bhluewry


“Noh ambil titipan lo, sini pop es gue.”

Bukannya tersinggung kantong hijau bekas belanjaannya di JM beberapa waktu lalu di lempar Kapten kala kakinya berpijak di hadapan pria pemilik lesung pipi manis itu, Panglima malah tersenyum bersamaan tawa kecilnya seperti biasa.

“Aduh aduh, Pipi bolong gue ngambek, harus disogok gimana lagi nih biar ga nyapnyap lagi?”

“Anak setan!”


Sudah terhitung 15 menit Jeongin berdiri di depan rumah putih dua tingkat milik Panglima. Dia masih duduk di jok motor, berharap angin malam dapat membawa tubuhnya mendayung jauh.

Tawa remeh keluar kala tidak sengaja ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu. Bayangan dirinya yang akan membuat onar putus dalam satu kejadian yang masih terekam jelas.

Basah.

Jika mengingat semua itu rasanya Jeongin ingin kembali menghisap nikotin alih-alih berjalan masuk ke dalam setelah mengambil kunci cadangan yang pernah Hyunjin beri tau. Benar, rumah putih ini sudah seperti miliknya sendiri.

“Gue masih sayang lo, Jeongin.”

Kepalanya rasa berputar. Bumantara seolah tidak berpijak. Dia bukan orang lemah, jelas. Semua orang tau siapa Kapten Orion. Pemimpin tawuran sampai tidak ada yang berani padanya, kecuali Panglima dan Kapten Elang. Maka dengan rasa sesak yang luar biasa, dia tarik pundaknya untuk tetap tegap seperti semula.

“Status kita ga bakal jadi penghalang, Je. Gue bakal ngelupain kecelakaan hari itu, gue janji.”

Setelah satu tarikan nafas panjang dan usapan kasar pada wajah, Kapten memberanikan diri membuka pintu kayu dengan pelan. Lantas saat bau ruangan yang selalu tidak pernah gagal membuatnya nyaman, Kapten dibuat luluh lantah.

Seonggok tubuh berbaring dengan mata terpejam di atas kasur yang cukup untuk keduanya berbarik. Kapten berjalan mendekat, tanpa peduli akan mengganggu sang tuan pemilik lantas ia merangkak untuk berbaring di ranjang samping Panglima yang masih kosong.

“Gue ga bisa liat lo sama orang lain, Jeongin.”

Mulai senin Heeseung bisa tinggal di rumah kamu, biar dia bisa ngawasin kamu yang sering kelayapan.”

Perlahan mata tajam yang selalu menatapnya hangat sekaligus menerima terbuka. Idrak itu mengikat, keduanya seakan mengarungi semesta hanya dari pasang mata yang bersitatap.

“Hi?”

Itu Panglima yang membuka suara. Menyambut Kapten dengan senyum manis di bibirnya. Yang di sapa masih terdiam, kelu rasanya untuk berbicara.

Detik jarum jam mengisi keheningan di antara mereka. Jeongin dengan perasaan berantakannya yang luar biasa, dan Hyunjin yang berusaha memahami segalanya dari mata terkasihnya.

Dingin dari tubuhnya luar biasa mati. Panglima bergerak mendekat, menarik Kapten untuk bersandar pada dadanya dan berbantal lengan yang halusnya tidak seberapa.

“Tadi gue keluar nongkrong sebentar sama anak Warior, perasaan gue aman karena sebelum lo pergi udah janji bakal ga terjadi apa-apa, tapi lagi-lagi gini.”

“Gapapa, gue di sini.”

Dan miliknya semakin merengkuh tubuh dingin Kapten. Mengusapnya lembut kala kaos hitam yang digunakan Panglima terasa basah yang diiringi getaran kecil dan isakan tertahan.

Kapten berantakan. Dari awal.

Dari awal dia berdiri dalam kemunafikan.

“Tadi makan ga?”

Anggukan kecil menjadi jawaban.

“Masih mau makan lagi?”

Kali ini Kapten menggeleng. Entah kenapa membuat Panglima terkekeh geli karena lucu. Hah— memang semua yang dilakukan Kapten terasa lucu di mata Panglima.

Dia melingkarkan tangannya pada pinggang Panglima. Mengusel-ngusel dada yang lebih dominan mencari tempat yang lebih nyaman untuk bersandar. Jika sudah begini, Hyunjin tau kenapa. Ritual menggemaskan Kapten sebelum tidur.

“Bokap lo main tangan lagi ga?”

”..ga..”

“Terus Pipi bolong gue kenapa, hm?”

Butuh beberapa saat untuk kepala sang Kapten menyembul keluar dari dekapan. Jejak air mata bisa diliat Panglima yang segera menghapusnya hati-hati. Kapten menatapnya kosong, bak anak anjing yang ditinggal induknya di pinggir lorong sepi.

Semua perlakuannya untuk Kapten sudah terlampau lembut dan hangat, lalu siapa yang berani menyakiti sang pemilik hati lagi?”

“Everything was fine, mungkin masalahnya ada di gue yang ga ngerti sama perasaan orang dewasa. Tapi kenapa orang dewasa juga ga ngerti perasaan gue? mereka lebih tua dari gue, harusnya mereka lebih ngerti kan?”

“Panglima gue ga suka. Gue benci diri gue yang ga bisa nerima diri gue sendiri. Setiap gue ngeliat papa, gue benci dia. Setiap gue liat om Win, gue semakin benci sama keadaan. Gue benci.”

“Ga semua hal perlu lo ngertiin, Kapten.”

“Tapi semua orang nuntut gue buat ngerti. Gue ini cuma anak-anak yang kehilangan orang tua, liat, di saat gue punya masalah tadi gue masih mikir buat manggil papa. Lucu kan? disaat dia yang gebukin gue, tapi gue masih berharap sama figur seorang ayah yang ngelindungin anaknya.”

“Pipi bolong.”

“Di sini, sakitnya di sini.”

Sebab Jeongin masih tidak menerima keadaan 3 tahun yang lalu. Memangnya siapa juga yang bisa menerima semua itu? kala setiap malam mamanya menangis histeris mencari sosok papa yang telah menemukan rumah baru.

Sampai akhirnya semua menyerah, mama memilih pergi dan mencari pelabuhan terakhirnya. Lantas saat satu harapan diberikan pada satu sosok, keadaan mengambilnya dari dia. Cinta itu berubah menjadi rasa mati saat kakeknya meninggal dengan orang tua cinta pertamanya dalam kecelakaan hebat malam itu. Menyisakan papa nya dan Heeseung yang selamat dari malam panjang yang meruntuhkan banyak gerhana.

“Gue lebih baik dipukulin pas tawuran daripada gini.”

“Ga boleh gitu, ga ada yang baik.”

“I'm fucking tired of this shit.”

Jeongin bergerak lebih maju sampai kedua bibir mereka bertemu.

He kissed me, Panglima.

Hanya kecupan seperti biasa, dengan air mata yang lolos melewatinya menjadi pembeda.

He tried to rape me.

Cengkramannya, matanya, gerakannya, sentuhannya, tidak bisa dilupakan.

“Jangan nangis lagi, Kapten gue ga suka liat lo nangis. Gue mau bibir ini penuh senyum.”

“Jangan pergi, gue ga punya rumah lagi.”

“Gue ga bakal kemana-mana. Lo ga perlu jelasin apa-apa, mau lo kayak gimana gue tetep sayang sama lo.”

But, i'm scared. I'm just too tired to everything.

“Udah gue bilang lo ga perlu bales perasaan gue, cukup terima dan jangan minta gue pergi.”

“Dah, sekarang jangan nangis, lupain cerita hari ini. Besok kita makan kwetiau bareng, atau lo mau jajan apapun bilang aja biar lo ga sedih lagi.”

Dan Kapten kembali masuk ke dalam pelukan Panglima. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang musuhnya.

”..ga mau apa-apa, mau sama lo aja...”

“Engg ututuuu gemesnya doi Panglima.”

“Anak setan!”

Tentu saja Kapten. Yang dalam keadaan apapun tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengumpati musuhnya itu.

Tawa Hyunjin mengalun membuat Kapten tersenyum tanpa Panglima tau. Satu kecupan hangat Panglima berikan di kening Kapten yang lekat dengan asap rokok tebal. Entah berapa banyak batang yang Kapten habiskan.

“Good night, Panglima.”

“Good night, Kapten, malem ini ga bakal ada mimpi buruk soalnya monsternya udah gue makan.”

Beberapa saat kemudian hening kembali melanda, menyisakan Panglima yang terdiam dalam lamunan yang tajam. Nafas teratur Kapten menjadi pertanda sudah berapa jauh Kapten mengarungi alam mimpi. Maka dengan perlahan dia menggeser tubuhnya, bertumpu pada satu tangan untuk menatap wajah damai sang pemilik hati.

Sedangkan tangan lain menyingkirkan rambut di paras rupawan Kapten agar tidak mengganggu tidurnya.

Kapten, i love you for the sun and the moon.

Kembali dia mencuri satu kecupan di bibir Kapten sebelum akhirnya beranjak mengambil jaket dan keluar.

Malam ini akan menjadi malam panjang. Tentunya.

Sudah Panglima jelaskan, berani menyakiti Kapten, mereka berurusan dengannya.

Maka siapa lebih dulu yang akan menjadi targetnya malam ini?


Atlantis, tenggelamlah, lautan akan memberikan tempat paling nyaman untukmu bersandar.


Sudah terhitung 15 menit Jeongin berdiri di depan rumah putih dua tingkat milik Panglima. Dia masih duduk di jok motor, berharap angin malam dapat membawa tubuhnya mendayung jauh.

Tawa remeh keluar kala tidak sengaja ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu. Bayangan dirinya yang akan membuat onar putus dalam satu kejadian yang masih terekam jelas.

Basah.

Jika mengingat semua itu rasanya Jeongin ingin kembali menghisap nikotin alih-alih berjalan masuk ke dalam setelah mengambil kunci cadangan yang pernah Hyunjin beri tau. Benar, rumah putih ini sudah seperti miliknya sendiri.

“Gue masih sayang lo, Jeongin.”

Kepalanya rasa berputar. Bumantara seolah tidak berpijak. Dia bukan orang lemah, jelas. Semua orang tau siapa Kapten Orion. Pemimpin tawuran sampai tidak ada yang berani padanya, kecuali Panglima dan Kapten Elang. Maka dengan rasa sesak yang luar biasa, dia tarik pundaknya untuk tetap tegap seperti semula.

“Status kita ga bakal jadi penghalang, Je. Gue bakal ngelupain kecelakaan hari itu, gue janji.”

Setelah satu tarikan nafas panjang dan usapan kasar pada wajah, Kapten memberanikan diri membuka pintu kayu dengan pelan. Lantas saat bau ruangan yang selalu tidak pernah gagal membuatnya nyaman, Kapten dibuat luluh lantah.

Seonggok tubuh berbaring dengan mata terpejam di atas kasur yang cukup untuk keduanya berbarik. Kapten berjalan mendekat, tanpa peduli akan mengganggu sang tuan pemilik lantas ia merangkak untuk berbaring di ranjang samping Panglima yang masih kosong.

“Gue ga bisa liat lo sama orang lain, Jeongin.”

Mulai senin kakak bisa tinggal di rumah kamu, biar dia bisa ngawasin adeknya ga terus-terusan kelayapan.”

Perlahan mata tajam yang selalu menatapnya hangat sekaligus menerima terbuka. Idrak itu mengikat, keduanya seakan mengarungi semesta hanya dari pasang mata yang bersitatap.

“Hi?”

Itu Panglima yang membuka suara. Menyambut Kapten dengan senyum manis di bibirnya. Yang di sapa masih terdiam, kelu rasanya untuk berbicara.

Detik jarum jam mengisi keheningan di antara mereka. Jeongin dengan perasaan berantakannya yang luar biasa, dan Hyunjin yang berusaha memahami segalanya dari mata terkasihnya.

Dingin dari tubuhnya luar biasa mati. Panglima bergerak mendekat, menarik Kapten untuk bersandar pada dadanya dan berbantal lengan yang halusnya tidak seberapa.

“Tadi gue keluar nongkrong sebentar sama anak Warior, perasaan gue aman karena sebelum lo pergi udah janji bakal ga terjadi apa-apa, tapi lagi-lagi gini.”

“Gapapa, gue di sini.”

Dan miliknya semakin merengkuh tubuh dingin Kapten. Mengusapnya lembut kala kaos hitam yang digunakan Panglima terasa basah yang diiringi getaran kecil dan isakan tertahan.

Kapten berantakan. Dari awal.

Dari awal dia berdiri dalam kemunafikan.

“Tadi makan ga?”

Anggukan kecil menjadi jawaban.

“Masih mau makan lagi?”

Kali ini Kapten menggeleng. Entah kenapa membuat Panglima terkekeh geli karena lucu. Hah— memang semua yang dilakukan Kapten terasa lucu di mata Panglima.

Dia melingkarkan tangannya pada pinggang Panglima. Mengusel-ngusel dada yang lebih dominan mencari tempat yang lebih nyaman untuk bersandar. Jika sudah begini, Hyunjin tau kenapa. Ritual menggemaskan Kapten sebelum tidur.

“Bokap lo main tangan lagi ga?”

”..ga..”

“Terus Pipi bolong gue kenapa, hm?”

Butuh beberapa saat untuk kepala sang Kapten menyembul keluar dari dekapan. Jejak air mata bisa diliat Panglima yang segera menghapusnya hati-hati. Kapten menatapnya kosong, bak anak anjing yang ditinggal induknya di pinggir lorong sepi.

Semua perlakuannya untuk Kapten sudah terlampau lembut dan hangat, lalu siapa yang berani menyakiti sang pemilik hati lagi?”

“Everything was fine, mungkin masalahnya ada di gue yang ga ngerti sama perasaan orang dewasa. Tapi kenapa orang dewasa juga ga ngerti perasaan gue? mereka lebih tua dari gue, harusnya mereka lebih ngerti kan?”

“Panglima gue ga suka. Gue benci diri gue yang ga bisa nerima diri gue sendiri. Setiap gue ngeliat papa, gue benci dia. Setiap gue liat om Win, gue semakin benci sama keadaan. Gue benci.”

“Ga semua hal perlu lo ngertiin, Kapten.”

“Tapi semua orang nuntut gue buat ngerti. Gue ini cuma anak-anak yang kehilangan orang tua, liat, di saat gue punya masalah tadi gue masih mikir buat manggil papa. Lucu kan? disaat dia yang gebukin gue, tapi gue masih berharap sama figur seorang ayah yang ngelindungin anaknya.”

“Pipi bolong.”

“Di sini, sakitnya di sini.”

Sebab Jeongin masih tidak menerima keadaan 3 tahun yang lalu. Memangnya siapa juga yang bisa menerima semua itu? kala setiap malam mamanya menangis histeris mencari sosok papa yang telah menemukan rumah baru.

Sampai akhirnya semua menyerah, mama memilih pergi dan mencari pelabuhan terakhirnya. Lantas saat satu harapan diberikan pada satu sosok, keadaan mengambilnya dari dia. Cinta itu berubah menjadi rasa mati saat kakeknya meninggal dengan orang tua cinta pertamanya dalam kecelakaan hebat malam itu. Menyisakan papa nya dan Heeseung yang selamat dari malam panjang yang meruntuhkan banyak gerhana.

“Gue lebih baik dipukulin pas tawuran daripada gini.”

“Ga boleh gitu, ga ada yang baik.”

“I'm fucking tired of this shit.”

Jeongin bergerak lebih maju sampai kedua bibir mereka bertemu.

He kissed me, Panglima.

Hanya kecupan seperti biasa, dengan air mata yang lolos melewatinya menjadi pembeda.

He tried to rape me.

Cengkramannya, matanya, gerakannya, sentuhannya, tidak bisa dilupakan.

“Jangan nangis lagi, Kapten gue ga suka liat lo nangis. Gue mau bibir ini penuh senyum.”

“Jangan pergi, gue ga punya rumah lagi.”

“Gue ga bakal kemana-mana. Lo ga perlu jelasin apa-apa, mau lo kayak gimana gue tetep sayang sama lo.”

But, i'm scared. I'm just too tired to everything.

“Udah gue bilang lo ga perlu bales perasaan gue, cukup terima dan jangan minta gue pergi.”

“Dah, sekarang jangan nangis, lupain cerita hari ini. Besok kita makan kwetiau bareng, atau lo mau jajan apapun bilang aja biar lo ga sedih lagi.”

Dan Kapten kembali masuk ke dalam pelukan Panglima. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang musuhnya.

”..ga mau apa-apa, mau sama lo aja...”

“Engg ututuuu gemesnya doi Panglima.”

“Anak setan!”

Tentu saja Kapten. Yang dalam keadaan apapun tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengumpati musuhnya itu.

Tawa Hyunjin mengalun membuat Kapten tersenyum tanpa Panglima tau. Satu kecupan hangat Panglima berikan di kening Kapten yang lekat dengan asap rokok tebal. Entah berapa banyak batang yang Kapten habiskan.

“Good night, Panglima.”

“Good night, Kapten, malem ini ga bakal ada mimpi buruk soalnya monsternya udah gue makan.”

Beberapa saat kemudian hening kembali melanda, menyisakan Panglima yang terdiam dalam lamunan yang tajam. Nafas teratur Kapten menjadi pertanda sudah berapa jauh Kapten mengarungi alam mimpi. Maka dengan perlahan dia menggeser tubuhnya, bertumpu pada satu tangan untuk menatap wajah damai sang pemilik hati.

Sedangkan tangan lain menyingkirkan rambut di paras rupawan Kapten agar tidak mengganggu tidurnya.

Kapten, i love you for the sun and the moon.

Kembali dia mencuri satu kecupan di bibir Kapten sebelum akhirnya beranjak mengambil jaket dan keluar.

Malam ini makan panjang. Tentunya.

Sudah Panglima jelaskan, berani menyakiti Kapten, mereka berurusan dengannya.

Maka siapa lebih dulu yang akan menjadi targetnya malam ini?


Atlantis, tenggelam lah, lautan akan memberi tempat paling nyaman untukmu bersandar.


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”

“Wlee.. bodo amat.”

Sekali lagi Hyunjin menggelengkan kepalanya, suasana hatinya masih berantakan, jadi daripada mulutnya macam-macam dia memilih tidak banyak berbicara.

Jeongin meraih gelas susu lebih dulu, berdiri di hadapan Hyunjin yang hanya menatapnya sendu.

“Tiup dulu, itu masih panas.”

“Pwah.. anjing!”

“Kan, udah gue bilang masih panas malah asal seruput.”

Segera Jeongin berkumur-kumur, “Aaaahhh lidah gueee.” rasa kebakar di lidahnya membuat sang Kapten Perang tanpa sadar sang merengek di hadapan musuhnya.

Di sisi lain Hyunjin dengan buru-buru memecahkan balok es batu. Panik hinggap secara cepat sampai batu pukulan yang terkena di jari telunjuknya tidak lagi dia hiraukan.

“Ni nih, emut es batu nya biar ga ledes.”

“Gede banget babi.”

“Yaelah masih sempet-sempetnya protes anjing.”

Jeongin bisa saja berdebat sekarang juga, tapi semua itu ia urungkan kala dia tersadar tujuannya datang ke rumah ini.

Baikan.

Dan secara ajaib Jeongin langsung menurut. Tidak serta merta ia mengalah, mata tajamnya memandang sinis Hyunjin yang kini tersenyum lucu saat melihat pipi tembam sang musuh semakin mengembung layaknya bakpao.

“Lain kali hati-hati.”

Suara Panglima mendayung merdu. Lengan bajunya yang panjang direlakan untuk menyeka sisa-sisa air keran Jeongin tadi. Perlakuannya masih sama, penuh perhatian sampai Kapten terpaku karenanya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Pasang mata yang terikat hebat diputus Panglima lebih dulu. Dia mengambil gelas susu Kapten dan meniupinya agar segera dingin.

Sederhana, namun mampu menarik bibir sang Pemimpin Orion lebih bersinar.

“Gue suruh kompres malah lo kunyah.”

“Biar cepet abis, lagian lo ngasihnya yang gede.”

“Nih, udah ga terlalu panas kalo mau lo minum lagi.”

“Tarok aja dulu, siniin gelas lo.”

“Buat apa?”

“Banyak nanya lo kayak satpam bank.”

Lantas detik jarum jam seakan berhenti, purnama seakan memberikan ribuan bintang pada pasang mata yang tidak dapat Hyunjin lepaskan. Kapten dengan gelas susu miliknya dia tiup persis seperti yang dia lakukan tadi.

“Nih susu lo.”

Entah dari mana ribuan kupu-kupu itu datang, menggelitik perut Panglima bersamaan dengan irama jantung yang membuatnya lupa atas segala resah yang hinggap. Luluh lantah dibuatnya.

“Bukan cuma lo yang bisa kasih perhatian yang orang lain ga pernah kasih ke gue. Memberi tanpa harap kasih, itu kan yang lo jalanin sekarang? tapi, gue juga bisa bales perhatian lo itu, Panglima

Karena nyatanya, mereka berdua sedang mengarungi perasaan yang sama.

Gelas susu yang masih Kapten genggam segera ia ambil, meletakkannya sembarang di counter dapur lalu mendekat ke arah Pipi bolong tanpa sungkan.

Kening keduanya menyatu, meski status musuh masih menjadi pembatas di antara mereka, namun bola mata yang saling pandang penuh cinta menjelaskan semuanya. Kapten memekik pelan kala tanpa aba-aba Panglima mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.

“Kaget anjing!”

Panglima tertawa pelan. Bagaimana bisa hanya dengan keberadaan Kapten seluruh gundahnya lenyap begitu saja? Rasa yang hampir mati diganti dengan indurasmi.

Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kapten yang ramping, “Kenapa hari ini manis banget sih, Pipi bolong?”

“Oh hari ini doang?” sengaja Kapten menggoda, membalas melingkarkan lengannya di leher Panglima.

“Setiap hari manis, tapi hari ini lebih manis.”

“Kayak apa?”

“Milkita strawberry.”

“Anjing.”

Di bawah atap rumah yang sepi, dua insan tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak tawa yang mereka tawakan bersama, lampau masalah diarungi untuk berada di waktu sekarang. Atau yang jelas hanya mengikuti arus tanpa tau akan berhenti di pelabuhan mana? entahlah, yang pasti saat ini sudah lebih dari cukup.

Jeongin menarik Hyunjin untuk masuk dalam rengkuhannya yang dingin. Perihal hati Jeongin memang tau, bukan bermaksud untuk memainkan perasaan Panglima. Namun Jeongin juga tau, kelopak mata itu berbeda dari hari-hari lalu.

“You okay, Panglima?”

Setidaknya dia bukan Kapten yang pembohong ulung. Kepalanya menggeleng, semakin mengeratkan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.

“Gue lagi berantakan banget akhir-akhir ini Pipi bolong. Masalah kecil aja bisa gue gede-gedein, banyak hal yang ga bisa gue kontrol sampe emosi nguasain tubuh gue.”

Jeongin memilih diam, meletakkan dagunya di pucuk kepala Panglima sembari mengusap punggung lebar yang selalu memberikan sandaran untuknya sukarela. Menjadi pendengar seperti yang sering Panglima lakukan tentunya.

“Keluarga gue emang ga seburuk keluarga lo, tapi ada kalanya gue pengen pas gue pulang mereka ada di rumah. Ga repot mikir hari ini mau makan apa, mau bersihin rumah yang sebelah mana, mau bayar tagihan yang mana.”

“Keluar juga percuma, bukannya tambah lega malah tambah runyam.”

Kepalanya mendongak untuk menatap mata binarnya Kapten. “Maaf ya kemarin gue ngilang, bukan karena gue ga memprioritasin lo Pipi bolong. Tapi gue butuh waktu buat ngehandle semua emosi gue. Lo tetep di sini kok, di pikiran gue.”

“Lo jelek banget kalo lagi gini.”

“Emang anjing.”

Jeongin terkekeh pelan saat senyum Panglima runtuh dan digantikan wajah malasnya. Tangan yang sering menjadi tameng kala perang itu menangkup wajah Panglima. Dengan sangat pelan mengusap wajah musuhnya, mulai dari mata yang lelah, kantong mata tebal, bibir pecah, sampai ke rahangnya yang tegas.

Panglima terlihat lelah. Namun begitu, dirinya tetap saja setia menjatuhkan dirinya pada sang pemilik hati.

“Ya gimana dong gue ga bisa ngomong yang manis-manis.”

“Hadeh.. yaudah lah mau gimana lagi? emang udah cetakannya lo begini Pipi bolong.”

Masih dengan tawanya yang halus, Kapten kembali menarik Panglima. Satu kecupan secara tiba-tiba diberikan Kapten di kening Panglima yang kini membeku.

“Gue ngerti kok perasaan lo, namanya juga anak tunggal, ga punya saudara, sendirian.”

Satu kecupan Kapten berikan di masing-masing kelopak mata Panglima yang berat.

“Kalo ada yang bikin lo kecewa hajar aja mereka.”

Pun pucuk hidung mancung musuhnya tidak luput dari kecupan Kapten.

“Atau mau gue yang hajar? lo tinggal bilang siapa orangnya.”

“Mau jadi jagoan lo?”

Sang pemilik hati menarik sudut bibirnya tinggi. Memberikan satu kecupan di pipi Panglima yang kini senyumannya tidak kalah lebih lebar dari sang Kapten.

“Kalo lo bisa jadi jagoan buat gue, kenapa gue ga bisa jadi jagoan buat lo, anak setan?

Benar, dia tidak butuh siapa pun saat ini. Tenggelam berdua besama Atlantisnya pun Panglima tidak masalah. Ketenangan yang diberikan Jeongin melalui manik indah seakan melarutkan segala batu di hatinya. Damai berkuasa, dipeluk erat pada pujaan bumantara.

Dan satu kecupan Kapten berikan di bibir Panglima. Kecupan singkat dengan sejuta perasaan di dalamnya.

“Kayak yang lo bilang gue bisa bersadar di punggung lo, lo juga bisa bersandar di punggung gue Panglima.”

Pada akhirnya damai yang berkuasa dalam hati Kapten. Menerima memang ada Panglima di dalamnya. Meski belum dibiarkan masuk, namun sosok dengan senyuman bulan sabit itu seolah dengan pasti akan menggantikan pemilik sebelumnya. Mungkin.

“Gue cinta banget sama lo Pipi bolong.”

Telapak tangan Kapten dibawa Panglima tepat di atas degup Jantungnya yang meraung. “Cuma lo yang bisa bikin detak jantung gue gini.”

“Anjing! jantung lo kayak mau meledak.”

“Ya karena ulah lo.”

“Itu pujian atau penghinaan, babi?”

“Pujian lah.”

“Oh yaudah makasih.”

“Ga mau dibales gitu?”

“Bales apaan lagi anjing? bales pesan?”

“Bales perasaan gue kan topiknya lagi itu.”

“Gue ngantuk deh.”

“Bangke.”

Meski begitu, hirap kecewa tidak datang. Terlampau tau pada tabiat Kapten yang menyimpan segalanya. Takut pada perasaan yang dia jelaskan melalui senyuman kecut yang disembunyikan melalui tingkahnya yang luar biasa.

Mencintai Kapten adalah urusan Panglima. Menerima segala sikapnya juga salah satu bentuk cintanya. Maka saat cinta yang menjadi pemenang, kecewa tidak akan pernah datang sekali pun dihancurkan dalam harapan.

“Yok tidur —hadah! lo jangan cekek gue anjing!”

“Lo yang anjing! tiba-tiba gendong kan gue kaget.”

“Mau turun?”

“Gue bisa jalan, tapi kalo mau lo gendong juga gapapa.”

“Bilang aja mau mau digendong.”

“Gengsi anjing.”

“Gengsi mulu, padahal mau.”

“Lo bisa diem ga? gue jambak nih rambut lo.”

“Sadis banget Pipi bolong gue.”

Dan gelap malam ditutup purnama dan gemintang yang tengah berbahagia. Samudra lepas merestui ombak di tengah lakuna. Memeluk insan yang berbagi kisah. Jatuh pada perasaan yang bahagianya bukan main adalah rasa yang tidak pernah keduanya bayangkan. Jatuh cinta.

“Kamar lo pernuh kertas.”

“Iya berkas osis buat lomba besok.”

“Lo ikut lomba?”

“Kagak gue panitia. Lagian ga lomba juga gue udah menang.”

“Apaan?”

“Juara 1 memenangkan hati Kapten Orion.”

“Anak setan!”

“Waduh? pipi lo merah banget Pipi bolong.”

“Anjing! diem ga lo setan! jauh-jauh lo babi.”

“Gimana gue bisa jauh lo aja meluk leher gue gini.”

“Yaudah diem. Gue jambak nih rambut lo.”

Bumantara tau, tidak selamanya Atlantis akan tenggelam didasar laut dingin. Sebab hari ini, Atlantis menjadi legenda indah dengan perasaan musim semi lekat dalam kisahnya.

Meski begitu, Panglima tetap bersedia mengarungi setiap musim dalam Atlantisnya.

Memeluk erat terkasihnya di bawah selimut, melupakan dua gelas susu yang masih berada di counter dapur. Atau yang benar melupakan segalanya?

“Hari ini, lo atau pun gue ga tidur sendiri.”

Kapten bergerak semakin merapat, berbisik pelan di telinga Panglima sebelum akhirnya terpejam mengarungi alam mimpi.

“Welcome home, Panglima. Your Kapten is here.”

Meninggalkan Hyunjin yang masih memproses kata-kata Jeongin-nya barusan.


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”

“Wlee.. bodo amat.”

Sekali lagi Hyunjin menggelengkan kepalanya, suasana hatinya masih berantakan, jadi daripada mulutnya macam-macam dia memilih tidak banyak berbicara.

Jeongin meraih gelas susu lebih dulu, berdiri di hadapan Hyunjin yang hanya menatapnya sendu.

“Tiup dulu, itu masih panas.”

“Pwah.. anjing!”

“Kan, udah gue bilang masih panas malah asal seruput.”

Segera Jeongin berkumur-kumur, “Aaaahhh lidah gueee.” rasa kebakar di lidahnya membuat sang Kapten Perang tanpa sadar sang merengek di hadapan musuhnya.

Di sisi lain Hyunjin dengan buru-buru memecahkan balok es batu. Panik hinggap secara cepat sampai batu pukulan yang terkena di jari telunjuknya tidak lagi dia hiraukan.

“Ni nih, emut es batu nya biar ga ledes.”

“Gede banget babi.”

“Yaelah masih sempet-sempetnya protes anjing.”

Jeongin bisa saja berdebat sekarang juga, tapi semua itu ia urungkan kala dia tersadar tujuannya datang ke rumah ini.

Baikan.

Dan secara ajaib Jeongin langsung menurut. Tidak serta merta ia mengalah, mata tajamnya memandang sinis Hyunjin yang kini tersenyum lucu saat melihat pipi tembam sang musuh semakin mengembung layaknya bakpao.

“Lain kali hati-hati.”

Suara Panglima mendayung merdu. Lengan bajunya yang panjang direlakan untuk menyeka sisa-sisa air keran Jeongin tadi. Perlakuannya masih sama, penuh perhatian sampai Kapten terpaku karenanya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Pasang mata yang terikat hebat diputus Panglima lebih dulu. Dia mengambil gelas susu Kapten dan meniupinya agar segera dingin.

Sederhana, namun mampu menarik bibir sang Pemimpin Orion lebih bersinar.

“Gue suruh kompres malah lo kunyah.”

“Biar cepet abis, lagian lo ngasihnya yang gede.”

“Nih, udah ga terlalu panas kalo mau lo minum lagi.”

“Tarok aja dulu, siniin gelas lo.”

“Buat apa?”

“Banyak nanya lo kayak satpam bank.”

Lantas detik jarum jam seakan berhenti, purnama seakan memberikan ribuan bintang pada pasang mata yang tidak dapat Hyunjin lepaskan. Kapten dengan gelas susu miliknya dia tiup persis seperti yang dia lakukan tadi.

“Nih susu lo.”

Entah dari mana ribuan kupu-kupu itu datang, menggelitik perut Panglima bersamaan dengan irama jantung yang membuatnya lupa atas segala resah yang hinggap. Luluh lantah dibuatnya.

“Bukan cuma lo yang bisa kasih perhatian yang orang lain ga pernah kasih ke gue. Memberi tanpa harap kasih, itu kan yang lo jalanin sekarang? tapi, gue juga bisa bales perhatian lo itu, Panglima

Karena nyatanya, mereka berdua sedang mengarungi perasaan yang sama.

Gelas susu yang masih Kapten genggam segera ia ambil, meletakkannya sembarang di counter dapur lalu mendekat ke arah Pipi bolong tanpa sungkan.

Kening keduanya menyatu, meski status musuh masih menjadi pembatas di antara mereka, namun bola mata yang saling pandang penuh cinta menjelaskan semuanya. Kapten memekik pelan kala tanpa aba-aba Panglima mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.

“Kaget anjing!”

Panglima tertawa pelan. Bagaimana bisa hanya dengan keberadaan Kapten seluruh gundahnya lenyap begitu saja? Rasa yang hampir mati diganti dengan indurasmi.

Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kapten yang ramping, “Kenapa hari ini manis banget sih, Pipi bolong?”

“Oh hari ini doang?” sengaja Kapten menggoda, membalas melingkarkan lengannya di leher Panglima.

“Setiap hari manis, tapi hari ini lebih manis.”

“Kayak apa?”

“Milkita strawberry.”

“Anjing.”

Di bawah atap rumah yang sepi, dua insan tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak tawa yang mereka tawakan bersama, lampau masalah diarungi untuk berada di waktu sekarang. Atau yang jelas hanya mengikuti arus tanpa tau akan berhenti di pelabuhan mana? entahlah, yang pasti saat ini sudah lebih dari cukup.

Jeongin menarik Hyunjin untuk masuk dalam rengkuhannya yang dingin. Perihal hati Jeongin memang tau, bukan bermaksud untuk memainkan perasaan Panglima. Namun Jeongin juga tau, kelopak mata itu berbeda dari hari-hari lalu.

“You okay, Panglima?”

Setidaknya dia bukan Kapten yang pembohong ulung. Kepalanya menggeleng, semakin mengeratkan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.

“Gue lagi berantakan banget akhir-akhir ini Pipi bolong. Masalah kecil aja bisa gue gede-gedein, banyak hal yang ga bisa gue kontrol sampe emosi nguasain tubuh gue.”

Jeongin memilih diam, meletakkan dagunya di pucuk kepala Panglima sembari mengusap punggung lebar yang selalu memberikan sandaran untuknya sukarela. Menjadi pendengar seperti yang sering Panglima lakukan tentunya.

“Keluarga gue emang ga seburuk keluarga lo, tapi ada kalanya gue pengen pas gue pulang mereka ada di rumah. Ga repot mikir hari ini mau makan apa, mau bersihin rumah yang sebelah mana, mau bayar tagihan yang mana.”

“Keluar juga percuma, bukannya tambah lega malah tambah runyam.”

Kepalanya mendongak untuk menatap mata binarnya Kapten. “Maaf ya kemarin gue ngilang, bukan karena gue ga memprioritasin lo Pipi bolong. Tapi gue butuh waktu buat ngehandle semua emosi gue. Lo tetep di sini kok, di pikiran gue.”

“Lo jelek banget kalo lagi gini.”

“Emang anjing.”

Jeongin terkekeh pelan saat senyum Panglima runtuh dan digantikan wajah malasnya. Tangan yang sering menjadi tameng kala perang itu menangkup wajah Panglima. Dengan sangat pelan mengusap wajah musuhnya, mulai dari mata yang lelah, kantong mata tebal, bibir pecah, sampai ke rahangnya yang tegas.

Panglima terlihat lelah. Namun begitu, dirinya tetap saja setia menjatuhkan dirinya pada sang pemilik hati.

“Ya gimana dong gue ga bisa ngomong yang manis-manis.”

“Hadeh.. yaudah lah mau gimana lagi? emang udah cetakannya lo begini Pipi bolong.”

Masih dengan tawanya yang halus, Kapten kembali menarik Panglima. Satu kecupan secara tiba-tiba diberikan Kapten di kening Panglima yang kini membeku.

“Gue ngerti kok perasaan lo, namanya juga anak tunggal, ga punya saudara, sendirian.”

Satu kecupan Kapten berikan di masing-masing kelopak mata Panglima yang berat.

“Kalo ada yang bikin lo kecewa hajar aja mereka.”

Pun pucuk hidung mancung musuhnya tidak luput dari kecupan Kapten.

“Atau mau gue yang hajar? lo tinggal bilang siapa orangnya.”

“Mau jadi jagoan lo?”

Sang pemilik hati menarik sudut bibirnya tinggi. Memberikan satu kecupan di pipi Panglima yang kini senyumannya tidak kalah lebih lebar dari sang Kapten.

“Kalo lo bisa jadi jagoan buat gue, kenapa gue ga bisa jadi jagoan buat lo, anak setan?

Benar, dia tidak butuh siapa pun saat ini. Tenggelam berdua besama Atlantisnya pun Panglima tidak masalah. Ketenangan yang diberikan Jeongin melalui manik indah seakan melarutkan segala batu di hatinya. Damai berkuasa, dipeluk erat pada pujaan bumantara.

Dan satu kecupan Kapten berikan di bibir Panglima. Kecupan singkat dengan sejuta perasaan di dalamnya.

“Kayak yang lo bilang gue bisa bersadar di punggung lo, lo juga bisa bersandar di punggung gue Panglima.”

Pada akhirnya damai yang berkuasa dalam hati Kapten. Menerima memang ada Panglima di dalamnya. Meski belum dibiarkan masuk, namun sosok dengan senyuman bulan sabit itu seolah dengan pasti akan menggantikan pemilik sebelumnya. Mungkin.

“Gue cinta banget sama lo Pipi bolong.”

Telapak tangan Kapten dibawa Panglima tepat di atas degup Jantungnya yang meraung. “Cuma lo yang bisa bikin detak jantung gue gini.”

“Anjing! jantung lo kayak mau meledak.”

“Ya karena ulah lo.”

“Itu pujian atau penghinaan, babi?”

“Pujian lah.”

“Oh yaudah makasih.”

“Ga mau dibales gitu?”

“Bales apaan lagi anjing? bales pesan?”

“Bales perasaan gue kan topiknya lagi itu.”

“Gue ngantuk deh.”

“Bangke.”

Meski begitu, hirap kecewa tidak datang. Terlampau tau pada tabiat Kapten yang menyimpan segalanya. Takut pada perasaan yang dia jelaskan melalui senyuman kecut yang disembunyikan melalui tingkahnya yang luar biasa.

Mencintai Kapte adalah urusan Panglima. Menerima segala sikapnya juga salah satu bentuk cintanya. Maka saat cinta yang menjadi pemenang, kecewa tidak akan pernah datang sekali pun dihancurkan dalam harapan.

“Yok tidur —hadah! lo jangan cekek gue anjing!”

“Lo yang anjing! tiba-tiba gendong kan gue kaget.”

“Mau turun?”

“Gue bisa jalan, tapi kalo mau lo gendong juga gapapa.”

“Bilang aja mau mau digendong.”

“Gengsi anjing.”

“Gengsi mulu, padahal mau.”

“Lo bisa diem ga? gue jambak nih rambut lo.”

“Sadis banget Pipi bolong gue.”

Dan gelap malam ditutup purnama dan gemintang yang tengah berbahagia. Samudra lepas merestui ombak di tengah lakuna. Memeluk insan yang berbagi kisah. Jatuh pada perasaan yang bahagianya bukan main adalah rasa yang tidak pernah keduanya bayangkan. Jatuh cinta.

“Kamar lo pernuh kertas.”

“Iya berkas osis buat lomba besok.”

“Lo ikut lomba?”

“Kagak gue panitia. Lagian ga lomba juga gue udah menang.”

“Apaan?”

“Juara 1 memenangkan hati Kapten Orion.”

“Anak setan!”

“Waduh? pipi lo merah banget Pipi bolong.”

“Anjing! diem ga lo setan! jauh-jauh lo babi.”

“Gimana gue bisa jauh lo aja meluk leher gue gini.”

“Yaudah diem. Gue jambak nih rambut lo.”

Bumantara tau, tidak selamanya Atlantis akan tenggelam didasar laut dingin. Sebab hari ini, Atlantis menjadi legenda indah dengan perasaan musim semi lekat dalam kisahnya.

Meski begitu, Panglima tetap bersedia mengarungi setiap musim dalam Atlantisnya.

Memeluk erat terkasihnya di bawah selimut, melupakan dua gelas susu yang masih berada di counter dapur. Atau yang benar melupakan segalanya?

“Hari ini, lo atau pun gue ga tidur sendiri.”

Kapten bergerak semakin merapat, berbisik pelan di telinga Panglima sebelum akhirnya terpejam mengarungi alam mimpi.

“Welcome home, Panglima. Your Kapten is here.”

Meninggalkan Hyunjin yang masih memproses kata-kata Jeongin-nya barusan.


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”

“Wlee.. bodo amat.”

Sekali lagi Hyunjin menggelengkan kepalanya, suasana hatinya masih berantakan, jadi daripada mulutnya macam-macam dia memilih tidak banyak berbicara.

Jeongin meraih gelas susu lebih dulu, berdiri di hadapan Hyunjin yang hanya menatapnya sendu.

“Tiup dulu, itu masih panas.”

“Pwah.. anjing!”

“Kan, udah gue bilang masih panas malah asal seruput.”

Segera Jeongin berkumur-kumur, “Aaaahhh lidah gueee.” rasa kebakar di lidahnya membuat sang Kapten Perang tanpa sadar sang merengek di hadapan musuhnya.

Di sisi lain Hyunjin dengan buru-buru memecahkan balok es batu. Panik hinggap secara cepat sampai batu pukulan yang terkena di jari telunjuknya tidak lagi dia hiraukan.

“Ni nih, emut es batu nya biar ga ledes.”

“Gede banget babi.”

“Yaelah masih sempet-sempetnya protes anjing.”

Jeongin bisa saja berdebat sekarang juga, tapi semua itu ia urungkan kala dia tersadar tujuannya datang ke rumah ini.

Baikan.

Dan secara ajaib Jeongin langsung menurut. Tidak serta merta ia mengalah, mata tajamnya memandang sinis Hyunjin yang kini tersenyum lucu saat melihat pipi tembam sang musuh semakin mengembung layaknya bakpao.

“Lain kali hati-hati.”

Suara Panglima mendayung merdu. Lengan bajunya yang panjang direlakan untuk menyeka sisa-sisa air keran Jeongin tadi. Perlakuannya masih sama, penuh perhatian sampai Kapten terpaku karenanya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Pasang mata yang terikat hebat diputus Panglima lebih dulu. Dia mengambil gelas susu Kapten dan meniupinya agar segera dingin.

Sederhana, namun mampu menarik bibir sang Pemimpin Orion lebih bersinar.

“Gue suruh kompres malah lo kunyah.”

“Biar cepet abis, lagian lo ngasihnya yang gede.”

“Nih, udah ga terlalu panas kalo mau lo minum lagi.”

“Tarok aja dulu, siniin gelas lo.”

“Buat apa?”

“Banyak nanya lo kayak satpam bank.”

Lantas detik jarum jam seakan berhenti, purnama seakan memberikan ribuan bintang pada pasang mata yang tidak dapat Hyunjin lepaskan. Kapten dengan gelas susu miliknya dia tiup persis seperti yang dia lakukan tadi.

“Nih susu lo.”

Entah dari mana ribuan kupu-kupu itu datang, menggelitik perut Panglima bersamaan dengan irama jantung yang membuatnya lupa atas segala resah yang hinggap. Luluh lantah dibuatnya.

“Bukan cuma lo yang bisa kasih perhatian yang orang lain ga pernah kasih ke gue. Memberi tanpa harap kasih, itu kan yang lo jalanin sekarang? tapi, gue juga bisa bales perhatian lo itu, Panglima

Karena nyatanya, mereka berdua sedang mengarungi perasaan yang sama.

Gelas susu yang masih Kapten genggam segera ia ambil, meletakkannya sembarang di counter dapur lalu mendekat ke arah Pipi bolong tanpa sungkan.

Kening keduanya menyatu, meski status musuh masih menjadi pembatas di antara mereka, namun bola mata yang saling pandang penuh cinta menjelaskan semuanya. Kapten memekik pelan kala tanpa aba-aba Panglima mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.

“Kaget anjing!”

Panglima tertawa pelan. Bagaimana bisa hanya dengan keberadaan Kapten seluruh gundahnya lenyap begitu saja? Rasa yang hampir mati diganti dengan indurasmi.

Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kapten yang ramping, “Kenapa hari ini manis banget sih, Pipi bolong?”

“Oh hari ini doang?” sengaja Kapten menggoda, membalas melingkarkan lengannya di leher Panglima.

“Setiap hari manis, tapi hari ini lebih manis.”

“Kayak apa?”

“Milkita strawberry.”

“Anjing.”

Di bawah atap rumah yang sepi, dua insan tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak tawa yang mereka tawakan bersama, lampau masalah diarungi untuk berada di waktu sekarang. Atau yang jelas hanya mengikuti arus tanpa tau akan berhenti di pelabuhan mana? entahlah, yang pasti saat ini sudah lebih dari cukup.

Jeongin menarik Hyunjin untuk masuk dalam rengkuhannya yang dingin. Perihal hati Jeongin memang tau, bukan bermaksud untuk memainkan perasaan Panglima. Namun Jeongin juga tau, kelopak mata itu berbeda dari hari-hari lalu.

“You okay, Panglima?”

Setidaknya dia bukan Kapten yang pembohong ulung. Kepalanya menggeleng, semakin mengeratkan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.

“Gue lagi berantakan banget akhir-akhir ini Pipi bolong. Masalah kecil aja bisa gue gede-gedein, banyak hal yang ga bisa gue kontrol sampe emosi nguasain tubuh gue.”

Jeongin memilih diam, meletakkan dagunya di pucuk kepala Panglima sembari mengusap punggung lebar yang selalu memberikan sandaran untuknya sukarela. Menjadi pendengar seperti yang sering Panglima lakukan tentunya.

“Keluarga gue emang ga seburuk keluarga lo, tapi ada kalanya gue pengen pas gue pulang mereka ada di rumah. Ga repot mikir hari ini mau makan apa, mau bersihin rumah yang sebelah mana, mau bayar tagihan yang mana.”

“Keluar juga percuma, bukannya tambah lega malah tambah runyam.”

Kepalanya mendongak untuk menatap mata binarnya Kapten. “Maaf ya kemarin gue ngilang, bukan karena gue ga memprioritasin lo Pipi bolong. Tapi gue butuh waktu buat ngehandle semua emosi gue. Lo tetep di sini kok, di pikiran gue.”

“Lo jelek banget kalo lagi gini.”

“Emang anjing.”

Jeongin terkekeh pelan saat senyum Panglima runtuh dan digantikan wajah malasnya. Tangan yang sering menjadi tameng kala perang itu menangkup wajah Panglima. Dengan sangat pelan mengusap wajah musuhnya, mulai dari mata yang lelah, kantong mata tebal, bibir pecah, sampai ke rahangnya yang tegas.

Panglima terlihat lelah. Namun begitu, dirinya tetap saja setia menjatuhkan dirinya pada sang pemilik hati.

“Ya gimana dong gue ga bisa ngomong yang manis-manis.”

“Hadeh.. yaudah lah mau gimana lagi? emang udah cetakannya lo begini Pipi bolong.”

Masih dengan tawanya yang halus, Kapten kembali menarik Panglima. Satu kecupan secara tiba-tiba diberikan Kapten di kening Panglima yang kini membeku.

“Gue ngerti kok perasaan lo, namanya juga anak tunggal, ga punya saudara, temen-temen kita yang jadi saudara kita.”

Satu kecupan Kapten berikan di masing-masing kelopak mata Panglima yang berat.

“Kalo ada yang bikin lo kecewa hajar aja mereka.”

Pun pucuk hidung mancung musuhnya tidak luput dari kecupan Kapten.

“Atau mau gue yang hajar? lo tinggal bilang siapa orangnya.”

“Mau jadi jagoan lo?”

Sang pemilik hati menarik sudut bibirnya tinggi. Memberikan satu kecupan di pipi Panglima yang kini senyumannya tidak kalah lebih lebar dari sang Kapten.

“Kalo lo bisa jadi jagoan buat gue, kenapa gue ga bisa jadi jagoan buat lo, anak setan?

Benar, dia tidak butuh siapa pun saat ini. Tenggelam berdua besama Atlantisnya pun Panglima tidak masalah. Ketenangan yang diberikan Jeongin melalui manik indah seakan melarutkan segala batu di hatinya. Damai berkuasa, dipeluk erat pada pujaan bumantara.

Dan satu kecupan Kapten berikan di bibir Panglima. Kecupan singkat dengan sejuta perasaan di dalamnya.

“Kayak yang lo bilang gue bisa bersadar di punggung lo, lo juga bisa bersandar di punggung gue Panglima.”

Pada akhirnya damai yang berkuasa dalam hati Kapten. Menerima memang ada Panglima di dalamnya. Meski belum dibiarkan masuk, namun sosok dengan senyuman bulan sabit itu seolah dengan pasti akan menggantikan pemilik sebelumnya. Mungkin.

“Gue cinta banget sama lo Pipi bolong.”

Telapak tangan Kapten dibawa Panglima tepat di atas degup Jantungnya yang meraung. “Cuma lo yang bisa bikin detak jantung gue gini.”

“Anjing! jantung lo kayak mau meledak.”

“Ya karena ulah lo.”

“Itu pujian atau penghinaan, babi?”

“Pujian lah.”

“Oh yaudah makasih.”

“Ga mau dibales gitu?”

“Bales apaan lagi anjing? bales pesan?”

“Bales perasaan gue kan topiknya lagi itu.”

“Gue ngantuk deh.”

“Bangke.”

Meski begitu, hirap kecewa tidak datang. Terlampau tau pada tabiat Kapten yang menyimpan segalanya. Takut pada perasaan yang dia jelaskan melalui senyuman kecut yang disembunyikan melalui tingkahnya yang luar biasa.

Mencintai Kapte adalah urusan Panglima. Menerima segala sikapnya juga salah satu bentuk cintanya. Maka saat cinta yang menjadi pemenang, kecewa tidak akan pernah datang sekali pun dihancurkan dalam harapan.

“Yok tidur —hadah! lo jangan cekek gue anjing!”

“Lo yang anjing! tiba-tiba gendong kan gue kaget.”

“Mau turun?”

“Gue bisa jalan, tapi kalo mau lo gendong juga gapapa.”

“Bilang aja mau mau digendong.”

“Gengsi anjing.”

“Gengsi mulu, padahal mau.”

“Lo bisa diem ga? gue jambak nih rambut lo.”

“Sadis banget Pipi bolong gue.”

Dan gelap malam ditutup purnama dan gemintang yang tengah berbahagia. Samudra lepas merestui ombak di tengah lakuna. Memeluk insan yang berbagi kisah. Jatuh pada perasaan yang bahagianya bukan main adalah rasa yang tidak pernah keduanya bayangkan. Jatuh cinta.

“Kamar lo pernuh kertas.”

“Iya berkas osis buat lomba besok.”

“Lo ikut lomba?”

“Kagak gue panitia. Lagian ga lomba juga gue udah menang.”

“Apaan?”

“Juara 1 memenangkan hati Kapten Orion.”

“Anak setan!”

“Waduh? pipi lo merah banget Pipi bolong.”

“Anjing! diem ga lo setan! jauh-jauh lo babi.”

“Gimana gue bisa jauh lo aja meluk leher gue gini.”

“Yaudah diem. Gue jambak nih rambut lo.”

Bumantara tau, tidak selamanya Atlantis akan tenggelam didasar laut dingin. Sebab hari ini, Atlantis menjadi legenda indah dengan perasaan musim semi lekat dalam kisahnya.

Meski begitu, Panglima tetap bersedia mengarungi setiap musim dalam Atlantisnya.

Memeluk erat terkasihnya di bawah selimut, melupakan dua gelas susu yang masih berada di counter dapur. Atau yang benar melupakan segalanya?

“Hari ini, lo atau pun gue ga tidur sendiri.”

Kapten bergerak semakin merapat, berbisik pelan di telinga Panglima sebelum akhirnya terpejam mengarungi alam mimpi.

“Welcome home, Panglima. Your Kapten is here.”

Meninggalkan Hyunjin yang masih memproses kata-kata Jeongin-nya barusan.


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”

“Wlee.. bodo amat.”

Sekali lagi Hyunjin menggelengkan kepalanya, suasana hatinya masih berantakan, jadi daripada mulutnya macam-macam dia memilih tidak banyak berbicara.

Jeongin meraih gelas susu lebih dulu, berdiri di hadapan Hyunjin yang hanya menatapnya sendu.

“Tiup dulu, itu masih panas.”

“Pwah.. anjing!”

“Kan, udah gue bilang masih panas malah asal seruput.”

Segera Jeongin berkumur-kumur, “Aaaahhh lidah gueee.” rasa kebakar di lidahnya membuat sang Kapten Perang tanpa sadar sang merengek di hadapan musuhnya.

Di sisi lain Hyunjin dengan buru-buru memecahkan balok es batu. Panik hinggap secara cepat sampai batu pukulan yang terkena di jari telunjuknya tidak lagi dia hiraukan.

“Ni nih, emut es batu nya biar ga ledes.”

“Gede banget babi.”

“Yaelah masih sempet-sempetnya protes anjing.”

Jeongin bisa saja berdebat sekarang juga, tapi semua itu ia urungkan kala dia tersadar tujuannya datang ke rumah ini.

Baikan.

Dan secara ajaib Jeongin langsung menurut. Tidak serta merta ia mengalah, mata tajamnya memandang sinis Hyunjin yang kini tersenyum lucu saat melihat pipi tembam sang musuh semakin mengembung layaknya bakpao.

“Lain kali hati-hati.”

Suara Panglima mendayung merdu. Lengan bajunya yang panjang direlakan untuk menyeka sisa-sisa air keran Jeongin tadi. Perlakuannya masih sama, penuh perhatian sampai Kapten terpaku karenanya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Pasang mata yang terikat hebat diputus Panglima lebih dulu. Dia mengambil gelas susu Kapten dan meniupinya agar segera dingin.

Sederhana, namun mampu menarik bibir sang Pemimpin Orion lebih bersinar.

“Gue suruh kompres malah lo kunyah.”

“Biar cepet abis, lagian lo ngasihnya yang gede.”

“Nih, udah ga terlalu panas kalo mau lo minum lagi.”

“Tarok aja dulu, siniin gelas lo.”

“Buat apa?”

“Banyak nanya lo kayak satpam bank.”

Lantas detik jarum jam seakan berhenti, purnama seakan memberikan ribuan bintang pada pasang mata yang tidak dapat Hyunjin lepaskan. Kapten dengan gelas susu miliknya dia tiup persis seperti yang dia lakukan tadi.

“Nih susu lo.”

Entah dari mana ribuan kupu-kupu itu datang, menggelitik perut Panglima bersamaan dengan irama jantung yang membuatnya lupa atas segala resah yang hinggap. Luluh lantah dibuatnya.

“Bukan cuma lo yang bisa kasih perhatian yang orang lain ga pernah kasih ke gue. Memberi tanpa harap kasih, itu kan yang lo jalanin sekarang? tapi, gue juga bisa bales perhatian lo itu, Panglima

Karena nyatanya, mereka berdua sedang mengarungi perasaan yang sama.

Gelas susu yang masih Kapten genggam segera ia ambil, meletakkannya sembarang di counter dapur lalu mendekat ke arah Pipi bolong tanpa sungkan.

Kening keduanya menyatu, meski status musuh masih menjadi pembatas di antara mereka, namun bola mata yang saling pandang penuh cinta menjelaskan semuanya. Kapten memekik pelan kala tanpa aba-aba Panglima mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.

“Kaget anjing!”

Panglima tertawa pelan. Bagaimana bisa hanya dengan keberadaan Kapten seluruh gundahnya lenyap begitu saja? Rasa yang hampir mati diganti dengan indurasmi.

Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kapten yang ramping, “Kenapa hari ini manis banget sih, Pipi bolong?”

“Oh hari ini doang?” sengaja Kapten menggoda, membalas melingkarkan lengannya di leher Panglima.

“Setiap hari manis, tapi hari ini lebih manis.”

“Kayak apa?”

“Milkita strawberry.”

“Anjing.”

Di bawah atap rumah yang sepi, dua insan tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak tawa yang mereka tawakan bersama, lampau masalah diarungi untuk berada di waktu sekarang. Atau yang jelas hanya mengikuti arus tanpa tau akan berhenti di pelabuhan mana? entahlah, yang pasti saat ini sudah lebih dari cukup.

Jeongin menarik Hyunjin untuk masuk dalam rengkuhannya yang dingin. Perihal hati Jeongin memang tau, bukan bermaksud untuk memainkan perasaan Panglima. Namun Jeongin juga tau, kelopak mata itu berbeda dari hari-hari lalu.

“You okay, Panglima?”

Setidaknya dia bukan Kapten yang pembohong ulung. Kepalanya menggeleng, semakin mengeratkan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.

“Gue lagi berantakan banget akhir-akhir ini Pipi bolong. Masalah kecil aja bisa gue gede-gedein, banyak hal yang ga bisa gue kontrol sampe emosi nguasain tubuh gue.”

Jeongin memilih diam, meletakkan dagunya di pucuk kepala Panglima sembari mengusap punggung lebar yang selalu memberikan sandaran untuknya sukarela. Menjadi pendengar seperti yang sering Panglima lakukan tentunya.

“Keluarga gue emang ga seburuk keluarga lo, tapi ada kalanya gue pengen pas gue pulang mereka ada di rumah. Ga repot mikir hari ini mau makan apa, mau bersihin rumah yang sebelah mana, mau bayar tagihan yang mana.”

“Keluar juga percuma, bukannya tambah lega malah tambah runyam.”

Kepalanya mendongak untuk menatap mata binarnya Kapten. “Maaf ya kemarin gue ngilang, bukan karena gue ga memprioritasin lo Pipi bolong. Tapi gue butuh waktu buat ngehandle semua emosi gue. Lo tetep di sini kok, di pikiran gue.”

“Lo jelek banget kalo lagi gini.”

“Emang anjing.”

Jeongin terkekeh pelan saat senyum Panglima runtuh dan digantikan wajah malasnya. Tangan yang sering menjadi tameng kala perang itu menangkup wajah Panglima. Dengan sangat pelan mengusap wajah musuhnya, mulai dari mata yang lelah, kantong mata tebal, bibir pecah, sampai ke rahangnya yang tegas.

Panglima terlihat lelah. Namun begitu, dirinya tetap saja setia menjatuhkan dirinya pada sang pemilik hati.

“Ya gimana dong gue ga bisa ngomong yang manis-manis.”

“Hadeh.. yaudah lah mau gimana lagi? emang udah cetakannya lo begitu Pipi bolong.”

Masih dengan tawanya yang halus, Kapten kembali menarik Panglima. Satu kecupan secara tiba-tiba diberikan Kapten di kening Panglima yang kini membeku.

“Gue ngerti kok perasaan lo, namanya juga anak tunggal, ga punya saudara, temen-temen itu lah yang gue anggep saudara gue.”

Satu kecupan Kapten berikan di masing-masing kelopak mata Panglima yang berat.

“Kalo ada yang bikin lo kecewa hajar aja mereka.”

Pun pucuk hidung mancung musuhnya tidak luput dari kecupan Kapten.

“Atau mau gue yang hajar? lo tinggal bilang siapa orangnya.”

“Mau jadi jagoan lo?”

Sang pemilik hati menarik sudut bibirnya tinggi. Memberikan satu kecupan di pipi Panglima yang kini senyumannya tidak kalah lebih lebar dari sang Kapten.

“Kalo lo bisa jadi jagoan buat gue, kenapa gue ga bisa jadi jagoan buat lo, anak setan?

Benar, dia tidak butuh siapa pun saat ini. Tenggelam berdua besama Atlantisnya pun Panglima tidak masalah. Ketenangan yang diberikan Jeongin melalui manik indah seakan melarutkan segala batu di hatinya. Damai berkuasa, dipeluk erat pada pujaan bumantara.

Dan satu kecupan Kapten berikan di bibir Panglima. Kecupan singkat dengan sejuta perasaan di dalamnya.

“Kayak yang lo bilang gue bisa bersadar di punggung lo, lo juga bisa bersandar di punggung gue Panglima.”

Pada akhirnya damai yang berkuasa dalam hati Kapten. Menerima memang ada Panglima di dalamnya. Meski belum dibiarkan masuk, namun sosok dengan senyuman bulan sabit itu seolah dengan pasti akan menggantikan pemilik sebelumnya. Mungkin.

“Gue cinta banget sama lo Pipi bolong.”

Telapak tangan Kapten dibawa Panglima tepat di atas degup Jantungnya yang meraung. “Cuma lo yang bisa bikin detak jantung gue gini.”

“Anjing! jantung lo kayak mau meledak.”

“Ya karena ulah lo.”

“Itu pujian atau penghinaan, babi?”

“Pujian lah.”

“Oh yaudah makasih.”

“Ga mau dibales gitu?”

“Bales apaan lagi anjing? bales pesan?”

“Bales perasaan gue kan topiknya lagi itu.”

“Gue ngantuk deh.”

“Bangke.”

Meski begitu, hirap kecewa tidak datang. Terlampau tau pada tabiat Kapten yang menyimpan segalanya. Takut pada perasaan yang dia jelaskan melalui senyuman kecut yang disembunyikan melalui tingkahnya yang luar biasa.

Mencintai Kapte adalah urusan Panglima. Menerima segala sikapnya juga salah satu bentuk cintanya. Maka saat cinta yang menjadi pemenang, kecewa tidak akan pernah datang sekali pun dihancurkan dalam harapan.

“Yok tidur —hadah! lo jangan cekek gue anjing!”

“Lo yang anjing! tiba-tiba gendong kan gue kaget.”

“Mau turun?”

“Gue bisa jalan, tapi kalo mau lo gendong juga gapapa.”

“Bilang aja mau mau digendong.”

“Gengsi anjing.”

“Gengsi mulu, padahal mau.”

“Lo bisa diem ga? gue jambak nih rambut lo.”

“Sadis banget Pipi bolong gue.”

Dan gelap malam ditutup purnama dan gemintang yang tengah berbahagia. Samudra lepas merestui ombak di tengah lakuna. Memeluk insan yang berbagi kisah. Jatuh pada perasaan yang bahagianya bukan main adalah rasa yang tidak pernah keduanya bayangkan. Jatuh cinta.

“Kamar lo pernuh kertas.”

“Iya berkas osis buat lomba besok.”

“Lo ikut lomba?”

“Kagak gue panitia. Lagian ga lomba juga gue udah menang.”

“Apaan?”

“Juara 1 memenangkan hati Kapten Orion.”

“Anak setan!”

“Waduh? pipi lo merah banget Pipi bolong.”

“Anjing! diem ga lo setan! jauh-jauh lo babi.”

“Gimana gue bisa jauh lo aja meluk leher gue gini.”

“Yaudah diem. Gue jambak nih rambut lo.”

Bumantara tau, tidak selamanya Atlantis akan tenggelam didasar laut dingin. Sebab hari ini, Atlantis menjadi legenda indah dengan perasaan musim semi lekat dalam kisahnya.

Meski begitu, Panglima tetap bersedia mengarungi setiap musim dalam Atlantisnya.

Memeluk erat terkasihnya di bawah selimut, melupakan dua gelas susu yang masih berada di counter dapur. Atau yang benar melupakan segalanya?

“Hari ini, lo atau pun gue ga tidur sendiri.”

Kapten bergerak semakin merapat, berbisik pelan di telinga Panglima sebelum akhirnya terpejam mengarungi alam mimpi.

“Welcome home, Panglima. Your Kapten is here.”

Meninggalkan Hyunjin yang masih memproses kata-kata Jeongin-nya barusan.


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”

“Wlee.. bodo amat.”

Sekali lagi Hyunjin menggelengkan kepalanya, suasana hatinya masih berantakan, jadi daripada mulutnya macam-macam dia memilih tidak banyak berbicara.

Jeongin meraih gelas susu lebih dulu, berdiri di hadapan Hyunjin yang hanya menatapnya sendu.

“Tiup dulu, itu masih panas.”

“Pwah.. anjing!”

“Kan, udah gue bilang masih panas malah asal seruput.”

Segera Jeongin berkumur-kumur, “Aaaahhh lidah gueee.” rasa kebakar di lidahnya membuat sang Kapten Perang tanpa sadar sang merengek di hadapan musuhnya.

Di sisi lain Hyunjin dengan buru-buru memecahkan balok es batu. Panik hinggap secara cepat sampai batu pukulan yang terkena di jari telunjuknya tidak lagi dia hiraukan.

“Ni nih, emut es batu nya biar ga ledes.”

“Gede banget babi.”

“Yaelah masih sempet-sempetnya protes anjing.”

Jeongin bisa saja berdebat sekarang juga, tapi semua itu ia urungkan kala dia tersadar tujuannya datang ke rumah ini.

Baikan.

Dan secara ajaib Jeongin langsung menurut. Tidak serta merta ia mengalah, mata tajamnya memandang sinis Hyunjin yang kini tersenyum lucu saat melihat pipi tembam sang musuh semakin mengembung layaknya bakpao.

“Lain kali hati-hati.”

Suara Panglima mendayung merdu. Lengan bajunya yang panjang direlakan untuk menyeka sisa-sisa air keran Jeongin tadi. Perlakuannya masih sama, penuh perhatian sampai Kapten terpaku karenanya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Pasang mata yang terikat hebat diputus Panglima lebih dulu. Dia mengambil gelas susu Kapten dan meniupinya agar segera dingin.

Sederhana, namun mampu menarik bibir sang Pemimpin Orion lebih bersinar.

“Gue suruh kompres malah lo kunyah.”

“Biar cepet abis, lagian lo ngasihnya yang gede.”

“Nih, udah ga terlalu panas kalo mau lo minum lagi.”

“Tarok aja dulu, siniin gelas lo.”

“Buat apa?”

“Banyak nanya lo kayak satpam bank.”

Lantas detik jarum jam seakan berhenti, purnama seakan memberikan ribuan bintang pada pasang mata yang tidak dapat Hyunjin lepaskan. Kapten dengan gelas susu miliknya dia tiup persis seperti yang dia lakukan tadi.

“Nih susu lo.”

Entah dari mana ribuan kupu-kupu itu datang, menggelitik perut Panglima bersamaan dengan irama jantung yang membuatnya lupa atas segala resah yang hinggap. Luluh lantah dibuatnya.

“Bukan cuma lo yang bisa kasih perhatian yang orang lain ga pernah kasih ke gue. Memberi tanpa harap kasih, itu kan yang lo jalanin sekarang? tapi, gue juga bisa bales perhatian lo itu, Panglima

Karena nyatanya, mereka berdua sedang mengarungi perasaan yang sama.

Gelas susu yang masih Kapten genggam segera ia ambil, meletakkannya sembarang di counter dapur lalu mendekat ke arah Pipi bolong tanpa sungkan.

Kening keduanya menyatu, meski status musuh masih menjadi pembatas di antara mereka, namun bola mata yang saling pandang penuh cinta menjelaskan semuanya. Kapten memekik pelan kala tanpa aba-aba Panglima mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.

“Kaget anjing!”

Panglima tertawa pelan. Bagaimana bisa hanya dengan keberadaan Kapten seluruh gundahnya lenyap begitu saja? Rasa yang hampir mati diganti dengan indurasmi.

Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kapten yang ramping, “Kenapa hari ini manis banget sih, Pipi bolong?”

“Oh hari ini doang?” sengaja Kapten menggoda, membalas melingkarkan lengannya di leher Panglima.

“Setiap hari manis, tapi hari ini lebih manis.”

“Kayak apa?”

“Milkita strawberry.”

“Anjing.”

Di bawah atap rumah yang sepi, dua insan tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak tawa yang mereka tawakan bersama, lampau masalah diarungi untuk berada di waktu sekarang. Atau yang jelas hanya mengikuti arus tanpa tau akan berhenti di pelabuhan mana? entahlah, yang pasti saat ini sudah lebih dari cukup.

Jeongin menarik Hyunjin untuk masuk dalam rengkuhannya yang dingin. Perihal hati Jeongin memang tau, bukan bermaksud untuk memainkan perasaan Panglima. Namun Jeongin juga tau, kelopak mata itu berbeda dari hari-hari lalu.

“You okay, Panglima?”

Setidaknya dia bukan Kapten yang pembohong ulung. Kepalanya menggeleng, semakin mengeratkan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.

“Gue lagi berantakan banget akhir-akhir ini Pipi bolong. Masalah kecil aja bisa gue gede-gedein, banyak hal yang ga bisa gue kontrol sampe emosi nguasain tubuh gue.”

Jeongin memilih diam, meletakkan dagunya di pucuk kepala Panglima sembari mengusap punggung lebar yang selalu memberikan sandaran untuknya sukarela. Menjadi pendengar seperti yang sering Panglima lakukan tentunya.

“Keluarga gue emang ga seburuk keluarga lo, tapi ada kalanya gue pengen pas gue pulang mereka ada di rumah. Ga repot mikir hari ini mau makan apa, mau bersihin rumah yang sebelah mana, mau bayar tagihan yang mana.”

“Keluar juga percuma, bukannya tambah lega malah tambah runyam.”

Kepalanya mendongak untuk menatap mata binarnya Kapten. “Maaf ya kemarin gue ngilang, bukan karena gue ga memprioritasin lo Pipi bolong. Tapi gue butuh waktu buat ngehandle semua emosi gue. Lo titip di sini, di pikiran gue.”

“Lo jelek banget kalo lagi gini.”

“Emang anjing.”

Jeongin terkekeh pelan saat senyum Panglima runtuh dan digantikan wajah malasnya. Tangan yang sering menjadi tameng kala perang itu menangkup wajah Panglima. Dengan sangat pelan mengusap wajah musuhnya, mulai dari mata yang lelah, kantong mata tebal, bibir pecah, sampai ke rahangnya yang tegas.

Panglima terlihat lelah. Namun begitu, dirinya tetap saja setia menjatuhkan dirinya pada sang pemilik hati.

“Ya gimana dong gue ga bisa ngomong yang manis-manis.”

“Hadeh.. yaudah lah mau gimana lagi? emang udah cetakannya lo begitu Pipi bolong.”

Masih dengan tawanya yang halus, Kapten kembali menarik Panglima. Satu kecupan secara tiba-tiba diberikan Kapten di kening Panglima yang kini membeku.

“Gue ngerti kok perasaan lo, namanya juga anak tunggal, ga punya saudara, temen-temen itu lah yang gue anggep saudara gue.”

Satu kecupan Kapten berikan di masing-masing kelopak mata Panglima yang berat.

“Kalo ada yang bikin lo kecewa hajar aja mereka.”

Pun pucuk hidung mancung musuhnya tidak luput dari kecupan Kapten.

“Atau mau gue yang hajar? lo tinggal bilang siapa orangnya.”

“Mau jadi jagoan lo?”

Sang pemilik hati menarik sudut bibirnya tinggi. Memberikan satu kecupan di pipi Panglima yang kini senyumannya tidak kalah lebih lebar dari sang Kapten.

“Kalo lo bisa jadi jagoan buat gue, kenapa gue ga bisa jadi jagoan buat lo, anak setan?

Benar, dia tidak butuh siapa pun saat ini. Tenggelam berdua besama Atlantisnya pun Panglima tidak masalah. Ketenangan yang diberikan Jeongin melalui manik indah seakan melarutkan segala batu di hatinya. Damai berkuasa, dipeluk erat pada pujaan bumantara.

Dan satu kecupan Kapten berikan di bibir Panglima. Kecupan singkat dengan sejuta perasaan di dalamnya.

“Kayak yang lo bilang gue bisa bersadar di punggung lo, lo juga bisa bersandar di punggung gue Panglima.”

Pada akhirnya damai yang berkuasa dalam hati Kapten. Menerima memang ada Panglima di dalamnya. Meski belum dibiarkan masuk, namun sosok dengan senyuman bulan sabit itu seolah dengan pasti akan menggantikan pemilik sebelumnya. Mungkin.

“Gue cinta banget sama lo Pipi bolong.”

Telapak tangan Kapten dibawa Panglima tepat di atas degup Jantungnya yang meraung. “Cuma lo yang bisa bikin detak jantung gue gini.”

“Anjing! jantung lo kayak mau meledak.”

“Ya karena ulah lo.”

“Itu pujian atau penghinaan, babi?”

“Pujian lah.”

“Oh yaudah makasih.”

“Ga mau dibales gitu?”

“Bales apaan lagi anjing? bales pesan?”

“Bales perasaan gue kan topiknya lagi itu.”

“Gue ngantuk deh.”

“Bangke.”

Meski begitu, hirap kecewa tidak datang. Terlampau tau pada tabiat Kapten yang menyimpan segalanya. Takut pada perasaan yang dia jelaskan melalui senyuman kecut yang disembunyikan melalui tingkahnya yang luar biasa.

Mencintai Kapte adalah urusan Panglima. Menerima segala sikapnya juga salah satu bentuk cintanya. Maka saat cinta yang menjadi pemenang, kecewa tidak akan pernah datang sekali pun dihancurkan dalam harapan.

“Yok tidur —hadah! lo jangan cekek gue anjing!”

“Lo yang anjing! tiba-tiba gendong kan gue kaget.”

“Mau turun?”

“Gue bisa jalan, tapi kalo mau lo gendong juga gapapa.”

“Bilang aja mau mau digendong.”

“Gengsi anjing.”

“Gengsi mulu, padahal mau.”

“Lo bisa diem ga? gue jambak nih rambut lo.”

“Sadis banget Pipi bolong gue.”

Dan gelap malam ditutup purnama dan gemintang yang tengah berbahagia. Samudra lepas merestui ombak di tengah lakuna. Memeluk insan yang berbagi kisah. Jatuh pada perasaan yang bahagianya bukan main adalah rasa yang tidak pernah keduanya bayangkan. Jatuh cinta.

“Kamar lo pernuh kertas.”

“Iya berkas osis buat lomba besok.”

“Lo ikut lomba?”

“Kagak gue panitia. Lagian ga lomba juga gue udah menang.”

“Apaan?”

“Juara 1 memenangkan hati Kapten Orion.”

“Anak setan!”

“Waduh? pipi lo merah banget Pipi bolong.”

“Anjing! diem ga lo setan! jauh-jauh lo babi.”

“Gimana gue bisa jauh lo aja meluk leher gue gini.”

“Yaudah diem. Gue jambak nih rambut lo.”

Bumantara tau, tidak selamanya Atlantis akan tenggelam didasar laut dingin. Sebab hari ini, Atlantis menjadi legenda indah dengan perasaan musim semi lekat dalam kisahnya.

Meski begitu, Panglima tetap bersedia mengarungi setiap musim dalam Atlantisnya.

Memeluk erat terkasihnya di bawah selimut, melupakan dua gelas susu yang masih berada di counter dapur. Atau yang benar melupakan segalanya?

“Hari ini, lo atau pun gue ga tidur sendiri.”

Kapten bergerak semakin merapat, berbisik pelan di telinga Panglima sebelum akhirnya terpejam mengarungi alam mimpi.

“Welcome home, Panglima. Your Kapten is here.”

Meninggalkan Hyunjin yang masih memproses kata-kata Jeongin-nya barusan.


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”

“Wlee.. bodo amat.”

Sekali lagi Hyunjin menggelengkan kepalanya, suasana hatinya masih berantakan, jadi daripada mulutnya macam-macam dia memilih tidak banyak berbicara.

Jeongin meraih gelas susu lebih dulu, berdiri di hadapan Hyunjin yang hanya menatapnya sendu.

“Tiup dulu, itu masih panas.”

“Pwah.. anjing!”

“Kan, udah gue bilang masih panas malah asal seruput.”

Segera Jeongin berkumur-kumur, “Aaaahhh lidah gueee.” rasa kebakar di lidahnya membuat sang Kapten Perang tanpa sadar sang merengek di hadapan musuhnya.

Di sisi lain Hyunjin dengan buru-buru memecahkan balok es batu. Panik hinggap secara cepat sampai batu pukulan yang terkena di jari telunjuknya tidak lagi dia hiraukan.

“Ni nih, emut es batu nya biar ga ledes.”

“Gede banget babi.”

“Yaelah masih sempet-sempetnya protes anjing.”

Jeongin bisa saja berdebat sekarang juga, tapi semua itu ia urungkan kala dia tersadar tujuannya datang ke rumah ini.

Baikan.

Dan secara ajaib Jeongin langsung menurut. Tidak serta merta ia mengalah, mata tajamnya memandang sinis Hyunjin yang kini tersenyum lucu saat melihat pipi tembam sang musuh semakin mengembung layaknya bakpao.

“Lain kali hati-hati.”

Suara Panglima mendayung merdu. Lengan bajunya yang panjang direlakan untuk menyeka sisa-sisa air keran Jeongin tadi. Perlakuannya masih sama, penuh perhatian sampai Kapten terpaku karenanya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Pasang mata yang terikat hebat diputus Panglima lebih dulu. Dia mengambil gelas susu Kapten dan meniupinya agar segera dingin.

Sederhana, namun mampu menarik bibir sang Pemimpin Orion lebih bersinar.

“Gue suruh kompres malah lo kunyah.”

“Biar cepet abis, lagian lo ngasihnya yang gede.”

“Nih, udah ga terlalu panas kalo mau lo minum lagi.”

“Tarok aja dulu, siniin gelas lo.”

“Buat apa?”

“Banyak nanya lo kayak satpam bank.”

Lantas detik jarum jam seakan berhenti, purnama seakan memberikan ribuan bintang pada pasang mata yang tidak dapat Hyunjin lepaskan. Kapten dengan gelas susu miliknya dia tiup persis seperti yang dia lakukan tadi.

“Nih susu lo.”

Entah dari mana ribuan kupu-kupu itu datang, menggelitik perut Panglima bersamaan dengan irama jantung yang membuatnya lupa atas segala resah yang hinggap. Luluh lantah dibuatnya.

“Bukan cuma lo yang bisa kasih perhatian yang orang lain ga pernah kasih ke gue. Memberi tanpa harap kasih, itu kan yang lo jalanin sekarang? tapi, gue juga bisa bales perhatian lo itu, Panglima

Karena nyatanya, mereka berdua sedang mengarungi perasaan yang sama.

Gelas susu yang masih Kapten genggam segera ia ambil, meletakkannya sembarang di counter dapur lalu mendekat ke arah Pipi bolong tanpa sungkan.

Kening keduanya menyatu, meski status musuh masih menjadi pembatas di antara mereka, namun bola mata yang saling pandang penuh cinta menjelaskan semuanya. Kapten memekik pelan kala tanpa aba-aba Panglima mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.

“Kaget anjing!”

Panglima tertawa pelan. Bagaimana bisa hanya dengan keberadaan Kapten seluruh gundahnya lenyap begitu saja? Rasa yang hampir mati diganti dengan indurasmi.

Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kapten yang ramping, “Kenapa hari ini manis banget sih, Pipi bolong?”

“Oh hari ini doang?” sengaja Kapten menggoda, membalas melingkarkan lengannya di leher Panglima.

“Setiap hari manis, tapi hari ini lebih manis.”

“Kayak apa?”

“Milkita strawberry?”

“Anjing.”

Di bawah atap rumah yang sepi, dua insan tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak tawa yang mereka tawakan bersama, lampau masalah diarungi untuk berada di waktu sekarang. Atau yang jelas hanya mengikuti arus tanpa tau akan berhenti di pelabuhan mana? entahlah, yang pasti saat ini sudah lebih dari cukup.

Jeongin menarik Hyunjin untuk masuk dalam rengkuhannya yang dingin. Perihal hati Jeongin memang tau, bukan bermaksud untuk memainkan perasaan Panglima. Namun Jeongin juga tau, kelopak mata itu berbeda dari hari-hari lalu.

“You okay, Panglima?”

Setidaknya dia bukan Kapten yang pembohong ulung. Kepalanya menggeleng, semakin mengeratkan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.

“Gue lagi berantakan banget akhir-akhir ini Pipi bolong. Masalah kecil aja bisa gue gede-gedein, banyak hal yang ga bisa gue kontrol sampe emosi gue nguasain tubuh gue.”

Jeongin memilih diam, meletakkan dagunya di pucuk kepala sembari mengusap punggung lebar yang selalu memberikan sandaran untuknya sukarela. Menjadi pendengar seperti yang sering Panglima lakukan tentunya.

“Keluarga gue emang ga seburuk keluarga lo, tapi ada kalanya gue pengen pas gue pulang mereka ada di rumah. Ga repot mikir hari ini mau makan apa, mau bersihin rumah yang sebelah mana, mau bayar tagihan yang mana.”

“Keluar juga percuma, bukannya tambah lega malah tambah runyam.”

Kepalanya mendongak untuk menatap mata binarnya Kapten. “Maaf ya kemarin gue ngilang, bukan karena gue ga memprioritasin lo Pipi bolong. Tapi gue butuh waktu buat ngehandle semua emosi gue. Lo titip di sini, di pikiran gue.”

“Lo jelek banget kalo lagi gini.”

“Emang anjing.”

Jeongin terkekeh pelan saat senyum Panglima runtuh dan digantikan wajah malasnya. Tangan yang sering menjadi tameng kala perang itu menangkup wajah Panglima. Dengan sangat pelan mengusap wajah musuhnya, mulai dari mata yang lelah, kantong mata tebal, bibir pecah, sampai ke rahangnya yang tegas.

Panglima terlihat lelah. Namun begitu, dirinya tetap saja setia menjatuhkan dirinya pada sang pemilik hati.

“Ya gimana dong gue ga bisa ngomong yang manis-manis.”

“Hadeh.. yaudah lah mau gimana lagi? emang udah cetakannya lo begitu Pipi bolong.”

Masih dengan tawanya yang halus, Kapten kembali menarik Panglima. Satu kecupan secara tiba-tiba diberikan Kapten di kening Panglima yang kini membeku.

“Gue ngerti kok perasaan lo, namanya juga anak tunggal, ga punya saudara, temen-temen itu lah yang gue anggep saudara gue.”

Satu kecupan Kapten berikan di masing-masing kelopak mata Panglima yang berat.

“Kalo ada yang bikin lo kecewa hajar aja mereka.”

Pun pucuk hidung mancung musuhnya tidak luput dari kecupan Kapten.

“Atau mau gue yang hajar? lo tinggal bilang siapa orangnya.”

“Mau jadi jagoan lo?”

Sang pemilik hati menarik sudut bibirnya tinggi. Memberikan satu kecupan di pipi Panglima yang kini senyumannya tidak kalah lebih lebar dari sang Kapten.

“Kalo lo bisa jadi jagoan buat gue, kenapa gue ga bisa jadi jagoan buat lo, anak setan?

Benar, dia tidak butuh siapa pun saat ini. Tenggelam berdua besama Atlantisnya pun Panglima tidak masalah. Ketenangan yang diberikan Jeongin melalui manik indah seakan melarutkan segala batu di hatinya. Damai berkuasa, dipeluk erat pada pujaan bumantara.

Dan satu kecupan Kapten berikan di bibir Panglima. Kecupan singkat dengan sejuta perasaan di dalamnya.

“Kayak yang lo bilang gue bisa bersadar di punggung lo, lo juga bisa bersandar di punggung gue Panglima.”

Pada akhirnya damai yang berkuasa dalam hati Kapten. Menerima memang ada Panglima di dalamnya. Meski belum dibiarkan masuk, namun sosok dengan senyuman bulan sabit itu seolah dengan pasti akan menggantikan pemilik sebelumnya. Mungkin.

“Gue cinta banget sama lo Pipi bolong.”

Telapak tangan Kapten dibawa Panglima tepat di atas degup Jantungnya yang meraung. “Cuma lo yang bisa bikin detak jantung gue gini.”

“Anjing! jantung lo kayak mau meledak.”

“Ya karena ulah lo.”

“Itu pujian atau penghinaan, babi?”

“Pujian lah.”

“Oh yaudah makasih.”

“Ga mau dibales gitu?”

“Bales apaan lagi anjing? bales pesan?”

“Bales perasaan gue kan topiknya lagi itu.”

“Gue ngantuk deh.”

“Bangke.”

Meski begitu, hirap kecewa tidak datang. Terlampau tau pada tabiat Kapten yang menyimpan segalanya. Takut pada perasaan yang dia jelaskan melalui senyuman kecut yang disembunyikan melalui tingkahnya yang luar biasa.

Mencintai Kapte adalah urusan Panglima. Menerima segala sikapnya juga salah satu bentuk cintanya. Maka saat cinta yang menjadi pemenang, kecewa tidak akan pernah datang sekali pun dihancurkan dalam harapan.

“Yok tidur —hadah! lo jangan cekek gue anjing!”

“Lo yang anjing! tiba-tiba gendong kan gue kaget.”

“Mau turun?”

“Gue bisa jalan, tapi kalo mau lo gendong juga gapapa.”

“Bilang aja mau mau digendong.”

“Gengsi anjing.”

“Gengsi mulu, padahal mau.”

“Lo bisa diem ga? gue jambak nih rambut lo.”

“Sadis banget Pipi bolong gue.”

Dan gelap malam ditutup purnama dan gemintang yang tengah berbahagia. Samudra lepas merestui ombak di tengah lakuna. Memeluk insan yang berbagi kisah. Jatuh pada perasaan yang bahagianya bukan main adalah rasa yang tidak pernah keduanya bayangkan. Jatuh cinta.

“Kamar lo pernuh kertas.”

“Iya berkas osis buat lomba besok.”

“Lo ikut lomba?”

“Kagak gue panitia. Lagian ga lomba juga gue udah menang.”

“Apaan?”

“Juara 1 memenangkan hati Kapten Orion.”

“Anak setan!”

“Waduh? pipi lo merah banget Pipi bolong.”

“Anjing! diem ga lo setan! jauh-jauh lo babi.”

“Gimana gue bisa jauh lo aja meluk leher gue gini.”

“Yaudah diem. Gue jambak nih rambut lo.”

Bumantara tau, tidak selamanya Atlantis akan tenggelam didasar laut dingin. Sebab hari ini, Atlantis menjadi legenda indah dengan perasaan musim semi lekat dalam kisahnya.

Meski begitu, Panglima tetap bersedia mengarungi setiap musim dalam Atlantisnya.

Memeluk erat terkasihnya di bawah selimut, melupakan dua gelas susu yang masih berada di counter dapur. Atau yang benar melupakan segalanya?

“Hari ini, lo atau pun gue ga tidur sendiri.”

Kapten bergerak semakin merapat, berbisik pelan di telinga Panglima sebelum akhirnya terpejam mengarungi alam mimpi.

“Welcome home, Panglima. Your Kapten is here.”

Meninggalkan Hyunjin yang masih memproses kata-kata Jeongin-nya barusan.


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”

“Wlee.. bodo amat.”

Sekali lagi Hyunjin menggelengkan kepalanya, suasana hatinya masih berantakan, jadi daripada mulutnya macam-macam dia memilih tidak banyak berbicara.

Jeongin meraih gelas susu lebih dulu, berdiri di hadapan Hyunjin yang hanya menatapnya sendu.

“Tiup dulu, itu masih panas.”

“Pwah.. anjing!”

“Kan, udah gue bilang masih panas malah asal seruput.”

Segera Jeongin berkumur-kumur, “Aaaahhh lidah gueee.” rasa kebakar di lidahnya membuat sang Kapten Perang tanpa sadar sang merengek di hadapan musuhnya.

Di sisi lain Hyunjin dengan buru-buru memecahkan balok es batu. Panik hinggap secara cepat sampai batu pukulan yang terkena di jari telunjuknya tidak lagi dia hiraukan.

“Ni nih, emut es batu nya biar ga ledes.”

“Gede banget babi.”

“Yaelah masih sempet-sempetnya protes anjing.”

Jeongin bisa saja berdebat sekarang juga, tapi semua itu ia urungkan kala dia tersadar tujuannya datang ke rumah ini.

Baikan

Dan secara ajaib Jeongin langsung menurut. Tidak serta merta ia mengalah, mata tajamnya memandang sinis Hyunjin yang kini tersenyum lucu saat melihat pipi tembam sang musuh semakin mengembung layaknya bakpao.

“Lain kali hati-hati.”

Suara Panglima mendayung merdu. Lengan bajunya yang panjang direlakan untuk menyeka sisa-sisa air keran Jeongin tadi. Perlakuannya masih sama, penuh perhatian sampai Kapten terpaku karenanya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Pasang mata yang terikat hebat diputus Panglima lebih dulu. Dia mengambil gelas susu Kapten dan meniupinya agar segera dingin.

Sederhana, namun mampu menarik bibir sang Pemimpin Orion lebih bersinar.

“Gue suruh kompres malah lo kunyah.”

“Biar cepet abis, lagian lo ngasihnya yang gede.”

“Nih, udah ga terlalu panas kalo mau lo minum lagi.”

“Tarok aja dulu, siniin gelas lo.”

“Buat apa?”

“Banyak nanya lo kayak satpam bank.”

Lantas detik jarum jam seakan berhenti, purnama seakan memberikan ribuan bintang pada pasang mata yang tidak dapat Hyunjin lepaskan. Kapten dengan gelas susu miliknya dia tiup persis seperti yang dia lakukan tadi.

“Nih susu lo.”

Entah dari mana ribuan kupu-kupu itu datang, menggelitik perut Panglima bersamaan dengan irama jantung yang membuatnya lupa atas segala resah yang hinggap. Luluh lantah dibuatnya.

“Bukan cuma lo yang bisa kasih perhatian yang orang lain ga pernah kasih ke gue. Memberi tanpa harap kasih, itu kan yang lo jalanin sekarang? tapi, gue juga bisa bales perhatian lo itu, Panglima

Karena nyatanya, mereka berdua sedang mengarungi perasaan yang sama.

Gelas susu yang masih Kapten genggam segera ia ambil, meletakkannya sembarang di counter dapur lalu mendekat ke arah Pipi bolong tanpa sungkan.

Kening keduanya menyatu, meski status musuh masih menjadi pembatas di antara mereka, namun bola mata yang saling pandang penuh cinta menjelaskan semuanya. Kapten memekik pelan kala tanpa aba-aba Panglima mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.

“Kaget anjing!”

Panglima tertawa pelan. Bagaimana bisa hanya dengan keberadaan Kapten seluruh gundahnya lenyap begitu saja? Rasa yang hampir mati diganti dengan indurasmi.

Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kapten yang ramping, “Kenapa hari ini manis banget sih, Pipi bolong?”

“Oh hari ini doang?” sengaja Kapten menggoda, membalas melingkarkan lengannya di leher Panglima.

“Setiap hari manis, tapi hari ini lebih manis.”

“Kayak apa?”

“Milkita strawberry?”

“Anjing.”

Di bawah atap rumah yang sepi, dua insan tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak tawa yang mereka tawakan bersama, lampau masalah diarungi untuk berada di waktu sekarang. Atau yang jelas hanya mengikuti arus tanpa tau akan berhenti di pelabuhan mana? entahlah, yang pasti saat ini sudah lebih dari cukup.

Jeongin menarik Hyunjin untuk masuk dalam rengkuhannya yang dingin. Perihal hati Jeongin memang tau, bukan bermaksud untuk memainkan perasaan Panglima. Namun Jeongin juga tau, kelopak mata itu berbeda dari hari-hari lalu.

“You okay, Panglima?”

Setidaknya dia bukan Kapten yang pembohong ulung. Kepalanya menggeleng, semakin mengeratkan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.

“Gue lagi berantakan banget akhir-akhir ini Pipi bolong. Masalah kecil aja bisa gue gede-gedein, banyak hal yang ga bisa gue kontrol sampe emosi gue nguasain tubuh gue.”

Jeongin memilih diam, meletakkan dagunya di pucuk kepala sembari mengusap punggung lebar yang selalu memberikan sandaran untuknya sukarela. Menjadi pendengar seperti yang sering Panglima lakukan tentunya.

“Keluarga gue emang ga seburuk keluarga lo, tapi ada kalanya gue pengen pas gue pulang mereka ada di rumah. Ga repot mikir hari ini mau makan apa, mau bersihin rumah yang sebelah mana, mau bayar tagihan yang mana.”

“Keluar juga percuma, bukannya tambah lega malah tambah runyam.”

Kepalanya mendongak untuk menatap mata binarnya Kapten. “Maaf ya kemarin gue ngilang, bukan karena gue ga memprioritasin lo Pipi bolong. Tapi gue butuh waktu buat ngehandle semua emosi gue. Lo titip di sini, di pikiran gue.”

“Lo jelek banget kalo lagi gini.”

“Emang anjing.”

Jeongin terkekeh pelan saat senyum Panglima runtuh dan digantikan wajah malasnya. Tangan yang sering menjadi tameng kala perang itu menangkup wajah Panglima. Dengan sangat pelan mengusap wajah musuhnya, mulai dari mata yang lelah, kantong mata tebal, bibir pecah, sampai ke rahangnya yang tegas.

Panglima terlihat lelah. Namun begitu, dirinya tetap saja setia menjatuhkan dirinya pada sang pemilik hati.

“Ya gimana dong gue ga bisa ngomong yang manis-manis.”

“Hadeh.. yaudah lah mau gimana lagi? emang udah cetakannya lo begitu Pipi bolong.”

Masih dengan tawanya yang halus, Kapten kembali menarik Panglima. Satu kecupan secara tiba-tiba diberikan Kapten di kening Panglima yang kini membeku.

“Gue ngerti kok perasaan lo, namanya juga anak tunggal, ga punya saudara, temen-temen itu lah yang gue anggep saudara gue.”

Satu kecupan Kapten berikan di masing-masing kelopak mata Panglima yang berat.

“Kalo ada yang bikin lo kecewa hajar aja mereka.”

Pun pucuk hidung mancung musuhnya tidak luput dari kecupan Kapten.

“Atau mau gue yang hajar? lo tinggal bilang siapa orangnya.”

“Mau jadi jagoan lo?”

Sang pemilik hati menarik sudut bibirnya tinggi. Memberikan satu kecupan di pipi Panglima yang kini senyumannya tidak kalah lebih lebar dari sang Kapten.

“Kalo lo bisa jadi jagoan buat gue, kenapa gue ga bisa jadi jagoan buat lo, anak setan?

Benar, dia tidak butuh siapa pun saat ini. Tenggelam berdua besama Atlantisnya pun Panglima tidak masalah. Ketenangan yang diberikan Jeongin melalui manik indah seakan melarutkan segala batu di hatinya. Damai berkuasa, dipeluk erat pada pujaan bumantara.

Dan satu kecupan Kapten berikan di bibir Panglima. Kecupan singkat dengan sejuta perasaan di dalamnya.

“Kayak yang lo bilang gue bisa bersadar di punggung lo, lo juga bisa bersandar di punggung gue Panglima.”

Pada akhirnya damai yang berkuasa dalam hati Kapten. Menerima memang ada Panglima di dalamnya. Meski belum dibiarkan masuk, namun sosok dengan senyuman bulan sabit itu seolah dengan pasti akan menggantikan pemilik sebelumnya. Mungkin.

“Gue cinta banget sama lo Pipi bolong.”

Telapak tangan Kapten dibawa Panglima tepat di atas degup Jantungnya yang meraung. “Cuma lo yang bisa bikin detak jantung gue gini.”

“Anjing! jantung lo kayak mau meledak.”

“Ya karena ulah lo.”

“Itu pujian atau penghinaan, babi?”

“Pujian lah.”

“Oh yaudah makasih.”

“Ga mau dibales gitu?”

“Bales apaan lagi anjing? bales pesan?”

“Bales perasaan gue kan topiknya lagi itu.”

“Gue ngantuk deh.”

“Bangke.”

Meski begitu, hirap kecewa tidak datang. Terlampau tau pada tabiat Kapten yang menyimpan segalanya. Takut pada perasaan yang dia jelaskan melalui senyuman kecut yang disembunyikan melalui tingkahnya yang luar biasa.

Mencintai Kapte adalah urusan Panglima. Menerima segala sikapnya juga salah satu bentuk cintanya. Maka saat cinta yang menjadi pemenang, kecewa tidak akan pernah datang sekali pun dihancurkan dalam harapan.

“Yok tidur —hadah! lo jangan cekek gue anjing!”

“Lo yang anjing! tiba-tiba gendong kan gue kaget.”

“Mau turun?”

“Gue bisa jalan, tapi kalo mau lo gendong juga gapapa.”

“Bilang aja mau mau digendong.”

“Gengsi anjing.”

“Gengsi mulu, padahal mau.”

“Lo bisa diem ga? gue jambak nih rambut lo.”

“Sadis banget Pipi bolong gue.”

Dan gelap malam ditutup purnama dan gemintang yang tengah berbahagia. Samudra lepas merestui ombak di tengah lakuna. Memeluk insan yang berbagi kisah. Jatuh pada perasaan yang bahagianya bukan main adalah rasa yang tidak pernah keduanya bayangkan. Jatuh cinta.

“Kamar lo pernuh kertas.”

“Iya berkas osis buat lomba besok.”

“Lo ikut lomba?”

“Kagak gue panitia. Lagian ga lomba juga gue udah menang.”

“Apaan?”

“Juara 1 memenangkan hati Kapten Orion.”

“Anak setan!”

“Waduh? pipi lo merah banget Pipi bolong.”

“Anjing! diem ga lo setan! jauh-jauh lo babi.”

“Gimana gue bisa jauh lo aja meluk leher gue gini.”

“Yaudah diem. Gue jambak nih rambut lo.”

Bumantara tau, tidak selamanya Atlantis akan tenggelam didasar laut dingin. Sebab hari ini, Atlantis menjadi legenda indah dengan perasaan musim semi lekat dalam kisahnya.

Meski begitu, Panglima tetap bersedia mengarungi setiap musim dalam Atlantisnya.

Memeluk erat terkasihnya di bawah selimut, melupakan dua gelas susu yang masih berada di counter dapur. Atau yang benar melupakan segalanya?

“Hari ini, lo atau pun gue ga tidur sendiri.”

Kapten bergerak semakin merapat, berbisik pelan di telinga Panglima sebelum akhirnya terpejam mengarungi alam mimpi.

“Welcome home, Panglima. Your Kapten is here.”

Meninggalkan Hyunjin yang masih memproses kata-kata Jeongin-nya barusan.