bhluewry


Tujuannya belum sampai, tapi laju motornya sengaja dihentikan ketika sosok remaja yang dia kenali jongkor di pinggir jalanan yang sepi sembari mengisap rokoknya dengan santai.

“Kapten.”

“Bentar, gue abisin rokok dulu.”

Mendengar itu, Asahi mematikan mesin motornya. Dia menelisik ke arah orang yang sangat penting dalam hidup Panglima dengan teliti.

“Siapa yang gebukin lo?”

Kapten tersenyum tipis, menghembuskan kepulan asap ke udara menantang angin. “Ga ada, gue jatoh dari motor tadi. Anjing dah, pecah body motor gue.”

Asahi sedikit tidak habis pikir. Bisa-bisanya yang dikhawatirkan pria itu malah motornya ketimbang luka panjang di lengannya. Bahkan kaki kanan Kapten sudah biru dan sedikit bengkak.

“Gue ga bisa pastiin di dalem rame apa kagak, jadi lo tunggu di luar aja biar gue yang ke dalem.”

Kembali Kapten tersenyum setelah melihat Asahi mengangguk setuju. Tidak salah keputusannya mengajak jelmaan klepon itu.

“Rencana lo apa?”

“Ga ada.” Kapten menjawab santai, “Lo bawa temen gue pulang, selebihnya biar gue yang urus.”

Semua orang memang tidak mengenal Jeongin dengan baik. Tapi sungguh, semua orang sangat kenal dengan sosok Kapten. Kala raut wajahnya seketika berubah sangat tajam dan dingin, maka bisa dipastikan malam akan berlalu panjang.

“Udah lama gue ga ngabisin orang.”

Rules pertama: jangan pernah mengusik orang-orang terdekat Kapten.


Langkah ringan Kapten dia bawa ke dalam gedung yang sudah terbengkalai. Aroma lembab dan debu yang menyengat sungguh mengganggu indra penciumannya yang tidak suka bau. Ditambah lagi dengan pria itu.

Pria yang dengan gilanya mengusik malam dimana seharusnya sekarang dia sedang makan malam dengan Panglima.

“Hi sunshine.”

“Mana temen gue?”

“Santai, buru-buru amat.” Heeseung terkekeh kecil. Entah memang lucu atau niat hati memancing emosi Kapten. “Sini duduk.” dia menepuk paha kanannya mempersilahkan Kapten duduk di sana tanpa tau malu.

“Gue ga suka ngulang omongan.”

“Gue ga suka lo pacaran sama Hyunjin.”

Sial. Heeseung benar-benar tidak mengerti jika kewarasan Kapten sekarang sudah hilang.

Dan tawa Heeseung lepas begitu Kapten menyergap dirinya sembari mencengkram kerah bajunya erat.

Gila. Keduanya sama-sama gila.

“Lo punya gue Jeongin.”

BUGH!

Tanpa babibu satu pukulan keras menghantam rahang bawah Heeseung sampai remaja itu terhuyung ke belakang. Belum sempat



Senyuman Kapten merekah kala matanya menangkap sosok pria yang sudah mengisi hatinya tanpa ragu. Bola mata rubahnya melengkung selaras dengan kedua bolongan pipinya yang semakin terpampang jelas.

Lucu. Biasanya, setiap kali kedua remaja itu bertemu, tegang dan saling ingin mendominasi selalu hadir bak plang pintu. Tapi sekarang, tanpa perlu dijelaskan, orang lain dapat melihat perbedaan yang terjadi di antara keduanya.

Sang kutub mulai mencair, dan lautan semakin merengkuh.

“Masih ada lagi ga barang-barang lo?”

Pertanyaan dari Panglima menarik kewarasan Kapten agar tidak semakin melalang jauh.

“Udah semua.”

“Oke, lo tunggu depan pintu aja biar gue yang masukin ke bagasi, panas di sini.”

Jika boleh jujur, hubungan Panglima dan Kapten itu lucu. Mereka tidak ingin orang lain tau, tapi tingkahnya tidak seperti seorang musuh.

Tidak ada lagi argumen yang tidak bermutu, tidak ada lagi layangan pukulan, tidak ada taruhan dan jual mahal seperti yang sudah-sudsh, tidak ada lagi arogansi atas siapa yang paling hebat.

Semuanya berjalan damai, setenang lautan lepas.

“Awas lepas tu biji mata.”

Kecuali, godaan yang semakin bertambah.

Kapten menyempatkan memutar bola matanya malas, baru setelahnya menganjingi Nanon yang datang bersama Jihoon dan Changbin. Entah bagaimana ketiga orang itu bisa berjalan tanpa adu mulut, yang pasti sekarang mereka tampak sedikit akrab. Baru selang berapa detik, Jaehyuk dan Asahi datang menyusul.

“Lo langsung ke rumah apa ke bengkel kak Chan dulu, Nyon?”

“Bengkel dulu ngambil oli motor.”

“Yang lain?”

“Sama paling, cuma Jisung sama Jaehyuk yang kagak. Emang udah kagak setia kawan lagi mereka, keluarin aja dari Orion.”

“Monyet! baru juga sekali gue off ngumpul ye anjing.” balas Jaehyuk tidak terima.

“Kalo gitu sekalian titip—”

“Kapteeennn!”

Belum sempat kalimatnya selesai, ucapan Kapten terpotong bersamaan eksistensi dari adik kelas barunya itu.

Dan secara tiba-tiba, tangannya yang kosong, dirangkul oleh Jasmine. Bak lem dan perangko, jarak sejengkal pun sudah hilang. Menghadirkan rasa tidak nyaman dari si pemilik dan —si pemilik baru.

“Aelah bin, kuyang lo noh lepas.” Jihoon berucap sarkas

“Tau dah, masukin botol lain kali biar kagak kelayapan.” timpal Nanon.

“Kapten kok ga bales chat aku?” rajuknya.

Yang ditanya tersenyum kikuk, matanya terlalu sibuk menghindari kontak mata Panglima yang terlihat sangat tidak suka dirinya dirangkul Jasmine.

“Kap, udah hampir jam 11, berangkat aja ayok yang lain udah semua.” ucapan tiba-tiba dari Felix seolah menjadi penyelamat Kapten.

“Oke, bantu absen dulu aja anak-anak yang lain lix.”

“Udah tadi sama Seungmin, supir juga udah diposisi.”

“Yaudah masuk aja kalian, kita berangkat. Keburu macet.”

“Kak Je, duduk sama aku kan?” suara Jasmine merengek, seakan-akan jika tidak dengan Kapten dia tidak memiliki teman yang lain.

“Ga bisa.”

Bukan. Itu bukan Kapten yang menjawab. Melainkan Klepon dengan suara datarnya yang langsung menimpali.

“Kenapa?”

“Gua masih ada urusan di sini, ntar gue nyusul. Lo duluan aja ya, cil.”

“Terus kak Je gimana?”

“Dia sama gue.” kali ini Panglima yang bersuara. Suasana seketika hening, padahal intonasi suaranya biasa saja, tidak dingin apalagi meninggi.

Kapten tau betul, pria itu sedang menahan emosi. Maka dengan segera dia melepaskan tangan Jasmine yang merangkul lengannya dan mengambil jarak untuk tidak terlalu dekat.

“Terus aku pulangnya gimana?” tanyanya lagi dengan wajah sedih.

“Gampang, ada Changbin.”

Mendengar namanya disebut Klepon, sontak Changbin melotot kaget. Matanya seolah mengatakan gue lagi? lengkap dengan umpatan yang dia tahan setengah mati.

“Ya kan, bin?”

skakmat!

Selagi Klepon berucap, kekuatan dari mana dia menolak? sehingga dengan terpaksa Changbin mengangguk, “Iya tenang aja, gue anter sampe rumah.”

“Oke udah clear kan? yok buru, makin siang makin malem kita sampe.” Felix kembali mengintrupsi.

Bak anak ayam yang mengikuti induknya, satu persatu dari mereka pun naik ke bis. Jasmine masih terlihat tidak terima, wajahnya menekuk sedih.

“Hati-hati Cil, kalo mereka jahilin lo lapor ke gue.”

Dan Jasmine hanya mengangguk pasrah. Dari luar bis Kapten dapat melihat teman-temannya yang mulai sibuk mencari tempat duduk. Baru saja Kapten akan berjalan mendekati Panglima, dirinya baru tersadar sama kalimat yang ingin dia sampaikan sama Nanon sebelum dipotong Jasmine tadi.

“Nyon, titip motor gue ya! kuncinya di kak Chan. Tarok di tempat lo aja Nyon, jaga-jaga kalo tetiba bonyok balik.”

“Iya aman!” balas Nanon dari dalam bis.

Baru setelah itu Kapten berjalan mendekati Panglima yang sudah duduk di atas motornya. Keduanya tampak seperti orang tua yang mengantar anak-anaknya pergi wisata.

“Musuh, titip temen gue!”

Jaehyuk berucap dari balik kaca samping pengemudi yang sukses membuat Kapten terkekeh kecil. Pun sama dengan Panglima yang juga mengancungkan jempolnya tanda siap. Lantas bersamaan dengan kalimat tersebut, bis yang membawa teman-temannya mulai pergi meninggalkan resort.

Habis tak bersisa. Hingga hanya ada mereka berdua dengan kesunyian yang melanda.

Dan semuanya berakhir dengan Panglima yang berucap lebih dulu, “Emang masih ada urusan lain, Pipi bolong sayang?” tanyanya bingung.

Kapten menggeleng, lalu beranjak untuk semakin mengikis jaraknya dengan sang kekasih. Melihat itu, Panglima pun meraih pinggang Kapten untuk berdiri di sela-sela kakinya.

“Ga ada.” jawab Kapten singkat. “Gue cuma mau ngabisin banyak waktu sama pacar gue aja.”

Untuk sesaat Panglima terdiam seolah sedang memproses kata-kata Kapten barusan. Lalu setelahnya, secara tiba-tiba pipinya bersemu merah dengan sudut bibir yang meninggi tanpa dapat dicegah.

“Ah sayaaang!” dasar, hanya dibilang seperti itu, moodnya langsung berubah.

“Gemes banget pacar siapa ini?”

Pacar Panglima.”

Keduanya pun tertawa bersama. Di bawah matahari yang mulai beranjak naik dan hamparan laut yang menjadi saksi, pasangan yang baru saja mengubah status musuh menjadi pacar itu menghabiskan waktu sedikit lebih lama berdua.

“Yok berangkat.”

Lagi-lagi Kapten mengangguk.

Dirinya mengambil helm di kursi penumpang. Sedangkan Panglima melepas jaket denim yang dia kenakan, memperlihatkan kaos putih polos berlengan pendek yang dia padukan dengan celana jeans hitam.

“Kok dilepas?”

“Biar dipake sama pacar gue.”

Benar saja, jaket itu disampirkan Panglima agar dikenakan Kapten yang hanya memakai kaos biru dongker polos.

“Udah lo pake aja, gue pake baju lengan panjang.”

“Perjalanan kita jauh sayang, udah nurut aja.”

Kapten pun langsung diam. Seketika menjadi kucing penurut yang sedang dipakaikan pakaian oleh babunya. Jaket itu jelas-jelas kebesaran di badan Kapten, menenggelamkan tangannya sampai-sampai haru digulung berapa kali. Setelahnya dia mengecek sekali lagi helm yang dikenakan Kapten memastikan kekasihnya aman baru dia mengenakan helmnya.

“Pegangan sayang.”

“Iya.”

“Pegangan yang bener.”

Sialan, jantung Kapten lagi-lagi berdetak tidak karuan. Yang tadinya dia hanya menggenggam baju Panglima, ditarik oleh pria itu untuk memeluk pinggangnya dengan erat. Tanpa protes, Kapten mencari kenyamanan dengan meletakkan dagunya di bahu Panglima.

Baru setengah jalan, Kapten tiba-tiba menegakkan tubuhnya yang seketika membuat Panglima bertanya.

“Kenapa?”

“Gapapa, badan gue berat.”

“Mana ada berat, udah gapapa, senderan lagi aja sayang.” protes Panglima. Tangan kirinya menarik tangan Kapten untuk memeluknya erat hingga tubuh mereka menempel kembali.

Lantas bersamaan dengan angin yang membelai mereka, motor scoopy hitam itu mulai melaju meninggalkan pantai dengan membawa cerita baru.

Ombak telah banyak menjadi saksi, atas kepedihan dan air mata yang dulunya Kapten leburkan padanya. Menyimpan sisa-sisa abu kenangan yang sengaja dia hanyutkan. Mencetak jelas kala perlahan air birunya bercampur dengan merah karat bekas luka yang dia bawa.

Tapi kali ini, ombak menjadi saksi kala hidupnya tak lagi seorang diri. Air mata yang mengering diganti dengan senyuman manis bak indurasmi. Hadirnya seperti pelangi, menakjubkan sekaligus manis.

Dari kaca spion, Panglima dapat melihat Kapten yang masih terbuai dengan keindahan alam. Matanya menipis bersamaan dengan bibir yang melengkung naik.

Pertama kali dia membonceng Kapten kala pria itu hampir mati. Penuh luka dan jarak yang dihalangi tembok tinggi. Tapi kali ini, mereka bukan lagi asing.

“Pipi bolong.”

“Paan?”

“Lo musuh gue yang paling gue sayang, i love you my own heart.”

Dan sudut bibir Kapten semakin tinggi. Tanpa dirinya tau, Panglima pun ikut tersenyum melihat betapa manisnya Kapten dengan kebahagiaan yang selalu ingin dia beri tanpa sembunyi-sembunyi.

“Gue juga sayang lo, Panglima.”

Sayang, sampe gue ga takut gimana kita besok. Gue ga takut, karena gue tau, gue ada lo.

Karena yang dibutuhkan Kapten hanya Panglima,

dan yang diinginkan Panglima hanya kebahagiaan Kapten.


“Anak setan anjing, lo mau kemana?”

Iya, benar. Kalian tidak salah baca. Kapten dengan ego yang setinggi langit itu berlari mengejar Panglima.

Tanpa menyelesaikan nyanyiannya. Tanpa peduli dengan pemikiran orang lain nantinya.

Akal sehatnya tidak berjalan seperti biasa. Mungkin jika dia Kapten yang sebelumnya, dia akan diam di tempat tanpa perlu repot mengejar yang telah menjadi topik penting dalam hidupnya. Tapi, malam ini, dia memegang prinsipnya dengan arus yang baru.

Setiap orang yang memaksa masuk ke dalam hidupnya, tidak akan bisa keluar dengan mudah.

“Anak setan, stop!”

Panglima tidak mendengarkan intruksi Kapten. Dia semakin membawa langkah kakinya ke tepian pantai yang jauh dari resort. Hampir menuju ke tempat mereka di malam kemarin.

“Panglima anjing!” Kapten berteriak frustasi.

“Gue udah jujur sama perasaan gue anjing, kenapa sekarang lo malah ngehindarin gue gini?”

Sontak langkah kaki Panglima berhenti. Hening. Keduanya sama-sama diam dan saling berada di tempat masing-masing.

Lantas Kapten menjadi yang lebih dulu bergerak mendekat. Dia menggenggam tangan Panglima yang dingin. Jujur, ini baru pertama kalinya Kapten seperti ini. Dia menyerah pada akal sehat dan bergerak mengikuti kata hati.

“lo ga suka sama cara gue? lo ga beneran cinta sama gue?”

Grep

Secepat ombak yang menghantam daratan, secepat itu lah Panglima berbalik dan segera merengkuh Kapten dalam pelukannya. Kepala yang lebih tinggi dijatuhkan pada pundak si pemilik lesung pipi. Menenggelamkan sang pujaan hati dalam tubuhnya.

“Enggak... jangan mikir gitu, gue sayang banget— gue cinta banget sama lo, Kapten.”

Ada getaran dalam suaranya yang berat. Deru nafasnya bahkan tidak beraturan. Dalam jarak yang telah habis ini, Kapten dapat merasakan debaran jantung Panglima yang persis seperti miliknya.

Berdebar sekaligus menggelitik dalam perut.

“Terus kenapa lo ninggalin gue?”

Panglima memberi jarak sedikit untuk menatap wajah Kapten-nya, ah, sudah boleh kah dia menyebut dengan lantang bahwa pria di hadapannya ini adalah miliknya sekarang?

“Jangan kasih effort segitu besarnya buat gue, Kapten.”

Ditangkupnya rahang Kapten dengan hati-hati, lalu setelahnya dia pertemukan kening mereka.

“Biar gue aja yang effort buat lo. Martabat lo, harga diri lo, semua bisa hancur kalo temen-temen lo tau. Biarin semua orang tau nya gue yang cinta sama lo.”

Dan Kapten tidak tau, haruskah dia senang atau marah sekarang.

Bahkan setelah Kapten meruntuhkan seluruh topeng yang selama ini dipasang demi Panglima, orang itu malah memikirkan status Kapten ketimbang perasaan dia sendiri.

“Bangsat lo.”

Kapten memukul keras dada Panglima sampai pelukan mereka terlepas dan tercipta jarak.

“Lo ngerti ga sih apa yang berusaha gue ungkapin ke lo babi?”

Sebelah tangannya mencengkram kerah baju Panglima dan yang lainnya siap melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Emosinya bercampur aduk, sial, Kapten benar-benar tidak handal dengan perasaan seperti ini.

Lain dengannya, Panglima hanya diam. Menatap intens mata Kapten sampai akhirnya kepalan tangan itu dijatuhkan olehnya.

“Anak setan lo..” Kapten berujar lemas.

Dia jatuhkan kepalanya di dada Panglima, “Gue cinta sama lo, bangsat.”

“Ngerti ga? gue cinta sama lo anjing. Stop mainin perasaan gue bisa ga sih, babi?”

Samar-samar suara isakan kecil dapat Panglima dengar.

“Pipi bolong, hei sayang.” kembali dia tangkup wajah Kapten agar menatapnya. Dan benar saja, si pemilik lesung pipi itu tengah menangis.

Bukan hal yang mudah untuk mengutarakan perasaan, dia bahkan hampir tersesat jika tidak ditemukan jalan keluar oleh Nanon. Ekspektasinya tinggi jauh dari keadaan seperti ini.

“Hei, sini, liat mata gue.”

Kapten menggeleng dia masih memejamkan matanya tidak berani berhadapan langsung dengan mata Panglima. Takut air matanya akan keluar semakin deras.

“Gue cinta sama lo Kapten, cinta banget. Gue bahkan ga ragu buat ngasih tau satu dunia kalo gue cinta sama lo.”

“Terus kenapa...?”

“Lo.” satu kecupan Panglima berikan di kening Kapten.

“Imbasnya di lo.”

Mendengar itu, Kapten memberanikan diri untuk membuka matanya. Manik Panglima yang melengkung seperti bulan sabit menjadi hal yang pertama kali dia lihat.

“Kalo gue ga pergi, temen-temen lo bakal tau lagu itu buat gue. Mungkin sebagian dari temen lo bakal nerima kita, tapi sebagian yang lain jelas ga. Mereka bakal ngecap lo lemah dan hubungan kalian bakal berantakan.”

“Babi, kenapa masih mikirin itu si? gue aja udah ga peduli.”

Panglima terkekeh kecil, dia hadiahi kecupan manis di kedua mata Kapten, “Gue bisa ngelawan dunia demi lo, Kapten. Tapi kalo dengan gue ngelawan dunia bikin lo sengsara nantinya, gue bisa nahan semua bebannya diem-diem demi lo.”

Dua kecupan lagi dia berikan di kedua pipinya

“Gue gapapa orang lain tau gue cinta sama lo, tapi gue ga bisa biarin orang lain tau cinta gue ini dibales kalo orang yang gue sayang bakal kena masalah nantinya.”

Sebesar itu.

Sebesar itu pengorbanan yang selalu Panglima berikan. Tidak pernah main-main, nyata, dan selalu mengutamakan kepentingannya lebih dulu.

“Without pause and without a doubt, in a heartbeat, i’ll keep choosing you, my Kapten.”

Dan satu kecupan dengan sejuta perasaan yang Panglima coba salurkan.

“I love you, my own heart.”


Pada akhirnya, Panglima tidak akan pernah membuat Kapten terlihat kalah. Akan Panglima pastikan dunia berada di kaki Kapten. Sebab, remaja itu selalu punya cara agar pujaan hatinya terlihat lebih hebat darinya.

“Dingin ga?” tanya Panglima memastikan Kapten yang duduk di hadapannya sekarang tidak dihantam angin malam.

Rambut Kapten bergerak menggelitik leher sang dominan. Menyamankan posisinya yang kini duduk di sela-sela kaki Panglima, menjadikan dada musuh sekaligus yang dia cintai itu sandaran tubuhnya.

“Gue ambil selimut dulu ya.”

Kapten menggeleng keras, dia mencegah Panglima untuk tidak jauh-jauh darinya.

Lucu, padahal dulu, dari jarak 5 meter saja kehadiran Panglima sudah berhasil membuat Kapten mengamuk tidak karuan. Tapi lihat sekarang, mereka seakan telah dipasangi lem setan.

“Lo ga keberatan kita backstreet?”

“Enggak, Pipi bolong.”

Kapten mendongak untuk menatap Panglima, “Tapi gue mau ngasih tau ke cupapi monyenyo.”

“Iya gapapa, selagi mereka bisa nerima lo dengan baik, gue ga masalah.”

“Lo gimana?”

“Gue juga paling ngasih tau ke yang deket-deket aja.” kembali dia kecup pucuk kepala Kapten.

“Walaupun gue pengennya satu dunia tau.”

Kapten tertawa geli. Dia kembali menyamankan posisinya, memandangi suasana pantai yang penuh dengan pantulan bintang-bintang. Menikmati suasana yang hanya ada dia dan Panglima.

“Suara lagunya ke denger sampe sini buset.”

Samar-samar, lagu if the world was ending menemani mereka yang sedang kabur dari dunia nyata. Ah, liriknya sangat menggambarkan keadaan sekali.

“Kapten.”

“Ya?”

“Makasih ya udah ngasih gue kesempatan buat hadir di cerita lo ke depannya.”

Kapten membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat Panglima. Yang ditatap tersenyum manis, menarik genggaman tangan Kapten untuk dia kecup.

“Gue tau lo punya banyak keraguan dalam hubungan percintaan ini. Gue tau lo punya banyak ketakutan dari yang sudah pernah lo alamin.” Panglima memberhentikan kalimatnya sejenak.

“Kapten, gue pastiin cerita kita bakal jauh lebih bahagia dari dongeng-dongeng yang pernah lo baca.”

Lo secinta ini ya sama gue?

“Gue bakal buat dunia yang berantakan ini layak buat lo tinggali Kapten.”

Hening. Keduanya saling terpaku, tenggelam dalam bola mata yang berhasil membuat jembatan terikat untuk kisah mereka.

Dia genggam lembut tangan Kapten dan sekali lagi dia kecup manis punggung tangannya. Hal kecil yang sukses menerbangkan jutaan kupu-kupu dalam perut sang pujaan.

“Gue jatuh cinta sama lo jauh dari pertama kali gue masuk sekolah. Dan mulai sekarang, gue bakal jatuh cinta sama lo setiap harinya.”

Tanpa Panglima sadari, mutiara matanya jatuh bebas membasahi pipi.

“Gue cinta banget sama lo, Pipi bolong.”

Kapten terkekeh kecil, dihapusnya jejak-jejak air mata Panglima yang malah turun semakin deras.

“Iya, gue juga cinta sama lo, Anak setan.”

Kini keduanya sama-sama terkekeh. Bisa dibayangkan, betapa gemparnya sekolah jika tau hubungan dua musuh bebuyutan kini sudah merubah statusnya menjadi pacar.

“Udah jangan nangis, nanti gue beliin nasi goreng.”

“Kok lo tau gue suka nasi goreng?”

“Emang lo doang yang tau tentang gue?”

“Oh bearti selama ini lo diem-diem nyari tau kesukaan gue.” alis Panglima bergerak naik turun, sengaja menggoda Kapten.

“Lo jangan mulai dah.”

Panglima terkekeh kembali, mengacak-acak gemas rambut Kapten yang dibiarkan saja oleh sang empu.

“Bearti sekarang kita bisa triple date dong?”

“Triple date?”

“Iya, gue sama lo, Jaehyuk Klepon, terus Anyon Pawat.”

Dan kali ini Panglima tertawa hambar, dirinya hanya mengangguk kecil.

“Tapi ngedatenya juga diem-diem ga sih?”

“Ya mau gimana lagi.”

“Ga seru banget, mana ga bisa dicium depan kelas lagi.”

“Oh nantangin.”

“Dih emang berani?”

“Berani, lo kira gue cupu kayak lo?”

“Tai, cupu palak lo! tadi siapa yang confess depan orang banyak, hah?”

“Pacar gue.”

Jawaban singkat Panglima membuat Kapten membeku. Secara tiba-tiba pipi yang lebih kecil itu memanas, rasanya geli namun mendebarkan kala Panglima memvalidasi siapa dirinya.

Belum sempat Kapten membuka suara, keduanya dikejutkan lebih dulu dengan suara kembang api tahun baru.

Langit yang sebelumnya penuh bintang kini semakin dihamburi kelap-kelip haru. Suara ombak pun mulai beradu dengan sorak tahun baru.

Sejenak Kapten terbuai dengan kembang api yang menghiasi kaki langit.

“Cantik ya.”

Panglima mengangguk setuju, “Iya cantik banget.” ujarnya tanpa memalingkan tatapannya dari memandangi wajah berbinar Kapten.

Kapten yang merasa dejavu melirik ke arah Panglima dengan pipi yang merona malu.

Tidak ingin menyiakan kesempatan, Panglima kembali mencuri kecupan di bibir Kapten.

“Selamat tahun baru, Kapten-nya Panglima.”

Kapten berdecak pura-pura kesal, lantas mencuri kecupan juga dari bibir Panglima. Melumatnya sedikit yang sukses membuat Panglima terkaget-kaget.

“Selamat tahun baru juga, Panglima-nya Kapten.”


I never planned it. But, you’re the best thing ever that happened in my life, Panglima.


I want to run away with you, Kapten. In a place where there is no one, only you and me.


“Anak setan anjing, lo mau kemana?”

Iya, benar. Kalian tidak salah baca. Kapten dengan ego yang setinggi langit itu berlari mengejar Panglima.

Tanpa menyelesaikan nyanyiannya. Tanpa peduli dengan pemikiran orang lain nantinya.

Akal sehatnya tidak berjalan seperti biasa. Mungkin jika dia Kapten yang sebelumnya, dia akan diam di tempat tanpa perlu repot mengejar yang telah menjadi topik penting dalam hidupnya. Tapi, malam ini, dia memegang prinsipnya dengan arus yang baru.

Setiap orang yang memaksa masuk ke dalam hidupnya, tidak akan bisa keluar dengan mudah.

“Anak setan, stop!”

Panglima tidak mendengarkan intruksi Kapten. Dia semakin membawa langkah kakinya ke tepian pantai yang jauh dari resort. Hampir menuju ke tempat mereka di malam kemarin.

“Panglima anjing!” Kapten berteriak frustasi.

“Gue udah jujur sama perasaan gue anjing, kenapa sekarang lo malah ngehindarin gue gini?”

Sontak langkah kaki Panglima berhenti. Hening. Keduanya sama-sama diam dan saling berada di tempat masing-masing.

Lantas Kapten menjadi yang lebih dulu bergerak mendekat. Dia menggenggam tangan Panglima yang dingin. Jujur, ini baru pertama kalinya Kapten seperti ini. Dia menyerah pada akal sehat dan bergerak mengikuti kata hati.

“lo ga suka sama cara gue? lo ga beneran cinta sama gue?”

Grep

Secepat ombak yang menghantam daratan, secepat itu lah Panglima berbalik dan segera merengkuh Kapten dalam pelukannya. Kepala yang lebih tinggi dijatuhkan pada pundak si pemilik lesung pipi. Menenggelamkan sang pujaan hati dalam tubuhnya.

“Enggak... jangan mikir gitu, gue sayang banget— gue cinta banget sama lo, Kapten.”

Ada getaran dalam suaranya yang berat. Deru nafasnya bahkan tidak beraturan. Dalam jarak yang telah habis ini, Kapten dapat merasakan debaran jantung Panglima yang persis seperti miliknya.

Berdebar sekaligus menggelitik dalam perut.

“Terus kenapa lo ninggalin gue?”

Panglima memberi jarak sedikit untuk menatap wajah Kapten-nya, ah, sudah boleh kah dia menyebut dengan lantang bahwa pria di hadapannya ini adalah miliknya sekarang?

“Jangan kasih effort segitu besarnya buat gue, Kapten.”

Ditangkupnya rahang Kapten dengan hati-hati, lalu setelahnya dia pertemukan kening mereka.

“Biar gue aja yang effort buat lo. Martabat lo, harga diri lo, semua bisa hancur kalo temen-temen lo tau. Biarin semua orang tau nya gue yang cinta sama lo.”

Dan Kapten tidak tau, haruskah dia senang atau marah sekarang.

Bahkan setelah Kapten meruntuhkan seluruh topeng yang selama ini dipasang demi Panglima, orang itu malah memikirkan status Kapten ketimbang perasaan dia sendiri.

“Bangsat lo.”

Kapten memukul keras dada Panglima sampai pelukan mereka terlepas dan tercipta jarak.

“Lo ngerti ga sih apa yang berusaha gue ungkapin ke lo babi?”

Sebelah tangannya mencengkram kerah baju Panglima dan yang lainnya siap melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Emosinya bercampur aduk, sial, Kapten benar-benar tidak handal dengan perasaan seperti ini.

Lain dengannya, Panglima hanya diam. Menatap intens mata Kapten sampai akhirnya kepalan tangan itu dijatuhkan olehnya.

“Anak setan lo..” Kapten berujar lemas.

Dia jatuhkan kepalanya di dada Panglima, “Gue cinta sama lo, bangsat.”

“Ngerti ga? gue cinta sama lo anjing. Stop mainin perasaan gue bisa ga sih, babi?”

Samar-samar suara isakan kecil dapat Panglima dengar.

“Pipi bolong, hei sayang.” kembali dia tangkup wajah Kapten agar menatapnya. Dan benar saja, si pemilik lesung pipi itu tengah menangis.

Bukan hal yang mudah untuk mengutarakan perasaan, dia bahkan hampir tersesat jika tidak ditemukan jalan keluar oleh Nanon. Ekspektasinya tinggi jauh dari keadaan seperti ini.

“Hei, sini, liat mata gue.”

Kapten menggeleng dia masih memejamkan matanya tidak berani berhadapan langsung dengan mata Panglima. Takut air matanya akan keluar semakin deras.

“Gue cinta sama lo Kapten, cinta banget. Gue bahkan ga ragu buat ngasih tau satu dunia kalo gue cinta sama lo.”

“Terus kenapa...?”

“Lo.” satu kecupan Panglima berikan di kening Kapten.

“Imbasnya di lo.”

Mendengar itu, Kapten memberanikan diri untuk membuka matanya. Manik Panglima yang melengkung seperti bulan sabit menjadi hal yang pertama kali dia lihat.

“Kalo gue ga pergi, temen-temen lo bakal tau lagu itu buat gue. Mungkin sebagian dari temen lo bakal nerima kita, tapi sebagian yang lain jelas ga. Mereka bakal ngecap lo lemah dan hubungan kalian bakal berantakan.”

“Babi, kenapa masih mikirin itu si? gue aja udah ga peduli.”

Panglima terkekeh kecil, dia hadiahi kecupan manis di kedua mata Kapten, “Gue bisa ngelawan dunia demi lo, Kapten. Tapi kalo dengan gue ngelawan dunia bikin lo sengsara nantinya, gue bisa nahan semua bebannya diem-diem demi lo.”

Dua kecupan lagi dia berikan di kedua pipinya

“Gue gapapa orang lain tau gue cinta sama lo, tapi gue ga bisa biarin orang lain tau cinta gue ini dibales kalo orang yang gue sayang bakal kena masalah nantinya.”

Sebesar itu.

Sebesar itu pengorbanan yang selalu Panglima berikan. Tidak pernah main-main, nyata, dan selalu mengutamakan kepentingannya lebih dulu.

“Without pause and without a doubt, in a heartbeat, i’ll keep choosing you, my Kapten.”

Dan satu kecupan dengan sejuta perasaan yang Panglima coba salurkan.

“I love you, my own heart.”


Pada akhirnya, Panglima tidak akan pernah membuat Kapten terlihat kalah. Akan Panglima pastikan dunia berada di kaki Kapten. Sebab, remaja itu selalu punya cara agar pujaan hatinya terlihat lebih hebat darinya.

“Dingin ga?” tanya Panglima memastikan Kapten yang duduk di hadapannya sekarang tidak dihantam angin malam.

Rambut Kapten bergerak menggelitik leher sang dominan. Menyamankan posisinya yang kini duduk di sela-sela kaki Panglima, menjadikan dada musuh sekaligus yang dia cintai itu sandaran tubuhnya.

“Gue ambil selimut dulu ya.”

Kapten menggeleng keras, dia mencegah Panglima untuk tidak jauh-jauh darinya.

Lucu, padahal dulu, dari jarak 5 meter saja kehadiran Panglima sudah berhasil membuat Kapten mengamuk tidak karuan. Tapi lihat sekarang, mereka seakan telah dipasangi lem setan.

“Lo ga keberatan kita backstreet?”

“Enggak, Pipi bolong.”

Kapten mendongak untuk menatap Panglima, “Tapi gue mau ngasih tau ke cupapi monyenyo.”

“Iya gapapa, selagi mereka bisa nerima lo dengan baik, gue ga masalah.”

“Lo gimana?”

“Gue juga paling ngasih tau ke yang deket-deket aja.” kembali dia kecup pucuk kepala Kapten.

“Walaupun gue pengennya satu dunia tau.”

Kapten tertawa geli. Dia kembali menyamankan posisinya, memandangi suasana pantai yang penuh dengan pantulan bintang-bintang. Menikmati suasana yang hanya ada dia dan Panglima.

“Suara lagunya ke denger sampe sini buset.”

Samar-samar, lagu if the world was ending menemani mereka yang sedang kabur dari dunia nyata. Ah, liriknya sangat menggambarkan keadaan sekali.

“Kapten.”

“Ya?”

“Makasih ya udah ngasih gue kesempatan buat hadir di cerita lo ke depannya.”

Kapten membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat Panglima. Yang ditatap tersenyum manis, menarik genggaman tangan Kapten untuk dia kecup.

“Gue tau lo punya banyak keraguan dalam hubungan percintaan ini. Gue tau lo punya banyak ketakutan dari yang sudah pernah lo alamin.” Panglima memberhentikan kalimatnya sejenak.

“Kapten, gue pastiin cerita kita bakal jauh lebih bahagia dari dongeng-dongeng yang pernah lo baca.”

Lo secinta ini ya sama gue?

“Gue bakal buat dunia yang berantakan ini layak buat lo tinggali Kapten.”

Hening. Keduanya saling terpaku, tenggelam dalam bola mata yang berhasil membuat jembatan terikat untuk kisah mereka.

Dia genggam lembut tangan Kapten dan sekali lagi dia kecup manis punggung tangannya. Hal kecil yang sukses menerbangkan jutaan kupu-kupu dalam perut sang pujaan.

“Gue jatuh cinta sama lo jauh dari pertama kali gue masuk sekolah. Dan mulai sekarang, gue bakal jatuh cinta sama lo setiap harinya.”

Tanpa Panglima sadari, mutiara matanya jatuh bebas membasahi pipi.

I never planed it. But, you’re the best thing ever that has ever happened in my life

“Gue cinta banget sama lo, Pipi bolong.”

Kapten terkekeh kecil, dihapusnya jejak-jejak air mata Panglima yang malah turun semakin deras.

“Iya, gue juga cinta sama lo, Anak setan.”

Kini keduanya sama-sama terkekeh. Bisa dibayangkan, betapa gemparnya sekolah jika tau hubungan dua musuh bebuyutan kini sudah merubah statusnya menjadi pacar.

“Udah jangan nangis, nanti gue beliin nasi goreng.”

“Kok lo tau gue suka nasi goreng?”

“Emang lo doang yang tau tentang gue?”

“Oh bearti selama ini lo diem-diem nyari tau kesukaan gue.” alis Panglima bergerak naik turun, sengaja menggoda Kapten.

“Lo jangan mulai dah.”

Panglima terkekeh kembali, mengacak-acak gemas rambut Kapten yang dibiarkan saja oleh sang empu.

“Bearti sekarang kita bisa triple date dong?”

“Triple date?”

“Iya, gue sama lo, Jaehyuk Klepon, terus Anyon Pawat.”

Dan kali ini Panglima tertawa hambar, dirinya hanya mengangguk kecil.

“Tapi ngedatenya juga diem-diem ga sih?”

“Ya mau gimana lagi.”

“Ga seru banget, mana ga bisa dicium depan kelas lagi.”

“Oh nantangin.”

“Dih emang berani?”

“Berani, lo kira gue cupu kayak lo?”

“Tai, cupu palak lo! tadi siapa yang confess depan orang banyak, hah?”

“Pacar gue.”

Jawaban singkat Panglima membuat Kapten membeku. Secara tiba-tiba pipi yang lebih kecil itu memanas, rasanya geli namun mendebarkan kala Panglima memvalidasi siapa dirinya.

Belum sempat Kapten membuka


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.”

Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu

Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.

Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.

Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.

“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”

Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.

“Pipi bolong.”

Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.

“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”

“Ah anjing! berisik lo anak setan.”

Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.

“Tai males banget gue sama lo anjing.”

“Lah, emang gue ngapain?”

“Najis pake nanya.”

“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent— OH!” ada senyum yang terpampang di bibir Panglima sebelum dia melanjutkan kata-katanya.

“—Lo cemburu, Pipi bolong?”

Merasa tertangkap basah, mata Kapten bergerak gelisah. Mencari objek lain agar matanya bertatapan dengan manik coklat milik Panglima.

“Idih pede gila lo.”

Panglima terkekeh manis, dengan sengaja mengikis jarak mereka, “Ngaku aja.”

“Ngaku paan? ga usah halu deh lo bangsat, minggir ga gue colok ya mata lo babi.”

Bukannya takut, Panglima malah semakin menantang. Sebelah tangannya memeluk pinggang Kapten dan berdiri di sela-sela kakinya. Sedangkan tangannya yang lain merapikan rambut Kapten yang berantakan karena angin.

“Jangan...”

“Hm?”

“Jangan bilang cakep ke orang lain.” cicit Kapten.

Bola mata mereka bertemu, saling mengunci seolah dunia tepat dalam genggaman mereka. Tanpa peduli jika mereka akan jadi tontonan, karena meski di pinggir halaman, semua orang dapat melihat kegiatan mereka tanpa terkecuali.

Kapten lebih dulu memutus kontak mata mereka, “Ke gue aja. Jangan muji ke orang lain juga, gue ga suka.”

Dirinya menunduk sembari memainkan jari jemarinya. Tanda jika dia sedang gugup.

“Banyak orang bilang gue cakep, tapi kenapa lo bilang cakepnya ke orang lain?” masih dengan wajah cemberutnya, Kapten melirik sejenak Panglima dan kembali menunduk, “Emang gue kurang cakep ya?”

Entah kesambet apa kapten malam ini. Yang pasti dia persis seperti kucing yang ngambek karena tuannya main dengan kucing lain.

“Hei, you are the most beautiful person in this world, Pipi bolong. Lo orang paling cakep, paling cantik, paling ganteng, ga ada yang bisa nandingin lo.”

Panglima menyelipkan rambut Kapten ke belakang telinga lalu setelahnya menarik remaja itu untuk menatapnya.

“Terus kenapa lo muji orang lain?”

“Siapa?”

“Karina.”

“Karina? kapan?”

“Nanya mulu anjing, itu yang di snapgram lo babi.”

“Hah? yang mana? bentar, gue dari tadi ga liat hp gue dimana.”

“Di Karina kali.”

Panglima kembali terkekeh, menghadiahi kapten cubitan kecil di pipi tanda dia sangat gemas padanya, “Jutek banget.”

Pantas saja tiba-tiba singa ini berubah jadi kucing, ada yang tidak beres ternyata. Pandangan Panglima mengedar sejenak, lalu terjatuh pada Lino yang berdiri di samping Jisung tersenyum tanpa dosa sembari mengacungkan Hp miliknya.

Sialan orang itu.

“Jangan ditunggu, suara gue lebih bagus.”

“Iya Pipi, semua yang ada di lo lebih bagus dari yang lain.”

“Gue serius anjing.”

“Gue juga serius.”

Tangan Panglima hinggap untuk mengusap pucuk kepala Kapten dengan lembut.

“Mau gue buktiin?”

“Ga takut diliat sama temen-temen lo?”

Kapten tersenyum tipis, dari awal dia melangkah turun dari balkon ke titik dimana mereka sekarang, tekatnya sudah bulat.

Jika akan rusak, maka rusaklah.

Porak-porandakan hingga habis, toh kata Nanon kita hanya hidup sekali.

“Kepalang basah, kenapa ga nyebur aja sekalian.”


Panggung kecil yang sudah disiapkan staf resort sebelumnya kini sudah di isi dengan Kapten yang telah duduk di kursi vokalis lengkap dengan piano keyboard yang akan dia mainkan. Bersamaan dengan langkahnya yang dia bawa ke sana, semua pergerakan teman-temannya seketika berhenti dan berfokus padanya.

Pun dengan Panglima. Remaja itu berdiri di tengah, namun tidak mencolok. Dia berbaur dengan yang lain, tapi tetap berhadapan langsung dengan Kapten. Memperhatikan getaran kecil di tangan pujaan hatinya kala sedang mengatur mic agar terlihat nyaman.

Dasar keras kepala, sudah tau tidak suka jadi pusat perhatian.

“Gue cuma mau nyanyi, lo pada kalo ada kegiatan lain boleh lanjutin, tapi kalo mau liat juga gapapa.”

Urakan sekali.

Dia menarik napas, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Lantas secara terang-terangan Panglima tersenyum manis, menyalurkan dukungannya yang langsung ditangkap Kapten. Terbukti dengan dia yang ikut tersenyum tipis.

“Gue tau selama ini hubungan antara kita Orion ke Warior ga pernah bagus, ditambah lagi dengan status anak IPA sama IPS kita. Jujur gue ga beharap kita bisa damai.”

“Gue tau, gue jelek banget kalo ngomong ginian, tapi seenggaknya dari tempat ini, hubungan kita bisa sedikit tenang ke depannya.”

Kata per-katanya di susun apik menjelaskan jarak mereka, tidak hanya penuh arogan, tapi juga harapan.

Matanya mengedar, menatap satu persatu anak-anak yang lain dengan santai. Bahkan senyum tipis dia selipkan di sana. Meski begitu, wajah tegasnya masih terpampang, menjaga martabat dan harga dirinya sebagai seorang Kapten.

“Kalo mau jujur, bukan hal yang gampang buat nyatuin 2 kubu di satu tempat dengan satu tujuan gini. Ada banyak pertimbangan karena bisa aja tiba-tiba kita tawuran.”

Dia terkekeh kecil yang disambut sorakan setuju dari yang lain.

“Tapi Anyon bilang sama gue, kita hidup cuma sekali, keburu mati kalo selalu nahan diri.

Lalu tatapannya berhenti pada Panglima. Sudut bibirnya semakin dia tarik hingga kedua bolongan di pipinya tercetak jelas.

“Dan di malam ini, gue ga mau nahan diri gue.”

“Kita musuh, tapi bukan bearti kita ga bisa jadi satu.”

Tuts piano itu mulai Kapten tekan. Alunan melodi manis semakin membuat banyak pasang mata terkunci padanya.

“Gue, yang kalian liat sekarang ini, bukan Kapten orion, bukan juga anak IPA, atau penguasa sekolah.” dia menjeda kalimatnya sejenak.

“Gue Yang Jeongin, remaja biasa yang satu seragam sama kalian.”

Kapten...

“Yang juga lagi berusaha ngungkapin perasaannya tapi bingung ngomongnya gimana.”

Suasana seketika hening kala Kapten memejamkan matanya. Dirinya seolah terhanyut dalam melodi yang dia ciptakan.

“We're whispering in circles again We're using different words, same meanings You ask me if this love is worth the end.”

Lantas terkunci pada satu sosok yang membuatnya tidak dapat mengalihkan pandangan.

“You know that I've been broken before I know that you could break me more My instinct is to run before my heart is torn.”

Benar, Kapten sudah kalah. Kalah sekalah-kalahnya.

“Try to hold my defences and hide behind my walls But when I hold onto you, I can't help but let them fall.”

Bayangan yang lain seolah memudar hingga hanya menyisakan sosok itu saja. Sosok yang selalu membuat jantungnya berdegup selayaknya manusia normal. Tidak menuntutnya jadi siapa pun, melainkan membantunya menjadi dirinya sendiri.

“So, I'll let you hold onto my heart.”

Panglima, gue kalah...

“No, I won't run away even if you tear me apart.”

Kapten telah menyerah. Meskipun nantinya cinta Panglima semu, Kapten tidak peduli.

Hancur saja, bawa dia tenggelam. Lantas biarkan sisanya semesta yang mengatur. Kemana ceritanya akan habis, mati di tangan sendiri atau sama-sama menjadi debu.

“You know I will always stay 'Cause it's better to try and love too hard Than to always be stuck at the start So, I'll let you hold onto my heart 'Cause loving you's worth all the scars.”

Now, I think I am gonna love you for a long time, Panglima.

Lagu itu belum selesai, Kapten bahkan masih larut dari setiap kalimat yang berusaha dia ungkapkan dari setiap bait. Tapi Panglima sudah melangkah mundur dengan senyuman yang memudar.

Dia pergi.

Meninggalkan Kapten dengan kebingungan.


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.”

Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu

Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.

Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.

Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.

“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”

Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.

“Pipi bolong.”

Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.

“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”

“Ah anjing! berisik lo anak setan.”

Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.

“Tai males banget gue sama lo anjing.”

“Lah, emang gue ngapain?”

“Najis pake nanya.”

“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent— OH!” ada senyum yang terpampang di bibir Panglima sebelum dia melanjutkan kata-katanya.

“—Lo cemburu, Pipi bolong?”

Merasa tertangkap basah, mata Kapten bergerak gelisah. Mencari objek lain agar matanya bertatapan dengan manik coklat milik Panglima.

“Idih pede gila lo.”

Panglima terkekeh manis, dengan sengaja mengikis jarak mereka, “Ngaku aja.”

“Ngaku paan? ga usah halu deh lo bangsat, minggir ga gue colok ya mata lo babi.”

Bukannya takut, Panglima malah semakin menantang. Sebelah tangannya memeluk pinggang Kapten dan berdiri di sela-sela kakinya. Sedangkan tangannya yang lain merapikan rambut Kapten yang berantakan karena angin.

“Jangan...”

“Hm?”

“Jangan bilang cakep ke orang lain.” cicit Kapten.

Bola mata mereka bertemu, saling mengunci seolah dunia tepat dalam genggaman mereka. Tanpa peduli jika mereka akan jadi tontonan, karena meski di pinggir halaman, semua orang dapat melihat kegiatan mereka tanpa terkecuali.

Kapten lebih dulu memutus kontak mata mereka, “Ke gue aja. Jangan muji ke orang lain juga, gue ga suka.”

Dirinya menunduk sembari memainkan jari jemarinya. Tanda jika dia sedang gugup.

“Banyak orang bilang gue cakep, tapi kenapa lo bilang cakepnya ke orang lain?” masih dengan wajah cemberutnya, Kapten melirik sejenak Panglima dan kembali menunduk, “Emang gue kurang cakep ya?”

Entah kesambet apa kapten malam ini. Yang pasti dia persis seperti kucing yang ngambek karena tuannya main dengan kucing lain.

“Hei, you are the most beautiful person in this world, Pipi bolong. Lo orang paling cakep, paling cantik, paling ganteng, ga ada yang bisa nandingin lo.”

Panglima menyelipkan rambut Kapten ke belakang telinga lalu setelahnya menarik remaja itu untuk menatapnya.

“Terus kenapa lo muji orang lain?”

“Siapa?”

“Karina.”

“Karina? kapan?”

“Nanya mulu anjing, itu yang di snapgram lo babi.”

“Hah? yang mana? bentar, gue dari tadi ga liat hp gue dimana.”

“Di Karina kali.”

Panglima kembali terkekeh, menghadiahi kapten cubitan kecil di pipi tanda dia sangat gemas padanya, “Jutek banget.”

Pantas saja tiba-tiba singa ini berubah jadi kucing, ada yang tidak beres ternyata. Pandangan Panglima mengedar sejenak, lalu terjatuh pada Lino yang berdiri di samping Jisung tersenyum tanpa dosa sembari mengacungkan Hp miliknya.

Sialan orang itu.

“Jangan ditunggu, suara gue lebih bagus.”

“Iya Pipi, semua yang ada di lo lebih bagus dari yang lain.”

“Gue serius anjing.”

“Gue juga serius.”

Tangan Panglima hinggap untuk mengusap pucuk kepala Kapten dengan lembut.

“Mau gue buktiin?”

“Ga takut diliat sama temen-temen lo?”

Kapten tersenyum tipis, dari awal dia melangkah turun dari balkon ke titik dimana mereka sekarang, tekatnya sudah bulat.

Jika akan rusak, maka rusaklah.

Porak-porandakan hingga habis, toh kata Nanon kita hanya hidup sekali.

“Kepalang basah, kenapa ga nyebur aja sekalian.”


Panggung kecil yang sudah disiapkan staf resort sebelumnya kini sudah di isi dengan Kapten yang telah duduk di kursi vokalis lengkap dengan piano keyboard yang akan dia mainkan. Bersamaan dengan langkahnya yang dia bawa ke sana, semua pergerakan teman-temannya seketika berhenti dan berfokus padanya.

Pun dengan Panglima. Remaja itu berdiri di tengah, namun tidak mencolok. Dia berbaur dengan yang lain, tapi tetap berhadapan langsung dengan Kapten. Memperhatikan getaran kecil di tangan pujaan hatinya kala sedang mengatur mic agar terlihat nyaman.

Dasar keras kepala, sudah tau tidak suka jadi pusat perhatian.

“Gue cuma mau nyanyi, lo pada kalo ada kegiatan lain boleh lanjutin, tapi kalo mau liat juga gapapa.”

Urakan sekali.

Dia menarik napas, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Lantas secara terang-terangan Panglima tersenyum manis, menyalurkan dukungannya yang langsung ditangkap Kapten. Terbukti dengan dia yang ikut tersenyum tipis.

“Gue tau selama ini hubungan antara kita Orion ke Warior ga pernah bagus, ditambah lagi dengan status anak IPA sama IPS kita. Jujur gue ga beharap kita bisa damai.”

“Gue tau, gue jelek banget kalo ngomong ginian, tapi seenggaknya dari tempat ini, hubungan kita bisa sedikit tenang ke depannya.”

Kata per-katanya di susun apik menjelaskan jarak mereka, tidak hanya penuh arogan, tapi juga harapan.

Matanya mengedar, menatap satu persatu anak-anak yang lain dengan santai. Bahkan senyum tipis dia selipkan di sana. Meski begitu, wajah tegasnya masih terpampang, menjaga martabat dan harga dirinya sebagai seorang Kapten.

“Kalo mau jujur, bukan hal yang gampang buat nyatuin 2 kubu di satu tempat dengan satu tujuan gini. Ada banyak pertimbangan karena bisa aja tiba-tiba kita tawuran.”

Dia terkekeh kecil yang disambut sorakan setuju dari yang lain.

“Tapi Anyon bilang sama gue, kita hidup cuma sekali, keburu mati kalo selalu nahan diri.

Lalu tatapannya berhenti pada Panglima. Sudut bibirnya semakin dia tarik hingga kedua bolongan di pipinya tercetak jelas.

“Dan di malam ini, gue ga mau nahan diri gue.”

“Kita musuh, tapi bukan bearti kita ga bisa jadi satu.”

Tuts piano itu mulai Kapten tekan. Alunan melodi manis semakin membuat banyak pasang mata terkunci padanya.

“Gue, yang kalian liat sekarang ini, bukan Kapten orion, bukan juga anak IPA, atau penguasa sekolah.” dia menjeda kalimatnya sejenak.

“Gue Yang Jeongin, remaja biasa yang satu seragam sama kalian.”

Kapten...

“Yang juga lagi berusaha ngungkapin perasaannya tapi bingung ngomongnya gimana.”

Suasana seketika hening kala Kapten memejamkan matanya. Dirinya seolah terhanyut dalam melodi yang dia ciptakan.

“We're whispering in circles again We're using different words, same meanings You ask me if this love is worth the end.”

Lantas terkunci pada satu sosok yang membuatnya tidak dapat mengalihkan pandangan.

“You know that I've been broken before I know that you could break me more My instinct is to run before my heart is torn.”

Benar, Kapten sudah kalah. Kalah sekalah-kalahnya.

“Try to hold my defences and hide behind my walls But when I hold onto you, I can't help but let them fall.”

Bayangan yang lain seolah memudar hingga hanya menyisakan sosok itu saja. Sosok yang selalu membuat jantungnya berdegup selayaknya manusia normal. Tidak menuntutnya jadi siapa pun, melainkan membantunya menjadi dirinya sendiri.

“So, I'll let you hold onto my heart.”

Panglima, gue kalah...

“No, I won't run away even if you tear me apart.”

Kapten telah menyerah. Meskipun nantinya cinta Panglima semu, Kapten tidak peduli.

Hancur saja, bawa dia tenggelam. Lantas biarkan sisanya semesta yang mengatur. Kemana ceritanya akan habis, mati di tangan sendiri atau sama-sama menjadi debu.

“You know I will always stay 'Cause it's better to try and love too hard Than to always be stuck at the start So, I'll let you hold onto my heart 'Cause loving you's worth all the scars.”

Now, I think I am gonna love you for a long time, Panglima.

Lagu itu belum selesai, Kapten bahkan masih larut dari setiap kalimat yang berusaha dia ungkapkan dari setiap bait. Tapi Panglima sudah melangkah mundur dengan senyuman yang memudar.

Dia pergi.

Meninggalkan Kapten dengan kebingungan.


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.”

Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu

Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.

Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.

Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.

“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”

Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.

“Pipi bolong.”

Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.

“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”

“Ah anjing! berisik lo anak setan.”

Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.

“Tai males banget gue sama lo anjing.”

“Lah, emang gue ngapain?”

“Najis pake nanya.”

“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent— OH!” ada senyum yang terpampang di bibir Panglima sebelum dia melanjutkan kata-katanya.

“—Lo cemburu, Pipi bolong?”

Merasa tertangkap basah, mata Kapten bergerak gelisah. Mencari objek lain agar matanya bertatapan dengan manik coklat milik Panglima.

“Idih pede gila lo.”

Panglima terkekeh manis, dengan sengaja mengikis jarak mereka, “Ngaku aja.”

“Ngaku paan? ga usah halu deh lo bangsat, minggir ga gue colok ya mata lo babi.”

Bukannya takut, Panglima malah semakin menantang. Sebelah tangannya memeluk pinggang Kapten dan berdiri di sela-sela kakinya. Sedangkan tangannya yang lain merapikan rambut Kapten yang berantakan karena angin.

“Jangan...”

“Hm?”

“Jangan bilang cakep ke orang lain.” cicit Kapten.

Bola mata mereka bertemu, saling mengunci seolah dunia tepat dalam genggaman mereka. Tanpa peduli jika mereka akan jadi tontonan, karena meski di pinggir halaman, semua orang dapat melihat kegiatan mereka tanpa terkecuali.

Kapten lebih dulu memutus kontak mata mereka, “Ke gue aja. Jangan muji ke orang lain juga, gue ga suka.”

Dirinya menunduk sembari memainkan jari jemarinya. Tanda jika dia sedang gugup.

“Banyak orang bilang gue cakep, tapi kenapa lo bilang cakepnya ke orang lain?” masih dengan wajah cemberutnya, Kapten melirik sejenak Panglima dan kembali menunduk, “Emang gue kurang cakep ya?”

Entah kesambet apa kapten malam ini. Yang pasti dia persis seperti kucing yang ngambek karena tuannya main dengan kucing lain.

“Hei, you are the most beautiful person in this world, Pipi bolong. Lo orang paling cakep, paling cantik, paling ganteng, ga ada yang bisa nandingin lo.”

Panglima menyelipkan rambut Kapten ke belakang telinga lalu setelahnya menarik remaja itu untuk menatapnya.

“Terus kenapa lo muji orang lain?”

“Siapa?”

“Karina.”

“Karina? kapan?”

“Nanya mulu anjing, itu yang di snapgram lo babi.”

“Hah? yang mana? bentar, gue dari tadi ga liat hp gue dimana.”

“Di Karina kali.”

Panglima kembali terkekeh, menghadiahi kapten cubitan kecil di pipi tanda dia sangat gemas padanya, “Jutek banget.”

Pantas saja tiba-tiba singa ini berubah jadi kucing, ada yang tidak beres ternyata. Pandangan Panglima mengedar sejenak, lalu terjatuh pada Lino yang berdiri di samping Jisung tersenyum tanpa dosa sembari mengacungkan Hp miliknya.

Sialan orang itu.

“Jangan ditunggu, suara gue lebih bagus.”

“Iya Pipi, semua yang ada di lo lebih bagus dari yang lain.”

“Gue serius anjing.”

“Gue juga serius.”

Tangan Panglima hinggap untuk mengusap pucuk kepala Kapten dengan lembut.

“Mau gue buktiin?”

“Ga takut diliat sama temen-temen lo?”

Kapten tersenyum tipis, dari awal dia melangkah turun dari balkon ke titik dimana mereka sekarang, tekatnya sudah bulat.

Jika akan rusak, maka rusaklah.

Porak-porandakan hingga habis, toh kata Nanon kita hanya hidup sekali.

“Kepalang basah, kenapa ga nyebur aja sekalian.”


Panggung kecil yang sudah disiapkan staf resort sebelumnya kini sudah di isi dengan Kapten yang telah duduk di kursi vokalis lengkap dengan piano keyboard yang akan dia mainkan. Bersamaan dengan langkahnya yang dia bawa ke sana, semua pergerakan teman-temannya seketika berhenti dan berfokus padanya.

Pun dengan Panglima. Remaja itu berdiri di tengah, namun tidak mencolok. Dia berbaur dengan yang lain, tapi tetap berhadapan langsung dengan Kapten. Memperhatikan getaran kecil di tangan pujaan hatinya kala sedang mengatur mic agar terlihat nyaman.

Dasar keras kepala, sudah tau tidak suka jadi pusat perhatian.

“Gue cuma mau nyanyi, lo pada kalo ada kegiatan lain boleh lanjutin, tapi kalo mau liat juga gapapa.”

Urakan sekali.

Dia menarik napas, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Lantas secara terang-terangan Panglima tersenyum manis, menyalurkan dukungannya yang langsung ditangkap Kapten. Terbukti dengan dia yang ikut tersenyum tipis.

“Gue tau selama ini hubungan antara kita Orion ke Warior ga pernah bagus, ditambah lagi dengan status anak IPA sama IPS kita. Jujur gue ga beharap kita bisa damai.”

“Gue tau, gue jelek banget kalo ngomong ginian, tapi seenggaknya dari tempat ini, hubungan kita bisa sedikit tenang ke depannya.”

Kata per-katanya di susun apik menjelaskan jarak mereka, tidak hanya penuh arogan, tapi juga harapan.

Matanya mengedar, menatap satu persatu anak-anak yang lain dengan santai. Bahkan senyum tipis dia selipkan di sana. Meski begitu, wajah tegasnya masih terpampang, menjaga martabat dan harga dirinya sebagai seorang Kapten.

“Kalo mau jujur, bukan hal yang gampang buat nyatuin 2 kubu di satu tempat dengan satu tujuan gini. Ada banyak pertimbangan karena bisa aja tiba-tiba kita tawuran.”

Dia terkekeh kecil yang disambut sorakan setuju dari yang lain.

“Tapi Anyon bilang sama gue, kita hidup cuma sekali, keburu mati kalo selalu nahan diri.

Lalu tatapannya berhenti pada Panglima. Sudut bibirnya semakin dia tarik hingga kedua bolongan di pipinya tercetak jelas.

“Dan di malam ini, gue ga mau nahan diri gue.”

“Kita musuh, tapi bukan bearti kita ga bisa jadi satu.”

Tuts piano itu mulai Kapten tekan. Alunan melodi manis semakin membuat banyak pasang mata terkunci padanya.

“Gue, yang kalian liat sekarang ini, bukan Kapten orion, bukan juga anak IPA, atau penguasa sekolah.” dia menjeda kalimatnya sejenak.

“Gue Yang Jeongin, remaja biasa yang satu seragam sama kalian.”

Kapten...

“Yang juga lagi berusaha ngungkapin perasaannya tapi bingung ngomongnya gimana.”

Suasana seketika hening kala Kapten memejamkan matanya. Dirinya seolah terhanyut dalam melodi yang dia ciptakan.

“We're whispering in circles again We're using different words, same meanings You ask me if this love is worth the end.”

Lantas terkunci pada satu sosok yang membuatnya tidak dapat mengalihkan pandangan.

“You know that I've been broken before I know that you could break me more My instinct is to run before my heart is torn.”

Benar, Kapten sudah kalah. Kalah sekalah-kalahnya.

“Try to hold my defences and hide behind my walls But when I hold onto you, I can't help but let them fall.”

Bayangan yang lain seolah memudar hingga hanya menyisakan sosok itu saja. Sosok yang selalu membuat jantungnya berdegup selayaknya manusia normal. Tidak menuntutnya jadi siapa pun, melainkan membantunya menjadi dirinya sendiri.

“So, I'll let you hold onto my heart.”

Panglima, gue kalah...

“No, I won't run away even if you tear me apart.”

Kapten telah menyerah. Meskipun nantinya cinta Panglima semu, Kapten tidak peduli.

Hancur saja, bawa dia tenggelam. Lantas biarkan sisanya semesta yang mengatur. Kemana ceritanya akan habis, mati di tangan sendiri atau sama-sama menjadi debu.

“You know I will always stay 'Cause it's better to try and love too hard Than to always be stuck at the start So, I'll let you hold onto my heart 'Cause loving you's worth all the scars.”

Now, I think I am gonna love you for a long time, Panglima.

Lagu itu belum selesai, Kapten bahkan masih larut dari setiap kalimat yang berusaha dia ungkapkan dari setiap bait. Tapi Panglima sudah melangkah mundur dengan senyuman yang memudar.

Dia pergi.

Meninggalkan Kapten dengan kebingungan.


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.”

Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu

Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.

Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.

Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.

“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”

Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.

“Pipi bolong.”

Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.

“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”

“Ah anjing! berisik lo anak setan.”

Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.

“Tai males banget gue sama lo anjing.”

“Lah, emang gue ngapain?”

“Najis pake nanya.”

“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent— OH!” ada senyum yang terpampang di bibir Panglima sebelum dia melanjutkan kata-katanya.

“—Lo cemburu, Pipi bolong?”

Merasa tertangkap basah, mata Kapten bergerak gelisah. Mencari objek lain agar matanya bertatapan dengan manik coklat milik Panglima.

“Idih pede gila lo.”

Panglima terkekeh manis, dengan sengaja mengikis jarak mereka, “Ngaku aja.”

“Ngaku paan? ga usah halu deh lo bangsat, minggir ga gue colok ya mata lo babi.”

Bukannya takut, Panglima malah semakin menantang. Sebelah tangannya memeluk pinggang Kapten dan berdiri di sela-sela kakinya. Sedangkan tangannya yang lain merapikan rambut Kapten yang berantakan karena angin.

“Jangan...”

“Hm?”

“Jangan bilang cakep ke orang lain.” cicit Kapten.

Bola mata mereka bertemu, saling mengunci seolah dunia tepat dalam genggaman mereka. Tanpa peduli jika mereka akan jadi tontonan, karena meski di pinggir halaman, semua orang dapat melihat kegiatan mereka tanpa terkecuali.

Kapten lebih dulu memutus kontak mata mereka, “Ke gue aja. Jangan muji ke orang lain juga, gue ga suka.”

Dirinya menunduk sembari memainkan jari jemarinya. Tanda jika dia sedang gugup.

“Banyak orang bilang gue cakep, tapi kenapa lo bilang cakepnya ke orang lain?” masih dengan wajah cemberutnya, Kapten melirik sejenak Panglima dan kembali menunduk, “Emang gue kurang cakep ya?”

Entah kesambet apa kapten malam ini. Yang pasti dia persis seperti kucing yang ngambek karena tuannya main dengan kucing lain.

“Hei, you are the most beautiful person in this world, Pipi bolong. Lo orang paling cakep, paling cantik, paling ganteng, ga ada yang bisa nandingin lo.”

Panglima menyelipkan rambut Kapten ke belakang telinga lalu setelahnya menarik remaja itu untuk menatapnya.

“Terus kenapa lo muji orang lain?”

“Siapa?”

“Karina.”

“Karina? kapan?”

“Nanya mulu anjing, itu yang di snapgram lo babi.”

“Hah? yang mana? bentar, gue dari tadi ga liat hp gue dimana.”

“Di Karina kali.”

Panglima kembali terkekeh, menghadiahi kapten cubitan kecil di pipi tanda dia sangat gemas padanya, “Jutek banget.”

Pantas saja tiba-tiba singa ini berubah jadi kucing, ada yang tidak beres ternyata. Pandangan Panglima mengedar sejenak, lalu terjatuh pada Lino yang berdiri di samping Jisung tersenyum tanpa dosa sembari mengacungkan Hp miliknya.

Sialan orang itu.

“Jangan ditunggu, suara gue lebih bagus.”

“Iya Pipi, semua yang ada di lo lebih bagus dari yang lain.”

“Gue serius anjing.”

“Gue juga serius.”

Tangan Panglima hinggap untuk mengusap pucuk kepala Kapten dengan lembut.

“Mau gue buktiin?”

“Ga takut diliat sama temen-temen lo?”

Kapten tersenyum tipis, dari awal dia melangkah turun dari balkon ke titik dimana mereka sekarang, tekatnya sudah bulat.

Jika akan rusak, maka rusaklah.

Porak-porandakan hingga habis, toh kata Nanon kita hanya hidup sekali.

“Kepalang basah, kenapa ga nyebur aja sekalian.”


Panggung kecil yang sudah disiapkan staf resort sebelumnya kini sudah di isi dengan Kapten yang telah duduk di kursi vokalis lengkap dengan piano keyboard yang akan dia mainkan. Bersamaan dengan langkahnya yang dia bawa ke sana, semua pergerakan teman-temannya seketika berhenti dan berfokus padanya.

Pun dengan Panglima. Remaja itu berdiri di tengah, namun tidak mencolok. Dia berbaur dengan yang lain, tapi tetap berhadapan langsung dengan Kapten. Memperhatikan getaran kecil di tangan pujaan hatinya kala sedang mengatur mic agar terlihat nyaman.

Dasar keras kepala, sudah tau tidak suka jadi pusat perhatian.

“Gue cuma mau nyanyi, lo pada kalo ada kegiatan lain boleh lanjutin, tapi kalo mau liat juga gapapa.”

Urakan sekali.

Dia menarik napas, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Lantas secara terang-terangan Panglima tersenyum manis, menyalurkan dukungannya yang langsung ditangkap Kapten. Terbukti dengan dia yang ikut tersenyum tipis.

“Gue tau selama ini hubungan antara kita Orion ke Warior ga pernah bagus, ditambah lagi dengan status anak IPA sama IPS kita. Jujur gue ga beharap kita bisa damai.”

“Gue tau, gue jelek banget kalo ngomong ginian, tapi seenggaknya dari tempat ini, hubungan kita bisa sedikit tenang ke depannya.”

Kata per-katanya di susun apik menjelaskan jarak mereka, tidak hanya penuh arogan, tapi juga harapan.

Matanya mengedar, menatap satu persatu anak-anak yang lain dengan santai. Bahkan senyum tipis dia selipkan di sana. Meski begitu, wajah tegasnya masih terpampang, menjaga martabat dan harga dirinya sebagai seorang Kapten.

“Kalo mau jujur, bukan hal yang gampang buat nyatuin 2 kubu di satu tempat dengan satu tujuan gini. Ada banyak pertimbangan karena bisa aja tiba-tiba kita tawuran.”

Dia terkekeh kecil yang disambut sorakan setuju dari yang lain.

“Tapi Anyon bilang sama gue, kita hidup cuma sekali, keburu mati kalo selalu nahan diri.

Lalu tatapannya berhenti pada Panglima. Sudut bibirnya semakin dia tarik hingga kedua bolongan di pipinya tercetak jelas.

“Dan di malam ini, gue ga mau nahan diri gue.”

“Kita musuh, tapi bukan bearti kita ga bisa jadi satu.”

Tuts piano itu mulai Kapten tekan. Alunan melodi manis semakin membuat banyak pasang mata terkunci padanya.

“Gue, yang kalian liat sekarang ini, bukan Kapten orion, bukan juga anak IPA, atau penguasa sekolah.” dia menjeda kalimatnya sejenak.

“Gue Yang Jeongin, remaja biasa yang satu seragam sama kalian.”

Kapten...

“Yang juga lagi berusaha ngungkapin perasaannya tapi bingung ngomongnya gimana.”

Suasana seketika hening kala Kapten memejamkan matanya. Dirinya seolah terhanyut dalam melodi yang dia ciptakan.

“We're whispering in circles again We're using different words, same meanings You ask me if this love is worth the end.”

Lantas terkunci pada satu sosok yang membuatnya tidak dapat mengalihkan pandangan.

“You know that I've been broken before I know that you could break me more My instinct is to run before my heart is torn.”

Benar, Kapten sudah kalah. Kalah sekalah-kalahnya.

“Try to hold my defences and hide behind my walls But when I hold onto you, I can't help but let them fall.”

Bayangan yang lain seolah memudar hingga hanya menyisakan sosok itu saja. Sosok yang selalu membuat jantungnya berdegup selayaknya manusia normal. Tidak menuntutnya jadi siapa pun, melainkan membantunya menjadi dirinya sendiri.

“So, I'll let you hold onto my heart.”

Panglima, gue kalah...

“No, I won't run away even if you tear me apart.”

Kapten telah menyerah. Meskipun nantinya cinta Panglima semu, Kapten tidak peduli.

Hancur saja, bawa dia tenggelam. Lantas biarkan sisanya semesta yang mengatur. Kemana ceritanya akan habis, mati di tangan sendiri atau sama-sama menjadi debu.

“You know I will always stay 'Cause it's better to try and love too hard Than to always be stuck at the start So, I'll let you hold onto my heart 'Cause loving you's worth all the scars.”

Now, I think I am gonna love you for a long time, Panglima.

Lagu itu belum selesai, Kapten bahkan masih larut dari setiap kalimat yang berusaha dia ungkapkan dari setiap bait. Tapi Panglima sudah melangkah mundur dengan senyuman yang memudar.

Dia pergi.

Meninggalkan Kapten dengan kebingungan.


“Gue mau ngomong sama lo.”

Kalimat dingin yang diucapkan Kapten setelah tiba-tiba datang dan berdiri tepat di hadapan Panglima dan Karina, sukses membuat banyak pasang mata menarik kembali napas mereka. Kapten dan eksistensi arogannya terlalu mencolok di tengah suasana yang sebelumnya hangat penuh canda dan tawa.

“Lo dari mana aja, Pipi bolong?”

“Lo budeg ya? ga denger tadi gue ngomong apa?”

Memang, setiap kali dua remaja itu bertemu, selalu tidak ada indikasi untuk sama-sama berbicara dengan tenang.

Untungnya Panglima terlampau tau. Kapten bukan sengaja mencari ribut, remaja dengan lesung pipi manis itu hanya tidak tau bagaimana mengekspresikan apa yang dia mau secara terus terang tanpa perlu menarik urat hingga hampir putus lebih dulu.

“Mau ngomong apa, hm?” tanya Panglima lembut tanpa peduli dirinya menjadi tontonan yang lain.

Bukannya mengutarakan rangkaian kalimat yang sudah dirinya susun, Kapten malah membeku di tempat. Matanya memandang sinis Karina lalu berbalik menatap Panglima tidak kalah sama.

Jujur saja, Kapten dengan wajah sinisnya itu sungguh menggemaskan. Bibir bawahnya mengkerut dicampur pipi gembulnya yang mengembang bak roti panas selalu sukses membuat hati Panglima tergelitik gemas. Dia hampir saja hilang kewarasan dengan niat menguyel-uyel pipi musuhnya itu jika Karina tidak membuka suara.

“Ehm, kayaknya kalian butuh space berdua, gue ke sana dulu ya bantuin Lily.”

“Loh katanya pengen nyanyi, Kar?”

Balasan Panglima sontak membuat Kapten melotot kaget. Sudah sampai mana perbincangan mereka?

Sial, jelas-jelas dia yang cemburu saat Kapten dekat dengan Jasmine. Tapi, buktinya sekarang...?

“Nanti aja, simpen buat tanggal satu.”

Kekehan renyah Panglima semakin mengguncangkan emosi Kapten.

“Yaudah, gue tunggu ya.”

Najis, apa-apaan?!

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Panglima saat Karina sudah meninggalkan mereka.

Kapten merotasikan bola matanya, “Ga jadi, keburu males.”

Dan jawaban ketus Kapten berhasil membuat Panglima terkekeh. Ditambah lagi tangannya yang menyilang di dada dan matanya menyipit ke arahnya. Astaga, semua hal tentang Kapten selalu terlihat lucu di mata Panglima.

“Anjing lu!”

“Marah-marah mulu, sini duduk. Dari tadi gue cariin.”

“Ga mau bekasan.”

Tidak, Kapten tidak bermaksud menyinggung, hanya saja terkadang lidahnya terbiasa berucap tanpa dipikir lebih dulu

Lantas, hal paling sederhana yang biasa Panglima lakukan adalah membiarkan Kapten tenggelam dalam emosinya. Alih-alih ikut terpancing, remaja berstatus anak IPS itu akan setenang air. Dia akan memperhitungkan langkahnya agar api dalam diri Kapten dapat segera padam.

Sudah dikatakan, Panglima punya banyak cara untuk mengalahkan Kapten.

Bahkan saat Kapten melipir ke pinggir halaman yang sepi dan duduk di pagar pembatas, tanpa banyak omong Panglima segera mengekorinya dan menahan punggungnya agar tidak limbung ke belakang.

“Kenapa, hm? ngilang ga tau kemana tau-tau dateng mukanya kecut banget gini.”

Gilanya lagi, Kapten baru sadar dengan pertanyaan konyol begitu saja, jantungnya bisa berdetak tidak karuan.

“Pipi bolong.”

Satu jawilan di pipi belum mampu menggubris Kapten.

“Lo imut banget kalo lagi ngambek kayak gini.”

“Ah anjing! berisik lo anak setan.”

Yep, berhasil. Memang harus dibikin salting dulu agar si pemilik lesung pipi itu dapat luluh. Ya, walaupun isi mulutnya akan sangat kotor seperti yang sudah-sudah.

“Tai males banget gue sama lo anjing.”

“Lah, emang gue ngapain?”

“Najis pake nanya.”

“Duh ilah, gue serius kagak tau sumpah, tadi gue nyariin lo tapi ga ketemu terus diajakin Karina ngobrol bent— OH!” ada senyum yang terpampang di bibir Panglima sebelum dia melanjutkan kata-katanya.

“—Lo cemburu, Pipi bolong?”

Merasa tertangkap basah, mata Kapten bergerak gelisah. Mencari objek lain agar matanya bertatapan dengan manik coklat milik Panglima.

“Idih pede gila lo.”

Panglima terkekeh manis, dengan sengaja mengikis jarak mereka, “Ngaku aja.”

“Ngaku paan? ga usah halu deh lo bangsat, minggir ga gue colok ya mata lo babi.”

Bukannya takut, Panglima malah semakin menantang. Sebelah tangannya memeluk pinggang Kapten dan berdiri di sela-sela kakinya. Sedangkan tangannya yang lain merapikan rambut Kapten yang berantakan karena angin.

“Jangan...”

“Hm?”

“Jangan bilang cakep ke orang lain.” cicit Kapten.

Bola mata mereka bertemu, saling mengunci seolah dunia tepat dalam genggaman mereka. Tanpa peduli jika mereka akan jadi tontonan, karena meski di pinggir halaman, semua orang dapat melihat kegiatan mereka tanpa terkecuali.

Kapten lebih dulu memutus kontak mata mereka, “Ke gue aja. Jangan muji ke orang lain juga, gue ga suka.”

Dirinya menunduk sembari memainkan jari jemarinya. Tanda jika dia sedang gugup.

“Banyak orang bilang gue cakep, tapi kenapa lo bilang cakepnya ke orang lain?” masih dengan wajah cemberutnya, Kapten melirik sejenak Panglima dan kembali menunduk, “Emang gue kurang cakep ya?”

Entah kesambet apa kapten malam ini. Yang pasti dia persis seperti kucing yang ngambek karena tuannya main dengan kucing lain.

“Hei, you are the most beautiful person in this world, Pipi bolong. Lo orang paling cakep, paling cantik, paling ganteng, ga ada yang bisa nandingin lo.”

Panglima menyelipkan rambut Kapten ke belakang telinga lalu setelahnya menarik remaja itu untuk menatapnya.

“Terus kenapa lo muji orang lain?”

“Siapa?”

“Karina.”

“Karina? kapan?”

“Nanya mulu anjing, itu yang di snapgram lo babi.”

“Hah? yang mana? bentar, gue dari tadi ga liat hp gue dimana.”

“Di Karina kali.”

Panglima kembali terkekeh, menghadiahi kapten cubitan kecil di pipi tanda dia sangat gemas padanya, “Jutek banget.”

Pantas saja tiba-tiba singa ini berubah jadi kucing, ada yang tidak beres ternyata. Pandangan Panglima mengedar sejenak, lalu terjatuh pada Lino yang berdiri di samping Jisung tersenyum tanpa dosa sembari mengacungkan Hp miliknya.

Sialan orang itu.

“Jangan ditunggu, suara gue lebih bagus.”

“Iya Pipi, semua yang ada di lo lebih bagus dari yang lain.”

“Gue serius anjing.”

“Gue juga serius.”

Tangan Panglima hinggap untuk mengusap pucuk kepala Kapten dengan lembut.

“Mau gue buktiin?”

“Ga takut diliat sama temen-temen lo?”

Kapten tersenyum tipis, dari awal dia melangkah turun dari balkon ke titik dimana mereka sekarang, tekatnya sudah bulat.

Jika akan rusak, maka rusaklah.

Porak-porandakan hingga habis, toh kata Nanon kita hanya hidup sekali.

“Kepalang basah, kenapa ga nyebur aja sekalian.”


Panggung kecil yang sudah disiapkan staf resort sebelumnya kini sudah di isi dengan Kapten yang telah duduk di kursi vokalis lengkap dengan piano keyboard yang akan dia mainkan. Bersamaan dengan langkahnya yang dia bawa ke sana, semua pergerakan teman-temannya seketika berhenti dan berfokus padanya.

Pun dengan Panglima. Remaja itu berdiri di tengah, namun tidak mencolok. Dia berbaur dengan yang lain, tapi tetap berhadapan langsung dengan Kapten. Memperhatikan getaran kecil di tangan pujaan hatinya kala sedang mengatur mic agar terlihat nyaman.

Dasar keras kepala, sudah tau tidak suka jadi pusat perhatian.

“Gue cuma mau nyanyi, lo pada kalo ada kegiatan lain boleh lanjutin, tapi kalo mau liat juga gapapa.”

Urakan sekali.

Dia menarik napas, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Lantas secara terang-terangan Panglima tersenyum manis, menyalurkan dukungannya yang langsung ditangkap Kapten. Terbukti dengan dia yang ikut tersenyum tipis.

“Gue tau selama ini hubungan antara kita Orion ke Warior ga pernah bagus, ditambah lagi dengan status anak IPA sama IPS kita. Jujur gue ga beharap kita bisa damai.”

“Gue tau, gue jelek banget kalo ngomong ginian, tapi seenggaknya dari tempat ini, hubungan kita bisa sedikit tenang ke depannya.”

Kata per-katanya di susun apik menjelaskan jarak mereka, tidak hanya penuh arogan, tapi juga harapan.

Matanya mengedar, menatap satu persatu anak-anak yang lain dengan santai. Bahkan senyum tipis dia selipkan di sana. Meski begitu, wajah tegasnya masih terpampang, menjaga martabat dan harga dirinya sebagai seorang Kapten.

“Kalo mau jujur, bukan hal yang gampang buat nyatuin 2 kubu di satu tempat dengan satu tujuan gini. Ada banyak pertimbangan karena bisa aja tiba-tiba kita tawuran.”

Dia terkekeh kecil yang disambut sorakan setuju dari yang lain.

“Tapi Anyon bilang sama gue, kita hidup cuma sekali, keburu mati kalo selalu nahan diri.

Lalu tatapannya berhenti pada Panglima. Sudut bibirnya semakin dia tarik hingga kedua bolongan di pipinya tercetak jelas.

“Dan di malam ini, gue ga mau nahan diri gue.”

“Kita musuh, tapi bukan bearti kita ga bisa jadi satu.”

Tuts piano itu mulai Kapten tekan. Alunan melodi manis semakin membuat banyak pasang mata terkunci padanya.

“Gue, yang kalian liat sekarang ini, bukan Kapten orion, bukan juga anak IPA, atau penguasa sekolah.” dia menjeda kalimatnya sejenak.

“Gue Yang Jeongin, remaja biasa yang satu seragam sama kalian.”

Kapten...

“Yang juga lagi berusaha ngungkapin perasaannya tapi bingung ngomongnya gimana.”

Suasana seketika hening kala Kapten memejamkan matanya. Dirinya seolah terhanyut dalam melodi yang dia ciptakan.

“We're whispering in circles again We're using different words, same meanings You ask me if this love is worth the end.”

Lantas terkunci pada satu sosok yang membuatnya tidak dapat mengalihkan pandangan.

“You know that I've been broken before I know that you could break me more My instinct is to run before my heart is torn.”

Benar, Kapten sudah kalah. Kalah sekalah-kalahnya.

“Try to hold my defences and hide behind my walls But when I hold onto you, I can't help but let them fall.”

Bayangan yang lain seolah memudar hingga hanya menyisakan sosok itu saja. Sosok yang selalu membuat jantungnya berdegup selayaknya manusia normal. Tidak menuntutnya jadi siapa pun, melainkan membantunya menjadi dirinya sendiri.

“So, I'll let you hold onto my heart.”

Panglima, gue kalah...

“No, I won't run away even if you tear me apart.”

Kapten telah menyerah. Meskipun nantinya cinta Panglima semu, Kapten tidak peduli.

Hancur saja, bawa dia tenggelam. Lantas biarkan sisanya semesta yang mengatur. Kemana ceritanya akan habis, mati di tangan sendiri atau sama-sama menjadi debu.

“You know I will always stay 'Cause it's better to try and love too hard Than to always be stuck at the start So, I'll let you hold onto my heart 'Cause loving you's worth all the scars.”

Now, I think I am gonna love you for a long time, Panglima.

Lagu itu belum selesai, Kapten bahkan masih larut dari setiap kalimat yang berusaha dia ungkapkan dari setiap bait. Tapi Panglima sudah melangkah mundur dengan senyuman yang memudar.

Dia pergi.

Meninggalkan Kapten dengan kebingungan.