bhluewry


Langit malam mulai bergerak turun, mencetak warna jingga dengan mentari yang siap menyapa kembali bumantara. Duduknya di pagi hari ini berteman pada udara dingin selepas sisa pesta semalam. Dia termangu, membiarkan pikirannya melalang buana bebas hingga sunyi datang merundung.

Selalu saja seperti ini.

Kala rasa sepi berkunjung tanpa tapi.

Kendaraan mulai pergi dan datang, beberapa pejalan kaki pun menyapanya yang berada di ujung halaman villa, teman-temannya pun ada, tapi tetap saja perasaan sendiri menyergap tanpa belas kasih.

Kosong. Rasanya sangat kosong.

“Gue kira lo masih tidur, taunya ngadem di sini.” asumsi peduli seolah hadir bersamanya. “Lo ga tidur ya? mata panda lo keliatan banget Pipi bolong.”

Hyunjin merapikan sedikit rambut Jeongin yang acak-acakan karena angin pagi. Setelahnya menoel-noel pipi musuhnya agar kehadirannya disadari. Usil memang.

Untung Jeongin sudah biasa.

“Gue rasanya ga mau pulang.”

“Betah ya di sini?” yang ditanga mengangguk, masih setia menatap mentari yang semakin bergerak naik. “Apalagi di sininya sama gue.”

“Anak setan!”

Hyunjin hanya terkekeh kecil, “Pipi bolong.” ada banyak rasa yang disalurkan saat telapak tangannya bertaut pada milik Jeongin yang sedingin awal musim semi. Jeongin tidak menolak, dia biarkan saja dingin tangannya beradu dengan hangatnya tangan Hyunjin.

“Kita ga bisa terus-terusan kabur dari masalah.”

“Gue tau.”

“Kita lewatin bareng-bareng ya.”

Sesaat Jeongin terdiam, aksanya memandang jenuh, terlampau bosan pada kalimat yang sulit dia percaya.

“Gue aja.” jelas dia menolak. “Biar gue ngadepin masalah gue sendiri, lo juga pasti punya masalah lo sendiri kan? jadi ga usah buang-buang waktu lo buat gue, Panglima.”

“Manusia itu hidup harus tolong-menolong Kapten. Kalo ada yang nawarin bantuan lo harus terima, dengan gitu hidup lo baru seimbang. Mau sampe kapan lo cuma jadi penolong tanpa mau ditolong? Ga capek apa sendirian terus?”

Jeongin masih bungkam, bibirnya seolah kelu, dalam hati sudah mengumpati papa dan mamanya yang pagi-pagi sudah bertengkar di grup keluarga sampai membuat moodnya hancur berantakan.

Tubuh kurus itu dibawa Hyunjin untuk bersandar pada pundaknya. Sesekali Hyunjin mengusap pucuk kepala Jeongin, aroma mint bercampur manis tidak pernah gagal membuatnya jatuh berkali-kali.

“Udah gue bilang, lo bisa keliatan kuat di depan semua orang, tapi di depan gue lo bisa untuk lemah Pipi bolong.”

“Kapten mana yang lemah Panglima?”

Kaptennya Panglima.

Jeongin tertawa karenanya, merasa geli dengan ungkapan Hyunjin barusan.

“Sejak kapan gue jadi Kapten lo anjing? gue Kaptennya Orion.”

“Belum juga jadi Lia udah nambah aja list gue buat masuk Orion biar bisa deket sama lo Pipi bilong.”

“Lia mulu dari semalem lo anjing. Lagian lo ga perlu jadi siapa-siapa buat deket sama gue.”

Kalimat sederhana Jeongin seakan membawa Hyunjin terbang ke angkasa. Bibirnya ditarik tinggi sampai matahari terbit digantikan bulan sabit di mata tajam miliknya.

“Bearti gue boleh deket sama lo Pipi?”

“Ya lo liat aja sekarang kita gimana? kurang deket apa badan gue sama badan lo?”

Ini Kapten. Apa yang bisa diharapin sama orang yang kadar pekanya di bawah 0?

Kalau tidak cinta saja mungkin Hyunjin sudah mendorong Kapten sampai menggelinding ke Jurang.

“Bukan deket kayak gitu maksud gue anjing.”

Nyatanya Jeongin itu tidak bodoh. Senyum tipis yang menghiasi bibirnya kala Hyumjin mengumpat seolah menyampaikan sejuta makna.

“Pipi bolong.”

Hyunjin menangkup wajah Jeongin, dia satukan kening keduanya sampai hembusan nafas Hyunjin menerpa wajahnya yang terhanyut dibawanya entah kemana.

“Semalem lo nanya gue suka sama lo kan? gue mau jawab sekarang.”

Satu kecupan hangat Panglima berikan di kening Kapten. Dia sungguh menyalurkan semua perasaannya sampai mengundang ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya.

“Gue sa..”

“Jangan.”

Bingung tidak dapat dicegah, semuanya tercetak jelas di raut wajah Hyunjin kala Jeongin mengambil jarak.

“Lo jangan pernah suka sama gue Panglima.

“Pipi bolong?”

Sorak sorai angin membawa Jeongin untuk bangkit. Sudut bibir Hyunjin tidak lagi mengulas senyum.

“Lo sama gue itu musuh Panglima dan gue ga pernah kepikiran buat ngubah status kita.”

“Lo apa?”

Dia abaikan pertanyaan itu seperti biasa. Jeongin dan sifat keras kepalanya.

“Lepas.”

“Ga.” jika Jeongin keras kepala, maka Hyunjin itu penuh dengan emosi yang tinggi. Dia gampang berubah jika menyangkut hati.

“Kita udah sejauh ini lo masih nganggep gue musuh lo? disaat temen-temen lo aja bisa nerima kehadiran gue sama temen-temen gue?”

“Lo ga pernah liat selama ini gue tulus sama lo?”

“Apa sih? gue ga pernah nganggep lo lebih dari musuh gue, anjing.”

Dan secara refleks Hyunjin melepaskan cengkramannya. Dia menatap Kapten tidak percaya. Sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah datarnya seperti di sekolah.

Mengubur perasaanya yang sama.

“Lo orang teregois yang pernah gue temuin bangsat.”

Hyunjin pergi lebih dulu. Meninggalkan Jeongin yang masih terdiam di ujung halaman. Dia menghela nafas berat. Matanya bergulir ke angkasa, tertawa remeh sejenak.

Sebab Jeongin tau, lebih baik usai sekarang daripada dia harus kecewa nanti.

Cinta itu gampang berubah. Orang tuanya saja bersumpah untuk hidup semati bisa hancur di tengah jalan, apalagi dia?


Langit malam mulai bergerak turun, mencetak warna jingga dengan mentari yang siap menyapa kembali bumantara. Duduknya di pagi hari ini berteman pada udara dingin selepas sisa pesta semalam. Dia termangu, membiarkan pikirannya melalang buana bebas hingga sunyi datang merundung.

Selalu saja seperti ini.

Kala rasa sepi berkunjung tanpa tapi.

Kendaraan mulai pergi dan datang, beberapa pejalan kaki pun menyapanya yang berada di ujung halaman villa, teman-temannya pun ada, tapi tetap saja perasaan sendiri menyergap tanpa belas kasih.

Kosong. Rasanya sangat kosong.

“Gue kira lo masih tidur, taunya ngadem di sini.” asumsi peduli seolah hadir bersamanya. “Lo ga tidur ya? mata panda lo keliatan banget Pipi bolong.”

Hyunjin merapikan sedikit rambut Jeongin yang acak-acakan karena angin pagi. Setelahnya menoel-noel pipi musuhnya agar kehadirannya disadari. Usil memang.

Untung Jeongin sudah biasa.

“Gue rasanya ga mau pulang.”

“Betah ya di sini?” yang ditanga mengangguk, masih setia menatap mentari yang semakin bergerak naik. “Apalagi di sininya sama gue.”

“Anak setan!”

Hyunjin hanya terkekeh kecil, “Pipi bolong.” ada banyak rasa yang disalurkan saat telapak tangannya bertaut pada milik Jeongin yang sedingin awal musim semi. Jeongin tidak menolak, dia biarkan saja dingin tangannya beradu dengan hangatnya tangan Hyunjin.

“Kita ga bisa terus-terusan kabur dari masalah.”

“Gue tau.”

“Kita lewatin bareng-bareng ya.”

Sesaat Jeongin terdiam, aksanya memandang jenuh, terlampau bosan pada kalimat yang sulit dia percaya.

“Gue aja.” jelas dia menolak. “Biar gue ngadepin masalah gue sendiri, lo juga pasti punya masalah kan?”

“Punya


Langit malam mulai bergerak turun, mencetak warna jingga dengan mentari yang siap menyapa kembali bumantara. Duduknya di pagi hari ini berteman pada udara dingin selepas sisa pesta semalam. Dia termangu, membiarkan pikirannya melalang buana bebas hingga sunyi datang merundung.

Selalu saja seperti ini.

Kala rasa sepi berkunjung tanpa tapi.

Kendaraan mulai pergi dan datang, beberapa pejalan kaki pun menyapanya yang berada di ujung halaman villa, teman-temannya pun ada, tapi tetap saja perasaan sendiri menyergap tanpa belas kasih.

Kosong. Rasanya sangat kosong.

“Gue kira lo masih tidur, taunya ngadem di sini.” asumsi peduli seolah hadir bersamanya. “Lo ga tidur ya? mata panda lo keliatan banget Pipi bolong.”

Hyunjin merapikan sedikit rambut Jeongin yang acak-acakan karena angin pagi. Setelahnya menoel-noel pipi musuhnya agar kehadirannya disadari. Usil memang.

Untung Jeongin sudah biasa.

“Gue rasanya ga mau pulang.”

“Betah ya di sini?” yang ditanga mengangguk, masih setia menatap mentari yang semakin bergerak naik. “Apalagi di sininya sama gue.”

“Anak setan!”


Langit malam mulai bergerak turun, mencetak warna jingga dengan mentari yang siap menyapa kembali bumantara. Duduknya di pagi hari ini berteman pada udara dingin selepas sisa pesta semalam. Dia termangu, membiarkan pikirannya melalang buana bebas hingga sunyi datang merundung.

Selalu saja seperti ini.

Kala rasa sepi berkunjung tanpa tapi.

Kendaraan mulai pergi dan datang, beberapa pejalan kaki pun menyapanya yang berada di ujung halaman villa, teman-temannya pun ada, tapi tetap saja perasaan sendiri menyergap tanpa belas kasih.

Kosong. Rasanya sangat kosong.

“Gue kira lo masih tidur, taunya ngadem di sini.” asumsi peduli seolah hadir bersamanya. “Lo ga tidur ya? mata panda lo keliatan banget Pipi bolong.”

Hyunjin merapikan sedikit rambut Jeongin yang acak-acakan karena angin pagi. Lalu setelahnya menoel-noel pipi musuhnya agar kehadirannya disadari. Usil memang.

Untung Jeongin sudah biasa.

“Gue rasanya ga mau pulang.”

“Betah ya di sini?” yang ditanga mengangguk, masih setia menatap mentari yang semakin bergerak naik. “Apalagi di sininya sama gue.”

“Anak setan.”


Langit malam mulai bergerak turun, mencetak warna jingga dengan mentari yang siap menyapa kembali bumantara. Duduknya di pagi hari ini berteman pada udara dingin selepas sisa pesta semalam. Dia termangu, membiarkan pikirannya melalang buana bebas hingga sunyi datang merundung.

Selalu saja seperti ini.

Kala rasa sepi berkunjung padahal s



Pening menyergap kala kepalanya terbentur ujung meja. Diamnya bukan tanpa alasan, teriakan dan makian menjadi alasan yang sebenarnya. Jemarinya secara refleks menutupi muka, berharap pecahan kaca tidak dapat melukai wajahnya.

Kejadian seperti ini sudah biasa. Seberapa keras dia kabur dan pulang, semuanya akan tetap sama. Harap saja nyawa masih mendera, atau belas kasih hingga membiarkannya tidak berakhir koma seperti yang pernah-pernah.

“Tawuran, ngerokok, bolos, mau jadi apa kamu, Jeongin?! Bikin malu papa?!”

Kertas hasil ulangan itu dilemparkan padanya yang terduduk di lantai. Kali ini tanpa ragu sang ayah membuka lemari pajangan piala di ujung ruangan, Jeongin bangkit karena tau apa yang akan terjadi. Belum sampai dia berjalan, penghargaan yang dia dapatkan itu hancur berkeping-keping. Rusak, sama seperti dirinya.

Jeongin terdiam, sakit kembali datang hingga sesak. Dia terbatuk seakan pasokan udara menipis. Pandangannya memburam; dan secepat itu pula ingatan seberapa keras dia mendapati penghargaan-penghargaan itu menghujani ubun-ubunnya. Seakan tidak cukup, tamparan keras menjadi bunyi nyaring di tengah lakuna. Mati rasa.

“Buat apa kamu dapetin semua itu kalo kamu ga bisa jadi nomor satu?! Liat Heeseung, walaupun sakit ulangannya selalu 100.”

Itu lagi.

Jeongin muak.

“Kamu kan yang bikin Heeseung masuk rumah sakit?”

Lagaknya yang berantakan tertutup pada tawa remeh. Sengaja mengundang amarah. Biar saja, mungkin mati lebih baik. Jeongin tidak tau tempat mana yang dapat menerimanya dengan hangat, rumah yang hancur pun tidak mampu dibandingkan dirinya saat ini.

“Oh masih hidup? kirain udah mati.”

“Kurang ajar!”

Sang Kepala Keluarga beranggapan dia paling berkuasa. Semua harus tunduk padanya, menjadi boneka yang patuh. Pun jika mati menjadi pilihan terakhir, namanya harus mampu dibuat tercium wangi demi mengangkat pundak kebanggaan.

“Harusnya dari awal ga papa biarin kamu lahir.”

Nebastala pun masih memiliki kasih. Lembayung senja menemani bumi dibalik indurasmi. Lantas apa? haruskah pergi mengejar mentari pagi tanpa kembali?

“Yaudah bunuh aja.”

Jeongin menantang, kelewat luluh lantah dibuatnya. Dia berdiri tepat dihadapan seseorang yang sulit untuk diakui kedudukannya di rumah.

“Udah pernah juga kan? kayak yang papa lakuin ke—”

“Jeongin!”

Raganya seperti diterjang ombak lautan lepas. Ditarik untuk diselimuti deru samudra. Tenggelam dikala kaki masih berpijak pada bentala.

Tidak takut. Jeongin sudah tidak takut. Saat satu tamparan membuat darah mengalir bebas dari pipi dan sudut bibirnya, Jeongin tetap tidak takut.

Nuraga hancur berantakan. Harapan jatuh, mungkin angin malam bisa menyelimuti dirinya yang mulai menggigil nyeri. Jeongin terseok, kepalanya pening dan dia hanya ingin berbaring. Dirinya belum makan malam, baru saja tertawa karena berbincang aneh dengan Panglima.

Ah benar, pria itu.

“Papa nyesel punya anak kayak kamu!”

Sayup dari matanya masih dapat menangkap bayangan kursi kayu meja makan diangkat untuk dilayangkan ke arahnya. Bentala kau tidak keberatan bukan jika satu orang lagi tenggelam dalam tanahmu? sebab rasanya aku tak mampu, pulang saja, bawa aku pergi jauh.

BRAK

Hening.

Kosong melanda jiwa yang masih berdetak. Tubuhnya terasa hangat dalam pelukan. Perlahan suara bisikan merasuki indra pendengarannya, memaksa Jeongin untuk membuka mata dan bernyawa.

“Gue di sini, Pipi bolong.”

“Panglima?”

“Maaf, gue kelamaan.”

Sirat ketenangan kembali datang, binar pada matanya dilingkupi senyuman. Jeongin dapat melihat kursi itu patah menjadi beberapa bagian.

“Punggung lo?”

“Gapapa, gue gapapa.”

“Lo apa-apaan, bri? Gila lo? Lo mau bunuh anak lo sendiri?”

Itu suara papi Anyon. Jeongin kenal, sosok ayah yang temannya pinjamkan untuk mengisi rasa yang hilang. Dengan hati-hati tubuhnya diangkat, Jeongin menjatuhkan pandangan pada Panglima yang masih mengusap punggungnya menenangkan. Dersik hadir di tengah, menghancurkan teriakan umpatan yang masih dilontarkan. Ringisan saja enggan untuk keluar, mati rasa.

“Gue laper hehe..”

Maka Panglima yang mati-matian berusaha menahan tangisnya dibalik senyuman. Yang lebih tua menelan amarah, kesal pada kenyataan dia terlambat untuk melindungi Jeongin, cintanya. Atma renjana pandai berbohong, tetapi Jeongin lebih ulung. Dan Hyunjin benci itu.

“Hyunjin, bawa jeongin pergi.”

Om Win menyela, jaket tebal miliknya dia berikan untuk Jeongin pakai. Jika saja tenaganya masih ada, Jeongin ingin berdebat saat ini juga. Maka yang dia lakukan hanya tertawa. Menertawakan hidup dan keadaannya yang berantakan dihadapan Panglima.

“Ayok.”

“Gendong.”

Dengan sengaja Panglima mengadu keningnya dan kening Kapten pelan. Memberikan punggungnya yang masih kebas untuk sang terkasih.

Adu mulut masih dapat Jeongin dengar. Ayahnya memang keras kepala. Sifat yang menurun padanya.

“Tapi Jeongin itu anak kamu! dia masih anak-anak bri, dimana otak kamu sampe tega mukulin Jeongin gitu?”

Bahkan ibunya saja tidak datang, lantas untuk apa pria manis itu membelanya? Cari muka?

Ah, memuakkan.

“Kita mau kemana?”

“Jalan-jalan, cari angin.”

Jika lakuna penuh kegelapan, haruskah ucapan terimakasih diberikan pada purnama yang datang berwujud manusia? senyum lebar seakan meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja melarutkan hati dingin.

“Dia itu anak kurang ajar, harus dikasih pelajaran!”

“Jangan dengerin ya.”

Jeongin mengangguk, menutup kaca helmnya. Membiarkan tangannya dibawa untuk melingkari perut Panglima erat. Perlahan tapi pasti, motor itu melaju. Membawa raga dan jiwanya pergi dari hiruk-pikuk drama yang selalu terjadi di rumah. Pada kesendirian yang diisi secara suka rela bersama membelah malam.

You save me, Panglima.

Air matanya baru terjatuh. Meski dia seorang Kapten dan seorang anak yang sudah mengarungi banyak rasa sakit, Jeongin tetaplah seorang manusia yang memiliki hati. Dia hanya pelakon, pembohong ulung, dan pemilik topeng yang banyak.

Jeongin bisa berbohong pada siapa pun, tapi tidak pada Hyunjin. Malam ini, sang Panglima membawa motornya dengan penuh amarah dan kesedihan yang bercampur. Punggung lebarnya yang mulai terasa basah seakan menghujaninya ribuan jarum pada hati.

Gue janji, siapa pun orangnya ga bakal gue biarin hidup tenang karena ngelukain lo pipi bolong. Gue bakal bikin rasa sakitnya berkali-kali lipat dari yang lo rasain.


Pening menyergap kala kepalanya terbentur ujung meja. Diamnya bukan tanpa alasan, teriakan dan makian menjadi alasan yang sebenarnya. Jemarinya secara refleks menutupi muka, berharap pecahan kaca tidak dapat melukai wajahnya.

Kejadian seperti ini sudah biasa. Seberapa keras dia kabur dan pulang, semuanya akan tetap sama. Harap saja nyawa masih mendera, atau belas kasih hingga membiarkannya tidak berakhir koma seperti yang pernah-pernah.

“Tawuran, ngerokok, bolos, mau jadi apa kamu, Jeongin?! Bikin malu papa?!”

Kertas hasil ulangan itu dilemparkan padanya yang terduduk di lantai. Kali ini tanpa ragu sang ayah membuka lemari pajangan piala di ujung ruangan, Jeongin bangkit karena tau apa yang akan terjadi. Belum sampai dia berjalan, penghargaan yang dia dapatkan itu hancur berkeping-keping. Rusak, sama seperti dirinya.

Jeongin terdiam, sakit kembali datang hingga sesak. Dia terbatuk seakan pasokan udara menipis. Pandangannya memburam; dan secepat itu pula ingatan seberapa keras dia mendapati penghargaan-penghargaan itu menghujani ubun-ubunnya. Seakan tidak cukup, tamparan keras menjadi bunyi nyaring di tengah lakuna. Mati rasa.

“Buat apa kamu dapetin semua itu kalo kamu ga bisa jadi nomor satu?! Liat Heeseung, walaupun sakit ulangannya selalu 100.”

Itu lagi.

Jeongin muak.

“Kamu kan yang bikin Heeseung masuk rumah sakit?”

Lagaknya yang berantakan tertutup pada tawa remeh. Sengaja mengundang amarah. Biar saja, mungkin mati lebih baik. Jeongin tidak tau tempat mana yang dapat menerimanya dengan hangat, rumah yang hancur pun tidak mampu dibandingkan dirinya saat ini.

“Oh masih hidup? kirain udah mati.”

“Kurang ajar!”

Sang Kepala Keluarga beranggapan dia paling berkuasa. Semua harus tunduk padanya, menjadi boneka yang patuh. Pun jika mati menjadi pilihan terakhir, namanya harus mampu dibuat tercium wangi demi mengangkat pundak kebanggaan.

“Harusnya dari awal ga papa biarin kamu lahir.”

Nebastala pun masih memiliki kasih. Lembayung senja menemani bumi dibalik indurasmi. Lantas apa? haruskah pergi mengejar mentari pagi tanpa kembali?

“Yaudah bunuh aja.”

Jeongin menantang, kelewat luluh lantah dibuatnya. Dia berdiri tepat dihadapan seseorang yang sulit untuk diakui kedudukannya di rumah.

“Udah pernah juga kan? kayak yang papa lakuin ke—”

“Jeongin!”

Raganya seperti diterjang ombak lautan lepas. Ditarik untuk diselimuti deru samudra. Tenggelam dikala kaki masih berpijak pada bentala.

Tidak takut. Jeongin sudah tidak takut. Saat satu tamparan membuat darah mengalir bebas dari pipi dan sudut bibirnya, Jeongin tetap tidak takut.

Nuraga hancur berantakan. Harapan jatuh, mungkin angin malam bisa menyelimuti dirinya yang mulai menggigil nyeri. Jeongin terseok, kepalanya pening dan dia hanya ingin berbaring. Dirinya belum makan malam, baru saja tertawa karena berbincang aneh dengan Panglima.

Ah benar, pria itu.

“Papa nyesel punya anak kayak kamu!”

Sayup dari matanya masih dapat menangkap bayangan kursi kayu meja makan diangkat untuk dilayangkan ke arahnya. Bentala kau tidak keberatan bukan jika satu orang lagi tenggelam dalam tanahmu? sebab rasanya aku tak mampu, pulang saja, bawa aku pergi jauh.

BRAK

Hening.

Kosong melanda jiwa yang masih berdetak. Tubuhnya terasa hangat dalam pelukan. Perlahan suara bisikan merasuki indra pendengarannya, memaksa Jeongin untuk membuka mata dan bernyawa.

“Gue di sini, Pipi bolong.”

“Panglima?”

“Maaf, gue kelamaan.”

Sirat ketenangan kembali datang, binar pada matanya dilingkupi senyuman. Jeongin dapat melihat kursi itu patah menjadi beberapa bagian.

“Punggung lo?”

“Gapapa, gue gapapa.”

“Lo apa-apaan, bri? Gila lo? Lo mau bunuh anak lo sendiri?”

Itu suara papi Anyon. Jeongin kenal, sosok ayah yang temannya pinjamkan untuk mengisi rasa yang hilang. Dengan hati-hati tubuhnya diangkat, Jeongin menjatuhkan pandangan pada Panglima yang masih mengusap punggungnya menenangkan. Dersik hadir di tengah, menghancurkan teriakan umpatan yang masih dilontarkan. Ringisan saja enggan untuk keluar, mati rasa.

“Gue laper hehe..”

Maka Panglima yang mati-matian berusaha menahan tangisnya dibalik senyuman. Yang lebih tua menelan amarah, kesal pada kenyataan dia terlambat untuk melindungi Jeongin, cintanya. Atma renjana pandai berbohong, tetapi Jeongin lebih ulung. Dan Hyunjin benci itu.

“Hyunjin, bawa jeongin pergi.”

Om Win menyela, jaket tebal miliknya dia berikan untuk Jeongin pakai. Jika saja tenaganya masih ada, Jeongin ingin berdebat saat ini juga. Maka yang dia lakukan hanya tertawa. Menertawakan hidup dan keadaannya yang berantakan dihadapan Panglima.

“Ayok.”

“Gendong.”

Dengan sengaja Panglima mengadu keningnya dan kening Kapten pelan. Memberikan punggungnya yang masih kebas untuk sang terkasih.

Adu mulut masih dapat Jeongin dengar. Ayahnya memang keras kepala. Sifat yang menurun padanya.

“Tapi Jeongin itu anak kamu! dia masih anak-anak bri, dimana otak kamu sampe tega mukulin Jeongin gitu?”

Bahkan ibunya saja tidak datang, lantas untuk apa pria manis itu membelanya? Cari muka?

Ah, memuakkan.

“Kita mau kemana?”

“Jalan-jalan, cari angin.”

Jika lakuna penuh kegelapan, haruskah ucapan terimakasih diberikan pada purnama yang datang berwujud manusia? senyum lebar seakan meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja melarutkan hati dingin.

“Dia itu anak kurang ajar, harus dikasih pelajaran!”

“Jangan dengerin ya.”

Jeongin mengangguk, menutup kaca helmnya. Membiarkan tangannya dibawa untuk melingkari perut Panglima erat. Perlahan tapi pasti, motor itu melaju. Membawa raga dan jiwanya pergi dari hiruk-pikuk drama yang selalu terjadi di rumah. Pada kesendirian yang diisi secara suka rela bersama membelah malam.

You save me, Panglima.

Air matanya baru terjatuh. Meski dia seorang Kapten dan seorang anak yang sudah mengarungi banyak rasa sakit, Jeongin tetaplah seorang manusia yang memiliki hati. Dia hanya pelakon, pembohong ulung, dan pemilik topeng yang banyak.

Jeongin bisa berbohong pada siapa pun, tapi tidak pada Hyunjin. Malam ini, sang Panglima membawa motornya dengan penuh amarah dan kesedihan yang bercampur. Punggung lebarnya yang mulai terasa basah seakan menghujaninya ribuan jarum pada hati.

Gue janji, siapa pun orangnya ga bakal gue biarin hidup tenang karena ngelukain lo pipi bolong. Gue bakal bikin rasa sakitnya berkali-kali lipat dari yang lo rasain.


Pening menyergap kala kepalanya terbentur ujung meja. Diamnya bukan tanpa alasan, teriakan dan makian menjadi alasan yang sebenarnya. Jemarinya secara refleks menutupi muka, berharap pecahan kaca tidak dapat melukai wajahnya.

Kejadian seperti ini sudah biasa. Seberapa keras dia kabur dan pulang, semuanya akan tetap sama. Harap saja nyawa masih mendera, atau belas kasih hingga membiarkannya tidak berakhir koma seperti yang pernah-pernah.

“Tawuran, ngerokok, bolos, mau jadi apa kamu, Jeongin?! Bikin malu papa!”

___

Pening menyergap kala kepalanya terbentur ujung meja. Diamnya bukan tanpa alasan, teriakan dan makian menjadi alasan yang sebenarnya. Jemarinya secara refleks menutupi muka, berharap pecahan kaca tidak dapat melukai wajahnya.

Kejadian seperti ini sudah biasa. Seberapa keras dia kabur dan pulang, semuanya akan tetap sama. Harap saja nyawa masih mendera, atau belas kasih hingga membiarkannya tidak berakhir koma seperti yang pernah-pernah.

“Tawuran, ngerokok, bolos, mau jadi apa kamu, Jeongin?! Bikin malu papa!”