bhluewry

“Inget, emosinya dikontrol.” Hyunjin memberi wejangan sembari merapikan rambut berantakan Jeongin akibat helm batok kelapa kesayangannya. “Gue duduknya misah aja biar kalian ada privacy buat ngobrol.”

“Bawel lo.”

Satu jitakan main-main diberikan Hyunjin tepat di kening Kapten, “Kalo dikasih tau ada aja jawabannya bikin gue emosi.”

“Bacot ah, buruan gue udah laper, anjing.”

“Untung rame di sini, kalo sepi udah gue tonjok beneran lo.”

Jeongin tidak menanggapi. Restoran bergaya Italia itu tempat favorit keluarganya dulu makan malam bersama. Saat hanya ada mereka bertiga, tanpa anggota keluarga baru, atau pun perasaan yang mati dan singgah di tempat yang lebih hidup.

Aroma yang khas mencuri ingatannya untuk memutar memori sejenak. Tidak peduli pada banyak mata yang memandang aneh pada dua anak remaja lengkap dengan seragam sekolah ditutupi jaket berada di tempat makan mewah.

Hyunjin maju untuk menggenggam tangan Kapten tanpa tanda-tanda penolakan dari sang musuh. Dia berjalan lebih dulu, membiarkan tatapan-tatapan itu tertuju padanya dibandingkan Kapten yang berada dibalik punggungnya.

“Jeongin.”

Dan panggilan dari pria yang berada di meja paling sudut sembari melambaikan tangan dengan senyuman cerah di wajahnya menarik atensi mereka.

“Maaf ya ganggu waktunya, Jeongin baru pulang?”

“Udah dari tadi, om.” tidak, itu Hyunjin yang menjawab. Jeongin dengan malas duduk di hadapan Om Win, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi yang bersahabat.

“Gue duduk di sana, take your time.

“Inget, emosinya dikontrol.” Hyunjin memberi wejangan sembari merapikan rambut berantakan Jeongin akibat helm batok kelapa kesayangannya. “Gue duduknya misah aja biar kalian ada privacy buat ngobrol.”

“Bawel lo.”

Satu jitakan main-main diberikan Hyunjin tepat di kening Kapten, “Kalo dikasih tau ada aja jawabannya bikin gue emosi.”

“Bacot ah, buruan gue udah laper, anjing.”

“Untung rame di sini, kalo sepi udah gue tonjok beneran lo.”

Jeongin tidak menanggapi. Restoran bergaya Italia itu tempat favorit keluarganya dulu makan malam bersama. Saat hanya ada mereka bertiga, tanpa anggota keluarga baru, atau pun perasaan yang mati dan singgah di tempat yang lebih hidup.

Aroma yang khas mencuri ingatannya untuk memutar memori sejenak. Tidak peduli pada banyak mata yang memandang aneh pada dua anak remaja lengkap dengan seragam sekolah ditutupi jaket berada di tempat makan mewah.

Hyunjin maju untuk menggenggam tangan Kapten tanpa tanda-tanda penolakan dari sang musuh. Dia berjalan lebih dulu, membiarkan tatapan-tatapan itu tertuju padanya dibandingkan Kapten yang berada dibalik punggungnya.

“Jeongin.”

Dan panggilan dari pria yang melambaikan tangan dengan senyuman cerah di wajahnya menarik atensi mereka.

“Maaf ya ganggu waktunya, Jeongin baru pulang?”

“Udah dari tadi, om.” tidak, itu Hyunjin yang menjawab. Jeongin dengan malas duduk di hadapan Om Win, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi yang bersahabat.

“Gue duduk di sana, take your time.

“Inget, emosinya dikontrol.” Hyunjin memberi wejangan sembari merapikan rambut berantakan Jeongin akibat helm batok kelapa kesayangannya. “Gue duduknya misah aja biar kalian ada privacy buat ngobrol.”

“Bawel lo.”

Satu jitakan main-main diberikan Hyunjin tepat di kening Kapten, “Kalo dikasih tau ada aja jawabannya bikin gue emosi.”

“Bacot ah, buruan gue udah laper, anjing.”

“Untung rame di sini, kalo sepi udah gue jitak beneran lo.”

Jeongin tidak menanggapi. Restoran bergaya Italia itu tempat favorit keluarganya dulu makan malam bersama. Saat hanya ada mereka bertiga, tanpa anggota keluarga baru, atau pun perasaan yang mati dan singgah di tempat yang lebih hidup.

Aroma yang khas mencuri ingatannya untuk memutar memori sejenak. Tidak peduli pada banyak mata yang memandang aneh pada dua anak remaja lengkap dengan seragam sekolah ditutupi jaket berada di tempat makan mewah.

Hyunjin maju untuk menggenggam tangan Kapten tanpa tanda-tanda penolakan dari sang musuh. Dia berjalan lebih dulu, membiarkan tatapan-tatapan itu tertuju padanya dibandingkan Kapten yang berada dibalik punggungnya.

“Jeongin.”

Dan panggilan dari pria yang melambaikan tangan dengan senyuman cerah di wajahnya menarik atensi mereka.

“Maaf ya ganggu waktunya, Jeongin baru pulang?”

“Udah dari tadi, om.” tidak, itu Hyunjin yang menjawab. Jeongin dengan malas duduk di hadapan Om Win, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi yang bersahabat.

“Gue duduk di sana, take your time.


“Hadah dah.. pelan-pelan anjing. Niat ngobatin ga— aw! BANGSAT!”

“Gebukin orang santai, giliran diobatin banyak tingkah.”

“Sakit goblog bukan banyak tingkah.”

Pendingin ruangan pun bahkan tidak mampu menyaingi dinginnya Kapten. Remaja 17 tahun dengan kata-kata kotor bak manisan yang menyatu dalam mulut. Tapi tenang; Hyunjin sudah terlampau terbiasa. Sikap Kapten bukan hal yang sulit untuk dikendalikan.

Seperti sekarang contohnya.

“Masih sakit?” dia meniup luka di punggung Jeongin.

“Sedikit.” jawab Kapten pelan. Sangat pelan, sampai suara ngegas yang sehari-hari dia dengar di sekolah digantikan alunan lembut bagaikan anak kecil.

“Biru nih di sini, jatoh ya lo?”

“Iya, dilempar dua orang.”

“Gue teken ya.”

“Anak setan!”

Nyatanya lebih baik Jeongin dengan kalimat mutiara dibandingkan Jeongin yang kelewat manis barusan.

“Lo tawuran ngeributin apaan?”

“Anak kecil ga perlu tau.”

“Yaudah nanti gue laporin ke guru.”

“Tuh kan! emang anak setan lo ya, cepu lo anjing.”

Hyunjin terkekeh senang. Bersama Jeongin tidak pernah luput membuatnya tergelitik geli. Sumbu pendek mengalahkan pemantik lilin kala mati lampu.

“Makanya kasih tau.”

“Ya ada lah masalah anak IPA, lo anak IPS kagak perlu tau.”

“Benci banget sama anak IPS, heran. Inget, milkita melon sirkel lo yang ngabisin.”

Jeongin tertawa ringan, “Perkara milkita melon aja diributin anjing.”

“Tau, aneh emang kita.”

Masih dengan kekehannya, jemari lentik itu menekan acak tuts piano milik Panglima. Sejenak kekosongan mengisi mereka. Dingin dari hembusan nafas Hyunjin masih menyentuh kalbu. Jeongin terhanyut sewaktu.

“Namanya juga tuntutan peran.”

Tawa hambar menghentikan alunan musik. Menyapa gendang telinga Jeongin lembut.

“Kalo perannya harus musuhan terus gue ga mau.”

Kapten menoleh untuk melirik Panglima.

“Gue berantem sama lo buat hiburan, bukan buat terus-terusan. Lagian gue ga pernah nganggep lo musuh gue, pipi bolong.”

Tubuh tinggi itu menjajah pandangan. Sesaat Hyunjin tersenyum mensejajarkan pandangan hingga harus membungkuk untuk Kapten yang masih duduk di bangku Piano. Jarak mereka sangat dekat, bola mata menghipnotis lautan harsa di sana.

Saat telapak tangan selembut kapas menyentuh rambut bau matahari membuat Jeongin semakin terlena. Hangat.

“Lain kali kalo mau tawuran kasih tau gue, bakal gue abisin orang yang buat lo sakit.”

Senyum menghiasi wajah paras Panglima.

“Lo tuh ya, hobi banget bikin gue khawatir.”

Hyunjin; Apakah ini juga tuntutan peran seorang musuh?

Sebab jika ya, Jeongin rasanya ingin menjadi pelakon untuk setiap dialog ke depannya.


“Hadah dah.. pelan-pelan anjing. Niat ngobatin ga— aw! BANGSAT!”

“Gebukin orang santai, giliran diobatin banyak tingkah.”

“Sakit goblog bukan banyak tingkah.”

Pendingin ruangan pun bahkan tidak mampu menyaingi dinginnya Kapten. Remaja 17 tahun dengan kata-kata kotor bak manisan yang menyatu dalam mulut. Tapi tenang; Hyunjin sudah terlampau terbiasa. Sikap Kapten bukan hal yang sulit untuk dikendalikan.

Seperti sekarang contohnya.

“Masih sakit?” dia meniup luka di punggung Jeongin.

“Sedikit.” jawab Kapten pelan. Sangat pelan, sampai suara ngegas yang sehari-hari dia dengar di sekolah digantikan alunan lembut bagaikan anak kecil.

“Biru nih di sini, jatoh ya lo?”

“Iya, dilempar dua orang.”

“Gue teken ya.”

“Anak setan!”

Nyatanya lebih baik Jeongin dengan kalimat mutiara dibandingkan Jeongin yang kelewat manis barusan.

“Lo tawuran ngeributin apaan?”

“Anak kecil ga perlu tau.”

“Yaudah nanti gue laporin ke guru.”

“Tuh kan! emang anak setan lo ya, cepu lo anjing.”

Hyunjin terkekeh senang. Bersama Jeongin tidak pernah luput membuatnya tergelitik geli. Sumbu pendek mengalahkan pemantik lilin kala mati lampu.

“Makanya kasih tau.”

“Ya ada lah masalah anak IPA, lo anak IPS kagak perlu tau.”

“Benci banget sama anak IPS, heran. Inget, milkita melon sirkel lo yang ngabisin.”

Jeongin tertawa ringan, “Perkara milkita melon aja diributin anjing.”

“Tau, aneh emang kita.”

Masih dengan kekehannya, jemari lentik itu menekan acak tuts piano milik Panglima. Sejenak kekosongan mengisi mereka. Dingin dari hembusan nafas Hyunjin masih menyentuh kalbu. Jeongin terhanyut sewaktu.

“Namanya juga tuntutan peran.”

Tawa hambar menghentikan alunan musik. Menyapa gendang telinga lembut.

“Kalo perannya harus musuhan terus gue ga mau.”

Kapten menoleh untuk melirik Panglima.

“Gue berantem sama lo buat hiburan, bukan buat terus-terusan. Lagian gue ga pernah nganggep lo musuh gue.”

Tubuh tinggi itu menjajah pandangan. Sesaat Hyunjin tersenyum mensejajarkan pandangan hingga harus membungkuk untuk Kapten yang masih duduk di bangku Piano. Jarak mereka sangat dekat, bola mata menghipnotis lautan harsa di sana.

Saat telapak tangan selembut kapas menyentuh rambut bau matahari membuat Jeongin semakin terlena. Hangat.

“Lain kali kalo mau tawuran kasih tau gue, bakal gue abisin orang yang buat lo sakit.”

Senyumn menghiasi wajah paras Panglima.

“Jangan bikin khawatir gue terus dong, pipi bolong.”

Hyunjin; Apakah ini juga tuntutan peran seorang musuh?

Sebab jika ya, Jeongin rasanya ingin menjadi pelakon untuk setiap dialog ke depannya.


“Hadah dah.. pelan-pelan anjing. Niat ngobatin ga— aw! BANGSAT!”

“Gebukin orang santai, giliran diobatin banyak tingkah.”

“Sakit goblog bukan banyak tingkah.”

Pendingin ruangan pun bahkan tidak mampu menyaingi dinginnya Kapten. Remaja 17 tahun dengan kata-kata kotor bak manisan yang menyatu dalam mulut. Tapi tenang; Hyunjin sudah terlampau terbiasa. Sikap Kapten bukan hal yang sulit untuk dikendalikan.

Seperti sekarang contohnya.

“Masih sakit?” dia meniup luka baret di punggung Jeongin.

“Sedikit.” jawab Kapten pelan. Sangat pelan, sampai suara ngegas yang sehari-hari dia dengar di sekolah digantikan alunan lembut bagaikan anak kecil.

“Biru nih di sini, jatoh ya lo?”

“Iya, dilempar dua orang.”

“Gue teken ya.”

“Anak setan!”

Nyatanya lebih baik Jeongin dengan kalimat mutiara dibandingkan Jeongin yang kelewat manis barusan.

“Lo tawuran ngeributin apaan?”

“Anak kecil ga perlu tau.”

“Yaudah nanti gue laporin ke guru.”

“Tuh kan! emang anak setan lo ya, cepu lo anjing.”

Hyunjin terkekeh senang. Bersama Jeongin tidak pernah luput membuatnya tergelitik geli. Sumbu pendek mengalahkan pemantik lilin kala mati lampu.

“Makanya kasih tau.”

“Ya ada lah masalah anak IPA, lo anak IPS kagak perlu tau.”

“Benci banget sama anak IPS, heran. Inget, milkita melon sirkel lo yang ngabisin.”

Jeongin tertawa ringan, “Perkara milkita melon aja diributin anjing.”

“Tau, aneh emang kita.”

Masih dengan kekehannya, jemari lentik itu menekan acak tuts piano milik Panglima. Sejenak kekosongan mengisi mereka. Dingin dari hembusan nafas Hyunjin masih menyentuh kalbu. Jeongin terhanyut sewaktu.

“Namanya juga tuntutan peran.”

Tawa hambar menghentikan alunan musik. Menyapa gendang telinga lembut.

“Kalo perannya harus musuhan terus gue ga mau.”

Kapten menoleh untuk melirik Panglima.

“Gue berantem sama lo buat hiburan, bukan buat terus-terusan. Lagian gue ga pernah nganggep lo musuh gue.”

Tubuh tinggi itu menjajah pandangan. Sesaat Hyunjin tersenyum mensejajarkan pandangan hingga harus membungkuk untuk Kapten yang masih duduk di bangku Piano. Jarak mereka sangat dekat, bola mata menghipnotis lautan harsa di sana.

Saat telapak tangan selembut kapas menyentuh rambut bau matahari membuat Jeongin semakin terlena. Hangat.

“Lain kali kalo mau tawuran kasih tau gue, bakal gue abisin orang yang buat lo sakit.”

Senyumn menghiasi wajah paras Panglima.

“Jangan bikin khawatir gue terus dong, pipi bolong.”

Hyunjin; Apakah ini juga tuntutan peran seorang musuh?

Sebab jika ya, Jeongin rasanya ingin menjadi pelakon untuk setiap dialog ke depannya.


“Hadah dah.. pelan-pelan anjing. Niat ngobatin ga— aw! BANGSAT!”

“Gebukin orang santai, giliran diobatin banyak tingkah.”

“Sakit goblog bukan banyak tingkah.”

Pendingin ruangan pun bahkan tidak mampu menyaingi dinginnya Kapten. Remaja 17 tahun dengan kata-kata kotor bak manisan yang menyatu dalam mulut. Tapi tenang; Hyunjin sudah terlampau terbiasa. Sikap Kapten bukan hal yang sulit untuk dikendalikan.

Seperti sekarang contohnya.

“Masih sakit?” dia meniup luka baret di punggung Jeongin.

“Sedikit.” jawab Kapten pelan. Sangat pelan, sampai suara ngegas yang sehari-hari dia dengar di sekolah digantikan alunan lembut bagaikan anak kecil.

“Biru nih di sini, jatoh ya lo?”

“Iya, dilempar dua orang.”

“Gue teken ya.”

“Anak setan!”

Nyatanya lebih baik Jeongin dengan kalimat mutiara dibandingkan Jeongin yang kelewat manis barusan.

“Lo tawuran ngeributin apaan?”

“Anak kecil ga perlu tau.”

“Yaudah nanti gue laporin ke guru.”

“Tuh kan! emang anak setan lo ya, cepu lo anjing.”

Hyunjin terkekeh senang. Bersama Jeongin tidak pernah luput membuatnya tergelitik geli. Sumbu pendek mengalahkan pemantik lilin kala mati lampu.

“Makanya kasih tau.”

“Ya ada lah masalah anak IPA, lo anak IPS kagak perlu tau.”

“Benci banget sama anak IPS, heran. Inget ya milkita melon sirkel lo yang ngabisin.”

KASA KAPAS


“Hadah dah.. pelan-pelan anjing. Niat ngobatin ga— aw! BANGSAT!”

“Gebukin orang santai, giliran diobatin banyak tingkah.”

“Sakit goblog bukan banyak tingkah.”

Pendingin ruangan pun bahkan tidak mampu menyaingi dinginnya Kapten. Remaja 17 tahun dengan kata-kata kotor bak manisan yang menyatu dalam mulut. Tapi tenang; Hyunjin sudah terlampau terbiasa. Sikap Kapten bukan hal yang sulit untuk dikendalikan.

Seperti sekarang contohnya.

“Masih sakit?” dia meniup luka baret di punggung Jeongin.

“Sedikit.” jawab Kapten pelan. Sangat pelan, sampai suara ngegas yang sehari-hari dia dengar di sekolah digantikan alunan lembut bagaikan anak kecil.

“Biru nih di sini, jatoh ya lo?”

“Iya, dilempar dua orang.”

“Gue teken ya.”

“Anak setan!”

Nyatanya lebih baik Jeongin dengan kalimat mutiara dibandingkan Jeongin yang kelewat manis barusan.

“Lo tawuran ngeributin apaan?”

“Anak kecil ga perlu tau.”

“Yaudah nanti gue laporin ke guru.”

“Tuh kan! emang anak setan lo ya, cepu lo anjing.”

Hyunjin terkekeh senang. Bersama Jeongin tidak pernah luput membuatnya tergelitik geli. Sumbu pendek mengalahkan pemantik lilin kala mati lampu.

“Makanya kasih tau.”

“Ya ada lah masalah anak IPA, lo anak IPS kagak perlu tau.”

BIANG MASALAH


Heeseung datang tidak lebih dari 10 menit. Tatapan menelisik datang dengan datar setelah Jeongin menghisap sebatang rokoknya seperti biasa. Rambut berantakan, wajah tirus, jaket yang jelas bukan seleranya sungguh kelewat aneh. Terkadang pertanyaan itu gemar datang, sejak kapan adek jadi gini?

Remaja SMA yang lebih muda setahun darinya itu bahkan setara hewan buas. Cengkramannya bukan main-main. Untuk apa bertanya? jelas dari mata kecilnya saja sudah penuh kebencian.

“Pukul gue.”

Mereka itu laki-laki penuh egois. Harga diri dijunjung mati untuk kepuasan diri. Mungkin. Mungkin saja lebih dari kepuasan diri.

“Tenang, jangan buru-buru, gue pastiin besok lo bangun di rumah sakit.” kerah baju semakin ditarik agar Jeongin bisa berbisik di telinga kakaknya. “Atau mau dibuat balik ke tempat lo seharusnya, anak pungut?”

Panas di siang hari bahkan melebihi panas diri. Hinggap bak hirap. Belum pukul 12 siang tapi suasana sudah mencekam. Jarak terkikis rapat, tinggi yang tak sebanding membuat Jeongin terbawa arus maju.

Jeongin terkekeh senang. Wajah kesal Heeseung seakan sumbu yang meledakkan kembang api di hati.

“Anak pungut yang sekarang posisinya udah lebih dari anak kandung maksud lo?”

“Sekali anak pungut—” satu pukulan tepat menghantam sudut bibir Heeseung sampai dia terhuyung. “—tetep anak pungut dan lo ga bisa ngerubah fakta itu, anjing.”

Dan itu menjadi awal dari permasalahan di hari yang belum menyentuh setengah dari seharusnya. Dua kubu menyerang, Jeongin bahkan tidak mencegah teman-temamnya untuk membawa alat untuk perang kali ini.

Kapten perang sudah kembali.

BUG

“Itu buat lo yang ngeroyok awan kemaren.”

BUG

“Dan itu buat lo yang udah ngerusak keluarga gue.”

Katakan saja matahari yang membuat tubuh itu menggebu-gebu. Kesetanan hingga tanpa ampun menduduki musuhnya tepat pada jantung. Sungguh, Kapten dan emosi adalah dua kata yang sudah melekat satu.

Heeseung hanya terlalu bodoh untuk mencoba mengontrol pria gila seperti Jeongin.

“Kontol! Satu lawan satu kalo berani anjing!”

Sudah berkali-kali disebutkan, Orion memanggil Jeongin Kapten bukan tanpa sebab. Jika malam itu kekalahan mencetak di kening mereka. Bukan bearti hari ini akan sama.

Dua pria yang mencengkram Jeongin untuk meloloskan Heeseung dari tubuhnya tadi dengan mudah dibanting. Tergeletak menghalangi jalan pun Jeongin tidak peduli. Musuhnya adalah Heeseung. Dan tidak seorang pun yang boleh menghalanginya kali ini.

“Kalo bokap lo tau lo gini, yang bakal bangun di rumah sakit itu lo adek.”

Giginya bergelemetup kesal. Dongkol pada hati berubah kekal menjadi batu. Kalau saja dia membawa pisau, sudah dipastikan lidahnya akan terpotong.

“Gue anak tunggal. Lo itu cuma orang as—”

Telinganya berdengung tiba-tiba. Untuk sesaat Jeongin tidak dapat mendengar suara. Heeseung telak memukul gendang telinganya. Anak pungut itu.

Jeongin yang terduduk menjadi kesempatan untuk menyerang. Keadaan berubah cepat. Pukulan bertubi-tubi menghujam wajah dan tubuhnya.

“Gue bakal ngerebut semua yang lo punya.”

Pasokan oksigen tiba-tiba menipis. Dua telapak tangan menekan leher Jeongin hingga kuku-kuku menancap dengan pasti.

“Termasuk Hyunjin.”

“An..jing!”

Entah kekuatan darimana, yang pasti balok kayu yang tergeletak tidak jauh dari Jeongin sudah menghantam kepala Heeseung hingga darah mengucur hebat.

Sesak di dada Jeongin masih mendera. Seakan ada yang mengganjal hingga emosinya berpendar-pendar. Marah untuk semua hal yang merubah kondisi dirinya.

Letih.

Kaki yang menerjang terus-terusan tubuh itu pun terasa letih. Puas tidak sebanding ternyata. Haruskah nyawa yang menggantikan?

“Kapten! Kapten..”

Suara teriakan seolah bisikan. Kesempatan hanya sekali. Biar saja ucapan jelmaan iblis untuknya itu menjadi kenyaatan hari ini.

“Kapten lari anjing ada polisi!”

Nanon dan Jaehyuk berusaha menjauhkan Kapten dari Heeseung yang sudah pingsan. Sialnya tubuh yang penuh amarah sulit sekali untuk diatasi.

Seungmin bahkan sampai harus menarik kupluk jaket Jeongin sampai sang Kapten terjengkang akibat tercekik. Anak Elang yang tersisa membopong Heeseung menjauh.

“Anjing! Mau dibawa kemana bangsat?!”

“Udah anjing. Kabur, polisi udah deket!”

“Sial.”

Jeongin tetap tidak mendengar, dia menggeliat sampai lolos dan mengejar Jay yang membawa Heeseung pergi.

“Anak ngent— woi polisi sama warga! Jae kabur jae.” Nanon kalang kabut.

DOR!

Suara senapan peringatan yang membawa kembali kewarasan Jeongin. Beberapa anak Orion yang terluka masih dibopong ke motor. Kacau balau ternyata.

“Orion lari.”

“Kapten, naik!” ujar Felix panik.

“Ga, lo duluan.”

Setidaknya kalau ada yang harus dikejar biar dia sebagai Kapten yang bertanggung jawab.

Langkah kakinya bercampur pada puluhan langkah kaki warga di belakang. Jeongin sengaja memilih arah berlawanan dari area tempat anak Orion kabur yang mereka tentukan sebelumnya.

“Anjing! Jalan buntu pula ngen— eh ga boleh ngomong itu.”

“Pak. Di sini ada satu!”

“Yaelah bangsat!”

Jeongin tidak kehabisan akal. Tembok warga dia jadikan tumpuan untuk memanjat ke gang sebelah.

“Untung gue bisa manjat, anjing ini kaki kenapa nyutnyut an—.”

“Kemana dia?”

Refleks dia menutup mulut. Dengan pelan Kapten merayap menjauh dari suara seberang. Daerah ini cukup padat penduduk dengan keadaan yang sepertinya. Berantakan, kawasan sabu, semua transaksi ilegal sering terjadi dan lapangan di ujung jalanan sana merupakan tempat yang baik untuk tawuran, alias sudah sering terjadi di sana, tapi tidak untuk kabur seperti sekarang.

Bangsat.

Sudah puluhan kali kata itu diucapkan Kapten dalam hati. Pasang mata yang menatapnya penuh tanda tanya dia lalui dengan santai. Tetap pada agenda kaburnya yang masih belum aman.

TIN!

BRUK

“Anjing.” Jeongin mengumpat kaget saat motor Scoopie hitam berhenti hampir menabraknya.

“Naik.”

“Anjing, lo kenapa bisa—”

“Polisi, anak sekolahnya ada di sini!”

“Naik, cepetan pipi!”

Tanpa babibu Jeongin segera duduk di jok belakang motor ini lagi. Kesialan diantara kesialan.

“Dasar biang masalah.”

Kalimat itu harusnya menggores harga diri Jeongin, namun gilanya dia malah tertawa puas. Tubuhnya bersandar pada punggung Hyunjin yang membawanya kabur dari sana.

Biang masalah: Kalimat itu sangat cocok untuk Kapten yang senang mendapatkan perhatian. Tentunya.

HIBURAN