bhluewry


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”

“Wlee.. bodo amat.”

Sekali lagi Hyunjin menggelengkan kepalanya, suasana hatinya masih berantakan, jadi daripada mulutnya macam-macam dia memilih tidak banyak berbicara.

Jeongin meraih gelas susu lebih dulu, berdiri di hadapan Hyunjin yang hanya menatapnya sendu.

“Tiup dulu, itu masih panas.”

“Pwah.. anjing!”

“Kan, udah gue bilang masih panas malah asal seruput.”

Segera Jeongin berkumur-kumur, “Aaaahhh lidah gueee.” rasa kebakar di lidahnya membuat sang Kapten Perang tanpa sadar sang merengek di hadapan musuhnya.

Di sisi lain Hyunjin dengan buru-buru memecahkan balok es batu. Panik hinggap secara cepat sampai batu pukulan yang terkena di jari telunjuknya tidak lagi dia hiraukan.

“Ni nih, emut es batu nya biar ga ledes.”

“Gede banget babi.”

“Yaelah masih sempet-sempetnya protes anjing.”

Jeongin bisa saja berdebat sekarang juga, tapi semua itu ia urungkan kala dia tersadar tujuannya datang ke rumah ini.

Baikan

Dan secara ajaib Jeongin langsung menurut. Tidak serta merta ia mengalah, mata tajamnya memandang sinis Hyunjin yang kini tersenyum lucu saat melihat pipi tembam sang musuh semakin mengembung layaknya bakpao.

“Lain kali hati-hati.”

Suara Panglima mendayung merdu. Lengan bajunya yang panjang direlakan untuk menyeka sisa-sisa air keran Jeongin tadi. Perlakuannya masih sama, penuh perhatian sampai Kapten terpaku karenanya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Pasang mata yang terikat hebat diputus Panglima lebih dulu. Dia mengambil gelas susu Kapten dan meniupinya agar segera dingin.

Sederhana, namun mampu menarik bibir sang Pemimpin Orion lebih bersinar.

“Gue suruh kompres malah lo kunyah.”

“Biar cepet abis, lagian lo ngasihnya yang gede.”

“Nih, udah ga terlalu panas kalo mau lo minum lagi.”

“Tarok aja dulu, siniin gelas lo.”

“Buat apa?”

“Banyak nanya lo kayak satpam bank.”

Lantas detik jarum jam seakan berhenti, purnama seakan memberikan ribuan bintang pada pasang mata yang tidak dapat Hyunjin lepaskan. Kapten dengan gelas susu miliknya dia tiup persis seperti yang dia lakukan tadi.

“Nih susu lo.”

Entah dari mana ribuan kupu-kupu itu datang, menggelitik perut Panglima bersamaan dengan irama jantung yang membuatnya lupa atas segala resah yang hinggap. Luluh lantah dibuatnya.

“Bukan cuma lo yang bisa kasih perhatian yang orang lain ga pernah kasih ke gue. Memberi tanpa harap kasih, itu kan yang lo jalanin sekarang? tapi,gue juga bisa bales perhatian lo itu, Panglima

Karena nyatanya, mereka berdua sedang mengarungi perasaan yang sama.

Gelas susu yang masih Kapten genggam segera ia ambil, meletakkannya sembarang di counter dapur lalu mendekat ke arah Pipi bolong tanpa sungkan.

Kening keduanya menyatu, meski status musuh masih menjadi pembatas di antara mereka, namun bola mata yang saling pandang penuh cinta menjelaskan semuanya. Kapten memekik pelan kala tanpa aba-aba Panglima mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja makan.

“Kaget anjing!”

Panglima tertawa pelan. Bagaimana bisa hanya dengan keberadaan Kapten seluruh gundahnya lenyap begitu saja? Rasa yang hampir mati diganti dengan indurasmi.

Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kapten yang ramping, “Kenapa hari ini manis banget sih, Pipi bolong?”

“Oh hari ini doang?” sengaja Kapten menggoda, membalas melingkarkan lengannya di leher Panglima.

“Setiap hari manis, tapi hari ini lebih manis.”

“Kayak apa?”

“Milkita strawberry?”

“Anjing.”

Di bawah atap rumah yang sepi, dua insan tertawa bersama. Entah sudah berapa banyak tawa yang mereka tawakan bersama, lampau masalah diarungi untuk berada di waktu sekarang. Atau yang jelas hanya mengikuti arus tanpa tau akan berhenti di pelabuhan mana? entahlah, yang pasti saat ini sudah lebih dari cukup.

Jeongin menarik Hyunjin untuk masuk dalam rengkuhannya yang dingin. Perihal hati Jeongin memang tau, bukan bermaksud untuk memainkan perasaan Panglima. Namun Jeongin juga tau, kelopak mata itu berbeda dari hari-hari lalu.

“You okay, Panglima?”

Setidaknya dia bukan Kapten yang pembohong ulung. Kepalanya menggeleng, semakin mengeratkan lengannya hingga tubuh mereka menempel erat.

“Gue lagi berantakan banget akhir-akhir ini Pipi bolong. Masalah kecil aja bisa gue gede-gedein, banyak hal yang ga bisa gue kontrol sampe emosi gue nguasain tubuh gue.”

Jeongin memilih diam, meletakkan dagunya di pucuk kepala sembari mengusap punggung lebar yang selalu memberikan sandaran untuknya sukarela. Menjadi pendengar seperti yang sering Panglima lakukan tentunya.

“Keluarga gue emang ga seburuk keluarga lo, tapi ada kalanya gue pengen pas gue pulang mereka ada di rumah. Ga repot mikir hari ini mau makan apa, mau bersihin rumah yang sebelah mana, mau bayar tagihan yang mana.”

“Keluar juga percuma, bukannya tambah lega malah tambah runyam.”

Kepalanya mendongak untuk menatap mata binarnya Kapten. “Maaf ya kemarin gue ngilang, bukan karena gue ga memprioritasin lo Pipi bolong. Tapi gue butuh waktu buat ngehandle semua emosi gue. Lo titip di sini, di pikiran gue.”

“Lo jelek banget kalo lagi gini.”

“Emang anjing.”

Jeongin terkekeh pelan saat senyum Panglima runtuh dan digantikan wajah malasnya. Tangan yang sering menjadi tameng kala perang itu menangkup wajah Panglima. Dengan sangat pelan mengusap wajah musuhnya, mulai dari mata yang lelah, kantong mata tebal, bibir pecah, sampai ke rahangnya yang tegas.

Panglima terlihat lelah. Namun begitu, dirinya tetap saja setia menjatuhkan dirinya pada sang pemilik hati.

“Ya gimana dong gue ga bisa ngomong yang manis-manis.”

“Hadeh.. yaudah lah mau gimana lagi? emang udah cetakannya lo begitu Pipi bolong.”

Masih dengan tawanya yang halus, Kapten kembali menarik Panglima. Satu kecupan secara tiba-tiba diberikan Kapten di kening Panglima yang kini membeku.

“Gue ngerti kok perasaan lo, namanya juga anak tunggal, ga punya saudara, temen-temen itu lah yang gue anggep saudara gue.”

Satu kecupan Kapten berikan di masing-masing kelopak mata Panglima yang berat.

“Kalo ada yang bikin lo kecewa hajar aja mereka.”

Pun pucuk hidung mancung musuhnya tidak luput dari kecupan Kapten.

“Atau mau gue yang hajar? lo tinggal bilang siapa orangnya.”

“Mau jadi jagoan lo?”

Sang pemilik hati menarik sudut bibirnya tinggi. Memberikan satu kecupan di pipi Panglima yang kini senyumannya tidak kalah lebih lebar dari sang Kapten.

“Kalo lo bisa jadi jagoan buat gue, kenapa gue ga bisa jadi jagoan buat lo, anak setan?

Benar, dia tidak butuh siapa pun saat ini. Tenggelam berdua besama Atlantisnya pun Panglima tidak masalah. Ketenangan yang diberikan Jeongin melalui manik indah seakan melarutkan segala batu di hatinya. Damai berkuasa, dipeluk erat pada pujaan bumantara.

Dan satu kecupan Kapten berikan di bibir Panglima. Kecupan singkat dengan sejuta perasaan di dalamnya.

“Kayak yang lo bilang gue bisa bersadar di punggung lo, lo juga bisa bersandar di punggung gue Panglima.”

Pada akhirnya damai yang berkuasa dalam hati Kapten. Menerima memang ada Panglima di dalamnya. Meski belum dibiarkan masuk, namun sosok dengan senyuman bulan sabit itu seolah dengan pasti akan menggantikan pemilik sebelumnya. Mungkin.

“Gue cinta banget sama lo Pipi bolong.”

Telapak tangan Kapten dibawa Panglima tepat di atas degup Jantungnya yang meraung. “Cuma lo yang bisa bikin detak jantung gue gini.”

“Anjing! jantung lo kayak mau meledak.”

“Ya karena ulah lo.”

“Itu pujian atau penghinaan, babi?”

“Pujian lah.”

“Oh yaudah makasih.”

“Ga mau dibales gitu?”

“Bales apaan lagi anjing? bales pesan?”

“Bales perasaan gue kan topiknya lagi itu.”

“Gue ngantuk deh.”

“Bangke.”

Meski begitu, hirap kecewa tidak datang. Terlampau tau pada tabiat Kapten yang menyimpan segalanya. Takut pada perasaan yang dia jelaskan melalui senyuman kecut yang disembunyikan melalui tingkahnya yang luar biasa.

Mencintai Kapte adalah urusan Panglima. Menerima segala sikapnya juga salah satu bentuk cintanya. Maka saat cinta yang menjadi pemenang, kecewa tidak akan pernah datang sekali pun dihancurkan dalam harapan.

“Yok tidur —hadah! lo jangan cekek gue anjing!”

“Lo yang anjing! tiba-tiba gendong kan gue kaget.”

“Mau turun?”

“Gue bisa jalan, tapi kalo mau lo gendong juga gapapa.”

“Bilang aja mau mau digendong.”

“Gengsi anjing.”

“Gengsi mulu, padahal mau.”

“Lo bisa diem ga? gue jambak nih rambut lo.”

“Sadis banget Pipi bolong gue.”

Dan gelap malam ditutup purnama dan gemintang yang tengah berbahagia. Samudra lepas merestui ombak di tengah lakuna. Memeluk insan yang berbagi kisah. Jatuh pada perasaan yang bahagianya bukan main adalah rasa yang tidak pernah keduanya bayangkan. Jatuh cinta.

“Kamar lo pernuh kertas.”

“Iya berkas osis buat lomba besok.”

“Lo ikut lomba?”

“Kagak gue panitia. Lagian ga lomba juga gue udah menang.”

“Apaan?”

“Juara 1 memenangkan hati Kapten Orion.”

“Anak setan!”

“Waduh? pipi lo merah banget Pipi bolong.”

“Anjing! diem ga lo setan! jauh-jauh lo babi.”

“Gimana gue bisa jauh lo aja meluk leher gue gini.”

“Yaudah diem. Gue jambak nih rambut lo.”

Bumantara tau, tidak selamanya Atlantis akan tenggelam didasar laut dingin. Sebab hari ini, Atlantis menjadi legenda indah dengan perasaan musim semi lekat dalam kisahnya.

Meski begitu, Panglima tetap bersedia mengarungi setiap musim dalam Atlantisnya.

Memeluk erat terkasihnya di bawah selimut, melupakan dua gelas susu yang masih berada di counter dapur. Atau yang benar melupakan segalanya?

“Hari ini, lo atau pun gue ga tidur sendiri.”

Kapten bergerak semakin merapat, berbisik pelan di telinga Panglima sebelum akhirnya terpejam mengarungi alam mimpi.

“Welcome home, Panglima. Your Kapten is here.”

Meninggalkan Hyunjin yang masih memproses kata-kata Jeongin-nya barusan.


Kesendiriannya ditemani purnama kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang berada di kamar mandi —mungkin masih. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!” dia membalas berteriak. Agar terdengar alasannya.

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit, tapi harus terbiasa kan? wkwk

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”

Hyunjin segera menyimpan ponselnya dalam kantong, bersandar pada counter dapur sembari menunggu Kapten berjalan ke arahnya.

“Pake air panas ga?”

“Kagak lah, mana seger anjing.”

“Malem-malem mandi, sakit tulang baru tau rasa lo.”


Kesendiriannya ditemani gemintang kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang tidak tau keberadaannya dimana. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!”

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit tapi harus terbiasa kan?

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, Jakarta panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”


Kesendiriannya ditemani gemintang kala itu. Menghiasi cakrawala malam hingga tanpa sungkan cahayanya masuk melalui sela-sela gorden yang tersingkap akibat balutan angin. Atensinya dia berikan pada panci berisi air panas, dengan hati-hati menuangkan air tersebut pada dua gelas susu coklat bubuk yang sudah ia siapkan. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu yang tidak tau keberadaannya dimana. Terlampau biasa mengganggap rumah ini sebagai rumahnya. Pun tuan pemilik sama sekali tidak keberatan.

Tepat saat coklat panas itu sudah siap, suara tamunya menggelegar memenuhi sudut rumah.

“Anak setan, baju gue dimana?!” dasar tidak punya mata. Yang ditanya tidak langsung menjawab, dia hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anak setaaaannn!”

“Di kasur, tadi kan gue bilang bajunya di kasur pipi bolong!”

Lalu hening kembali melanda. Sang pehuni lain mungkin sedang sibuk dalam urusan pribadinya sekarang. Lantas Hyunjin pun meraih ponselnya untuk sekedar melihat-lihat apakah ada pesan penting untuknya.

From: Nanon ipa Mungkin sekarang kita harus stop ngebahas dia. Gue emang sakit tapi harus terbiasa kan?

Bersamaan helaan napas berat jemarinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, sebelum suara langkah kaki yang mendekat menghentikan kegiatannya.

“Gila gila seger banget badan gue abis berendem, Jakarta panas banget hari ini padahal kemarin malem hujan gledek.”



“Niatnya mau ke ruang osis bayar duit kas, eh pas ngangkat palak abis ngabarin anak-anak osis doi lewat fuck sinis banget buset kayak dosa gue pindah aja ke dia padahal gue cuma jalan biasa anjing, bukan yang anak ipa lewat gue mintain 2 rebu.”

Laju motor yang pelan membuat Panglima dengan jelas mendengar tawa Kapten di belakang. Merdu bak gemerisik dedaunan yang terkena angin di cuaca cerah hari ini.

“Echan mah emang gitu, bukan lo doang semua anak ips juga dia sensi.”

“Lah anjing?”

“Lagak lo kayak lupa aja kita ini musuh.”

Kali ini giliran Panglima yang tertawa. Dia menoleh sedikit ke arah Kapten yang menaruh dagunya di bahu Panglima dengan nyaman. Fokusnya mulai terbagi.

“Oh iya ya, gue beneran lupa lagi.”

“Anak setan.” rona merah di pipi Jeongin terlihat kontras di bawah matahari.

“Lo juga?”

“Apa?”

“Disensiin Echan?”

“Sedikit.” pandangannya mengedar pada bangunan yang sedikit padat oleh pengunjung. “Awalnya dia ga kayak gitu, cuma karna ada masalah pribadi makanya jadi hatinya penuh dengki.”

“Kasian.”

“Kayak lo.”

“Beda dong, hati gue ga pernah penuh dengki.”

“Iya emang.” tangan itu semakin erat memeluk Panglima, sejenak menatap musuhnya dari pantulan spion yang terlihat sangat jelek. “Tapi penuh sama gue kan?”

“Anjing ... hahaha.”

Dan keduanya tertawa bersama. Mengalahkan semua melodi yang indah.

“Flirtting nya jangan sekarang pipi, gue lagi bawa motor ntar kita jatoh masuk paret gimana?”

“Katanya ga mau bikin gue lecet.”

“Lo naik pundak gue aja dah sini biar kalo jatoh gue duluan.”

“Anjing, manis ya mulut lo.”

“Widi yang sering ngerasain.”

“Ga gitu maksudnya babi.” dengan sengaja Jeongin menoyor helm Hyunjin sampai sang pembawa motor itu tertawa puas. “Omongan lo yang sok manis maksud gue.”

Sejenak Jeongin tidak sadar betapa tingginya senyuman dia kala melihat Panglima tertawa sampai matanya berbentuk bulan sabit. Selaras dengan detak jantung asing seperti dulu hinggap menyapa.

“Lo tau ga kalo Jaehyuk sama Asahi pacaran?”

“Hah? maksudnya?”

“KAN! Kaget kan!”

Tepat ketika di lampu merah, Hyunjin memberikan seluruh atensinya pada Jeongin tanpa membiarkan Kapten menarik tubuhnya untuk memberi jarak.

“Kapan mereka jadiannya anjing? klepon gue pendiem gitu buset kirain yang bakal jadian duluan pawat sama nanon.”

“Kagak tau aduh patah hati gue.”

“Eh jangan gitu dong, lo patah hati gue juga patah hati nih.”

Ajaibnya Jeongin malah tertawa. Kapten dengan senyuman paling manis yang pernah Hyunjin lihat berhasil membuat ritme jantungnya berdegup kencang. Dia masih ingin berdiam, memandang Jeongin adalah kebiasaan barunya sekarang. Namun bunyi klakson dari pengemudi mobil di belakangnya yang tidak sabar sukses memaksa Hyunjin melempar umpatan.

“Dari tadi ngomongin orang mulu, mending ngomongin kejelasan hubungan kita aja pipi.”

“Cari caffe aja gue mau belajar di sana.”

Nice try Hyunjin. Lantas Panglima mengangguk setuju. Tanpa melunturkan senyuman atas apreasiasi perjuangannya mendekati kulkas dua belas pintu.

“Besok lo ulangan apa?”

Kalau Kapten punya banyak cara untuk mengalihkan pembicaraan, maka Panglima punya segudang cara agar komunikasi mereka tidak mati. Dia Panglima, bukan kerupuk seblak yang mudah lembek. Jika sekali Kapten menolak, biar hari lain yang mencetak cerita bagi keduanya. Banyak kesempatan, dan Panglima akan mengambil setiap kesempatan itu.

Jatuh cinta sama Kapten itu susah, tapi sayangnya Panglima menikmati setiap perasaan dari jatuh cinta itu.


“Niatnya mau ke ruang osis bayar duit kas, eh pas ngangkat palak abis ngabarin anak-anak osis doi lewat fak sinis banget buset kayak dosa gue pindah aja ke dia padahal gue cuma jalan biasa anjing, bukan yang anak ipa lewat gue mintain 2 rebu.”

Laju motor yang pelan membuat Panglima dengan jelas mendengar tawa Kapten di belakang.




Langit malam mulai bergerak turun, mencetak warna jingga dengan mentari yang siap menyapa kembali bumantara. Duduknya di pagi hari ini berteman pada udara dingin selepas sisa pesta semalam. Dia termangu, membiarkan pikirannya melalang buana bebas hingga sunyi datang merundung.

Selalu saja seperti ini.

Kala rasa sepi berkunjung tanpa tapi.

Kendaraan mulai pergi dan datang, beberapa pejalan kaki pun menyapanya yang berada di ujung halaman villa, teman-temannya pun ada, tapi tetap saja perasaan sendiri menyergap tanpa belas kasih.

Kosong. Rasanya sangat kosong.

“Gue kira lo masih tidur, taunya ngadem di sini.” asumsi peduli seolah hadir bersamanya. “Lo ga tidur ya? mata panda lo keliatan banget Pipi bolong.”

Hyunjin merapikan sedikit rambut Jeongin yang acak-acakan karena angin pagi. Setelahnya menoel-noel pipi musuhnya agar kehadirannya disadari. Usil memang.

Untung Jeongin sudah biasa.

“Gue rasanya ga mau pulang.”

“Betah ya di sini?” yang ditanga mengangguk, masih setia menatap mentari yang semakin bergerak naik. “Apalagi di sininya sama gue.”

“Anak setan!”

Hyunjin hanya terkekeh kecil, “Pipi bolong.” ada banyak rasa yang disalurkan saat telapak tangannya bertaut pada milik Jeongin yang sedingin awal musim semi. Jeongin tidak menolak, dia biarkan saja dingin tangannya beradu dengan hangatnya tangan Hyunjin.

“Kita ga bisa terus-terusan kabur dari masalah.”

“Gue tau.”

“Kita lewatin bareng-bareng ya.”

Sesaat Jeongin terdiam, aksanya memandang jenuh, terlampau bosan pada kalimat yang sulit dia percaya.

“Gue aja.” jelas dia menolak. “Biar gue ngadepin masalah gue sendiri, lo juga pasti punya masalah lo sendiri kan? jadi ga usah buang-buang waktu lo buat gue, Panglima.”

“Manusia itu hidup harus tolong-menolong Kapten. Kalo ada yang nawarin bantuan lo harus terima, dengan gitu hidup lo baru seimbang. Mau sampe kapan lo cuma jadi penolong tanpa mau ditolong? Ga capek apa sendirian terus?”

Jeongin masih bungkam, bibirnya seolah kelu, dalam hati sudah mengumpati papa dan mamanya yang pagi-pagi sudah bertengkar di grup keluarga sampai membuat moodnya hancur berantakan.

Tubuh kurus itu dibawa Hyunjin untuk bersandar pada pundaknya. Sesekali Hyunjin mengusap pucuk kepala Jeongin, aroma mint bercampur manis tidak pernah gagal membuatnya jatuh berkali-kali.

“Udah gue bilang, lo bisa keliatan kuat di depan semua orang, tapi di depan gue lo bisa untuk lemah Pipi bolong.”

“Kapten mana yang lemah Panglima?”

Kaptennya Panglima.

Jeongin tertawa karenanya, merasa geli dengan ungkapan Hyunjin barusan.

“Sejak kapan gue jadi Kapten lo anjing? gue Kaptennya Orion.”

“Belum juga jadi Lia udah nambah aja list gue buat masuk Orion biar bisa deket sama lo Pipi bilong.”

“Lia mulu dari semalem lo anjing. Lagian lo ga perlu jadi siapa-siapa buat deket sama gue.”

Kalimat sederhana Jeongin seakan membawa Hyunjin terbang ke angkasa. Bibirnya ditarik tinggi sampai matahari terbit digantikan bulan sabit di mata tajam miliknya.

“Bearti gue boleh deket sama lo Pipi?”

“Ya lo liat aja sekarang kita gimana? kurang deket apa badan gue sama badan lo?”

Ini Kapten. Apa yang bisa diharapin sama orang yang kadar pekanya di bawah 0?

Kalau tidak cinta saja mungkin Hyunjin sudah mendorong Kapten sampai menggelinding ke Jurang.

“Bukan deket kayak gitu maksud gue anjing.”

Nyatanya Jeongin itu tidak bodoh. Senyum tipis yang menghiasi bibirnya kala Hyumjin mengumpat seolah menyampaikan sejuta makna.

“Pipi bolong.”

Hyunjin menangkup wajah Jeongin, dia satukan kening keduanya sampai hembusan nafas Hyunjin menerpa wajahnya yang terhanyut dibawanya entah kemana.

“Semalem lo nanya gue suka sama lo kan? gue mau jawab sekarang.”

Satu kecupan hangat Panglima berikan di kening Kapten. Dia sungguh menyalurkan semua perasaannya sampai mengundang ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya.

“Gue sa..”

“Jangan.”

Bingung tidak dapat dicegah, semuanya tercetak jelas di raut wajah Hyunjin kala Jeongin mengambil jarak.

“Lo jangan pernah suka sama gue Panglima.

“Pipi bolong?”

Sorak sorai angin membawa Jeongin untuk bangkit. Sudut bibir Hyunjin tidak lagi mengulas senyum.

“Lo sama gue itu musuh Panglima dan gue ga pernah kepikiran buat ngubah status kita.”

“Lo apa?”

Dia abaikan pertanyaan itu seperti biasa. Jeongin dan sifat keras kepalanya.

“Lepas.”

“Ga.” jika Jeongin keras kepala, maka Hyunjin itu penuh dengan emosi yang tinggi. Dia gampang berubah jika menyangkut hati.

“Kita udah sejauh ini lo masih nganggep gue musuh lo? disaat temen-temen lo aja bisa nerima kehadiran gue sama temen-temen gue?”

“Lo ga pernah liat selama ini gue tulus sama lo? Gue sayang sama lo Kapten.”

“Apa sih? gue ga pernah nganggep lo lebih dari musuh gue, anjing.”

Dan secara refleks Hyunjin melepaskan cengkramannya. Dia menatap Kapten tidak percaya. Sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah datarnya seperti di sekolah.

Mengubur perasaanya yang sama.

“Lo orang teregois yang pernah gue temuin bangsat.”

Hyunjin pergi lebih dulu. Meninggalkan Jeongin yang masih terdiam di ujung halaman. Dia menghela nafas berat. Matanya bergulir ke angkasa, tertawa remeh sejenak.

Sebab Jeongin tau, lebih baik usai sekarang daripada dia harus kecewa nanti.

Cinta itu gampang berubah. Orang tuanya saja bersumpah untuk hidup semati bisa hancur di tengah jalan, apalagi dia?