

“Win bilang dia kasih kamu uang?”

“Iya.”

“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap orangnya, Jeongin.” nada suara yang tadinya dibuat-buat lembut langsung berubah dingin seperti yang sudah-sudah.

Jika saja mereka tidak di tempat umum, jelas Jeongin akan semakin menantang. Biar luka sebagai balasan, tetap lebih baik dari pada tunduk pada orang yang menghancurkan segalanya.

“Papa mau apa?”

Tepat sasaran.

“Ya dinner buat ngerayain kamu juara umum, Jeongin.”

“Aku cuma juara umum di sekolah bukan seluruh sekolah di Indonesia.”

Bright langsung berhenti mengunyah kala mendengar ucapan Jeongin. Sedangkan si anak menatap bola mata papanya dengan banyak emosi yang tidak dapat dijelaskan.

Dingin pun tidak, datar apa lagi.

Hanya kekosongan.

“Papa selalu dateng buat ngamuk dan mukulin aku kalo apa yang papa mau ga aku turutin, kali ini papa dateng dengan omongan sok baik.” sudut bibirnya terangkat untuk tertawa meremehkan diri, “Kenapa? disuruh selingkuhan papa?”

“Jeongin.” Bright mendesis tajam, selalu tidak suka jika pacarnya direndahkan.

Rasa mual diperutnya memaksa memakan Aglio Olio pesanan Bright yang katanya makanan favorit Jeongin sudah tergantikan dengan raut wajah papa nya saat ini.

Seperti yang pernah Jeongin katakan, mereka hanya berhubungan darah, tapi tidak untuk saling mengenal.

Ada hembusan nafas mengalar dari Bright sebelum dia membuka suara tidak ramah.

“Heeseung keterima beasiswa kedokteran UI.”

Anjing

Jeongin mengulum bibirnya sebelum terkekeh hambar, anak pungut itu. Mau sampai kapan Heeseung berlagak menjadi satu-satunya korban disaat Jeongin pun sama?

Setelah keluarganya, sekarang dia mau mengambil satu-satunya tujuan hidup yang Jeongin punya? Anjing.

“Bukannya dia harusnya nerusin perusahaan papa?”

Bright menggeleng membuat Jeongin semakin mati rasa, “Dia berubah pikiran.”

“Bangsat!”

“Jeongin, jaga ucapan kamu! ada banyak orang di sini!”

“Jadi intinya dinner kali ini papa mau aku ngalah lagi kan?” pun Jeongin yang tau tidak dapat lagi suaranya yang bergetar.

“Kamu anak papa satu-satunya—”

“Kemarin papa bilang papa nyesel punya anak kayak aku? kenapa sekarang semuanya dilimpahin ke aku?”

Alih-alih meminta maaf, Bright dengan kelakuannya malah seakan mengoyak habis perasaan anaknya.

“Karena itu kewajiban kamu.”

Kewajiban apa?

Kewajiban mengalah?

Kewajiban tidak memiliki impian?

Anjing, orang gila.

Aku pindah dari IPS ke IPA nurutin mama sama papa yang mau aku jadi dokter. Aku ngebenci IPS karena aku ga bisa belajar apa yang aku mau. Tapi sekarang disaat aku udah terbiasa dengan impian kalian, aku juga yang harus bekorban?”

“Jeongin, please.”

“Lucu banget hidup gue, anjing hahaha..”

“Kamu baru mau masuk kelas 12, masih banyak waktu buat kamu belajar, tapi Heeseung udah selesai. Dia ga punya pilihan lain.”

“Dia punya pilihan buat ga nerima beasiswanya papa.”

“Jeongin! kamu ga bisa bantah keputusan papa!”

Anjing!

Ingin sekali rasanya Jeongin berteriak sekarang. Bahkan rasanya oksigen perlahan mulai menghilang.

Memang seharusnya dia tidak perlu berharap banyak hal. Mati berkali-kali di tangan keluarga harusnya mampu membuat terbiasa. Tapi sesak di dada ternyata terus saja hinggap datang.

Lantas alih-alih berdebat, Jeongin ingin cepat-cepat pulang. Makanan dengan rasa bawang yang menyengat itu dia habiskan demi prinsip yang dia pegang. Harus menghargai makanan.

Jeongin terlalu manis untuk pahitnya bumantara.

“Aku pamit pulang.”

Jeongin bahkan tidak tau kenapa rasa mualnya semakin terasa berkali-kali lipat.

“Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu mau.”

Apa lagi sekarang?

Pergerakannya seketika berhenti mendengar kalimat itu. Jelas otaknya tidak menaruh harapan di sana, lalu kenapa hatinya tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut?

“Asalkan setelah lulus, kamu kerja di perusahaan papa.”

Semuanya tetap tidak menarik. Berat sebelah pun pasti.

“Kamu bisa masuk DKV kalo kamu mau.”

“Papa serius?”

Makhluk Tuhan yang menjadi ayah nya ini terlalu tau cara mengontrol Jeongin atau Jeongin yang terlalu polos dalam hidup?

Anggukan kepala Bright membuat Jeongin tanpa sadar tersenyum. Menjadi dokter bukan keinginannya, tetapi jatuh cinta dengan kimia mengubah segalanya.

Namun DKV, itu impiannya dari lama.

“Papa bakal ngomong sama mama.” pun Bright yang ikut tersenyum melihat anaknya.

Benar-benar seperti foto-copyan. Keras kepala Jeongin menurun dari siapa jika tidak dari Bright, pun sifat denial keduanya menjelaskan semua. Alih-alih berbincang dari hati ke hati, keduanya memilih untuk memancing emosi satu sama lain.

“Ayok pulang.”

Dan kini keduanya berjalan beriringan keluar restoran setelah 5 tahun tidak pernah datang bersama. Mati rasa seolah hilang digantikan dengan harapan yang —bolehkah dia menaruh harap?

“Kamu ga bawa motor?” Bright mencari motor ducati hitam milik anaknya. “Mau papa anter?”

“Gak usah, nanti aku dijemput.” siapa juga yang mau kembali di antara ruang sempit penuh awkward seperti di dalam.

“Sama siapa?”

“Ada tem—”

“PIPI BOLOOOONGGGGGG!”

Lantas suara teriakan yang sangat Jeongin kenali, tidak hanya menarik atensi yang dipanggil. Hyunjin berdiri di depan pos satpam melambai-lambaikan tangannya seperti adegan di film-film, seolah menyambut kekasihnya yang sudah 10 tahun tidak bertemu.

“Papa aku dulu— apa?” Jeongin langsung mengubah ucapannya saat Bright memberikan senyuman menggoda.

“Dia bukan pacarku!”

Bright semakin tersenyum jahil, “Papa ga bilang dia pacar kamu. Ey!”

Sial, Jeongin!

Ayah—anak itu benar-benar. Beberapa saat lalu perang dingin di dalam, tapi tiba-tiba berubah di luar. Yang satu menggoda anaknya, yang satu mencibir ayahnya.

Sudah lupa kah adegan memukul dan sengaja memancing emosi yang lalu lalu?

Memang tidak habis pikir.

“PIPI BOLONGGGG!”

“SABAR! GA USAH TERIAK!”

“ITU LO JUGA TERIAKKK!”

“Anak setan!”

“GUE TAU LO NGATAIN GUE ANAK SETAN, PIPI BOLONG.”

Jeongin pun tertawa. Suatu pemandangan indah yang ditangkap Bright. Sangat berbeda dengan Jeongin yang seperti mati di dalam tadi. Kini anaknya seolah hidup, matanya bahkan tidak kosong, seakan penuh dengan warna-warna.

“Papa, aku duluan.”

Seketika lamunannya berhamburan. Bright mengangguk, senyuman di wajahnya menghilang selaras Jeongin berjalan ke arah pria yang Bright tidak sengaja lihat sudah ada dari awal dinner mereka.

Baru saja Ayah satu anak itu akan beranjak dari tempat, anaknya tiba-tiba berbalik untuk berucap.

“Papa makasih buat hadiah gundamnya, om Win bilang itu dari papa tapi nyuruh om Win bilang itu dari dia. Makasih juga buat akan malemnya, hati-hati di jalan.”

Lantas bibirnya kembali mengulas senyuman meski tidak dapat dilihat anaknya yang sudah kembali berjalan pergi. Bright seakan terpaku, dia tau pasta yang dia pesan untuk Jeongin salah, tapi anak manisnya sama sekali tidak protes dan tetap makan hingga habis. Dewasa memang bukan tentang perihal umur.

“Ah! hangatnya.”

Pun malam berangin kali ini mampu menyelimuti Bright dalam kesendirian menunggu bayangan anaknya hilang dari pandangan.

Bright mau pun Jeongin bukan orang yang mampu mengucapkan perasaan secara tepat. Keduanya punya cara untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang—

“Makasih juga udah jadi anak papa.”

—dalam diam.



“Noh ambil titipan lo, sini pop es gue.”

Bukannya tersinggung kantong hijau bekas belanjaannya di JM beberapa waktu lalu di lempar Kapten kala kakinya berpijak di hadapan pria pemilik lesung pipi manis itu, Panglima malah terkekeh seperti biasa.

“Aduh aduh, Pipi bolong gue ngambek, harus disogok gimana nih biar ga nyapnyap lagi?”

“Anak setan!”

Hyunjin mendekat ke arah Kapten yang berdiri di depan pintu kelas IPA 2 tanpa peduli jika di dalam akan ada antek-antek orion. Untungnya siang itu kelas kosong, mungkin berada di lapangan menonton pertandingan futsal yang masih berjalan.

“Gara-gara lo ga ada gue lancang di rumah lo anjing. Ditelpon ga bisa, bikin panik tau ga lo babi?”

Lagi-lagi sang dominan tertawa kecil, meraih tangan pujaan hati sekaligus musuhnya untuk ia gandeng. “Wah ini mah kemajuannya udah menembus angkasa purnama lepas, bisa-bisanya Panglima dikhawitirin Kapten Orion, keren abis.”

“Bangsat! Pointnya ga ke sana anjing.”

“Haha.. iya iyaaa maaf Pipi bolong. Gue ga bohong kok serius, bener-bener bangun terus ke sini.” dia bawa Kapten untuk duduk di salah satu bangku yang ada di koridor lantai 3 milik kawasan Orion. “Sekali lagi maaf Panglima bikin Kapten panik.”

Bagaimana bisa Hyunjin? Bagaimana bisa suara itu terdengar halus dan lembut hingga mampu menghangatkan hati dingin pujaanmu itu?

“Lo tau, semenjak bonyok gue punya kehidupan yang baru, gue kebiasa sendiri.”

Mata mereka bertemu, seluruh pusat bumi seakan Panglima berikan pada Kapten yang kini menatapnya biasa.

Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada tatapan meremehkan. Hanya ada tatapan biasa, selayaknya manusia.

selayaknya —teman.

“Tapi semenjak ada lo, gue ga pernah ngerasa sendiri lagi anak setan.” akal sehatnya menghilang entah kemana. “Gue mulai kebiasa dengan eksistensi lo di hidup gue.”

Hyunjin tersenyum seraya menarik Jeongin untuk masuk dalam dekapannya. “Karena lo manusia Pipi bolong. Di dunia ini kita ga bisa hidup sendiri, walaupun dunia maksa kita buat mandiri, diri kita ga bisa bohong kalau kita butuh seenggaknya satu orang untuk jadi sandaran kita. Untuk kita berbagi cerita tentang hari kita. Untuk kita bisa berbagi semua kebahagiaan, kesedihan, atau apapun itu.”

Mendengar tidak ada jawaban, Hyunjin semakin tersenyum lebar, artinya tidak ada penolakan dari Kapten yang gengsinya setinggi langit.

“Dan jatah hoki gue sebagai manusia seumur hidup udah berkurang satu.”

“Masa?”

Panglima mengangguk mantap sembari menangkup kedua pipi gembil sang pujaan. “Ga ada yang lebih hoki dari eksistensi gue jadi salah satu hal yang lo anggap ada Kapten.”

“Lo ga ngerasa keberatan kalo kedepannya nanti gue repotin?”

“Kenapa harus keberatan? yang namanya cinta ga bakal ngerasa direpotin sama cintanya Pipi bolong. Cinta itu harus tulus. Tulus berjuang. Tulus buat selalu ada. Tulus buat setia.”

“Tulus mah penyanyi.”

“Mulai.” dari menangkup tangan itu berubah mencubit pipi gembil Kapten gemas. “Resenya mulai.”

Kali ini Jeongin yang tertawa setelah menyingkirkan tangan Panglima dan menghadiahinya satu jitakan karena sudah berani mencubit pipinya.

“Cara lo main sama musuh gini ya anak setan.”

“Kok main sih? gue beneran cinta sama lo pipi bolong.”

“Ga percaya gue.”

“Gue harus buktiin gimana lagi anjiiing?” nada suaranya terlihat sangat frustasi, ditambah dengan raut wajah Kapten yang memancing kekesalan semakin membuat Panglima kesal. “Tau dah ah.”

“Yah ngambek.”

Panglima tidak menjawab, sengaja ceritanya.

“Anak setan.”

Masih hening.

“Anak setaaannn.” sang pemilik Orion mulai merengek tanpa sadar, tangannya mengayun-ngayun lengan Panglima agar atensinya kembali.

“Ah elu anjing!”

“Yah, malah lo yang ngambek.”

“Habisnya lo anjing, gue cuma bercanda babi.” dumel Kapten dengan bibirnya yang maju. Ciri khas yang dirinya sendiri tidak ketahui.

“Haha.. yaudah impas yaaa.”

“Anjing.”

Telunjuk Panglima sengaja menjawil mulut Kapten. “Coba ngomong kotornya dikurang-kurangin.”

“Dih ngatur.”

Tingkahnya memang menyebalkan, tapi siapa Hyunjin yang bisa marah kala Kapten kembali masuk ke dalam dekapannya?

Sial, gemes banget.

“Oh ya! gue hampir lupa!”

“Kenapa?”

“Bentar, lo tunggu di sini.”

“Ada apa pipi? lo jangan bikin gue panik dah.”

“Alah bacot, udah mantep-mantep aja, jangan berisik nanti di denger orang anjing.”

Lantas Hyunjin kembali duduk dengan mata yang mengikuti arah Kapten yang masuk ke dalam kelas. Entah apa yang pria itu lupakan lagi.

Tidak berselang lama, si pemilik pipi bolong sudah keluar dengan menenteng kotak bekal tupperware.

“Nih.” belum sempat bibir Hyunjin terbuka, jeongin kembali berujar. “Ga usah banyak tanya, intinya itu buat lo. Maap minjem dapur ga bilang-bilang.”

Mata Panglima membola kaget. Menatap Kapten dengan wajah berbinar dan senyuman lebar yang manis. Seakan kosa kata diingatannya hilang sampai dia butuh waktu untuk berucap pada sang pujaan hati.

“Lo masak? buat gue? Pipi bolong?”

“Dibilang jangan banyak tanya anjing.”

“Ah.. Pipi bolong..” lengannya dengan sigap menarik Jeongin untuk dia peluk. Sungguh, rasanya Hyunjin seperti sedang terbang di langit bebas. Mungkin jika ini bukan di sekolah, dia sudah berteriak sampai seluruh orang menatapnya menyebalkan.

“Liat dulu anjing.”

“Wah.. nasi goreng! Pipi bolong, makasih banyak..”

“Apa sih? lebay, cuma nasi goreng.”

“Apanya yang cuma? bikin nasi goreng juga butuh effort Pipi bolong, makasih ya udah luangin waktu dan tenaga lo buat bikinin gue makan siang.”

Ini.

Ini yang bikin hati Jeongin selalu hangat jika berada di dekat Panglima.

Pria itu seakan memiliki semua cara untuk membuat Kapten berbunga-bunga. Sesederhana ucapan terimakasih atas jerih payah yang tidak seberapa itu. Ucapan yang tidak mungkin dia dapat dari keluarganya secara cuma-cuma dia dapat dari musuhnya sendiri.

“Mungkin rasanya ga seenak yang dijual abang-abang.”

“Ehm?!” Hyunjin protes melalui matanya. Mulutnya penuh dengan nasi goreng yang kalau bisa dia akan pajang di museum agar semua orang tau Kapten mulai luluh.

“Ini lebih enak dari nasgor yang sering gue beli di tempat pak Amin!”

Bagus deh kalo lo suka

“Gue suka kok?”

“Eh?”

Sekali lagi satu cubitan Panglima berikan di pipi Kapten. “Lo ga ngomong di dalem hati, Pipi bolong.”

“Anjing!”

Hyunjin hanya tertawa sembari menikmati nasi goreng ternikmat selain buatan mamanya.

“Lo sering masak?”

“Ini pertama kalinya.”

“Ahh.. gue semakin merasa special Pipi bolooong.”

“Najis, anggep aja utang budi dari gue.”

“Utang budi apanya orang bahan dari rumah gue, gas dari rumah gue, tupperware nyokap gue gini.”

“Halah anak setan!”

“Bercanda Atlantis sayang.” tangannya yang bebas mengusap rambut Kapten, mengapresiasi usahanya. “Gue boleh cium lo ga Pipi bolong?”

“Anjing!”

“Mumpung ga ada orang.”

“Gue tonjokin bibir lo ke dinding liat aja lo bangsat!”

Setelahnya tidak ada percakapan selain tawa Panglima yang memenuhi koridor IPA dan Kapten yang diam-diam mencuri senyuman.

“Makanya punya dompet taro di kantong, masih muda aja udah sering lupa lo.”

Lantas ruang sempit yang sunyi dari hiruk pikuk dunia seakan dihantam petir. Baik Kapten ataupun Panglima saling pandang kala mendengar suara tidak asing yang berjalan mendekat.

“Anjing! itu suara Jaemin!” ujar Kapten berbisik panik. Buru-buru ia menutup bekal Panglima yang masih disantap.

“Gimana dong?”

“Kabur anjing!”

Ya gimana?! mereka dari arah tangga.”

Kapten terlihat gelisah, wajahnya seakan memutar otak keras. Jujur jika tidak dalam situasi segenting ini mungkin pipinya sudah habis dicubiti Panglima gemas.

“Loncat loncat.”

“Lo mau bunuh gue?! ini lantai 3 pipi!”

Ya terus gimana dong?!”

Panglima pun bergerak kesana kemari mencari tempat persembunyian yang dapat menampung tubuhnya. Mereka semakin panik kala suara langkah kaki sudah sangat dekat. Maka tidak ada cara lain...

“Lo yakin?”

“Semoga gue ga mati, kalo sampe gue mati gue gentayangin lo seumur hidup.”

Anak anjing!”

Pergerakannya secepat Kapten menahan napas. Seperkian detik dia masih terpaku di ujung balkon samping.

“Kapten?”

“Hah?! oh, kenapa min?”

“Ngapain? ga turun liat Nanon tanding?”

“Oh enggak abis narok tas haha.. duluan aja nanti gue nyusul.”

Raut bertanya-tanya terpampang jelas di wajah Jaemin dan Renjun. Mungkin gengsi sehingga mereka tida bertanya lebih lanjut dan memilih masuk ke dalam kelasnya.

Lantas setelah memastikan situasi kembali aman, Jeongin dengan cepat memeriksa Hyunjin yang melompat ke atap bangunan yang belum selesai tadi. Namun nihil, musuhnya tidak ada!

Anjing!

“Pstt psttt..”

Jeongin segera bergerak mengikuti suara kecil itu. Panglima dengan senyum bangga sudah mendarat entah bagaimana. Dirinya berdiri di belakang kelas dengan Klepon yang memandang kesal ke arah anak osis itu.

“Keren ga?”

Dasar haus validasi. Anggukan kecil Jeongin menjadi jawaban dengan tawanya yang tercetak jelas.

“Gue cabut ya?”

Dan Jeongin kembali mengangguk. Tanpa sadar mengangkat tangannya untuk melambai pada Panglima yang juga tersenyum lebar. Mengangkat kotak tupperware seraya berucap makasih tanpa suara sebelum akhirnya hilang dari pandangan Jeongin setelah ditarik paksa oleh Klepon.

Panglima; Terimakasih sudah hadir diantara miliaran manusia di muka bumi ini.

Terimakasih, suda memilih menetap pada Atlantis yang jiwanya engkau dekap di bawah Segara.

“Sorai siang hari ini punya lo, Hyunjin.”

Terimakasih sudah menjadi nyata.