Lengkara : V
Hilang dan patah, luka hingga berdarah. Dapat dia rasakan ujung sepatunya mulai lembab dan hampir mati rasa. Peluh di wajahnya membuat semua orang menjadi bertanya-tanya: hujan di bagian bumi mana yang membuatnya basah?
Hilang dan patah, luka hingga berdarah. Dapat dia rasakan ujung sepatunya mulai lembab dan hampir mati rasa. Peluh di wajahnya membuat semua orang menjadi bertanya-tanya: hujan di bagian bumi mana yang membuatnya basah?
Ekspektasi sedang menari di ujung sepatu ketika dia menapaki lobby. Bibir merah itu dihiasi senyuman, lupa atas segala resah dan kecewa; lantas harap pada bahagia yang disemogakan merekah.
Tubuh kecil itu terasa ringan, bagaikan kupu-kupu yang baru saja menapaki dunia setelah bersembunyi begitu lama dalam kepompong. Perlahan dia bisa merasakan senyuman lebar yang akan dia terima, pelukan hangat yang sangat cukup menenggelamkan tubuhnya, serta aroma citrus yang akan membayar kerinduan.
Ah, memikirkannya saja Jeongin sudah tidak sabar.
Tiga minggu sudah cukup untuk menepi dan ini saatnya untuk mereka kembali.
Perihal kesalahan itu sudah dia kubur jauh. Toh, juga dia sering berbuat salah dan Hyunjin selalu memaafkan, lalu kenapa dia tidak? Pikiran itu dia tarik kebelakang hingga sampai pada saat dia dicintai dan diagungkan sedalam samudra lepas.
Benar, mereka saling mencintai, bukan?
“Kak Jeongin! udah lama ga ke kantor, mau ketemu bapak?”
Itu sebuah pertanyaan basa-basi yang dia suka. Eksistensi bahwa dia mempunyai tempat di bangunan tinggi dengan puluhan karyawan ini selalu dibayar kontan dan kepuasan.
“Hai, iya nih, tunangan aku ada?” senyumnya semakin melebar, paperbag di sebelah tangannya bergoyang mengikuti kebahagiaan sang tuan.
“Ada kak, tapi kayaknya lagi keluar.”
“Loh, kemana? tadi aku udah chat sekretarisnya.”
“Kalo ga salah ke caffe depan kak, beli kopi sama sekretaris baru bapak.”
Dahinya mengernyit bingung. Segelintir orang tidak akan mengerti atas kegelisahan yang mulai menghigapi kepalanya. Baru saja kepingan imajinasi akan sambutan hangat memenuhi kepalanya yang kecil, sekarang malah hancur berantakan.
Apalagi setelah kicauan, “Itu bapak, kak.” dan pandangan matanya menangkap sosok kekasih tengah bercengkrama hangat dengan seorang wanita di sebelahnya.
Haruskah dia mundur dan pulang saja?
Tidak.
Haruskah bertanya dari mana dan berakhir dengan adu mulut seperti yang sudah-sudah?
Tidak juga.
Ah, kepalanya menjadi berisik kembali.
“Sayang?”
Bagaikan petasan di malam tahun baru, panggilan itu yang dia tunggu-tunggu. Gemerlap yang terang, degup jantung yang tidak karuan; Jeongin dibuat melayang dalam kebingungan.
Ini cinta atau kepalsuan yang dia paksakan?
“Kak, saya permisi duluan.” Gyuvin, remaja tanggung itu memilih pamit setelah Hyunjin mempercepat langkahnya, enggan untuk ikut campur atau ingin memberi mereka banyak ruang temu.
“Kamu ngapain?”
Dan sepenggal kalimat itu menghadirkan sepotong kecewa yang hadir bersama senyuman pahit Jeongin.
“Mau ketemu kakak.”
“Tumben.”
Jeongin terkekeh kecil, bingung untuk bereaksi seperti apa lagi. Satu-persatu pertanyaan mulai hadir di kepalanya, bagaikan kardus-kardus berkas yang bergumpalan. Sesak ruang di buatnya, habis terbakar jika api dilempar ke dalam sana.
“Oh ya, kamu belum ketemu Kelly kan? ini Kelly, sekretaris baru aku.”
Tepat di sebelah Hyunjin, gadis itu tersenyum lebar hingga membentuk bulatan pipi yang manis. Jeongin menyambut uluran tangannya dengan mata masih mengekori perawakan sekretaris tunangannya itu. Benar kata Bang Changbin, sosoknya cantik. Pikirannya mulai berbisik untuk kembali fokus pada tujuan awal kenapa sekarang dia berdiri di sini, tapi dia tidak ingin melewatkan sejengkal darinya, meski selanjutnya menjadi sumber penyesalan.
“Dia tadi kedinginan, jadi aku pinjemin jas aku.” Hyunjin membela seakan dia tau segalanya.
Tapi, Jeongin tidak ingin tau. Dia sudah menghabiskan banyak malam untuk mengenal tunangannya, yang tidak suka jika miliknya dipakai orang lain kecuali dia, oh atau sekarang keadaan mulai berubah? sebab jas pemberiannya kala anniversary mereka tahun lalu tidak lagi memiliki banyak arti untuk dipuja?
“Aku ke sini mau kasih ini.” Jeongin kembali bersuara, “Tadi mama kasih resep brownies kesukaan kamu dan aku coba buat, rasanya memang beda ... tapi kayaknya cocok di lidah kamu.”
“Sayang ... pantesan aku nyium sesuatu aku yang aku suka.” dan tunangannya tersenyum manis, ah sial, pria gila ini tau sekali membuat perasannya dijatuh bangunkan seperti cangkang kosong yang terpisah.
Jika ego tidak mengutuk mereka sudah dipastikan Jeongin akan menghambur kepelukan kekasihnya. Apalagi pada celetukan yang membuatnya kembali berdarah, “Bukannya bapak lagi ngurangin gula ya pak?”
Pergerakannya tersimpan jelas di memori Jeongin saat uluran tangan antusias ditarik spontan.
“Sayang maaf..”
Apapun. Tolong katakan apapun selain itu.
“Kolega bapak kayaknya udah di jalan pak, ruang rapatnya mau disiapin sekarang?”
“Boleh, saya juga mau nyiapin presentasi.”
Lantas dibuatnya dia seperti figuran. Yang dibungkam meski mengais perhatian, yang terlihat utuh namun retak tidak karuan.
“Kamu pulang duluan aja gapapa ya? aku masih ada meeting, kayaknya bakal pulang malem.”
Bahkan di episode yang dia ingat, Hyunjin pernah membatalkan tender besar hanya karena sepotong croissant. Lantas, pulang kemana yang tuan maksud? Seatap pun mereka tidak.
Ah benar kata mereka, segelintir orang pulang dengan perasaan yang dikebumikan.
Jeongin tidak lagi menemukan manis pada matanya yang teduh. Hyunjin yang pergi tanpa mengecupnya seperti yang lalu-lalu dan dia yang membeku. Dia mulai menarik hipotesis, jika jarum jam ini berhenti maka mereka mati. Menjejal hingga presisi baik tidak lagi mempunyai arti.
Jeongin tidak lagi menemukan jalan panjang. Dia berhenti di perempatan. Dan kekasihnya seakan terus melaju kencang. Hingga perlahan dia menghilang, diterkam sunyi, dan ditendang keputus asaan.
Iya.
Jeongin mulai kehilangan.
# Lengkara : IV
Ekspektasi sedang menari di ujung sepatu ketika dia menapaki lobby. Bibir merah itu dihiasi senyuman, lupa atas segala resah dan kecewa; lantas harap pada bahagia yang disemogakan merekah.
Tubuh kecil itu terasa ringan, bagaikan kupu-kupu yang baru saja menapaki dunia setelah bersembunyi begitu lama dalam kepompong. Perlahan dia bisa merasakan senyuman lebar yang akan dia terima, pelukan hangat yang sangat cukup menenggelamkan tubuhnya, serta aroma citrus yang akan membayar kerinduan.
Ah, memikirkannya saja Jeongin sudah tidak sabar.
Tiga minggu sudah cukup untuk menepi dan ini saatnya untuk mereka kembali.
Perihal kesalahan itu sudah dia kubur jauh. Toh, juga dia sering berbuat salah dan Hyunjin selalu memaafkan, lalu kenapa dia tidak? Pikiran itu dia tarik kebelakang hingga sampai pada saat dia dicintai dan diagungkan sedalam samudra lepas.
Benar, mereka saling mencintai, bukan?
“Kak Jeongin! udah lama ga ke kantor, mau ketemu bapak?”
Itu sebuah pertanyaan basa-basi yang dia suka. Eksistensi bahwa dia mempunyai tempat di bangunan tinggi dengan puluhan karyawan ini selalu dibayar kontan dan kepuasan.
“Halo, iya, tunangan aku ada?” senyumnya semakin melebar, paperbag di sebelah tangannya bergoyang mengikuti kebahagiaan sang tuan.
“Ada kak, tapi kayaknya lagi keluar.”
“Loh, kemana? tadi aku udah chat sekretarisnya.”
“Kalo ga salah ke caffe depan kak, beli kopi sama sekretaris baru bapak.”
Dahinya mengernyit bingung. Segelintir orang tidak akan mengerti atas kegelisahan yang mulai menghigapi kepalanya. Baru saja kepingan khayalan atas sambutan hangat atas kejutan yang akan dia berikan memenuhi kepalanya yang kecil, sekarang malah hancur berantakan.
Apalagi setelah kicauan, “Itu bapak, kak.” dan pandangan matanya menangkap sosok kekasih tengah bercengkrama hangat dengan seorang wanita di sebelahnya.
Haruskah dia mundur dan pulang saja?
Tidak.
Haruskah bertanya dari mana dan berakhir dengan adu mulut seperti yang sudah-sudah?
Tidak juga.
Ah, dia kepalanya menjadi berisik kembali.
“Sayang?”
# Lengkara : IV
Ekspektasi sedang menari di ujung sepatu ketika dia menapaki lobby. Bibir merah itu dihiasi senyuman, lupa atas segala resah dan kecewa; lantas harap pada bahagia yang disemogakan merekah.
Tubuh kecil itu terasa ringan, bagaikan kupu-kupu yang baru saja menapaki dunia setelah bersembunyi begitu lama dalam kepompong. Perlahan dia bisa merasakan senyuman lebar yang akan dia terima, pelukan hangat yang sangat cukup menenggelamkan tubuhnya, serta aroma citrus yang akan membayar kerinduan.
Ah, memikirkannya saja Jeongin sudah tidak sabar.
Tiga minggu sudah cukup untuk menepi dan ini saatnya untuk mereka kembali.
Perihal kesalahan itu sudah dia kubur jauh. Toh, juga dia sering berbuat salah dan Hyunjin selalu memaafkan, lalu kenapa dia tidak? Pikiran itu dia tarik kebelakang hingga sampai pada saat dia dicintai dan diagungkan sedalam samudra lepas.
Benar, mereka saling mencintai, bukan?
“Kak Jeongin! udah lama ga ke kantor, mau ketemu bapak?”
Itu sebuah pertanyaan basa-basi yang dia suka. Eksistensi bahwa dia mempunyai tempat di bangunan tinggi dengan puluhan karyawan ini selalu dibayar kontan dan kepuasan.
“Halo, iya, tunangan aku ada?” senyumnya semakin melebar, paperbag di sebelah tangannya bergoyang mengikuti kebahagiaan sang tuan.
“Ada kak, tapi kayaknya lagi keluar.”
“Loh, kemana? tadi aku udah chat sekretarisnya.”
“Kalo ga salah ke caffe depan kak, beli kopi sama sekretaris baru bapak.”
Dahinya mengernyit bingung. Segelintir orang tidak akan mengerti atas kegelisahan yang mulai menghigapi kepalanya. Baru saja kepingan khayalan akan sambutan pelukan dan ciuman hangat atas kejutan yang akan dia berikan memenuhi kepalanya yang kecil, sekarang malah hancur berantakan.
Apalagi setelah kicauan, “Itu bapak, kak.” dan pandangan matanya menangkap sosok kekasih tengah bercengkrama hangat dengan seorang wanita di sebelahnya.
Haruskah dia mundur dan pulang saja?
Tidak.
Haruskah bertanya dari mana dan berakhir dengan adut mulut seperti yang sudah-sudah?
Tidak juga.
Ah, dia terlalu berisik sepertinya.
“Sayang?”
Perjalanan kali ini terasa sangat panjang; aroma pekat yang terasa asing, hingga bangku disamping kemudi menjadi sangat dingin.
Alunan lagu dan, selesai milik Nadin Amizah membuat pandangan Jeongin semakin jauh. Dia seperti berputar, terkekang sampai sulit untuk bernapas.
satu... dua... degup jantungnya bahkan tidak lagi sama.
kecewa,
marah,
patah,
Seluruh ototnya melemas tak karuan. Dirinya mulai merindukan kasur kamarnya, ingin segera menenggelamkan diri di sana dan tertidur sampai lupa masa.
Jeongin ingin melupakan hari ini; saat rentetan kata pahit menghujamnya lagi dan lagi.
“Je? Jeongin?”
“Eh? iya?” fokus Jeongin kembali datang, kepalanya yang tadi dihantuk-hantukan di kaca secara tanpa sadar dia tarik untuk menoleh ke arah Heeseung yang menatapnya penuh kekhawatiran.
“Kok ngelamun? mikirin apa?”
“Oh enggak haha..”
“Lagunya mau diganti?”
Jeongin mengusap wajahnya, lalu menggeleng sambil menyandarkan seluruh tubuhnya. Dia benar-benar butuh istirahat yang panjang.
Baru saja Jeongin melemparkan pandangan pada sibuknya jalanan, kini aliran darahnya meningkat kala usapan lembut dapat dia rasakan di pucuk kepalanya yang berat.
“Tidur aja, nanti kalo udah sampe di depan apartemen gue bangunin.”
Jeongin hanya diam, tak lagi menjawab, apalagi mengusir tangan Heeseung yang masih berada di pucuk kepalanya.
Sungguh; Jeongin tidak menikmati usapan itu. Rasanya tidak lebih hangat dari yang akhir-akhir ini dia harap.
“Mau mampir dulu ga?”
Jeongin menoleh untuk menatap Heeseung dengan sayu, mata sembabnya itu dapat ditangkap oleh Heeseung meski dengan sekali lihat. “Kemana?”
“Kemana aja, lo mau kemana?”
Yang di kursi penumpang diam sejenak, “Boleh beli ice cream sebentar?”
Heeseung terkekeh sebentar, “Boleh dong manis.” dan jawabannya yang keluar tanpa sadar membuat dia merutuki dalam hati.
“Maaf maaf... maksudnya boleh kok.” buru-buru dia mengoreksi sebelum Jeongin merasa tidak nyaman.
“Iya gapapa, gue tau kok gue manis.” lantas jawaban yang tidak terduga itu membuat keduanya berbagi tawa.
Heeseung yang semakin tertarik, dan Jeongin yang mulai kehilangan diri.
Seungmin nyaris terlompat ketika secara tiba-tiba Jeongin memukul dadanya dengan keras. Bedebum bagaikan petir di tengah siang hari panas di pertengahan maret yang panjang.
“Je, anjir gila lo—” perkataan Seungmin itu tergantung sia-sia saat sekali lagi Jeongin melakukannya. “Stop.. stop! lo kenapa?”
Jeongin tidak lagi menjawab, matanya memandang kosong ke arah lantai. Kepalanya terasa penuh, berat dan sesak seakan seharusnya dia terjun saja dari jurang.
“Jeongin.”
Mereka beradu, Jeongin dengan sekuat tenaga berusaha meloloskan tangannya yang kian hari semakin kurus dan Seungmin yang dengan susah payah menjegalnya. Ini terlalu tiba-tiba, Jeongin bahkan baru saja tertawa lepas, namun sekarang dia seperti menunjukkan sosoknya yang belakangan ini penuh kepalsuan.
Berantakan
Hancur
Hilang akal
“Bilang sama gue, lo kenapa, hm?”
Yang ditanya masih bungkam, perlahan Seungmin mendapati bagaimana binar mata Jeongin semakin padam.
“Gue salah apa ya, min?” dan pertanyaan itu lolos dengan air mata Jeongin yang bergerak turun. “Kenapa dia bisa sejahat ini sama gue, min?”
Maka bungkam saja dunia, tanpa ribuan kosa kata yang perlu Jeongin aturkan, Seungmin sudah tau alasan temannya kesakitan.
“Ga, jangan dengerin kata Hyunjin, lo ga salah Je. Ga ada yang perlu disalahin dari lo.”
Jeongin menggeleng, sebelah tangannya yang lolos dia gerakan untuk memukul kepalanya. “Je, jangan.”
“Sakit... Seungmin sakit hiks..”
Lantas hari siang itu Jeongin meraung, tanpa kesendirian namun dengan kesepian yang memilukan. Emosinya bercampur, kecewa dan marah hingga retak rasanya.
Dia berdarah; terkatup bagaikan seorang rendahan di mata tunangan yang dipuja.
“Kakak... jeongin sakit kak...”
Entah sejak kapan perjalanan mereka menjadi sangat sempit hingga menjadi bengis. Jeongin tidak mengerti, haruskah mereka menjadi seperti ini?
Pada alasan yang bahkan dia tidak tau.
Pada waktu yang bahkan semakin melenyapkan memori perihal dulu.
Pada mereka yang semakin tidak utuh.
Pada mereka yang sudah terkikis hingga bengis.
Jeongin merasa
“Sayang.”
“Hm... bentar lagi...”
Jeongin menggeliat kecil, menyamankan dirinya dari usapan dan kecupan ringan yang menghampiri pucuk kepalanya. Tidur 8 jam seolah tidak cukup setelah 2 hari lelah fisik dan batin.
“Ini udah mau jam 10 loh.”
“Hah?” dan sekarang nyawanya terpaksa dikumpul.
“Tenang tenang, masih ada 15 menit lagi.” Hyunjin kembali mengusap surai legam tunangannya bermaksud menenangkan. “Gapapa sayang, kamu pasti bisa kok. Kalo dosennya ngamuk udah kamu ikutin aja mau nya apa.”
“Tapi takut...”
Kali ini tangan lebar Hyunjin menangkup pipi si kecil, lalu dengan gemas mengecup ujung bibir tunangannya sembari mengantarkan ribuan kupu-kupu yang sukses membuat Jeongin terbuai. Marahnya akan kejadian kemarin seakan lenyap, hilang begitu saja; luluh-lantah di buatnya.
Jatuh cinta dalam perjalanan dua puluh tiga tahun memang membuatnya mabuk hingga gila!
“Abis bimbingan mau kemana?” Hyunjin bertanya sembari merapikan peralatan Jeongin, memberikan penanda kertas di setiap lembar agar tunangannya tidak lagi repot membuka bab demi bab.
“Paling ke teknik, Jisung ngajak makan bareng.”
“Berdua?”
“Sama Seungmin Hanbin juga.”
“Kirain.” bibir Hyunjin mencebik.
Jeongin tertawa kecil sambil mengoles lipbalm di bibirnya, “Kamu sensi banget ya kalo aku deket sama Jisung.”
Hyunjin tidak menjawab, dia malah sok sibuk membolak-balikan lembar revisian itu. Lagipula siapa yang tidak cemburu kalau ada orang lain yang lebih posesif ke pasangannya?
Tidak bisa, memikirkannya saja kepala Hyunjin mau pecah.
“Nanti selesai nongkrong aku jemput ya.”
“Emangnya kamu ga sibuk?”
“Ga, aku masih kangen sama kamu.” belum juga lipbalm itu tertutup, Jeongin yang lebih kecil sudah ditarik masuk ke pelukan Hyunjin. “Aku masih kangen sama kamu.”
Bola mata Jeongin mengunci paras tunangannya yang mengecup setiap jengkal wajahnya dengan mata sayu. Kalau begini caranya; Jeongin bukan pingsan di dalam ruang dosen, tapi di dalam mobil karna ulah Hyunjin.
Maka jika mau begitu, biar saja; Jeongin akan menutup mata saat kecupan demi kecupan menghujani wajahnya, atau saat dirinya tidak sengaja menangkap lipstik yang sengaja disembunyikan di balik uang parkir.
“Sayang.”
“Hm... bentar lagi...”
Jeongin menggeliat kecil, menyamankan dirinya dari usapan dan kecupan ringan yang menghampiri pucuk kepalanya. Tidur 8 jam seolah tidak cukup setelah 2 hari lelah fisik dan batin.
“Ini udah mau jam 10 loh.”
“Hah?” dan sekarang nyawanya terpaksa dikumpul.
“Tenang tenang, masih ada 15 menit lagi.” Hyunjin kembali mengusap surai legam tunangannya bermaksud menenangkan. “Gapapa sayang, kamu pasti bisa kok. Kalo dosennya ngamuk udah kamu ikutin aja mau nya apa.”
“Tapi takut...”
Kali ini tangan lebar Hyunjin menangkup pipi si kecil, lalu dengan gemas mengecup ujung bibir tunangannya sembari mengantarkan ribuan kupu-kupu yang sukses membuat Jeongin terbuai. Marahnya akan kejadian kemarin seakan lenyap, hilang begitu saja; luluh-lantah di buatnya.
Jatuh cinta dalam perjalanan dua puluh tiga tahun memang membuatnya mabuk hingga gila!
“Abis bimbingan mau kemana?” Hyunjin bertanya sembari merapikan peralatan Jeongin, memberikan penanda kertas di setiap lembar agar tunangannya tidak lagi repot membuka bab demi bab.
“Paling ke teknik, Jisung ngajak makan bareng.”
“Berdua?”
“Sama Seungmin Hanbin juga.”
“Kirain.” bibir Hyunjin mencebik.
Jeongin tertawa kecil sambil mengoles lipbalm di bibirnya, “Kamu sensi banget ya kalo aku deket sama Jisung.”
Hyunjin tidak menjawab, dia malah sok sibuk membolak-balikan lembar revisian itu. Lagipula siapa yang tidak cemburu kalau ada orang lain yang lebih posesif ke pasangannya?
Tidak bisa, memikirkannya saja kepala Hyunjin mau pecah.
“Nanti selesai nongkrong aku jemput ya.”
“Emangnya kamu ga sibuk?”
“Ga, aku masih kangen sama kamu.” belum juga lipbalm itu tertutup, Jeongin yang lebih kecil sudah ditarik masuk ke pelukan Hyunjin. “Aku masih kangen sama kamu.”
Bola mata Jeongin mengunci paras tunangannya yang mengecup setiap jengkal wajahnya dengan mata sayu. Kalau begini caranya; Jeongin bukan pingsan di dalam ruang dosen, tapi di dalam mobil karna ulah Hyunjin.
Maka jika mau begitu, biar saja; Jeongin akan menutup mata saat kecupan demi kecupan menghujani wajahnya, atau saat dirinya tidak sengaja menangkap lipstik yang sengaja disembunyikan di balik uang parkir.
“Sayang.”
“Hm... bentar lagi...”
Jeongin menggeliat kecil, menyamankan diri akan usapan dan kecupan ringan yang menghampiri keningnya agar tidak merasa terganggu. Tidur 8 jam seolah tidak cukup baginya yang 2 hari kemarin lelah fisik dan batin.
“Ini udah mau jam 10 loh.”
“Hah?” dan sekarang nyawanya terpaksa dikumpul.
“Tenang tenang, masih ada 15 menit lagi.” Hyunjin kembali mengusap surai legam tunangannya bermaksud menenangkan. “Gapapa sayang, kamu pasti bisa kok. Kalo dosennya ngamuk udah kamu ikutin aja mau nya apa.”
“Tapi takut...”
Kali ini tangan lebar Hyunjin menangkup pipi si kecil, lalu dengan gemas mengecup ujung bibir tunangannya sembari mengantarkan ribuan kupu-kupu yang sukses membuat Jeongin terbuai. Marahnya akan kejadian kemarin seakan lenyap, hilang begitu saja; luluh-lantah di buatnya.
Jatuh cinta dalam perjalanan dua puluh tiga tahun memang membuatnya mabuk hingga gila!
“Abis bimbingan mau kemana?” Hyunjin bertanya sembari merapikan peralatan Jeongin, memberikan penanda kertas di setiap lembar agar tunangannya tidak lagi repot membuka bab demi bab.
“Paling ke teknik, Jisung ngajak makan bareng.”
“Berdua?”
“Sama Seungmin Hanbin juga.”
“Kirain.” bibir Hyunjin mencebik.
Jeongin tertawa kecil sambil mengoles lipbalm di bibirnya, “Kamu sensi banget ya kalo aku deket sama Jisung.”
Hyunjin tidak menjawab, dia malah sok sibuk membolak-balikan lembar revisian itu. Lagipula siapa yang tidak cemburu kalau ada orang lain yang lebih posesif ke pasangannya?
Tidak bisa, memikirkannya saja kepala Hyunjin mau pecah.
“Nanti selesai nongkrong aku jemput ya.”
“Emangnya kamu ga sibuk?”
“Ga, aku masih kangen sama kamu.” belum juga lipbalm itu tertutup, Jeongin yang lebih kecil sudah ditarik masuk ke pelukan Hyunjin. “Aku masih kangen sama kamu.”
Bola mata Jeongin mengunci paras tunangannya yang mengecup setiap jengkal wajahnya dengan mata sayu. Kalau begini caranya; Jeongin bukan pingsan di dalam ruang dosen, tapi di dalam mobil karna ulah Hyunjin.
Maka jika mau begitu, biar saja; Jeongin akan menutup mata saat kecupan demi kecupan menghujani wajahnya, atau saat dirinya tidak sengaja menangkap lipstik yang sengaja disembunyikan di balik uang parkir.