Lengkara : I
“Sayang.”
Jeongin menggeliat kecil kala usapan dan kecupan kecil menghampiri keningnya dengan ringan.
“Kita udah sampe, sayang.”
“Hah? kok cepet banget?”
Perjalanan dari rumah ke kampus memang
“Sayang.”
Jeongin menggeliat kecil kala usapan dan kecupan kecil menghampiri keningnya dengan ringan.
“Kita udah sampe, sayang.”
“Hah? kok cepet banget?”
Perjalanan dari rumah ke kampus memang
Teruntuk angan yang pernah menjadi jeda, dan janji yang menyapa. Kali ini, sambutlah aku dalam perayaan tanpa lentera, tanpa cahaya, tanpa makna.
Langit begitu hening akhir-akhir ini—rembulan seakan dikhianati bumi sampai enggan menampakkan diri. Intensintas darinya memudar, digantikan gerimis yang semakin memukul jalanan sepi. Tapi di bawah lampu kota yang redupnya bukan main, Kapten tidak lagi merasa sempit atau pun tercekik.
Nikotin mengudara benar-benar menentang semesta. Rasa sesal memeluk bekas tamparan di pipi kanan. Alih-alih sakit, pribadi ini menjelma seperti bangunan yang terlahap habis. Benar, kutuk saja, toh jiwa ini sudah lama terombang-ambing.
Pulang atau tidak, siapa yang akan peduli?
Dirinya hampir saja mati membeku kalau dering ponsel tidak memotong hal-hal gila menyebrangi kepala. Pikiran tentang berbaring di tengah jalan mungkin lebih baik ketimbang di rumah yang berantakan menerobos masuk sampai terbenam bak mentari yang pamit usai. Hilang akal sudah, redam suaranya tanpa bernyawa—semesta sukses memenuhi kepalanya dengan makian papa.
Dia keluarkan rokoknya yang terakhir, tanda-tanda ingin beranjak masih belum hadir, masih nyaman untuk membiarkan bibirnya membiru kaku. Pandangannya kian mengabur, baru teringat perutnya belum terisi apa pun. Ah, memang begini dunia berjalan untuknya. Jika tidak kelaparan, maka mati rasa atas pukulan dan pengkhianatan.
Apa yang diharapkan?
“Gue cariin lo kemana, tau nya di sini. Gelandangan lo?”
Kepalanya terangkat untuk memandang prianya tanpa nyawa. Dia kira sosok itu salah satu dari imajinasi sampai tempat tanpa dinding ini terasa lebih fana—hingga jemarinya bergetar saat sadar, dia tidak benar-benar ingin menghilang.
“Di sebanyaknya tempat, kenapa milih di sini sih? udah gelap, dingin, banyak nyamuk lagi. Emang lo ga digigitin nyamuk? pake baju pendek lagi ampun dah masuk angin nanti pipi lo makin ngembang gue mampusin bener dah liat aja.”
Dia tidak ingin dilupakan.
Pria itu mendekat, bukan untuk memaki—apalagi menginterogasi. Jaket hitam besar dengan lambang WARIOR itu dilepaskannya tanpa ragu, lalu menyelimutkannya pada si kecil dengan hati-hati, seakan takut salah, seakan jika ia terlalu cepat kehangatan itu bisa segera pecah.
Dia tidak ingin lenyap.
“Lo ga ngantuk? ini udah jam 3 pagi.” serak di ujung katanya lebih mirip dengan kekhawatiran yang kehabisan cara.
Dan gelengan itu menjadi jawaban penuh dengan kemunafikan.
“Gapapa.” kata itu sederhana. Begitu pendek, begitu keras, seperti kebohongan kecil yang terlalu sering dia ucapkan sampai terdengar nyata.
“Gue gapapa, Panglima.” katanya lagi, seakan semua itu tidak berarti. Seakan jika dia ucapkan berjuta-juta kali, luka dan berisiknya kepala akan mengecil sendiri.
Lantas pria itu tidak menyangkal. Tidak berusaha meluruskan kebohongan kekasihnya. Ia biarkan ego itu tetap bernyawa. Dan ia akan tinggal—menjadi diam yang aman, menjadi jeda untuk si pemilik pipi bolong itu duduk tanpa harus menjelaskan apa pun.
“Iya, gapapa.” ujarnya setuju.
Jemarinya mengusap rambut Kapten penuh sayang. Besar tangannya selalu melingkupi si kecil dengan kehangatan. “Gue di sini, Pipi bolong.” tubuh penuh luka itu ia peluk dengan cinta—bukan untuk menahan, melainkan untuk meyakinkan: dia tidak sendiri.
“Ga perlu buru-buru, lo bisa istirahat selama yang lo mau.”
Di tengah dingin yang menusuk ke tulang, hangat itu bertahan—cukup lama, cukup nyata.
Cukup untuk membuat Kapten berpikir, barangkali hidup sekali lagi tidak seseram yang ia bayangkan.
Hari ini, aku telah sampai. Tubuh yang patah tidak lagi berbaring di aspal basah, apalagi di rumah yang tempatnya merunjam jiwa. Aku telah bebas, meski kerikil itu membuatku berdarah-darah, aku merasa puas sebab bisingnya jalanan menjadi satu-satunya tempat aku merasa tenang.
Gas yang dipacu cepat, napas yang tersenggal, hingga angin malam berbisik lepaskan, mari kita pulang.
Pulang tanpa rumah; bukankah itu bencana?
Jika ingin tarik mundur, aku tidak tau harus berhenti pada episode mana. Saat rumah terpecah belah? saat aku ditikam oleh sisa-sisa harapan yang bernyawa? saat aku kabur dari rumah? atau saat kejadian salah seragam?
Jujur aku tidak tau.
Aku bukan lah seperti yang mereka agung-agungkan. Penguasa sekolah bermotor ducatti merah. Selalu berada di peringkat pertama atau pewaris tunggal pengusaha ternama dan pemilik rumah sakit terbesar di kota.
Tidak.
Aku, adalah aku. Pembohong ulung. Pemberontak dan samsak hidup.
Iya, itu aku.
Masih terekam di ingatan ku bagaimana sosok mati rasa ini mulai memaki dan mengumpat tanpa habis. Lalu diam-diam mencuri pandang karena berakhir tertarik. Aroma nikotin yang selalu mengganggumu, namun menjadi candu untuk ku membuat kita seperti sisa-sisa api dalam tungku. Menyatu namun bengis.
atau, bengis namun hidup?
Panglima, kerusuhan yang kamu buat itu berhasil menyulut api-api yang sudah padam. Dari pandangan kosong menjadi memicing kesal saat tawamu tersaji dengan gamblang, rupanya, kamu sebaik-baiknya manusia bernyawa. dan secara diam-diam, kamu tidak lagi menyebalkan.
“Kalo gue buat lo suka sama gue gimana, kapten?”
Maka jatuh lah aku, Panglima.
Kamu sepenuhnya sukses menghancurkan anak kecil penuh ketakutan ini. Lembab bajunya karena menangis dalam sepi. Terduduk di belakang pintu sembari mendengar umpatan mama papa di tengah malam. Anak itu harusnya tertidur lelap Panglima, di samping mama papanya, bukan? tapi tubuh kecilnya berusaha memperkecil diri sembari kedua orang tua itu bertengkar hebat hingga pagi.
Malam itu, anak kecil yang kebanyakan orang ucap sebagai malaikat tanpa dosa, di tampar kenyataan akan dia hadir bukan karena keinginan, melainkan keharusan. Tak ayal saat jerih payah yang dilakukan tak sesuai ekspektasi mereka, anak itu bergelut dengan kesalahan.
salah karena tidak tumbuh dengan baik, salah karena tertinggal karena sakit, salah karena memilih lahir.
Mereka mengutuk, menyalahkan tanpa mengarahkan, lantas masih salah kah jika anak itu kerap menyesali keberadaannya di kaki semesta, Panglima?
Papa kerap bertanya-tanya, kenapa aku terlalu pendiam? lantas, mati lah aku jika berucap semua karenanya. Maka, sekali lagi aku memilih bungkam, aku memilih untuk mati rasa dibandingkan bernyawa.
Aku berhenti berangan-angan. Berhenti berharap mama pulang. Berhenti untuk dicintai dengan semesti dan sebaik matahari pada bulan.
aku berhenti merasa sakit, aku berhenti merasa takut mati, aku berhenti untuk bergerak dan memilih dipukuli.
“Gapapa, nangis aja. Lo juga manusia, Kapten.”
Boleh kah?
Isi kepalaku berputar, remuk rasanya seperti ranting pohon di sepotong hari di bulan november yang panas. Laki-laki tidak boleh menangis. Mama kerap berucap seperti itu ketika papa mulai merusak dan menghacurkan. Tapi mama juga tidak tau, selamat pun aku tidak.
Aku tumbuh darinya yang serba ringan. Tangan direntangkan bukan untuk siap menerima belaian angin malam, melainkan penghakiman.
Panglima, maaf, aku seringkali lupa bagaimana menjadi manusia.
Banyak dusta yang aku simpan, laksana lautan pada terumbu karang. Namun, kamu tidak pernah mengusik, persis bagaikan pasir di ujung pantai. Alih-alih bertanya ada apa?, kamu akan menyanjungku sampai pagi buta. Berkali-kali kamu bilang; aku bukan lah kesalahan, tapi berkali-kali juga aku penuh keraguan.
Mungkin jika aku memiliki sedikit lebih banyak keberanian, ego ini aku turunkan sampai tenggelam. Tapi, kutuklah aku yang hidup pada tuntutan.
Aku pernah mendengar papa berucap penuh cinta pada mama. Aku juga mendengar papa hanya akan mati untuk mama.
Aku telah hidup saat itu, sebelum pengkhianatan mengoyak kepercayaan pada insan.
Maka di penghujung bumi yang semakin tua, aku mulai bergerak tanpa tau aturan. Meski nanti aku hilang arah sampai aku lalai dengan segalanya, setidaknya jangan tinggalkan aku sendirian.
Meski aku adalah bencana, padamkan aku sebelum tangan ini mulai merenggut jiwa.
Tapi, kita terlambat.
Aku sudah mejadi bencana.
Aku tidak lagi bungkam saat papa bilang akan bercerai dengan mama dan menikahi selingkuhannya. Aku tidak lagi diam saat papa mulai menuntutku untuk menjadi seperti apa yang dia mau. Aku mengumpat malam itu, bertengkar hebat seperti kerasukan badai, dirunjam tanpa ampun saat aku mulai mengutarakan perasaan.
“Kamu yakin Prince, papi bakal setuju kamu tinggal sama Hyunjin?”
Bagi Jeongin, pertanyaan kak Changbin barusan seperti peluru yang menghantam telak pada sasaran. Bersarang di kepala hingga menggerogoti akal sehat untuk cepat-cepat terlelap, namun juga tak ingin berakhir diselimuti darah dan aroma aspal basah. “Maksudnya, bukan bearti hubungan Prince ga bakal bisa ke 'tahap selanjutnya'. Tapi, Prince tau kan seberapa protective papi ke kamu?”
Sekarang Jeongin mana bisa berpikir lurus lagi. Dia tau pasti bagaimana watak papinya, tapi sebatas rasa kasih sayang pun Jeongin bisa mendapatkan itu dari Hyunjin. Lantas apa bedanya? Jeongin rasanya ingin menjerit histeris.
Perdebatan batin antara kemauannya dan logika Changbin yang lebih masuk akal membuat kepalanya nabrak jalan buntu. Hampir genap dua minggu Jeongin meyakinkan diri kalau hubungan dia dan Hyunjin bisa menjadi utuh, dan malam ini, kak Changbin malah memporak-porandakan isi kepalanya bak angin topan di tengah gurun.
“Emang apa alasannya buat papi nolak kak Hyunjin?” ini bukan pertanyaan retoris. Jeongin sepenuhnya butuh alasan yang lebih logis untuk membuat alasan baru jika pelukis yang berhubungan dengannya adalah yang paling tepat di antara pilihan-pilihan lain.
“Lagian sejauh 2 tahun hubungan aku sama kak Hyunjin, dia ga pernah coba bikin ingatan aku hilang.”
Ryujin yang sedari tadi menyimak sambil bikin segelas kopi susu, dibuat hampir menumpahkan minumannya sesaat baru jadi. “Emang siapa yang berani buat hal segila itu ke Prince kak Ryu?” nah, kalau ini baru pertanyaan retoris.
“Kenapa masih nanya? bukannya udah tau?” kali ini Jeongin bertanya kelewat santai. Lekuk jarinya yang lentik menari di atas kanvas, terlihat tenang namun begitu banyak yang terkelupas di dalam.
Jeongin sudah dalam perjalanan ke dua puluh tiga tahun, dia bukan sosok boneka sawah lagi. Jeongin sudah mengenal banyak hal, dia tau rumah sehangat ini telah menyimpan begitu banyak bau anyir dan nyawa yang berhamburan. Jeongin sudah merasa cukup atas peraturan yang tidak mendasar, dia tau letak posisinya. Goresan takdir itu diikat bukan sebatas julukan yang orang-orang kenal—namun tentunya untuk mencetak duplikat baru.
Tapi Jeongin juga ingin merasakan segala hal yang menyenangkan. Jeongin ingin melukis di bawah langit biru sembari mendengar ricuhnya orang-orang berlalu lalang. Jeongin ingin setir motornya melintasi ibu kota dan berhenti dimana pun dia mau. Jeongin ingin penuhi usia remajanya dengan perasaan bahagia selepas pulang dari pameran. Jeongin ingin semua itu, hidup selayaknya manusia yang terbang seperti burung.
Jeongin ingin bebas.
“Pada ngomongin apa sih?”
Mata Jeongin membulat. Kaget saat ada suara baru yang tidak asing di sekitar telinganya. “Kakaaak. Ngagetin ih.”
Mendengar Jeongin merengek dengan bibir manyun begitu, Hyunjin jadi tertawa. Jika boleh jujur, seharian suntuk ini wajahnya ditekuk. Ada begitu banyak hal yang memusingkan di studio, dimulai dari dia yang salah mencampurkan warna di lukisan, cat yang kadaluarsa sampai membuat lukisan dia sulit mengering, dan Jisung yang lagi-lagi ceroboh menumpahkan teh di topi pemberian pumpkin tahun lalu. Tapi dengan melihat wajah menggemaskan Jeongin yang manisnya seperti labu, semua perasaan lelah itu hilang seketika. Benar-benar lenyap tak bersisa.
“Hayo, ngomongin kakak ya?”
“Sok tauuu.”
Lagi-lagi Hyunjin tertawa kecil. Telunjuknya yang mengeriput karena udara dingin di luar, dibawa untuk menoel cat kuning ke pipi bulat pacarnya.
“Kakak ih! ga boleh iseng.”
“Hari ini adonan pipinya kebanyakan ragi ya? jadi makin ngembang gini.”
“Kakaaak.” tawa Hyunjin makin pecah ketika Jeongin melempar botol cat kosong ke arahnya yang beruntung dia segera menghindar. “Jangan iseng ih, lukisan jeje belum selesai.”
Kalimat itu sejujurnya hanya dalih agar Hyunjin tidak tau bahwa sekarang jantung Jeongin rasanya ingin melompat turun ke mati kaki. Rasa aneh yang sebenarnya sangat Jeongin sukai; seperti saat bibirnya dipaksa naik dengan bola mata curi-curi pandang ke pemilik hati.
“Woy, di bumi ga cuma ada lo doang kalo lo lupa.” sekarang Ryujin menyambar dengan Changbin mengangguk setuju. “Tumben amat jam segini baru dateng, mau nginep apa cuma mampir?”
“Ngineeep!”
“Eh, kok kamu yang jawab.” Hyunjin terkekeh kecil, “Mana ada pumpkin bisa ngomong.”
“Nginep aja ya?” Jeongin si labu manis yang keras kepala itu menggenggam tangan Hyunjin dan diguncangnya bermaksud merayu. “Ya ya ya?”
“Kalo nginep kakak mau tidur di mana labu manis? kan di kamar tamu masih ada kak Jaehyun.”
“Di kamar jeje bisa.”
“Ga bisa! itu ga bisa, Prince.” nampaknya jawaban itu sudah ada dalam otak kak Changbin jika dilihat dari secepat apa dia menimpali.
“Bisa! kasur jeje luas.” Jeongin mengangkat dagunya.
“Ini udah malem Prince.” Ryujin tidak mau kalah.
“Justru karena udah malem kak ryuuu. Kak Hyunjin juga pasti capek dari studio ke sini kan butuh sejam masa harus bawa motor sejam lagi buat pulang. Kapan istirahatnya?”
Omongan Jeongin ada benarnya, tapi gagasan menginap itu bukan ide yang bagus untuk mereka tetap bernyawa di esok hari. Kepala Changbin dan Ryujin bisa putus kalau Bos Besar tau—tapi...
“Cuma tidur, ga lebih.” Changbin menunjuk Hyunjin tepat di muka. “Sampe gue tau lo ngapa-ngapain Prince, lo tau konsekuensinya.”
...Changbin juga suka waktu Jeongin merengek seperti anak kecil lagi. Persis seperti empat belas tahun si kecil yang dia kenal. Polos dengan mata yang berbinar harap keinginannya dibawa bintang jatuh agar segera terwujud.
“Gue mau bikin kopi, lo di sini temenin Prince. Baju sama air mandi lo nanti gue suruh yang lain siapin. Sekali lagi awas ya sampe gue liat di cctv lo ngapa-ngapain Prince, abis lo.”
“Bin, lo yakin? kalo bos tau—”
“Kak Abin makasiiiihhh! tolong buatin jeje sama kak Hyunjin susu ya, sama cemilan juga. Jeje agak laper hehe...”
Ini kesenjangan yang sangat terasa. Ryujin yang ingin protes jadi tidak lagi minat. Sorot mata manis yang manja itu sungguh yang beberapa bulan ini penghuni rumah rindukan. Begitu banyak perubahan memang sudah biasa, namun jika Prince yang berubah, siapa pun belum sanggup untuk terbiasa.
Prince hanya sosok anak kecil yang ingin mereka lindungi,
sosok remaja yang berusaha mereka jauhi dari moncong pistol dan peluru,
sosok yang biar saja jadi anak kecil tanpa repot-repot untuk tumbuh.
Changbin segera menarik akal sehatnya setelah beberapa detik terdiam. Sejenak lirikan itu terjatuh pada Jeongin dan seluruh atensinya ada pada Hyunjin. Eksistensi pelukis itu selalu hadir dengan sosok Prince yang penuh riang dan bahagia seperti tahun-tahun lalu. Bukan remaja dengan kepala kecil yang penuh akan hal gila seperti harus menempatkan posisi sebagai anak mafia dan penerus papi.
“Labu manisnya kakak ngapain aja seharian ini? ga ngabisin waktu buat melukis aja kan pumpkin?”
Sebenarnya Changbin sudah tak lagi sangsi, tapi mana mungkin terang-terangan memberi lampu hijau pada Hyunjin. Bukan perihal takut mati, tapi karena gengsi. Lagi pula, satu-satunya alasan dia masih memijak pad bumi, hanya karena sumpah akan menjaga Jeongin hingga dia mati. Memastikan remaja itu bernyawa hingga akhirnya merambah untuk memberi kebahagiaan yang sempurna. Changbin tidak pernah dilema meski besok selongsong peluru berada tepat di keningnya selagi bahagia tercantum telak di hidup Jeongin.
“Jeje tadi siang ke caffe ikut kak ryu, beli waffle tapi rasanya kayak kaos kaki. Ga enak wlek—tapi matchalattenya enak, jeje suka. Terus pulang, mandi, makan malem, baru melukis sambil ngobrol sama kak Abin.”
Changbin jelas mendengar panggilan itu lagi sebelum ia melangkah keluar menyusul Ryujin yang lebih dulu. Benar nyatanya; Changbin tak lagi takut berakhir dengan oksigen yang dipaksa tercekat habis. Changbin sudah memikirkan ini ribuan kali dan dia semakin yakin kalau akhirnya harus terbuai di lautan seperti Chan dan Seungmin yang gagal akan sumpahnya pada Yunhyeong dua tahun yang lalu, dia pastikan keraguan tidak akan pernah hadir.
“Lagian, anak kecil kayak kamu mana boleh mam waffle, bolehnya mam roti regal dilembutin pake susu.”
“Ihhh jeje udah besar yaaaa bukan anak kecil lagiii. “
Suara tawa Hyunjin nyaring di paviliun pribadi si labu manis. “Kamu itu besar, tapi kecil. Dimasukin ke toples nastar juga muat.” wajah Hyunjin mendekat ke milik Jeongin untuk menggoda. Menyatukan kedua hidung mereka dengan gemas sampai wajah Jeongin memerah.
“Kok malah mejem? nunggu apa emangnya, hm?”
Penuturan Hyunjin dengan senyum jahilnya itu membuat Jeongin memutar bola matanya malas. Ia melayangkan aksi anarkis sampai Hyunjin mendesis saat kulit lengannya dicubit bukan main-main. “Males deh suka rese!”
Lagi-lagi tawa Hyunjin mengayun ke seluruh sisi ruangan. Tubuhnya bergerak untuk semakin dekat pada pacarnya yang sekarang malah duduk membelakanginya sambil memainkan kuas dengan acak.
“Pumpkin.”
Tidak ada sahutan.
“Pumpkin sayang, kok kakak dicuekin hm?” pipi tembam seperti labu itu ditoel-toel seperti adonan donat.
“Ah jangan ganggu. Jeje mau ngambek!”
Mendengar intonasi ketus dari Jeongin, Hyunjin semakin melebarkan senyumnya sembari mengusap pucuk kepala Pumpkin bertujuan menenangkan. Dan berhasil. Pipi tembam yang lebih muda dia tangkup hati-hati.
“Kakak!”
Satu kecupan Hyunjin hadiahkan di kening Jeongin, “Kenapa labu manis?” tanyanya manis.
Ini namanya curang. Sentuhan tangan Hyunjin tidak serta merta membuat jantung Jeongin berdegup kencang, tapi juga melemaskan seluruh ototnya. Dari kondisi ini, Jeongin hanya mengerti satu hal; bahwa dia ingin lebih. Jeongin belum merasa cukup, dia ingin bibirnya juga merasakan milik Hyunjin.
Lima detik pertanyaan Hyunjin digantung dan berakhir hilang dengan sontak kejut ketika bibir Jeongin singgah di atas miliknya. Hyunjin dibuat melayang, matanya yang terbuka melihat jelas bagaimana Jeongin berusaha memimpin permainan. Dikecup dengan pelan, disesap dengan lembut, lalu menyisakan gairah saat bibirnya digigit kecil. Manis; Jeongin itu pacarnya yang paling manis sedunia.
Tidak butuh banyak waktu untuk Hyunjin mengambil alih kemudi. Dia dengan mudah mengangkat tubuh Jeongin. Bergerak dalam langkah pasti membawa sentuhan mereka ke sofa; lantas si kecil didudukkan di atas pangkuannya.
Jeongin dibuat gila. Dia hanya ingin merasakan milik Hyunjin yang lembut, namun berakhir dicium dengan sangat dalam olehnya. Kecipak basah menemani lenguhan mereka. Jeongin semakin kehilangan diri begitu lidah Hyunjin membelit miliknya hingga air liur merembas ke luar sampai ke dagu. Ini yang Jeongin mau. Mesra dalam ciuman sampai habis dimakan waktu.
“Kak Hyunjin, ah...”
Hyunjin mengecup pipi Jeongin dengan penuh hati. Menarik si kecil yang sedang sibuk mengisi paru-paru yang kehilangan oksigen ke dadanya.
“Kamu masih laper ya, sampe makan bibir kakak segitu rakusnya Pumpkin?” ini pertanyaan konyol, namun lebih konyol lagi pipi Jeongin yang tersipu karena itu.
“Ya habisnya enak...”
Oh. Betapa indahnya makhluk Tuhan satu ini
“Enak sampe mau lagi.”
Perkataan Jeongin barusan membuat dada Hyunjin berdenyut tak karuan. Sejauh yang dia tau, Jeongin itu ekstensif dalam kepolosan dan seribu modus yang tidak pernah kehabisan. Maka di jeda waktu yang tercipta, Hyunjin berupaya agar tetap di batasan yang sama.
“Nakal banget, siapa yang ngajarin sih?”
Tawa renyah Jeongin menyangkut di memori Hyunjin. Begitu menyenangkan sampai kuas di atas kanvas saja tidak bisa dibandingkan. Parasnya sedemikian menawan; Hyunjin berjuta-juta kali dipikat penawan.
“Minggir dulu yuk, kakak mau ganti baju biar bau keringet kakak ga nempel di badan Pumpkin.”
Jeongin merengek. “Mau lagi.”
“Lagi apa?”
“Cium lagi...”
ibu jari Jeongin memainkan bibir Hyunjin agar niatnya terkabul.
“Kamu yakin Prince, papi bakal setuju kamu tinggal sama Hyunjin?”
Bagi Jeongin, pertanyaan kak Changbin barusan seperti peluru yang menghantam telak pada sasaran. Bersarang di kepala hingga menggerogoti akal sehat untuk cepat-cepat terlelap, namun juga tak ingin berakhir di tengah jalan diselimuti darah dan aroma aspal basah. “Maksudnya, bukan bearti hubungan Prince ga bakal bisa ke tahap selanjutnya. Tapi, Prince tau kan seberapa protectivenya papi ke kamu?”
Sekarang Jeongin mana bisa berpikir lurus lagi. Dia tau pasti bagaimana watak papinya, tapi sebatas rasa kasih sayang pun Jeongin bisa mendapatkannya lebih dari Hyunjin. Lantas apa bedanya? Jeongin rasanya ingin menjerit histeris. Perdebatan batin antara kemauannya dan logika Changbin yang lebih masuk akal membuat kepalanya mentok. Hampir genap dua minggu Jeongin meyakinkan diri kalau hubungan dia dan Hyunjin bisa menjadi utuh, dan malam ini, kak Changbin malah memporak-porandakan isi kepalanya bak angin topan.
“Emang apa alasannya buat papi nolak kak Hyunjin?” ini bukan pertanyaan restoris. Jeongin sepenuhnya butuh alasan yang lebih logis untuk membuat alasan baru kalau pelukis yang berhubungan dengannya adalah yang paling tepat. “Lagian sejauh 2 tahun hubungan aku sama kak Hyunjin, dia ga pernah coba bikin ingatan aku hilang.”
Ryujin yang sedari tadi menyimak sambil bikin segelas kopi susu, dibuat hampir menumpahkan minumannya sesaat baru jadi. “
“Lo sih batu kalo gue bilangin. Udah tau masih pagi malah makan sambel 2 sendok.”
Hyunjin ga akan bisa duduk manis sembari menyimak kuliah 2 sks dengan topik ngomelin sapu lidi kalau yang bilang begitu bukan Jeongin. Padahal kalau di kelas baru 15 menit dosen mengajar, dia pasti sudah sibuk scroll tiktok atau main shopee cocoki saking bosannya. Tapi sebatas ocehan Jeongin yang sudah 4x remaja itu ulang-ulang, dia tetap ingin mendengarnya lagi dan lagi. Karena pada intinya; mau apa pun yang dilakukan Donat, dia akan selalu menyukainya.
“Besok-besok lo abisin aja semangkok, biar mampus sekalian.”
Gilanya, Hyunjin malah senyum. Hot pack yang diberikan Jeongin untuk mengompres perutnya dia sampirkan ke atas nakas, lalu bergerak untuk mendusal Donat di sebelahnya.
“Dih, jauhan sana. Gue lagi main—SAPU!”
Suara Jeongin melengking saat dengan mudahnya Hyunjin menjadikan tubuhnya sebagai guling hidup.
“Awas ga! gue jambak ya palak lo sampe gue kalah.”
“Lo kalo lagi marah pipi lo malah makin lumer, nat.”
“Goblok.”
“Lo sih batu kalo gue bilangin. Udah tau masih pagi malah makan sambel 2 sendok.”
Hyunjin ga akan bisa duduk manis sembari menyimak kuliah 2 sks dengan topik ngomelin sapu lidi kalau yang bilang begitu bukan Jeongin. Padahal kalau di kelas, baru 15 menit dosen mengajar, dia pasti sudah sibuk scroll tiktok atau main shopee cocoki saking bosannya. Tapi sebatas ocehan Jeongin yang sudah 4x remaja itu ulang-ulang, dia tetap ingin mendengarnya lagi dan lagi. Karena pada intinya; mau apa pun yang dilakukan Donat, dia akan selalu menyukainya.
“Besok-besok lo abisin aja semangkok, biar mampus sekalian.”
Gilanya, Hyunjin malah senyum. Hot pack yang diberikan Jeongin untuk mengompres perutnya dia sampirkan ke atas nakas, lalu bergerak untuk mendusal Donat di sebelahnya.
“Dih, jauhan sana. Gue lagi main—SAPU!”
Suara Jeongin melengking saat dengan mudahnya Hyunjin menjadikan tubuhnya sebagai guling hidup.
“Awas ga! gue jambak ya palak lo sampe gue kalah.”
“Lo kalo lagi marah pipi lo malah makin lumer, nat.”
“Goblok.”
Jeongin berlari dengan pontang-panting. Ketakutan begitu tergambarkan dengan jelas di manik gelapnya. Kemeja putih yang dia kenakan sudah tersampir sangat asal-asalan, menampilkan beberapa bercak keunguan di leher dan dadanya kala angin malam berusaha menyelimuti tubuhnya.
Kota malam ini terasa sangat sepi. Tidak ada hingar bingar yang biasa menemani purnama hingga matahari kembali naik.
Atau, Jeongin saja yang tidak tau pastinya dimana dia saat ini?
Suara derap langkah kaki yang semakin jelas membuat tangis Jeongin semakin pecah. Sejatinya dia tidak pernah merasa setakut ini. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia paksakan kaki telanjangnya untuk semakin melarikan diri.
“T-tolong! tolong gue.”
Jeongin rasanya sudah frustasi. Kepalanya pening dan tenggorokannya pun sakit. Entah sudah berapa banyak dia berteriak kencang.
Dia tau, hidupnya penuh dengan hal yang lucu. Seolah semesta gemar mengusik hidupnya. Dimulai dari keluarga yang berantakan, punya ibu yang gila judi, ayah yang menjadi pengedar narkoba, dan hidup dalam bayang-bayang rentiner untuk selamanya. Jeongin pikir, cukup sampai di sana semesta mencoba membuatnya muak.
Namun sialnya, semesta seolah tidak ingin memberikan belas kasih.
“Tolong..!” pandangannya mengedar ke seluruh jalanan yang sepi. Berharap akan ada seseorang yang dapat membawanya pergi dari kejaran orang-orang yang menculiknya beberapa hari lalu.
Samar-samar indra pendengarannya menangkap deru mesin mobil yang mendekat. Buru-buru dia mengikuti sumber suara. Dan benar saja, ada satu mobil yang berjalan dari arah berlawanan.
Melihat itu, Jeongin merasa mendapatkan keajaiban yang lebih indah dari kado natal. Mahasiswa tingkat akhir itu dapat bernapas lega, kakinya yang mulai melemah seakan mendapatkan energi untuk semakin berlari.
Jeongin ingin pulang.
“Hei! Tolong!” tangannya dia angkat setinggi mungkin. Berusaha menarik atensi dari pengemudi.
Jeongin semakin berteriak histeris kala mobil itu seperti menangkap kehadirannya yang sangat butuh pertolongan. Dirinya tidak dapat menahan sudut bibirnya untuk melambung tinggi. Dia harus bisa melarikan diri.
Baru saja Jeongin dapat bernapas lega, dirinya kembali diserang panik kala matanya dengan jelas mengenali kendaraan tersebut. Sudut bibirnya sontak menurun dan degup jantungnya semakin berpacu saat maniknya menangkap sesosok pria yang membuat hidupnya kacau beberapa hari ini dari kaca mobil.
“Ga.. ga ARGH!”
Tangannya yang dicengkram kuat, membuat pergerakan Jeongin yang akan kabur kembali terhenti.
“Lepas! Gue bilang lepasin gue anjing!”
Jeongin berusaha keras melepaskan cengkraman erat tangan bodyguard pria itu pada pergelangan tangannya yang terluka akibat tali yang mengekangnya 2 hari. Seolah tuli, pria itu malah semakin mengencangkan genggamannya.
“Akh! Tolong! Lepas anjing sakit!”
“Mereka tidak akan menyakiti kamu kalau kamu bisa menjadi anak baik, Jeongin.”
Suara berat dari pria yang baru saja keluar dari mobil itu sukses membuat tubuh Jeongin meremang sebadan-badan. Kepalanya menggeleng keras bersamaan langkah kaki pria tersebut yang mendekat ke arahnya.
“LEPASIN GUE —ARGH!”
Helaian rambutnya dijambak kuat, memaksanya untuk menatap ke pelaku. Jeongin yang sudah muak dengan semua ini, sengaja meludahi pria itu yang langsung dihadiahi tamparan keras dari salah satu bodyguardnya.
Jeongin mengerang sakit, tubuhnya sudah tidak mampu memberikan perlawanan apapun. Air matanya seakan sudah mengering, bibirnya terasa kelu dan dia hanya ingin pulang untuk tidur di kasurnya yang sekeras batu itu.
“Anak nakal kayak kamu memang harus dihukum, Jeongin.” setelah mengatakan itu, cengkeramannya dari rambut Jeongin dilepaskan dengan kasar hingga dia sedikit terhuyung ke belakang.
“Bawa dia ke mobil.”
Mendengar perintah itu, manik madu Jeongin membola kaget. Tubuh lemahnya langsung diseret untuk dipaksa masuk ke dalam mobil.
“Ga! GA MAU HYUNJIN LEPASIN GUE!”
Hyunjin, pria itu, menatap Jeongin yang memohon dengan ketidak-berdayaannya. Sungguh, Hyunjin suka melihat seseorang memohon seperti ini.
“Lepasin kamu?” tangannya membelai wajah Jeongin yang penuh air mata. “Mana mungkin cantik. Kamu itu sudah dijual ibu kamu untuk melunasi hutang-hutangnya, kamu tau?”
Gelengan keras diberikan Jeongin. Raut wajah ketakutan bercampur rasa frustasi itu sungguh membuat hasrat di dalam tubuh Hyunjin bergejolak tidak karuan.
Ingin rasanya dia membuat mahasiswa itu semakin menangis. Memohon ampun padanya yang memegang penuh kendali atas tubuhnya mulai sekarang.
Sial, dia mulai menegang.
“Akh! ga! Hyunjin gue janji gue bakal lunasin hutang-hutang mama.. t-tolong lepasin gue!”
Hyunjin seperti menulikan telinganya. Dia menggeser tubuhnya agar bodyguardnya dapat membawa masuk barangnya.
“Hyunjin gue mohon argh! hiks.. lepas anjing!”
Tangis Jeongin semakin pecah, entah sejak kapan tubuhnya menjadi selemah ini. Kepalanya begitu pening dengan deru napas yang memburu kencang. Dadanya terasa sesak seolah oksigen mulai menjauh darinya.
Dan secara tiba-tiba gelap menguasai penglihatan Jeongin bersamaan rasa sakit dari jarum suntik tepat di lehernya.
“Selamat datang di kehidupan baru kamu, Jeongin.”
Tujuannya belum sampai, tapi laju motornya sengaja dihentikan ketika sosok remaja yang dia kenali jongkok di pinggir jalanan yang sepi sembari mengisap rokoknya dengan santai.
“Kapten.”
“Bentar, gue abisin rokok dulu.”
Mendengar itu, Asahi mematikan mesin motornya. Dia menelisik ke arah orang yang sangat penting dalam hidup Panglima dengan teliti.
“Siapa yang gebukin lo?”
Kapten tersenyum tipis, menghembuskan kepulan asap ke udara menantang angin. “Ga ada, gue jatoh dari motor tadi. Anjing dah, pecah body motor gue.”
Asahi sedikit tidak habis pikir. Bisa-bisanya yang dikhawatirkan pria itu malah motornya ketimbang luka panjang di lengannya. Bahkan kaki kanan Kapten sudah biru dan sedikit bengkak.
“Gue ga bisa pastiin di dalem rame apa kagak, jadi lo tunggu di luar aja biar gue yang ke dalem.”
Kembali Kapten tersenyum setelah melihat Asahi mengangguk setuju. Tidak salah keputusannya mengajak jelmaan klepon itu.
“Rencana lo apa?”
“Ga ada.” Kapten menjawab santai, “Lo bawa temen gue pulang, selebihnya biar gue yang urus.”
Semua orang memang tidak mengenal Jeongin dengan baik. Tapi sungguh, semua orang sangat kenal dengan sosok Kapten. Kala raut wajahnya seketika berubah sangat tajam dan dingin, maka bisa dipastikan malam akan berlalu panjang. “Yok, jalan.”
“Udah lama gue ga ngabisin orang.”
Rules pertama: jangan pernah mengusik orang-orang terdekat Kapten kalau tidak mau berhadapan dengan iblis nyata.
Langkah ringan Kapten dia bawa ke dalam gedung yang sudah terbengkalai. Aroma lembab dan debu yang menyengat sungguh mengganggu indra penciumannya yang tidak suka bau. Ditambah lagi dengan pria itu.
Pria yang dengan gilanya mengusik malam dimana seharusnya sekarang dia sedang makan malam dengan Panglima.
“Hi sunshine.”
“Mana temen gue?”
“Santai, buru-buru amat.” Heeseung terkekeh kecil. Entah memang lucu atau niat hati memancing emosi Kapten. “Sini duduk.” dia menepuk paha kanannya mempersilahkan Kapten duduk di sana tanpa tau malu.
“Gue ga suka ngulang omongan.”
“Gue ga suka lo pacaran sama Hyunjin.”
Sial. Heeseung benar-benar tidak mengerti jika kewarasan Kapten sekarang sudah hilang.
Dan tawa Heeseung lepas begitu Kapten menyergap dirinya sembari mencengkram kerah bajunya erat.
Gila. Keduanya sama-sama gila.
“Lo punya gue Jeongin.”
BUGH!
Tanpa babibu satu pukulan keras menghantam rahang bawah Heeseung sampai remaja itu terhuyung ke belakang. Belum sempat rasa kaget dan sakit itu sampai ke otak, lagi-lagi Kapten melayangkan pukulannya ke pelipis Heeseung hingga dia terjatuh dari kursi.
Tidak sampai situ saja, dengan brutalnya Kapten menendangi perut pria yang saat ini berstatus kakak angkatnya.
3... 4... 5... pukulan dan tendangan terus menghujani Heeseung tanpa ampun. Pria itu bisa saja menghindar, tapi dirinya memilih untuk diam di tempat. Meringis pun tidak, dia hanya tertawa. Entah menertawakan apa, hidupnya yang bercanda atau hidup Kapten yang tak kalah sama.
“Bales anjing!”
Heeseung masih terkekeh, dirinya berusaha untuk duduk lantas tersenyum ke arah Jeongin.
Tidak, bukan senyuman mengejek atau meremehkan. Itu senyuman —keputus asaan dan hampa yang dalam.
“Gue sayang lo, Je.”
“Tai, omong kosong!”
Sayang apanya? Jeongin bahkan tau rasa sayang dan disayangi hanya ketika dia bersama Panglima dan teman-temannya. Lantas bisa-bisanya dia dengan lancang mengatakan jika dia sayang kepadanya, sial, lelucon yang bagus.
“Ga usah ngelucu, mana temen gue anjing. Urusan lo sama gue, jangan bawa-bawa temen gue.”
“Mati.”
“Anjing!” Kapten semakin naik pitam. Kursi yang tadi diduduki Heeseung hampir dia layangkan kalau tidak dicegah oleh Asahi yang tiba-tiba masuk.
“Jangan Kap.” Asahi mencoba melepaskan cengkraman Kapten. “Jangan ngelakuin sesuatu yang bikin lo nyesel nantinya.”
Sungguh, emosi remaja itu sangat tidak karuan. Deru nafasnya memburu sampai wajahnya memerah dengan mata tajam bak serigala buas. Seolah seluruh emosi yang dia pendam telah sampai di ubun-ubun dan hanya menunggu untuk meledak.
“Gue tanya sekali lagi, mana temen gue?!”
“Lo janji buat cinta seumur hidup ke gue, tapi apa? mana janji lo, anak pembunuh orang tua gue?!”
“Anjing!”
“Kapten!”
Asahi tidak lagi mampu menghalau Kapten untuk menyerang Heeseung lagi. Bedanya, kali ini pria itu membalas. Dia menghalau lebih dulu tangan Kapten dan mendorongnya hingga punggung Kapten menghantam lantai keras.
“Lo ga inget lo dulu say—”
“Bacot kontol!”
Kapten berhasil menendang Heeseung sampai pria itu oleng. Tidak menyia-nyiakan waktu, buru-buru Kapten meloloskan diri.
“Kasih tau gue di mana temen gue dan bakal gue turutin permintaan lo sekarang.”
“Markas Elang.”
“Pon alamatnya gue kirim.”
“Lo yakin mau ditinggal?”
“Aman, lo bawa Junkyu aja.”
Jika boleh jujur, Asahi tidak ingin meninggalkan kekasih Panglimanya itu. Tapi ketika mata mereka bertemu dan Kapten menyiratkan keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja, dengan otomatis langkah kakinya melangkah keluar.
“Sejam lo ga ada kabar, bakal gue susul ke sini bareng Panglima.”
Itu kalimat terakhir Asahi sebelum bayangannya hilang memecah malam.
“Putusin Panglima.”
Kapten terkekeh, melirik remeh Heeseung, “Siapa lo yang bisa nyuruh gue putus sama cowok gue?”
“Apa? lo pikir gue mau nurutin semua omongan lo?”
“Bangsat?!”
“Lo licik, gue bisa lebih licik.”
Seakan ada batu yang menghantam tepat di kepalanya, Heeseung menjadi sangat marah dibohongi Kapten. Tanpa pikir panjang, tangannya mencekik Kapten sampai yang lebih mudah sulit mendapatkan oksigen.
“Lo punya gue, Jeongin!”
“Or..ang g..gila!”
“Udah gue bilang, lo yang bikin gue gila! lo keluarga lo, kalian yang bikin gue gila anjing.”
Kapten berusaha keras untuk lepas dari jeratan Heeseung. Tapi apa daya, tenaga pria itu lebih kuat darinya. Ditambah lagi dirinya yang jatuh dari motor setelah diburu anak Elang tadi.
Sampai akhirnya kesadaran Kapten mulai menipis, baru Heeseung melepaskan cengkramannya. Kapten terbatuk keras, tenggorokannya sakit dan perih sekali. Bisa dipastikan kuku-kuku Heeseung menancap di kulit lehernya.
“Lo, orang tua lo, kalian semua yang maksa gue jadi gini! Bokap lo udah ngambil orang tua gue dan sekarang lo mau pergi juga—”
“Lo yang maksa gue buat pergi anjing!”
Meledak sudah. Kewarasan Kapten lenyap dan gemuruh amarah mengambil alih.
“Bukan cuma lo yang kehilangan anjing! kakek gue juga mati di kecelakaan itu, bangsat!”
“Terus lo bilang apa? gue yang pergi? lo pikir siapa yang tiba-tiba dateng jadi kakak angkat gue bangsat? LO HEESEUNG LO!”
“Lo yang ngubur semua perasaan gue di hari pertama lo masuk ke rumah.”
Pecah. Kapten benar-benar pecah. Semua perasaan yang dia sembunyikan akhirnya terungkap. Betapa kecewanya dirinya kala itu. Di tengah suasana berkabung kehilangan sosok yang berperan seperti orang tuanya, lalu ditambah kenyataan orang yang dia cintai datang sebagai kakak angkatnya.
Kapten hancur luar-dalam.
Jelas, dia juga tau, Heeseung sama hancurnya. Mereka sama-sama hancur, berantakan, pecah, dan rusak.
“Cerita kita udah selesai kak.” suaranya melunak, bergetar karna amarahnya mulai bercampur dengan emosi lainnya.
“Kasih gue kesempatan, Je. Gue ngelakuin ini karna pengen ngelindungin lo.”
Sudut bibir Kapten meninggi, dia menatap Heeseung penuh kekecewaan, “Ngelindungin? disaat lo jadi alasan paling kuat bokap nyokap sering gebukin gue?”
Dan tanpa bisa dia cegah, air mata Heeseung mengalir begitu saja.
“Kak Hee.”
Mata mereka bertemu, mata hitam Jeongin yang seperti kismis itu menggelap sempurna seperti langit malam tanpa hamparan bintang. Manik yang dulunya selalu memandang dirinya dengan tatapan memuja yang lucu itu telah hilang.
Benarkah? benarkah, kita tidak bisa seperti dulu?
“Kita lanjutin hidup kita masing-masing, gue sama jalan gue dan lo dengan jalan lo.”
“Je.” Heeseung mencoba meraih Jeongin, namun yang lebih mudah segera menghindar.
“Kita udah selesai kak, hubungan kita ga lebih dari kakak adek angkat.” Jeongin menegaskan lagi, “Dan lo yang milih itu.”
Sebab, mereka telah sama-sama berantakan. Mau seberapa keras diperbaiki, mereka tidak akan bisa menjadi utuh lagi.
Jeongin terlampau mati. Jiwa dan raganya telah mati di usia 15 tahun. Kala dirinya kehilangan kakeknya dan kehilangan cinta pertamanya dalam satu waktu.
Heeseung yang memilih hubungan mereka yang belum sempat dimulai. Heeseung yang memulai dan tidak ada alasan jika dia mau meminta semuanya seperti semula ketika dengan pontang-panting Jeongin berusaha menyembuhkan luka batin dan fisik yang dia berikan seorang diri.
Jeongin sudah terlampau benci dan muak. Jadi biarkan mereka saling mengobati sakitnya masing-masing tanpa mengubah status musuh yang sudah terjalin.
Memang, mereka pernah seperti mata angin. Saling utuh dan butuh, namun tidak akan pernah menjadi satu.
Kalo gue boleh minta sama Tuhan; gue berharap kita ga pernah ketemu di kehidupan ini, kak Hee.