Lengkara : IX
Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih.
Hai, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?
Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih.
Hai, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?
Lantas aku ambil langkah ini, yang terlampau kaku; terlampau sakit; terlampau pedih. Hai, Hyunjin, akan jadi apa ya kita esok hari?
Lantas aku ambil langkah ini; yang terlampau kaku, terlampau sakit, terlampau pedih. Kita, harus tetap jadi manusia untuk melihat dunia berputar sekali lagi, bukan?
menetaplah sekali lagi; atau aku akan mati di atas sepi.
Jika ada yang lebih berisik selain derasnya hujan di pukul tiga pagi hari, maka itu adalah kepala Hyunjin dengan segala kemungkinan yang dia rakit di atas jembatan patah. Rumpangnya terlalu menganga, dipukul atas fakta yang dia usahakan untuk terlupa, lalu dia akan menjambak rambutnya sekuat yang dia bisa —sebab dia adalah sumber masalahnya.
letak kehancuran dan kegagalan; hidup kekasihnya dia mandikan dengan kekecewaan.
Lantas dia tertawa hingga bola matanya memerah dan hujan berganti ke wajahnya yang berantakan. Pucat tanpa warna kehidupan. Bahkan lingkaran hitam di bawah mata sungkan untuk menghilang.
Sekali lagi dia terisak hebat; berusaha menangkap bayangan Jeongin yang melangkah keluar di hari terakhir dia jumpa.
dan terlambat— sebab bumi telah mengutuknya.
Langit bersorai atas terkoyaknya dia dengan petir yang menyambar kemana-mana. Seakan ingin membuatnya ingat atas apa yang dia perbuat. Ini bukan mimpi buruk, semua ini terjadi karena dia bentuk, maka sontak dia meraung ampun.
“Kak, aku sakit.”
“Maaf... sayang maaf... kakak minta maaf..”
“Apa kakak masih anggep aku tunangan kakak?”
“Kamu cintanya kakak, kamu dunianya kakak, sayang... kamu hidup kakak...”
Hyunjin meraung di atas puing-puing takdirnya yang bengis. Asa ini terlampau sulit, dia sungguh yakin bisa merakit kembali jembatan patah itu. Penyesalannya perlu ditebus, namun berakhir dengan Jeongin adalah mimpi buruk.
“Mungkin lo harus benerin diri lo dulu Hyunjin, lo yang berantakan ini bakal bikin semuanya jauh lebih rumit.”
Hyunjin terkekeh kecil, memukul dadanya lebih kencang seakan tengah berlomba dengan suara petir di luar sana. Kenapa semua orang berbicara seolah perpisahan adalah akhir yang tepat untuknya?
“Dengan lo kayak gini, lo bakal bikin jeongin jauh lebih sakit.”
Chan mengambil tempat di sebelah temannya, jujur saja, dia sungguh tidak ingin terlibat dengan karmanya Hyunjin. Dia punya seribu alasan yang bisa dilontarkan, ketimbang dibikin pusing dengan kebodohan temannya. Sesederhana kalimat, “Kenapa lo nyesel? kemana orang yang bilang kalo lo bosen sama jeongin dan jatuh cinta sama Kelly?”
Tapi Bangchan jauh lebih realistis, menarik Hyunjin untuk tidak mati di tengah jalan lebih baik ketimbang menghadiri pemakaman pemuda patah hati atas ketololannya sendiri.
“Gue cinta jeongin Chan... gimana gue hidup kalo ga ada Jeongin?”
Bangchan menghela napas, sebatang rokok dia selipkan di bibirnya, dia tidak punya tempat untuk memberikan jawaban.
Suatu yang runtuh, butuh waktu yang panjang untuk dibangun ulang. Pondasinya bisa saja retak kembali di tengah jalan, atau malah hangus karna hilangnya kepercayaan.
“Gue telat sadar Chan... gue ga butuh apapun, gue cuma butuh Jeongin... Chan gue cinta Jeongin... kakak cinta kamu sayang..”
Dan dari kata terlambat, hanya menyisakan penyesalan tak berujung.
Chan tidak ingin mengutuk Hyunjin, barangkali seisi dunia sudah melakukannya lebih dulu. Hyunjin hanya terperangkap, namun apapun alasan itu, kesalahannya tidak bisa dibenarkan. Suatu hubungan sudah dia sia-siakan, dan berharap semua akan berjalan baik-baik saja adalah kemunafikan.
“Mau kemana?” Chan bertanya ketika Hyunjin tiba-tiba beranjak dari duduknya.
“Tempat Changbin.”
“Lagi? lo ga akan dapet jawaban dimana Jeongin, yang ada lo malah mati digebukin, jin.”
“Kalo dia mau bunuh gue harusnya udah dari kemarin.”
Sudah Hyunjin bilang, dia sudah siap dihancurkan oleh dunia. Selagi di sana ada tunangannya, mati pun dia jalani dengan suka hati.
Dari sekian banyaknya waktu yang dia jalani, berdua dengan Jeongin adalah bentuk abadi yang dia ukir dalam imajinasi, tidak apa, jika harus mati lebih dulu, —toh, bumi hanya menyenangkan jika di dalamnya ada Jeongin.
Pagi ini, ada begitu banyak semoga yang Jeongin langitkan. Hujan yang hendak datang, dia harapkan untuk menghilang. Daun-daun layu membuat bumi kian menakutkan, bising jalanan menjadi kekalahan yang tidak pernah terpikirkan. Jika mungkin, Jeongin ingin berlutut sekarang, memohon belas kasih agar jiwanya tidak ditikam berulang.
Dia hampir lenyap, terombang-ambing dalam sesaknya keyakinan.
Pada setiap langkah yang menapaki jalanan, bayangan musim lalu seakan menari-nari. Aroma kue jahe, sorakan tepuk tangan, dan tawa di masing-masing bibir; mereka yang terikat, saling menggenggam erat. Lekat dalam ingatannya tentang suka cita yang memenuhi semesta mereka. Bunga yang bermekaran, mentari hangat mengecup dambaan, dan dua insan yang dipenuhi kekaguman.
Ternyata jatuh cinta pernah semenyenangkan ini ya.
Hingga, siapa yang akan menyangka jika akhirnya dia tidak lagi asing dalam sepi? pada waktu yang bergulir tidak lagi memahami arti hari, atau sisa kewarasan yang berbisik untuk mengoyak hati? Dia seakan kehilangan payung teduh pada yang pernah membuat luluh. Barang kali hilang terbawa ombak lalu terjatuh.
Maka untuk sekali lagi dia menghentikan laju tujuannya. Pintu kayu yang dia kenali sudah di depan mata. Namun sejenak dia berpikir untuk tenggelam dan berpulang saja. Meyakinkan diri bahwa jarak mereka tidak pernah terbentang luruh. Luas lautan pun tak dapat memangku dua insan yang berhenti karena jalan buntu. Mereka sudah terlalu jauh.
Dan, Jeongin menolak untuk tau.
Telinganya seakan tertutup, bercumbu pada omong kosong hidup kamu adalah satu-satunya sisa alasan aku hidup, sayang. Maka dia terperangkap di sana. Di bawah ufuk malam berhias taburan gemintang dan seiris suar yang berpendar-pendar. Mengubur rasa sakit yang pernah diberikan, atau bahkan tentang tercabiknya perasaan karena keegoisan.
Sebab, Jeongin hanya ingin pulang. Pada sosok yang jiwanya terbentang bak garis radar, suatu atma yang selalu dia incar hingga garis kehidupan selesai.
Lantas, matilah dia saat kenop pintu itu diputar. Kekosongan menyerbak luas pada bangunan yang dia kenal. Telapak tangannya mendingin selaras pandangan yang mengedar ke setiap sudut ruangan. Botol-botol alkohol menyambut kehadirannya. Seolah pesta pernah terjadi di sana.
Akal sehat Jeongin menghilang, terlalu takut untuk melangkah sendirian. Dia bergerak gelisah, jantungnya seakan ingin berhenti dan itu juga yang dia harapkan terjadi. Namun otaknya membawa kakinya untuk lebih masuk, menjadi remuk, sampai dunianya ambruk. Sayup-sayup dia mendengar suara di balik pintu kamar miliknya; milik Hyunjin, milik mereka.
“Kak Hyunjin? Jeje pul—” Secara tiba-tiba, suaranya menggantung di udara. Dia terdiam di tengah ruangan, seolah tidak ingin melanjutkan perjalanan.
Tidak; ini hanya lelucon jenaka.
Seonggok kemeja Hyunjin tergeletak begitu saja dengan heels merah.
Manik hitamnya berkunang-kunang, nafasnya yang tersendat membuat dia bergetar. Rentetan hipotesis hadir seakan ingin menghancurkan kepalanya dengan mudah. Memori yang seharusnya hilang datang tanpa diundang.
Tidak.
Tidak mungkin seperti ini, kan?
Mereka tidak akan berakhir seperti ini, bukan?
Pandangannya terjatuh pada daun pintu yang tidak tertutup rapat. Kakinya yang memberat dia paksakan bergerak. Sampai akhirnya dia menyesal. Tubuh lunglai kini bermandi pada kecewa yang bukan main rasanya.
Kakak janji kamu ga akan kenal yang namanya sedih, kamu cuma akan kenal yang namanya bahagia dan cinta.
Sajak manis yang pernah disaksikan langit kini menjadi basi. Jika dunia akan luluh-lantah hari ini, kutuk mereka untuk mati. Sebab jarum jam milik Jeongin sudah berhenti, bumi kehilangan arah barang untuk menepi.
Jeongin sudah patah. Sayapnya terkoyak bak itu lah takdirnya. Rasa sakit melolong bersamaan dengan dua insan yang tertangkap basah.
Lekat dalam pandangannya Hyunjin yang tengah berbaring dengan sekretaris di ranjang mereka, tanpa busana, tanpa takut pada bumantara.
Ponsel di genggamannya tergelincir begitu saja. Mengundang dunianya untuk berbalik dan terkejut setengah mati.
“Jeongin?”
Yang dipanggil bergerak mundur, memilih untuk menjauh bahkan jika bisa sampai terkubur. Lonceng malam masih berdengung kala mereka bertunangan bertahun-tahun lalu.
“Kakak bisa jelasin ini ga kayak yang kamu pikirin.”
Teduh dalam mata sang tuan tidak lagi Jeongin temukan. Tubuhnya terasa ringan dengan kepala yang semakin penuh. Bulir air matanya menapaki bumi tanpa tau malu. Dan di detik itu, Jeongin menjadi tau, semestanya sudah runtuh.
“Sayang? Hei!”
Hyunjin buru-buru menangkap Jeongin yang hampir terjatuh. Suhu mereka yang kontras dengan wajah pucat Jeongin yang begitu berantakan membuat dia ingin memohon ampun. Apalagi ketika Jeongin memilih untuk melepaskan genggamannya dan mengambil langkah mundur.
“Ini ga kayak yang kamu pikirin sayang, kakak cuma—”
“CUMA APA?!”
Ruang di antara mereka memanas. Bara membakar getaran pada manik Jeongin yang memandang milik Hyunjin begitu tajam. Kecewanya sudah mencapai ambang batas, rumahnya tak lagi menjadi tempat yang paling nyaman, dan Jeongin dibuat seakan tidak pantas untuk datang.
“Cuma tidur sama sekretaris kakak?” suara Jeongin memelan, matanya sibuk mencari sisa-sisa cinta yang pernah Hyunjin ungkapkan. Hingga sekali lagi dia sadar, luas lautan bahkan tidak dapat menggambarkan seberapa jauh mereka sekarang.
“Emang harus banget di rumah kita ya kak?”
“Sayang... kakak ga inget apa-apa... dengerin kakak dulu ya, hm?”
Kali ini, Jeongin cukup terhibur dengan ucapan tunangannya berusan. Bibirnya tertarik untuk tertawa sumbang, perutnya tergelitik dengan pusing yang menyergap tanpa aba-aba. Jemarinya menunjuk letak kamar mereka dengan Kelly yang masih berdiam di sana, “Kakak ga inget juga aku pernah tidur di kamar itu? di kamar kita? yang setiap hari kita habisin banyak hal di sana?”
Hyunjin yang bungkam membuat Jeongin semakin menantang, “Kakak nuduh aku selingkuh, kakak selalu nyakitin aku sama pikiran gila kakak, KAKAK BUAT AKU SAKIT—” kalimatnya terjeda, demi tuhan, Jeongin tidak ingin terisak sekarang.
“Jeje kurang apa kak...?”
Dia mendekat, akal sehatnya menghilang sejalan dengan tangannya menangkup wajah Hyunjin dengan lembut, dengan hati-hati, dan dengan cinta yang hampir padam.
“Jeje kurang apa, hm?”
Telan saja mereka, tenggelamkan pada dasar yang paling dalam, biar nanti kalau rasa yang tersisa pun sudah habis terlantar, debu lautan dapat menerima mereka pulang.
“Maaf—”
“Kak, demi tuhan, Jeje percaya sama kakak, setiap janji yang kakak lupa selalu Jeje maafin, setiap kata-kata kakak yang nyakitin selalu Jeje lupain, tapi kenapa kak? kenapa kakak nyakitin Jeje segininya?!”
“Sayang... kakak minta maaf.”
Tubuh Hyunjin jatuh merosot ke lantai. Dia bersimpuh dengan tangannya menggenggam tangan Jeongin, takut jika pria itu bergerak semakin jauh darinya.
“Maaf untuk apa? untuk selingkuh? untuk main di belakang aku? atau untuk cinta kakak yang udah habis buat aku?“
“Ga... sayang ga... dengerin kakak dulu.”
Jeongin membisu dengan isakan yang dia tahan. Pandangannya terkunci pada seseorang yang menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu terjatuh pada tangan Hyunjin yang masih dilingkari cincin tunangan mereka dulu. Ini bukan akhir yang Jeongin mau, dia tidak datang untuk omong kosong semu.
Dia hanya ingin melepas rindu pada kekasihnya,
Dia hanya ingin merengkuh hangat pujaan hatinya,
Dia hanya ingin berlabuh hingga maut memisahkan mereka.
Namun, dunia mereka sudah terberai, bumi berduka pada cerita mereka yang harus usai.
Di bawah bangunan yang penuh dengan cinta mereka, Jeongin dengan kewarasannya yang tersisa, memilih untuk melepaskan genggaman tunangannya. Sebab, jika harus patah, maka patah lah untuk selamanya. Abadi lah dengan luka.
Jeongin mengambil begitu banyak jarak, “Kalo waktu bisa diputar ulang, aku harap kita ga pernah saling kenal, kak.”
Sebab, memaafkan juga tak segampang lily yang bermekaran di pagi hari. Hingga empatinya habis dan Jeongin memilih pergi. Pada rumah yang suka-citanya pernah tergambar. Pada pemilik hatinya yang jatuh terkapar. Pun pada cintanya yang dia harapkan untuk padam.
Bunyi kaca yang beradu dengan lantai membawa langkah kaki Hanbin lebih cepat dari biasanya. Semuanya masih tampak baik saat dia meninggalkan Jeongin untuk ke dapur sebentar. Namun hal gila datang tanpa diundang, karena tepat dihadapannya semangkuk soto pemberian Heeseung sudah berhamburan tidak karuan.
Dia telan mentah-mentah semua perasaan terkejutnya dan melangkah untuk mendekat, “Je...?”
Hanbin ikut mensejajarkan tubuhnya pada milik Jeongin yang kini memunguti serpihan kaca. Bahu kecilnya yang turun itu sedikit bergetar, mengundang begitu pertanyaan di kepala Hanbin sekarang.
“Udah lo duduk aja, biar gue yang beresin nanti lo makin pusing kalo kelamaan jongkok.”
Perkataan itu seperti angin lalu. Jeongin masih sibuk memunguti kaca itu, tidak menjawab atau pun tidak pula sekedar tertawa melihat kecerobohannya lagi dan lagi.
“Jeon—”
Perkataan Hanbin tertahan saat kali ini sisa pecahan yang lebih besar dia lempar ke dinding. Mati lah sudah; mereka rusak, hancur, dan terberai sia-sia. Lantas setelahnya baru lah Jeongin terisak hebat, terduduk di sebelah kesukaannya yang sudah padam tanpa tersisa.
“Harusnya gue ga cari tau Hanbin... harusnya gue pura-pura ga tau aja... harusnya—” perkataannya yang terbata semakin membuat pria berambut legam itu bingung.
“Apa? lo tau apa je?”
Jeongin menggeleng, menarik rambutnya dengan hebat sebab pening datang menyergap lebih cepat. Nafasnya yang panas mulai tersenggal, demi tuhan, dia tidak pernah membayangkan akan berada pada titik sebuntu sekarang.
“Gue benci dia Hanbin... demi tuhan gue benci dia...”
Dalam rotasi yang Hanbin ingat, letak bahagia dan kesakitan Jeongin hanya berporos pada Hyunjin dan Hyunjin. Maka saat matanya menangkap layar ponsel yang terbuka dan menampilkan foto tunangannya yang begitu mesra dengan orang lain, Hanbin tidak lagi banyak menarik pembahasan untuk membuatnya paham.
“Je udah.. jangan dipukul.”
Jeongin seolah menutup telinga, tangannya yang terkepal terus menghantam dadanya hingga bunyi bedebum begitu keras.
“Je dengerin gue.” Hanbin berusaha mencekal tangan Jeongin, untuk pertama kalinya dia melihat temannya hancur sehancurnya. “Mungkin itu bukan Hyunjin, fotonya ga ngeliatin muka, Je.” maka dalam pikirannya yang tersisa, Hanbin hanya berusaha menenangkan Jeongin yang mulai hilang akal.
“Mungkin itu bukan tunangan lo, Je.”
Kata-kata itu terngiang di kepalanya yang berisik. Mungkin bukan; tapi juga mungkin iya. Penyangkalannya begitu besar hingga Jeongin ingin memutar waktu untuk harusnya dia tidak pernah untuk menelusuri postingan Kelly.
“Hanbin... sakit... gimana kalo itu bener kak Hyunjin?”
Dan pada detik itu Hanbin tidak lagi bisa menjawab. Dia hanya menarik Jeongin untuk semakin masuk ke dalam pelukannya. Membiarkan pria yang wajahnya semakin pucat itu menangis lebih puas.
“Besok kita temui mereka ya, tapi lo harus percaya sama apa yang ada di otak lo ketimbang di hati lo Je, biar lo lega, biar lo ga terus-terusan kebingungan kayak sekarang.”
Sebab, biar pun Jeongin atau pun Hanbin menyangkal; keduanya sudah tau dengan sangat jelas.
Maka Jeongin dengan segala kerapuhannya dalam semesta yang agung hanya berharap, jika dia hancur sekarang, maka celakalah mereka lebih dalam.
Bunyi kaca yang beradu dengan lantai membawa langkah kaki Hanbin lebih cepat dari biasanya. Semuanya masih tampak baik saat dia meninggalkan Jeongin untuk ke dapur sebentar. Namun hal gila datang tanpa diundang, karena tepat dihadapannya semangkuk soto pemberian Heeseung sudah berhamburan tidak karuan.
Dia telan mentah-mentah semua perasaan terkejutnya dan melangkah untuk mendekat, “Je...?”
Hanbin ikut mensejajarkan tubuhnya pada milik Jeongin yang kini memunguti serpihan kaca. Bahu kecilnya yang turun itu sedikit bergetar, mengundang begitu pertanyaan di kepala Hanbin sekarang.
“Udah lo duduk aja, biar gue yang beresin nanti lo makin pusing kalo kelamaan jongkok.”
Perkataan itu seperti angin lalu. Jeongin masih sibuk memunguti kaca itu, tidak menjawab atau pun tidak pula sekedar tertawa melihat kecerobohannya lagi dan lagi.
“Jeon—”
Perkataan Hanbin tertahan saat kali ini sisa pecahan yang lebih besar dia lempar ke dinding. Mati lah sudah; mereka rusak, hancur, dan terberai sia-sia. Lantas setelahnya baru lah Jeongin terisak hebat, terduduk di sebelah kesukaannya yang sudah padam tanpa tersisa.
“Harusnya gue ga cari tau Hanbin... harusnya gue pura-pura ga tau aja... harusnya—” perkataannya yang terbata semakin membuat pria berambut legam itu bingung.
“Apa? lo tau apa je?”
Jeongin menggeleng, menarik rambutnya dengan hebat sebab pening datang menyergap lebih cepat. Nafasnya yang panas mulai tersenggal, demi tuhan, dia tidak pernah membayangkan akan berada pada titik sebuntu sekarang.
“Gue benci dia Hanbin... demi tuhan gue benci dia...”
Dalam rotasi yang Hanbin ingat, letak bahagia dan kesakitan Jeongin hanya berporos pada Hyunjin dan Hyunjin. Maka saat matanya menangkap layar ponsel yang terbuka dan menampilkan foto tunangannya yang begitu mesra dengan orang lain, Hanbin tidak lagi banyak menarik pembahasan untuk membuatnya paham.
“Je udah.. jangan dipukul.”
Jeongin seolah menutup telinga, tangannya yang terkepal terus menghantam dadanya hingga bunyi bedebum begitu keras.
“Je dengerin gue.” Hanbin berusaha mencekal tangan Jeongin, untuk pertama kalinya dia melihat temannya hancur sehancurnya. “Mungkin itu bukan Hyunjin, fotonya ga ngeliatin muka, Je.” maka dalam pikirannya yang tersisa, Hanbin hanya berusaha menenangkan Jeongin yang mulai hilang akal.
“Mungkin itu bukan tunangan lo, Je.”
Kata-kata itu terngiang di kepalanya yang beresik. Mungkin bukan; tapi juga mungkin iya. Penyangkalannya begitu besar hingga Jeongin ingin memutar waktu untuk harusnya dia tidak pernah untuk menelusuri postingan Kelly.
“Hanbin... sakit... gimana kalo itu bener kak Hyunjin?”
Dan pada detik itu Hanbin tidak lagi bisa menjawab. Dia hanya menarik Jeongin untuk semakin masuk ke dalam pelukannya. Membiarkan pria yang wajahnya semakin pucat itu menangis lebih puas.
“Besok kita temui mereka ya, tapi lo harus percaya sama apa yang ada di otak lo ketimbang di hati lo Je, biar lo lega, biar lo ga terus-terusan kebingungan kayak sekarang.”
Sebab, biar pun Jeongin atau pun Hanbin menyangkal; keduanya sudah tau dengan sangat jelas.
Maka Jeongin dengan segala kerapuhannya dalam semesta yang agung hanya berharap, jika dia hancur sekarang, maka celakalah mereka lebih dalam.
Bunyi kaca yang beradu dengan lantai membawa langkah kaki Hanbin lebih cepat dari biasanya. Semuanya masih tampak baik saat dia meninggalkan Jeongin untuk ke dapur sebentar. Namun hal gila datang tanpa diundang, karena tepat dihadapannya semangkuk soto pemberian Heeseung sudah berhamburan tidak karuan.
Dia telan mentah-mentah semua perasaan terkejutnya dan melangkah untuk mendekat, “Je...?”
Hanbin ikut mensejajarkan tubuhnya pada milik Jeongin yang kini memunguti serpihan kaca. Bahu kecilnya yang turun itu sedikit bergetar, mengundang begitu pertanyaan di kepala Hanbin sekarang.
“Udah lo duduk aja, biar gue yang beresin nanti lo makin pusing kalo kelamaan jongkok.”
Perkataan itu seperti angin lalu. Jeongin masih sibuk memunguti kaca itu, tidak menjawab atau pun tidak pula sekedar tertawa melihat kecerobohannya lagi dan lagi.
“Jeon—”
Perkataan Hanbin tertahan saat kali ini sisa pecahan yang lebih besar dia lempar ke dinding. Mati lah sudah; mereka rusak, hancur, dan terberai sia-sia. Lantas setelahnya baru lah Jeongin terisak hebat, terduduk di sebelah kesukaannya yang sudah padam tanpa tersisa. .
“Harusnya gue ga cari tau Hanbin... harusnya gue pura-pura ga tau aja... harusnya—” perkataannya yang terbata semakin membuat pria berambut legam itu bingung.
“Apa? lo tau apa je?”
Jeongin menggeleng, menarik rambutnya dengan hebat sebab pening datang menyergap lebih cepat. Nafasnya yang panas mulai tersenggal, demi tuhan, dia tidak pernah membayangkan akan berada pada titik sebuntu sekarang.
“Gue benci dia Hanbin... demi tuhan gue benci dia...”
Dalam rotasi yang Hanbin ingat, letak bahagia dan kesakitan Jeongin hanya berporos pada Hyunjin dan Hyunjin. Maka saat matanya menangkap layar ponsel yang terbuka dan menampilkan foto tunangannya yang begitu mesra dengan orang lain, Hanbin tidak lagi banyak menarik pembahasan untuk membuatnya paham.
“Je udah.. jangan dipukul.”
Jeongin seolah menutup telinga, tangannya yang terkepal terus menghantam dadanya hingga bunyi bedebum begitu keras.
“Je dengerin gue.” Hanbin berusaha mencekal tangan Jeongin, untuk pertama kalinya dia melihat temannya hancur sehancurnya. “Mungkin itu bukan Hyunjin, fotonya ga ngeliatin muka, Je.” maka dalam pikirannya yang tersisa, Hanbinnya hanya berusaha menenangkan Jeongin yang mulai hilang akal.
“Mungkin itu bukan tunangan lo, Je.”
Kata-kata itu terngiang di kepalanya yang beresik. Mungkin bukan; tapi juga mungkin iya. Penyangkalannya begitu besar hingga Jeongin ingin memutar waktu untuk harusnya dia tidak pernah untuk menelusuri postingan Kelly.
“Hanbin... sakit... gimana kalo itu bener kak Hyunjin?”
Dan pada detik itu Hanbin tidak lagi bisa menjawab. Dia hanya menarik Jeongin untuk semakin masuk ke dalam pelukannya. Membiarkan pria yang wajahnya semakin pucat itu menangis lebih puas.
“Besok kita temui mereka ya, tapi lo harus percaya sama apa yang ada di otak lo ketimbang di hati lo Je, biar lo lega, biar lo ga terus-terusan kebingungan kayak sekarang.”
Sebab, biar pun Jeongin atau pun Hanbin menyangkal; keduanya sudah tau dengan sangat jelas.
Maka Jeongin dengan segala kerapuhannya dalam semesta yang agung hanya berharap, jika dia hancur sekarang, maka celakalah mereka lebih dalam.
recommended song : naradira — Luthfi Aulia
Deru mesin bersahutan ditemani mentari yang beranjak turun. Cerah jingga dibuatnya, suka-cita melingkupi kebanyakan orang kala memandang. Seakan langit tengah berduka dalam bentuk yang paling menawan.
Ujung sepatu yang ringan kini menjadi mati rasa. Peluh keringat membuat pasang mata bertanya-tanya; hujan dibagian bumi mana yang membuatnya basah? dan dia menjadi abai.
Oh, mungkin, hanya kepalanya saja yang bertanya demikian.
Maka tepat saat jalanan mulai lenggang dan dunia menjadi sepi kala langit menggelap, dia menghentikan langkahnya yang gontai. Duduk di halte bus yang bahkan dia tidak tau keberadaannya. Jauh dia berjalan, habis sudah masa yang berantakan.
Kini dia sendirian, dengan seluruh jiwa yang jauh dari kata tenang, lantas mati rasa disekujur tubuh yang dapat dirasa.
Dia diambang gelisah; mati sudah jika bunyi klakson tidak menghentikan hal-hal gila yang menghigapi kepalanya.
Beginikah bumi berjalan untuknya?
Tidak. Sebab, mereka pernah bahagia.
Dan dia pun tertawa. Kelopak mata yang tertutup membawa mutiara melintasi pipinya yang semakin tirus. Prasangkanya tidak pernah dekat dari episode yang akan membuatnya pecah, menjadi patah, dan mulai hilang arah.
“Ah... lo nangisin apa sih jeongin?” dia bermonolog sembari menghapus air matanya yang semakin deras.
Sesaknya tidak dapat dibendung, berkali-kali menyangkal mungkin mereka hanya berada dititik jenuh namun berakhir di jalan buntu.
Pikirannya berenang kesana kemari, mencari titik dimana semua kejadian ini terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itu terpotong bak kepingan puzzle yang dia susun sendiri.
Mungkin karena dia terlalu memusingkan skripsi sampai lupa kak Hyunjin.
Mungkin karena dia yang terlalu kecil untuk mengerti pikiran kak Hyunjin.
Mungkin karena dia yang penuh emosi untuk memahami perlakuan kak Hyunjin.
Mungkin; mungkin letak masalahnya karena dia.
Lantas sekali lagi dia tertawa. Menarik nafasnya sedalam mungkin untuk mengisi paru-parunya yang semakin berat. Lalu setelahnya dia bawa mata yang dulu pernah dipuja-puja sedemikian indahnya untuk menatap paperbag yang sudah lusuh. Sekotak brownies yang masih utuh menjadi alasan dunianya runtuh.
Ditemani dengan angin sore yang menusuk kulit, satu potong brownies itu dia makan dengan hati yang tercabik. Sepi di sore hari ini menjadi hal yang paling dia benci.
Entah bagaimana esok hari, nyatanya nanti, faktanya mungkin tidak sama lagi.
Selepas malam dan dia terpejam, memori itu mungkin terus berputar. Dia bisa terjebak, terjatuh, hingga tenggelam.
Dia bisa; persis seperti cincin di jari manisnya yang semakin melonggar dan perasaannya dia paksakan tetap berakar.
Meski harus hilang dan patah, atau luka hingga berdarah, tolong buat dua manusia ini tetap bersama. Sebab, Jeongin mencintainya. Seluas dan selama mentari mencintai rembulan.
Hilang dan patah, luka hingga berdarah. Ujung sepatunya yang ringan mulai lembab dan hampir mati rasa. Peluh di wajahnya membuat semua orang menjadi bertanya-tanya: hujan di bagian bumi mana yang membuatnya basah?